
...***...
Raden Cakara Casugraha saat ini telah memasuki wilayah kerajaan Utara Bunga. Ia mengamati kota raja yang sangat ramai. Mereka semua tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dan Raden Cakara Casugraha yang kini sedang bersembunyi di balik topeng itu mengamati mereka semua. Saat itu juga ia melihat ada seseorang yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
"Akhirnya kau datang juga cakara casugraha. Cukup lama juga aku menunggu hari ini tiba. Dimana aku akan membunuhmu, atas apa yang telah kau lakukan dimasa lalu." Ada kebencian yang terpancar di sorot matanya saat ini. Kebencian akan kejadian masa lalu yang sangat menyiksa dirinya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Lindungilah hamba dari orang-orang yang berniat jahat pada diri hamba. Hanya pada-Mu lah hamba berserah diri. Hamba serahkan hidup dan mati hamba hanya pada-Mu ya Rabb." Dalam hatinya berdoa dan berserah diri pada Allah SWT.
"Yah, karena kau baru sampai. Kenapa kau tidak menikmati suasana di sini dulu cakara casugraha." Raden Cakrawala Dirja tersenyum kecil. "Aku menyambut kedatangan mu di kerajaan ini dengan baik. Kau pasti lelah setelah melakukan perjalanan sangat jauh. Untuk saat ini aku akan menganggapmu sebagai tamu kehormatan istana." Raden Cakrawala Dirja hanya tersenyum kecil saja.
"Jadi itu adalah sambutan dari seorang putra mahkota terhadap seorang raja?." Raden Cakara Casugraha melihat keseriusan di wajah Raden Cakrawala Dirja.
"Jangan sampai aku berubah pikiran cakra casugraha." Senyumannya itu memancarkan hawa perperangan. "Ikuti saja, karena kah saat ini berada di daerah musuh. Bisa saja kau terbunuh dengan mudahnya." Raden Cakrawala Dirja menggertak Raden Cakara Casugraha?.
__ADS_1
"Baiklah. Aku memang merasa sangat lelah, setelah berjalan jauh." Raden Cakara Casugraha tidak memiliki pilihan lain selain melakukan apapun yang diinginkan oleh Raden Cakrawala Dirja. "Kebetulan, sebentar lagi akan memasuki sholat ashar. Setidaknya aku bisa mendapatkan tempat istirahat yang layak untuk melakukan sholat ashar." Raden Cakara Casugraha setidaknya bersyukur untuk saat ini, karena ia mendapatkan tempat yang layak untuk melaksanakan sholat. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.
...***...
Di satu sisi. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dapat melihatnya. Saat ini raga asli Raden Cakara Casugraha menuju istana Kerajaan Utara Bunga. Ia sangat kegelisahan, jika Raden Cakrawala Dirja akan melakukan sesuatu yang buruk nantinya.
"Raka prabu. Sebaiknya raka prabu tidak ke sana. Biarkan saja dia melakukan apa yang ia inginkan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba mengingatkan Raden Cakara Casugraha agar tidak terlalu mengambil resiko untuk berhadapan dengan Raden Cakrawala Dirja.
"Tenanglah rayi prabu. Apakah kau ingin ibunda, yunda, raden rajaswa merasakan betapa kejamnya jurus yang ia gunakan waktu itu?. Apakah kau ingin keluarga istana, beserta rakyat suka damai jatuh dalam dosa besar yang ia tebarkan melalui alam mimpinya itu?." Raden Cakara Casugraha teringat akan kejadian yang mengerikan saat itu. Rasanya ia tidak sanggup lagi untuk berjalan, jika saja ia tidak memiliki pegangan apa yang telah ia pelajari selama ini?. Mungkin saja ia akan mati pada saat itu?. Entahlah, siapa yang bisa menebak apa yang akan ia hadapi satu detik kemudian.
