
...***...
Di Dunia nyata.
Cukup lama mereka menunggu di luar, namun Prabu Asmalaraya Arya Ardhana belum juga keluar dari ruangan pribadi Raja.
"Sebenarnya apa yang dilakukan kedua anakku? Kenapa mereka sangat lama sekali berada di dalam sana?." Dalam hati Ratu Dewi. "Ya Allah, semoga saja putra hamba nanda cakara casugraha baik-baik saja di dalam ya Allah." Perasaan cemas itu semakin membesar, apalagi ingatannya tentang betapa sakit hatinya ketika berpisah dengan anak yang sangat ia cintai.
"Tenanglah ibunda, rayi Prabu akan baik-baik saja." Putri Andhini Andita kembali mencoba untuk menenangkan hati Ratu Dewi Anindyaswari.
"Kita tunggu sekali lagi ibunda, rayi Prabu pasti akan baik-baik saja." Begitu juga dengan Raden Hadyan Hastanta.
Sementara itu di alam bawah sadar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
"Pedang ini? Pedang apa ini tuan pendekar?." Jaya Satria terkejut karena pedang itu seakan menggenggam erat tangannya. "Kenapa pamor yang dipancarkan pedang ini sangat gelap sekali?."
"Itu adalah pedang pelebur sukma! Gunakan saja pedang itu untuk mengalahkan mereka." Balasnya.
"Apakah pedang ini memiliki jurus khusus? Sepertinya pedang ini tidak mudah untuk digunakan begitu saja." Jaya Satria bertanya lagi.
"Kau tidak perlu mempelajari jurus khusus! Gunakan saja jurus-jurus yang kau anggap cocok untuk memainkan pedang itu." Tubuh langitya Sukmana ambruk, dan ia menjatuhkan dirinya, menyandarkan tubuhnya ke pohon, karena sudah tidak kuat lagi. "Gunakan jurus yang sangat berbahaya menurutmu!."
"Baiklah kalau begitu." Jaya Satria itu memahami apa yang dikatakan oleh langitya sukmana. "Kalau begitu akan aku gunakan jurus itu." Dalam hatinya memikirkan jurus berbahaya yang pernah ia miliki.
"Perlihatkan kepadaku, bagaimana kehebatan yang kau miliki." Dalam hati langitya Sukmana. Ia masih bisa menyaksikan itu, meskipun sudah tidak terlalu jelas lagi. "Aku dapat merasakan jika kau bisa menggunakan pedang itu." Dalam hatinya sangat yakin.
"Meskipun kau menggunakan pedang pelebur sukma? Bukan berarti kami takut denganmu anak muda, kami masih sanggup mengalahkanmu." Anggraini telah berhasil bebas dari tekanan angin itu menantang Jaya Satria
"Keluarkan semua jurus yang kau miliki! Aku ingin tahu seberapa besar kekuatan ilmu kanuraganmu."
"Aku tidak perlu pamer ilmu kanuragan yang aku miliki!." Balasnya. "Cukuplah Allah yang mengetahuinya! Aku takut kepada Allah, aku takut Allah marah padaku karena aku memiliki sikap pamrih."
"Kau tidak usah banyak bicara anak muda! Tidak perlu merendahkan diri seperti itu!" Ki Resmana sungguh tidak suka dengan gaya yang seperti itu.
"Heh! Katakan saja kalau kau takut pada kami? Dan kau tidak bisa menggunakan pedang itu, kan?." Anggraini sangat meremehkan Jaya Satria.
"Atau kau takut? Saat pulang nanti? Kau membuat ibumu malu melihat anaknya yang menyedihkan? Seorang pengecut-."
Namun belum sempat Ki Seta melanjutkan ucapannya, mereka dikejutkan dengan sebuah tebasan angin kencang yang menerpa tubuh mereka, membuat mereka tergamang sesaat. Hawa tebasan itu sangat kuat sehingga membuat dedaunan sekitarnya berguguran.
