
...***...
Negeri ini sedang berperang, darah telah tumpah. Hanya ada dua pilihan ketika itu, hidup atau mati. Dibunuh atau membunuh, menang atau kalah.
Hai!. Kau yang suka berjalan di atas rasa amarah. Tidakkah kau bisa mengendalikannya, agar tidak mengobarkan permusuhan?. Hai!. Kau yang berjalan di atas kedamaian. Kendalikan lah, amarah ketika perang. Karena itu tidak lah baik bagimu.
Tapi perang memang telah terjadi, dan tidak bisa dihindari. Entah itu pihak baik, yang tidak mau diserang begitu saja, atau pihak lawan yang mau menguasai negeri seseorang.
...***...
Kali ini di tempat Raden Hadyan Hastanta. Ia tidak menyangka akan berhadapan dengan kakaknya Raden Ganendra Garjitha.
"Heh!. Aku tidak menduga, kau akan berpihak pada musuh, yang selama ini kita benci." Ia mengayun keris kecil yang menjadi senjata yang boleh dimiliki oleh keturunan raja-raja.
"Dulu aku memang musuhnya. Namun setelah aku menyadari kesalahanku, aku sangat merasa berdosa kepadanya. Dan aku telah bersumpah, akan berbaikan dengannya setelah ini." Ia mendengus kecil, kali ini ia tidak akan termakan hasutan lagi.
"Cuih." Ia berdecak kesal. "Aku tahu bagaimana sifat kau!. Tidak mungkin kau berubah secepat itu!. Aku yakin kau telah terkena dukun darinya, sehingga kau berani melawan aku!." Emosinya telah memuncak, hingga dengan kasarnya ia meludah seperti itu seakan jijik mendengarkan ucapan itu.
"Aku sama sekali tidak terkena dukun manapun. Termasuk dari rayi prabu. Jadi jaga ucapanmu!. Atau aku akan menghabisimu!. Karena telah berani memfitnah rajaku!." Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan ucapan Raden Ganendra Garjitha.
"Itu artinya kau sudah siap mati ditangaku!. Kau benar-benar membuatku marah hadyan hastanta!." Amarahnya sudah tidak bisa dikendalikan lagi, ia begitu benci dan emosi.
Ia melompat ke arah Raden Hadyan Hastanta. Menyerangnya dengan menggunakan salah satu keris yang ada di tangannya. Namun Raden Hadyan Hastanta dapat menghindari serangan itu.
Kedua putra mahkota bertarung dengan senjata masing-masing. Sesekali mereka menggunakan kekuatan fisik mereka untuk menyerang. Menghantam lawan dengan menendang, memukul, atau dengan jurus-jurus andalan yang mereka miliki.
"Kau jangan senang dulu raka. Meskipun kau memiliki jurus ayahanda prabu, tapi aku akan menghadapi dengan jurus pengekang kuda menuju kandang." Raden Hadyan Hastanta agak sedikit kewalahan dengan jurus yang dikeluarkan kakaknya itu.
"Keluarkan semua jurus yang kau miliki. Akan aku hadapi kau, dengan jurus bongkahan karang membendung air laut." Balasnya. "Akan aku bendung semua jurusmu!. Setelah itu, akan aku balikkan semua jurusmu, hingga kau tidak bisa melawanku lagi!. Kau akan berlutut di hadapanku!." Begitu besar ambisinya saat ini untuk menjatuhkan adiknya.
...***...
Kita tinggalkan pertarungan mereka sejenak yang sedang dikuasai oleh amarah. Mari kita lihat bagaimana pertarungan antara dua orang putri raja.
Mereka masih bertarung dengan sengitnya, tidak ada yang mengalah diantara keduanya.
"Heh!. Aku tidak menyangka, kau memiliki jurus ilmu kanuragan juga andhini adnita." Putri Ambarsari mengatur hawa murninya. Ia mencoba bersikap tenang, dan tidak terlihat gelisah sedikitpun, ataupun kewalahan.
"Aku telah membuat keputusan. Bahwa aku akan menghentikanmu di medan perang ini. Karena itulah!. Aku belajar beberapa jurus ilmu kanuragan dari jaya satria." Memang jelas nampak kesulitan, karena ini pertama kalinya ia bertarung.
Memang sulit rasanya mengatur hawa murninya. Apalagi terkadang ia merasa panik, atau takut ketika pukulan atau tendangan dari kakaknya itu mengenai tubuhnya. Rasanya sangat sakit dan seakan ingin remuk semua badannya.