"Tenanglah rayi prabu. Jangan sampai goyah. Ini semua kedamaian kerajaan suka damai. Berdoalah kepada Allah SWT. Bahwa, apa yang terjadi pada saat ini adalah takdir dari Allah SWT. Jadi jangan sampai goyah hanya karena masalah yang kita hadapi saat ini." Raden Cakara Casugraha berusaha untuk menguatkan hatinya. Serta berperang dengan tekadnya saat ini.
...***...
__ADS_1
Sementara itu, Ratu Dewi Anindyaswari yang sedang melaksanakan sholat ashar merasakan perasaan yang sangat gelisah. Akhir-akhir ini ia terus memikirkan anaknya Raden Cakara Casugraha. Hatinya merasa lemah, dan seakan merasakan kehilangan yang sangat mendalam.
Dalam sholat yang ia lakukan, tak henti-hentinya ia memanjatkan doa untuk anaknya itu. Doa seorang ibu untuk anaknya yang sangat ia sayangi.
"Ya Allah. Tidak ada tempat mengadu selain pada-Mu. Karena itulah hamba meminta memohon pada-Mu ya Rabb." Tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya. "Lindungilah putra hamba. Sayangilah ia, jauhkan ia dari marabahaya yang selalu mengincar dirinya ya Allah." Begitu dalam perasaan sedih yang ia rasakan saat ini. Hingga rasanya ia tidak bisa menahan perasaan sesak itu. "Tiada daya dan kekuatan kecuali pertolongan-Mu. Hamba serahkan semuanya pada-Mu ya Allah. Aamiin ya rabbal aalaamiin." Dari hatinya yang sangat dalam, ia memang mengkhawatirkan keadaan anaknya.
Saat itu, ia merasakan kehadiran mendiang suaminya Prabu Kawiswara Arya Ragnala. "Tenanglah dinda dewi." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum kecil menatap istri yang sangat ia cintai.
"Kanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk suaminya dengan sangat erat. Melepaskan kerinduan yang ia rasakan, serat perasaan sedih yang ia rasakan selama ini. "Apa yang harus dinda lakukan kanda prabu?. Kenapa dinda merasa sangat sedih, sementara itu putra kita masih berada di dekat dinda. Sebenarnya apa yang terjadi kanda. Katakan pada dinda, supaya dinda tidak berlebihan mengkhawatirkan keadaan putra kita kanda." Perasan sedih yang sangat menyesakkan dirinya, sehingga ia merasa kesulitan dalam bernafas.
"Tenanglah dinda dewi." Prabu Kawiswara Arya Ragnala mencoba untuk menenangkan istrinya. Ia dapat merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Ratu Dewi Anindyaswari saat ini. "Teruslah berada di samping putra kita dinda dewi. Terus kuatkan hati putra kita hingga ia menjadi raja yang sangat kuat." Prabu Kawiswara Arya Ragnala menatap mata istrinya dengan lekat. "Dinda adalah seorang ibu yang sangat kuat. Jadi dinda dewi jangan perlihatkan rasa khawatir dinda dihadapan putra kita saat ini. Terus lah memberi semangat padanya, karena itulah yang paling dibutuhkan putra kita saat ini. Apakah dinda dewi mengerti dengan apa yang kanda katakan?." Prabu Kawiswara Arya Ragnala mencium kening istrinya dengan lembut. Namun setelah itu menghilang dengan seberkas cahaya yang cukup menyilaukan.
"Oh kanda prabu." Perasaan Ratu Dewi Anindyaswari sangat gelisah yang luar biasa. Setiap anaknya dalam masalah, Prabu Kawiswara Arya Ragnala suaminya akan selalu mendatangi dirinya. Suaminya terus mengingatkan dirinya agar terus menguatkan anaknya. Hanya dengan semangat yang ia berikan pada anaknya, itu dapat membantu anaknya untuk terus berjuang dalam menghadapi hidup yang tidak terduga ini.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...