Ada aura merah yang menyelimuti tubuh pemuda bertopeng itu, begitu juga dengan pedang pelebur sukma itu. Mereka sangat terkejut melihat pemandangan yang tidak biasa itu. Tidak pernah mereka melihat hawa mengerikan seperti itu, bahkan pendekar Langitya Sukmana yang merupakan seorang pendekar pembunuh bayaran tidak seperti itu hawa membunuhnya.
"Setan belang! Kenapa kekuatan pedang pelebur sukma malah berbeda dari yang sebelumnya? Siapa kau sebenarnya anak muda?!."
Suasana sekitar berubah menjadi seram, tidak bersahabat sama sekali. Seakan ada ada hawa lain yang sedang mendominasi hawa sekitar.
"Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita akan tetap maju?."
"Kita harus maju!."
"Aku tidak akan mundur barang setapak pun!."
"Kalian benar-benar orang tidak berguna! Hidupnya hanya membuat kejahatan, dan kalian berani merendahkan aku dengan membawa nama ibundaku?." Pemuda bertopeng itu terlihat sangat marah. "Kalian akan menerima hukuman dariku!." Suaranya terdengar berbeda kali ini, karena ia menahan amarahnya.
"Pemuda itu tampaknya sangat marah, hawa murni yang ia tunjukkan sangat berbeda dari yang sebelumnya." Pendekar Langitya Sukmana mengamati itu. "Hawa murni kemerahan itu adalah kekuatan yang timbul dari kemarahannya." Matanya menangkap dengan baik bagaimana hawa merah itu menyelimuti tubuh Jaya Satria. "Sangat murni dari hatinya, mungkin karena itulah pedang pelebur sukma tenang berada di genggamannya?." Langitya Sukmana jadi penasaran. "Karena hawa kegelapan yang ada di dalam tubuhnya sama sekali tidak merugikan orang lain, namun justru ia memiliki keinginan yang sangat kuat untuk melindungi orang yang sangat ia cintai." Setidaknya itulah kesan Pendekar Langitya Sukmana ketika memperhatikan Jaya Satria.
"Kita tidak perlu takut pada bocah kemarin sore ini! Ayo kita kita serang dia bersama-sama!." Anggraini sudah muak hanya karena diam.
"Ya, kita habisi saja dia dulu, baru setelah itu kita habisi si keparat langitya sukmana!."
"Mari kita gabungkan kekuatan kita!."
Mereka menyalurkan hawa murni masing-masing, mengeluarkan jurus masing-masing. Menggabungkan kekuatan mereka untuk menyerang Jaya Satria.
"Baiklah kalau begitu." Jaya Satria tersenyum kecil. "Sepertinya kalian tidak bisa lagi diajak bicara baik-baik, jangan salahkan aku? Jika aku membunuh kalian dengan menggunakan pedang pelebur sukma." Jaya Satria memainkan jurus yang ia miliki. Jurus yang ia dapatkan satu bulan yang lalu dari seorang pendekar hebat yang berbaik hati mau mengajarinya.
"Kurang ajar! Bukankah itu adalah jurus cakar naga cakar petir?!." Mereka bertiga terkejut, karena mengenali jurus berbahaya itu.
__ADS_1
"Hanya pendekar tuak gila dari hutan ranting panjang yang menguasai jurus itu."
"Bagaimana bisa kau memiliki jurus itu?! Bedebah!."
"Kalian tidak usah banyak bicara! Tidak usah banyak bertanya! Aku sudah muak dengan kalian!." Setelah itu ia lanjutkan memainkan jurus itu.
Angin sekitar benar-benar berubah menjadi aneh, seakan ada aliran petir yang mengalir di sana. Hingga membuat mereka meringis kesakitan. Tubuh mereka benar-benar tidak bisa digerakkan lagi.
"Anak muda itu memang terlihat sangat berbahaya." Dalam hati Langitya Sukmana memperhatikan itu. "Kekuatannya sangat dahsyat sekali, dan aku tidak menduga jika ia menguasai jurus cakar naga cakar petir, jurus yang pernah aku impi-impikan untuk menggabungkannya dengan kekuatan jurus pedang pelebur sukma." Dalam hatinya merasa kagum melihat Jaya Satria yang menghajar para pendekar tua dengan menggabungkan permainan jurus pedang pelebur sukma dan jurus cakar naga cakar petir.