"Aku juga telah berjanji pada rayi prabu. Bahwa aku tidak akan menjadi beban dalam perang ini." Ucapnya dalam hati. Meskipun saat ini nafasnya sedang ngos-ngosan, namun ia bertekad mati dalam keadaan berjuang.
"Kau tidak usah banyak bicara lagi rayi. Kalau kau memang ingin mati, maka akan aku kabulkan!." Putri Ambarsari sudah muak, ia tidak akan memberi ampun pada lawannya bahkan jika lawannya itu adalah adiknya.
"Kau juga tidak usah banyak bicara!. Hatimu yang sudah membatu, karena sifat busuk yang kau miliki!." Putri Andhini Andita sudah tidak tahan lagi. "Kau akan dikutuk oleh mendiang ayahanda prabu!. Karena telah berani mengkhianati negerimu sendiri!." Kemarahannya telah mencapai ubun-ubunnya.
"Bedebah busuk!. Beraninya kau mengatakan, jika ayahanda akan mengutukku!." Ia tidak terima dengan ucapan itu. Karena itulah ia marah. "Akulah yang akan mengutukmu dengan jurusku!. Aku benar-benar sudah muak denganmu!." Lanjutnya. Matanya melotot tajam, dan tangannya sudah siap memainkan jurus andalannya.
"Berani sekali dia berkata, jika aku akan dikutuk oleh mendiang ayahanda prabu!. Kau akan menerima jurusku!. Akan aku bunuh kau andhini adnita." Hatinya telah dipenuhi oleh kemarahan yang menguasai dirinya. Sehingga tidak ada kata kebaikan lagi di dalam hatinya.
*Kelemahan seorang pendekar adalah, terletak pada kemarahannya. Jika ia tidak bisa mengendalikan kemarahannya, ia dengan mudah dapat dikalahkan. Berbeda dengan kita yang masih tenang dan sabar. Sebab orang yang sedang marah itu konsentrasinya bisa pecah, jika mendapatkan serangan kecil yang mengejutkannya. Apalagi sorot matanya akan menjadi liar, karena memikirkan ke arah mana ia akan menyerang. Jadi tatap saja sorot matanya itu, maka kau akan mudah mengetahui kemana arah serangannya itu.*
Putri Andhini Andita masih ingat, dengan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria padanya. Tentang orang yang marah ketika bertarung, dan cara mengendalikan pertarungan itu.
__ADS_1
...***...
Sementara itu, Jaya Satria yang sedang bertarung dengan salah satu pendekar dari kerjaan Mekar Jaya. Namun pandanganya tetap tertuju pada kedua putri raja, karena ia mencemaskan mereka.
Jaya Satria menggunakan jurus-jurus yang ia miliki, untuk mengalahkan pendekar itu. Mereka terbang ke sana kemari saling menyerang satu sama lain. Pukulan, tendangan mereka lakukan untuk menjatuhkan lawannya.
Sesekali Jaya Satria berhasil memukul tubuh lawannya, memukul bahu kirinya, memukul dadanya, atau menerjangnya dengan tendangan hingga lawannya terjajar. Lawannya sedikit terbatuk karena menerima serangannya, namun masih bisa berdiri dengan baik.
"Aku!. Pendekar timah dari gunung lencana. Tidak akan mudah dikalahkan begitu saja." Ada kemarahan yang tersirat di sana. Ia menyeka sudut mulutnya yang terasa aneh, ia melihat darah ditangannya itu, membuatnya terkejut.
"Aku tahu kau pendekar dari gunung lencana. Mereka memiliki jurus penempa badai mendaki gunung." Jaya Satria mengetahui segalanya?. "Jurus itu memang kuat. Namun aku memiliki jurus yang dapat mematahkan jurus itu." Lanjutnya.
"Kau jangan asal berbicara!. Jurus yang aku gunakan ini, tidak sembarangan orang yang dapat menahannya." Serani Loka hampir tidak dapat menahan dirinya lagi. Tidak mungkin, orang bertopeng ini mengetahui kelemahan dari jurusnya.
...***...
Kita tinggalkan dulu rasa penasaran Serani Loka, karena Jaya Satria yang mengetahui kelemahan dari jurusnya. Kita lihat Raden Gentala Giandra yang masih terjebak dalam hutan yang menyesatkan.
Raden Gentala Giandra mencoba untuk bersikap tenang, dan mencari ide agar bisa keluar dari hutan ini. Dan ia ingat, ayahandanya pernah berkata. Hutan ini bisa sebenarnya hitam biasa, namun yang membuat kita seperti tersesat sebenarnya adalah, pikiran kita sendiri yang terpengaruh oleh kata-kata yang memberi arahan yang menyesatkan.
