RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MENGEJUTKAN DAN MENGERIKAN


__ADS_3

...***...


Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara dan Raden Muhammad Yunus telah kembali ke istana Kerajaan Mekar Jaya. Karena ada banyak hal yang akan mereka urus setelah itu. Sedangkan Putri Andhini Andita saat ini ingin keluar istana, karena ia ingin berjalan sebentar. Namun siapa sangka ia malah bertemu dengan dua orang pendekar yang mau masuk ke dalam istana.


"Siapa kalian?. Apa yang kalian inginkan?." Putri Andhini Andhini Andita merasa asing saat melihat kedua orang itu. Tangkas Baron dan Soban Arus menatap tidak suka ke arah Putri Andhini Andita.


"Kau yang siapa?. Kami hanya ingin menemui raden cakara casugraha." Tangkas Baron menjawab dengan juteknya.


"Ada keperluan penting yang akan kami inginkan darinya." Soban Arus menatap tajam ke arah Putri Andhini Andita.


"Keperluan penting?. Keperluan penting seperti apa yang kalian inginkan dari adikku?." Putri Andhini Andita merasakan ada hawa yang tidak menyenangkan sama sekali yang mereka inginkan.


Tangkas Baron dan Soban Arus saling bertatapan, setelah itu mereka malah tertawa terbahak-bahak mendengarkan ucapan Putri Andhini Andita. "Siapa sangka raden cakara casugraha yang kejam itu memiliki kakak yang sangat cantik." Ucap keduanya dalam tawa mereka.


"Heh!." Keduanya menghentikan tawa mereka, dan kali ini tersenyum licik. "Kau akan kami jadikan sandera yang bagus untuk mengancam cakara casugraha." Tangkas Baron memiliki ide yang bagus untuk menjadikan Putri Andhini Andita sebagai sandera mereka?.


"Aku sependapat dengan apa yang kau pikirkan. Mari kita tangkap tuan putri manja ini. Kalau perlu kita buka dulu segelnya baru kita panggil adiknya untuk kita bunuh." Soban Arus malah berpikir lain, dan ia tertawa licik memikirkan rencana jahat apa yang akan ia lakukan.


...***...


Sedangkan di dalam Istana.


Mereka semua tidak melihat Putri Andhini Andita setelah mengantar kepergian Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara dan Raden Muhammad Yunus. Tentunya mereka bertanya-tanya apa yang dilakukan Putri Andhini Andita?.


"Nanda hadyan hastanta. Dimana rayimu nak?. Kenapa ia tidak masuk bersama kita nak?." Ratu Gendhis Cendrawati tidak melihat anaknya.


"Nanda tidak melihatnya ibunda. Sungguh nanda tidak mengetahui dimana rayi andhini andita saat ini dimana." Jawab Raden Hadyan Hastanta.


"Nanda juga tidak melihat dimana rayi andhini andita. Maaf ibunda." Putri Bestari Dhatu juga tidak mengetahuinya.

__ADS_1


"Apakah mungkin yunda andhini andita masih berada di luar?." Putri Agniasari Ariani menyimpulkan kemunginan yang terjadi.


"Bisa jadi seperti itu. Mungkin nanda andhini andita masih merindukan yundanya." Ratu Dewi Anindyaswari juga memikirkan kemungkinan alasan mengapa Putri Andhini Andita tidak hadir bersama mereka.


"Kalau begitu biarkan nanda yang melihatnya ibunda." Putri Agniasari Ariani sedikit khawatir dengan keadaan kakaknya.


"Baiklah. Setelah itu mari kita bahas hadiah apa yang cocok kita berikan untuk nanda ratu nantinya." Ratu Gendhis Cendrawati menepuk pelan pundak putri Agniasari Ariani.


"Kalau begitu saya keluar dulu ibunda, raka, yunda, rayi." Putri Agniasari Ariani berjalan keluar.


"Hamba akan menemani gusti putri. Hamba pamit." Raden Rajaswa Pranawa menyusul Putri Agniasari Ariani.


"Mari kita masuk yunda."


"Mari rayi."


"Maaf ibunda. Nanda akan pergi ke ruang pribadi. Ada sedikit masalah yang harus nanda selesaikan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak bisa pergi bersama mereka.


"Nanda pamit dulu ibunda. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencium tangan kedua ibundanya. "Yunda, raka. Aku pamit dulu, assalamu'alaikum warahmatullahi."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh rayi prabu." Balas Raden Hadyan Hastanta dan Putri Bestari Dhatu.