"Kegh! Naga petir yang muncul dari jurus itu, membuat angin sekitar terasa menyakitkan."
Gerakan mereka benar-benar terhenti, sulit bergerak dalam kondisi tubuh yang sedang dialiri tenaga petir seperti itu. Namun mereka sekuat tenaga mencoba untuk bergerak, walaupun pada akhirnya ketiganya mati ditangan Jaya Satria.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Dalam hati Jaya Satria sangat takut karena ia tidak bisa mengendalikan amarah yang telah menguasai dirinya. "Ayahanda? Ibunda? Apa yang harus nanda lakukan? Tolong nanda, ayahanda? Ibunda?." Dalam keadaan seperti itu Jaya Satria sangat ingat dengan kedua orang tuanya yang selalu mengingatkan dirinya untuk selalu sabar.
"Putraku nanda cakara casugraha?." Suara itu adalah suara Gusti Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang sangat mencemaskan anaknya yang edang dikuasai oleh amarah. "Tenangkan dirimu, jangan kau ikuti hawa kemarahan mu, ayahanda selalu bersamamu, kau adalah putraku yang sangat hebat, kau pasti bisa menenangkan dirimu, putraku."
"Putraku cakara casugraha? Ibunda mohon kendalikan dirimu nak? Ibunda mohon dengarkan suara ibunda nak?." Suara Ratu Dewi Anindyaswari pun bahkan ikut menenangkan anaknya yang sedang dikendalikan amarah. "Ibunda selalu menyayangi nanda, ibunda selalu menunggu kepulangan nanda." Suara itu terdengar sangat lirih, rasa rindu seorang ibu terhadap anaknya yang telah lama tidak kembali.
Suara itu, suara yang selalu membuatnya kembali tenang, terdiam, mencoba mengingat kedua orangtua yang sangat ia sayangi. Jaya Satria yang saat itu dengan sekuat tenaga menghilangkan amarahnya dengan cara berzikir, dan mengucapkan kalimat-kalimat yang baik-baik supaya hatinya lebih tenang.
"Ibunda? Ayahanda? Maafkan aku, maafkan aku." Hatinya bersedih karena tidak bisa menemui ayah dan ibundanya karena ia harus melakukan pengembaraan menenangkan diri selama lima tahun lamanya. "Maafkan nanda yang masih saja belum bisa mengubah diri nanda ke arah yang lebih baik." Hatinya yang dipenuhi kemarahan-kemarahan yang belum bisa ia kendalikan.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!."
Ia mendengar suara batuk seseorang dalam kesedihannya. ia alihkan pandangannya, melihat orang yang ia tolong tadi.
"Paman? Aku akan membantu paman, aku akan mencoba mengobati paman." Jaya Satria terlihat sangat panik, ia mencoba menyalurkan tenaga dalamnya.
"Tidak usah." Ia menahan tangan Jaya Satria. "Tidak apa-apa." Dengan senyuman lembut ia berkata seperti itu.
"Ini adalah pedangmu, aku kembalikan padamu." Jaya Satria menyerahkan pedang itu.
"Sepertinya kau adalah orang yang tepat untuk memegang pedang ini." Langitya Sukmana kemabli menahan tangan Jaya Satria. Nafasnya mulai terasa berat, matanya mulai terasa kantuk seperti ingin tidur.
"Sudahlah, aku juga sudah tidak kuat lagi." Kali ini suaranya terdengar samar. "Aku titipkan pedang pelebur sukma ini padamu." Rasanya kesadarannya hampir saja tidak bisa ia kuasai lagi.
"Tapi kenapa? Bukankah senjata bagi seorang pendekar itu sangat penting? Kenapa kau memberikannya begitu saja?."
"Aku ini memiliki mata yang bagus untuk melihat kemampuan seseorang." Ucapnya pelan, sesekali mata itu terlihat sayu, menahan kantuk yang begitu berat.