"Yah. Aku harus mencobanya." Ia akan mencoba konsentrasi, memusatkan pikirannya, mencoba menerawang di sekitarnya.
"Apa yang sedang dilakukan oleh raden gentala giandra?." Rakesh Penampihan bertanya-tanya. Apakah ia harus membantunya, atau menunggu sambil melihat, apa yang akan dilakukan oleh junjungannya ini?. Ya, sepertinya begitu. Karena ia sama sekali tidak mengerti dengan hutan ini.
Raden Gentala Giandra telah berhasil mendapatkan penglihatannya. Ia arahkan serangannya ke samping kirinya, dengan menyalurkan tenaga dalamnya melalui telapak tangannya hingga mengenai sesuatu.
"Eqhaaaaakh." Terdengar suara jeritan kesakitan dari seseorang, dan benda melayang akibat serangan Raden Gentala Giandra tadi. Mereka melihat sosok itu mendarat, dan ternyata itu adalah Senopati Mandaka Sakuta.
"Keqh." Ia meringis kesakitan karena serangan itu, tubuhnya terasa remuk.
"Hem,,, Hebat juga kau raden. Aku tidak menduganya." Balasnya, ia mencoba untuk tetap tenang.
"Jadi kedatangan kami sudah diketahui oleh rayi prabu?. Dia memang dukun yang hebat." Raden Gentala Giandra sangat marah, dan tidak menduga itu.
"Rajaku prabu asmalaraya arya ardhana bukanlah seorang dukun!. Dan kau harus tahu itu, raden gentala giandra!. JAGA UCAPANMU ITU!." Ia tidak terima dengan perkataan itu, tidak mungkin rajanya seorang dukun.
"Bedebah busuk!. Kau masih saja membela raja busuk itu!. Jelas-jelas telah melakukan teluh pada kakek prabu!. Karena itulah kami menyerang kalian semua!." Puncak emosinya meledak begitu saja.
"Apa?. Tidak mungkin rajaku melakukannya!. Sudah aku katakan padamu!. Dan dengarkan baik-baik, dengan mata hatimu yang sudah tertutup akan kebaikan. Raden gentala giandra!." Ia juga marah. Ia yang menjadi saksi bagaimana siasat yang diberikan oleh rajanya. Semuanya sudah berdasarkan aturan perang yang sudah ada.
Dan ia juga tidak menyangka, jika itu adalah alasan mengapa mereka menyerang mendadak?. Haruskah ia kembali ke istana dan melaporkannya pada Rajanya?.
...***...
Mari kita lihat prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia yang saat ini berada di ruang pribadinya, baru saja selesai mengerjakan sholat Zhuhur. Tiba-tiba ia mendapatkan firasat yang sangat mengejutkannya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ia baru saja mendapatkan penglihatan yang membuatnya gelisah.
"Syekh guru." Ia menyebut nama gurunya. Ia segera bangkit dan segera menuju halaman istana. Ia terkejut melihat awan hitam, menggulung di langit dan itu benar-benar pertanda buruk baginya.
"Ya Allah. Sepertinya ada pihak lain, yang ingin campur dalam perperangan ini." Ia merasakan itu. Ada hawa yang tak kasat mata, yang ingin bergabung dalam perperangan yang sedang terjadi.
"Nanda prabu." Syekh Asmawan Mulia menghampiri sang prabu. Raut wajahnya nampak sangat gelisah.
"Syekh guru. Seperti yang nanda katakan sebelumnya. Bahwa ada pihak lain, yang ikut memanfaatkan perang ini." Ia terlihat cemas, meskipun tidak terlihat oleh matanya namun ia dapat merasakannya.
__ADS_1
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Lindungilah mereka semua." Syekh Asmawan Mulia berdoa di dalam hatinya. "Lalu apa yang akan kita lakukan nanda prabu?." Ia khawatir terjadi sesuatu pada mereka yang sedang berperang.
"Kita lihat situasinya dulu syekh guru." Sang prabu tidak mau terburu-buru dalam mengambil keputusan. Takut akan berakibat fatal dengan orang-orang yang sedang berperang nantinya.
...****...
Kembali ke medan perang.