Setelah itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana pergi dari sana. Karena ada urusan yang ia selesaikan mengenai laporan dari Jaya Satria atau Raden Cakara casugraha yang malam tadi mencoba-coba melakukan ronda. Karena itulah keduanya ah tidak, Raden Cakara Casugraha mencoba untuk menyelesaikannya.


"Maaf ibunda. Sepertinya keadaan dinda bestari agak kurang sehat. Mungkin pengaruh kandungannya. Tadi malam dinda bestari agak mengeluh sakit. Nanda takut terjadi sesuatu padanya." Raden Hadyan Hastanta khawatir dengan keadaan istrinya.


"Benarkah itu nak?. Kenapa tidak katakan pada ibunda?." Ratu Gendhis Cendrawati terlihat cemas.


"Benar nak. Jangan mengabaikan sakit meskipun sedikit. Nanti ibunda akan memanggil nyi ulis, dukun bayi yang sangat ahli yang dipercayai istana untuk memeriksa kandungan." Ratu Dewi Anindyaswari juga merasa cemas dengan keadaan Putri Bestari Dhatu.

__ADS_1


"Maaf karena telah membuat ibunda berdua khawatir. Sebenarnya nanda hanya tidak ingin merepotkan ibunda berdua." Putri Bestari Dhatu merasa bersalah.


"Jangan seperti itu nak. Katakan saka apa yang nanda rasakan. Karena nanda adalah putri kami juga. Jadi jangan sungkan lagi nak." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum lembut.


"Benar yang dikatakan dinda dewi. Nanda adalah istri dari putra kami, jadi nanda adalah putri kami juga." Ratu Gendhis memeluk Putri Bestari Dhatu. Membuatnya menangis haru, karena ia merasakan kasih sayang yang sangat tulus dari kedua wanita cantik yang bergelar Ratu dari kerajaan Suka Damai.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin. Kebahagiaan seperti ini selalu kami dapatkan. Alhamdulillah hirabbli'alamin ya Allah. Perubahan yang hamba rasakan setelah masuk agama islam, serta kebahagiaan yang hamba dapatkan setelah menikah dengan dinda bestari dhatu yang sangat baik. Terima kasih atas nikmat yang engkau berikan pada hamba. Terima kasih ya robb. Nikmat mana yang hamba dustakan atas limpahan rezeki yang engkau berikan pada hamba ya Allah." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta merasa terharu dengan apa yang ia rasakan saat ini. Ia telah mempelajari semuanya selama hampir dua tahun ini tentang kebaikan, bersyukur, menghormati orang lain. Terutama menghormati orang tua, dan hidupmu akan selamat dunia dan akhirat. Menyayangi siapa saja tanpa pandang derajatnya serta menikmati yang telah ada, bukannya malah mencari yang lebih. Pada akhirnya yang berlebih itu malah membuat sengsara.


...***...


Sedangkan di luar halaman istana. Putri Andhini Andita sangat geram mendengarkan apa yang dikatakan oleh kedua pemuda kurang ajar menurutnya itu. Ketika mereka hendak mendekat ke arahnya, dengan cepat ia mengeluarkan pedang Panggilan Jiwa miliknya.


SRAKH!


Terdengar suara sekali tebasan dengan cepat saat keduanya mencoba untuk menangkap kedua tangannya.


"Akh!." Keduanya berteriak sangat keras, karena dada mereka terkena sayatan pedang panggilan Jiwa yang dikeluarkan oleh Putri Andhini Andita. Pedang pembangkit Raga Dewi Suarabumi.


"Kegh." Keduanya merintih sakit. Dada mereka terkoyak parah, hingga mengalirkan darah yang banyak.


"Wanita gila!. Berani sekali kau menyerang kami seperti itu." Tangkas Baron merintih sakit.


"Siapa kau sebenarnya?. Kenapa kau memiliki pedang berbahaya itu?." Soban Arus tidak menyangka akan mendapatkan serangan mematikan seperti itu.


Disisi lain, Raden Jatiya Dewa yang tadinya ingin masuk ke istana sangat terkejut melihat bagaimana Putri Andhini Andita melayangkan sebuah tebasan yang sangat kuat terhadap kedua orang itu. "Sungguh wanita yang sangat mengerikan. Lebih mengerikan dari yunda ku." Dalam hati Raden Jatiya Dewa seakan merasakan tebasan itu mengenai tubuhnya. Ia meraba dadanya yang masih aman.


Deg!!!


Matanya terbelalak terkejut. Apakah yang akan terjadi?. Apa yang membuatnya menatap horor di depannya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2