Namun belum ada tanggapan dari Jaya Satria, entah kenapa ia merasa bersimpati pada Pendekar Langitya Sukmana yang tampak sangat kesakitan.
"Kau sedang mengembara, mengendalikan kemarahan yang ada di dalam dirimu." Dengan susah payah ia menyampaikan apa yang ia lihat dari dalam diri Jaya Satria. "Kekuatan yang kau miliki bukanlah kutukan, namun anugerah dewata untukmu melakukan kebaikan, walaupun terlihat jahat dimata orang lain, sama seperti yang aku lakukan." Lanjutnya. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi karena tubuhnya seperti sedang digerogoti kegelapan yang sangat kental.
"Aku mohon, dengarkan aku, aku ingin menyelamatkanmu." Jaya Satria sangat tidak tega melihat Pendekar Langitya Sukmana yanng sedang kesakitan. Namun sayangnya pendekar itu menolaknya, ia menahan tangan Jaya Satria ketika hendak menyalurkan tenaga dalamnya.
"Pedang pelebur sukma adalah pedang ganas, yang menyerap hawa kegelapan yang dimiliki oleh seseorang." Kembali ia mencoba untuk menjelaskannya. "Namun saat berada di tanganmu? Pedang itu sangat tenang, juga terasa damai." Ia menatap mata Jaya Satria yang berair karena menahan tangisnya.
"Tuan pendekar? Aku mohon dengarkan aku." Jaya Satria hampir saja menangis karena tidak tahan lagi.
"Pedang ini bisa menjadi pembunuh bagi tuannya karena terlalu banyak menyerap hawa kegelapan dari orang lain, karena itulah aku tidak sanggup lagi untuk bertahan." Ia merasakan semua beban yang telah diserap pedang pelebur Sukma.
"Tuan pendekar." Jaya Satria berusaha untuk menguatkan dirinya.
"Akan tetapi aku tetap memaksakan diri untuk tetap menggunakannya, karena aku sudah muak dengan dunia yang kejam ini." Air matanya mengalir membasahi pipinya, mengingat apa saja yang telah ia lewati. "Sedari kecil aku selalu menderita karena orang-orang yang berkuasa menganiaya diriku." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja.
"Ya, tuan pendekar memang merasakan hal yang sangat pahit di masa lalu." Jaya Satria pun juga ikut menangis, ia tidak tahan dengan situasi seperti itu.
"Pedang pelebur sukma ini akan menjadi temanmu dalam menghadapi masalah yang akan kau hadapi nantinya." Dengan senyuman lembut ia berkata seperti itu. "Tidak perlu jurus khusus untuk mengendalikannya, cukup salurkan saja hawa murnimu, dan mainkan jurus yang kau anggap cocok dengan pedang ini." Ia tersenyum kecil menatap Jaya Satria.
"Aku tidak bisa menerimanya, aku mohon bertahan lah tuan pendekar, aku sangat yakin kau sangat dibutuhkan oleh orang banyak." Jaya Satria dapat merasakan itu.
"Aku percayakan pedang pelebur sukma ini padamu, jagalah ia dengan baik-baik." Ia memaksakan dirinya agar terus menyampaikan perasaannya. "Semoga kelak kau menjadi seorang pemimpin yang baik hati, mau mendengarkan jeritan rakyatnya, berikan keadilan pada siapapun, jangan pernah kau tulikan telingamu hanya untuk sekedar mendengar keluhan mereka."
Begitu banyak yang disampaikan oleh Langitya Sukmana sebelum ia meninggal. Pemuda bertopeng itu dapat merasakan apa saja yang dirasakan oleh langitya Sukmana selama sepuluh tahun belakangan ini. Pemuda itu seakan melihat semuanya. Ingatan tentang langitya sukmana, tentang awal mula ia menjadi pendekar pembunuh bayaran, hingga sampai sepuluh tahun berlalu.