Ketika Putri Ambarsari hendak melepaskan serangannya, ia merasakan tubuhnya diserang oleh seseorang. Sehingga membuatnya tidak bisa bergerak. Begitu juga dengan Putri Andhini Andita. Tubuh mereka terasa sakit, karena mendapatkan serangan gaib?. Mereka juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja seperti ini?.
"Akh." Putri Ambarsari meringis kesakitan karena serangan itu. "Kenapa dengan tubuhku." Ia merasa ada yang aneh hawa sekitar. Rasa sakit yang tidak biasa ia terima.
"Aaakh." Putri Andhini Andita juga, tubuhnya terasa sakit. Tubuhnya mundur dengan sendirinya, seakan ada yang menghantamnya dari arah depan.
"Astaghfirullah hal'azim, gusti putri." Jaya Satria yang sedang fokus bertarung, mendadak terkejut karena melihat kondisi putri Andhini Andita.
Dan ia lebih terkejut lagi ketika melihat Serani Loka yang terpental. Padahal ia tidak menyerangnya sama sekali. Pikirannya mulai bercabang, apalagi ketika mendengarkan suara teriakan dua putri raja.
"Ya Allah, gusti putri." Jaya Satria menyambut tubuh Putri Andhini Andita yang terpental,
"Gusti putri." Jaya Satria melihat kondisi putri Andhini Andita terluka parah. Ada darah di mulutnya, dan juga tubuhnya yang memar.
"Apa yang terjadi sebenarnya?." Jaya Satria tidak mengerti, mengapa tiba-tiba keduanya mendapatkan serangan aneh. Namun keterkejutannya bukan hanya itu saja, ia melihat prajurit yang masih bertahan mengalami hal yang serupa.
Jaya Satria mencoba untuk memusatkan penglihatannya lebih dalam lagi. Melalui mata batinnya, ia melihat mereka seperti diserang oleh sosok yang tak kasat mata.
"Sepertinya firasatku benar. Ada orang yang ikut campur dalam perperangan ini." Ia mencoba konsentrasi untuk melihatnya lebih dalam lagi, namun teralihkan oleh suara teriakan dari putri Ambarsari.
"Astaghfirullah hal'azim." Ia terkejut melihat itu. Ia ingin sekali membantunya. Namun rasanya tidak mungkin karena ia sedang menggendong putri Andhini Andita.
"Apa yang harus hamba lakukan ya Allah. Situasi perang ini terlihat kacau." Ia tidak tau harus mendahulukan yang mana.
"Baiklah. Aku akan membawa Putri andhini andita dulu ke istana. Setelah itu, aku akan membantu putri ambarsari." Ya, itulah yang ia pikirkan.
Setelah itu ia menghilang dari sana. Ia untuk menyelamatkan putri Andhini Andita terlebih dahulu, ia tidak mau terjadi sesuatu padanya.
...***...
Sementara Jaya Satria menyelamatkan putri Andhini Andita, Situasi perang Raden Gentala Giandra melawan Senopati Mandaka.
Mereka yang sedang bertarung beradu ilmu kanuragan terkejut, karena mendapatkan serangan aneh. Sehingga membuat tubuh mereka terpental. Raden Gentala Giandra merasakan serangan tak kasat mata menghantam tubuhnya.
"Ghaaaaah." Ia semakin emosi, karena tidak bisa melihat serangan itu. Namun ia mencoba membuat pertahanan tubuh agar tidak terkena serangan itu.
"Aaakh." Senopati Mandaka Sakuta berteriak kesakitan karena tubuhnya diserang. Namun ia juga bisa membuat pertahanan dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Sedangkan Prajurit yang masih tersisa tidak dapat menahan serangan gaib yang datang. Mereka pasrah mendapatkan serangan gaib itu, tanpa melakukan perlawanan.
"Lihatlah!. Betapa pecundangnya rajamu!. Dengan siasat busuknya itu, dia menyerang kami dengan serangan gaib!." Dalam keadaan kesakitan seperti itu, masih saja berpikiran, bahwa serangan gaib yang diterima olehnya adalah perbuatan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Sudah aku katakan padamu raden ganendra garjitha!. Pikiran kotormu lah, yang mengatakan itu adalah ulah rajaku!. Harus berapa kali aku katakan!. Rajaku PRABU ASMALARAYA ARYA ARDHANA TIDAK MUNGKIN MELAKUKAN HAL KOTOR SEPERTI YANG KAU PIKIRKAN!." Ia sangat emosi sampai ia berteriak keras.
Tidak habis pikir dengan cara pikiran Raden Gentala Giandra, yang sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang ia katakan.
Apa yang terjadi?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...
__ADS_1