__ADS_1
Bukanlah waktu yang singkat untuk menampung semua beban yang ia pendam. Beban dari hawa kegelapan dari pedang pelebur sukma telah membuatnya menjadi wadah kegelapan. Setelah itu, pedang pelebur sukma menarik kembali kesadaran prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
Masih berada di alam bawah sadar, keduanya berdiri dihadapan pedang pelebur sukma yang masih memancarkan hawa kegelapan. Begitu banyak kenangan yang diperlihatkan pedang pelebur Sukma pada keduanya tentang pendekar Langitya Sukmana selama menggunakan pedang itu demi membangun keadilan yang tidak akan pernah diberikan pemerintahan pada rakyat kecil yang menjerit menderita atas apa yang telah mereka lakukan.
"Sepertinya negeri ini akan dilanda kegelapan yang sangat kental." Tiba-tiba pedang itu berubah wujud menjadi Langitya Sukmana. Namun penampilan itu tidak berubah sama sekali, sama ketika ia terakhir hidup.
Deg!.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria terkejut ketika melihat sosok itu.
"Bukankah kau adalah pendekar itu?."
"Bagaimana mungkin?."
"Aku hanyalah wujud kegelapan nya saja, ini adalah wadahnya di dalam pedang pelebur sukma." Balasnya.
"Tapi mengapa pedang pelebur sukma menarik hawa kegelapan? Bukankah kau mengatakan pedang ini aman berada di tanganku?."
Pendekar Langitya Sukmana terdiam sejenak, menatap jauh ke dalam mata Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
"Dalam waktu dekat ini, pedang pelebur sukma akan kembali bangkit! Karena akan lahir kegelapan yang akan menyelimuti negeri ini."
Setelah berkata seperti itu, Langitya Sukmana menghilang, berganti menjadi pedang pelebur sukma. Tak berselang lama, mereka pun kembali ke alam sadar.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Keduanya mengatur hawa murni mereka dengan tenang.
"Jadi karena itulah, pedang pelebur sukma bergetar. Karena hawa kegelapan yang akan ia terima begitu besar."
"Ya, gusti prabu benar."
Keduanya tampak cemas, mengingat apa yang akan terjadi?.
"Tapi kegelapan seperti apa yang akan melanda negeri ini?. Perasaanku benar-benar tidak enak jaya satria."
"Aku juga tidak tahu, sepertinya ini masalah yang serius." Hatinya sangat tidak nyaman dengan masalah itu. "Tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada negeri ini? Kita hanya berdoa kepada Allah, semoga negeri ini selalu aman."
"Aamiin ya Allah."
Keduanya hanya berharap, berharap dan terus berharap tidak ada bencana yang akan menimpa negeri ini.
"Kalau begitu, suruh para pendar selalu waspada, juga adakan pengajian tiap malam setelah magrib, terus lakukan kebaikan, semoga Allah selalu melindungi kita semua."
"Sandika gusti prabu."
Ya, hanya itu yang bisa ia katakan. Hatinya sangat gelisah. Hatinya waspada dengan apa yang dikatakan oleh langitya sukmana tentang kegelapan itu.
Namun saat itu terdengar suara ketukan pintu yang agak keras, hingga mengalihkan pandangan meraka.
"Assalamu'alaikum putraku? Apakah ibunda boleh masuk?."
"Wa'alaikumussalam ibunda, tentu saja ibunda."
Tak berselang lama terlihat sosok Ratu Dewi Anindyaswari yang terlihat sangat cemas.
"Ibunda? Yunda? Raka?."
"Maafkan aku rayi, ibunda tidak-."
"Kenapa nanda lama sekali di dalam ruangan ini? Apa yang nanda bahas? Ibunda sangat cemas sekali."
"Benar itu rayi Prabu, jaya satria, kami sangat mencemaskan kalian berdua."
"Maafkan nanda ibunda, maafkan aku yunda karena telah membuat cemas."
"Maafkan hamba juga karena telah membuat Gusti Ratu, juga Gusti Putri merasa cemas."
Mereka hanya menghela nafas saja, karena banyak hal yang membuat mereka merasa sangat cemas. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak dengan baik kisah selanjutnya.
__ADS_1
...***...