
...***...
Jaya Satria masih berhadapan dengan Sabisana Duryana. Pertarungan mereka sangat sengit. Tidak ada yang mau mengalah diantara keduanya.
"Lihatlah. Pedang itu memancarkan hawa Kegelapan. Itu membuktikan bahwa kau bukanlah orang yang baik raden cakara casugraha."
"Kau tidak usah banyak bicara sabisaba duryana." Jaya Satria semakin geram dengan ucapan Sabisana Duryana yang selalu memancing amarahnya. "Pedang ini adalah pedang pelebur sukma." Lanjutnya lagi. "Asal kau tahu saja. Pedang ini hanya akan bereaksi pada orang-orang yang memiliki kegelapan dihatinya saat aku keluarkan dari tubuhku." Jaya Satria memainkan jurus cakar naga cakar petir. "Dan kau yang masih menyimpan dendam padaku. Makanya pedang ini ingin menghisap semua hawa kegelapan yang ada di dalam tubuhmu." Jaya Satria menatap tajam ke arah Sabisana Duryana.
"Kau tidak usah mengatakan hal yang tidak berguna raden cakara casugraha." Ucap Sabisana Duryana dengan kesalnya. "Bukan hanya kau saja yang memiliki jurus andalan. Aku juga memiliki jurus yang akan membunuhmu." Sabisana Duryana sudah sangat geram pada Jaya Satria.
"Kau rasakan jurus letusan racun kegelapan milikku ini." Sabisana Duryana memainkan jurus andalannya. "Kali ini akan aku pastikan kau yang akan kalah." Lanjutnya lagi.
Sementara itu, Putri Cahya Candrakanti memperhatikan pertarungan mereka dari jarak yang cukup jauh.
"Mengapa orang itu memanggil jaya satria dengan sebutan raden cakara casugraha?." Tadi ia sempat mendengarkan orang asing itu menyebutkan nama Jaya Satria dengan sebutan Jaya Satria?.
Namun pipinya memerah merona karena mengingat kata lain yang diucapkan oleh orang asing itu. "Kekasih?. Kekasih jaya satria?." Dalam hatinya merasakan perasaan berdebar-debar yang luar biasa. Entah mengapa hatinya berharap jika jaya satria menjadi kekasihnya?.
Kembali ke pertarungan Jaya Satria dan Sabisana Duryana yang semakin mengganas.
"Kegh."
Keduanya meringis sakit, karena dampak dari jurus mereka yang tidak bisa dianggap remeh. "Jurusnya mengandalkan angin sekitar. Masih sama dengan yang dulu." Dalam hati Sabisana Duryana dapat merasakan perbedaan jurus Raden Cakara Casugraha. "Hanya saja, pedang yang ia gunakan seakan menyedot tenaga dalamku. Benar-benar pedang yang sangat mengerikan." Ia sedikit gelisah. Ia dapat merasakan bagaimana pedang itu menarik hawa murninya perlahan-lahan.
"Gelombang udara disekitar bergetar aneh. Aku harus berhati-hati." Jaya Satria mengamati dan merasakan hawa sekitar yang berbeda. Getaran gelombang tenaga dalam disekitar sangat bertentangan dengan jurus yang ia mainkan.
Apa yang akan mereka lakukan?. Apakah mereka bisa mengalahkan musuhnya?.
Sementara itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha untuk menahan dirinya. Karena ia juga merasakan sakit akibat dampak dari Jaya Satria.
"Ya Allah. Hamba hanya berserah diri padamu. Tiada daya dan upaya kekuatan di dunia ini kecuali hanya milik-Mu ya Allah." Dalam hati sang Prabu sangat khawatir.
Namun kekhawatirannya semakin bertambah, disaat ia merasakan sebuah pukulan tenaga dalam di perut kirinya. Rasa sakit yang tidak bisa ia tahan lagi. Sehingga ia meringis kesakitan, dan memuntahkan darah?. Membuat mereka semua terkejut.
"Nanda prabu."
"Rayi prabu."
__ADS_1
Mereka semua terkejut melihat itu. Mereka tidak menyangka Prabu Asmalaraya Arya Ardhana akan mengalami hal yang mengejutkan.
Sementara itu, Putri Bestari Dhatu segera berinisiatif menotok beberapa titik aliran tenaga dalam Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, agar tidak merasakan sakit.
Sedangkan Jaya Satria yang tekena pukulan letusan racun kegelapan. Perut kirinya terasa sangat panas yang luar biasa. Benar-benar seperti ingin meletus alias meledak. Pukulan itu juga mengandung racun kegelapan yang sangat ganas.
"Jaya satria." Putri Cahya Candrakanti segera mendekati Jaya Satria. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Jaya Satria yang sedang terluka parah.
Lalu bagaimana dengan Sabisana Duryana?. Keadaannya juga saat ini sedang terluka parah.
"Bedebah!. Jurus itu telah mematikan sebagian tubuhku." Ia memperhatikan tubuhnya yang mulai gosong. Aliran tenaga dalamnya seakan terhenti. Selain itu, luka akibat sayatan pedang Pelebur sukma itu benar-benar telah menyiksa dirinya.
"Aku tidak mau mati dengan cara yang seperti ini." Sabisana Duryana seakan tidak dapat lagi merasakan dirinya. Kepalanya juga terasa sakit, benar-benar tidak dapat merasakan dirinya.
...***...
Sementara itu. Di Istana Kerajaan Angin Selatan.
Prabu Kawanda Labdagati membaringkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana di tempat tidur.
"Lakukan dengan baik putriku."
Mereka semua memperhatikan Putri Bestari Dhatu mengobati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang tidak sadarkan diri?.
"Dinda dewi." Prabu Kawanda Labdagati mendekati Ratu Dewi Anindyaswari yang sedang menangisi kondisi anaknya. "Dinda dewi. Apa yang terjadi pada nanda prabu?. Mengapa tiba-tiba nanda prabu sakit?." Ia sangat mencemaskan keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Ratu Dewi Anindyaswari menangis terisak. Ia sangat cemas dengan keadaan putranya. Ingatannya melayang pada putranya yang satu lagi. "Pasti terjadi sesuatu pada putraku jaya satria." Tidak salah lagi. Pasti terjadi sesuatu pada anaknya itu.
"Jaya satria?." Prabu Kawanda Labdagati merasa heran. Apakah Ratu Dewi Anindyaswari memiliki anak lagi?. Tapi apa hubungannya dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Ibunda. Izinkan ananda kembali ke istana. Ananda takut terjadi sesuatu dengan jaya satria di istana. Ananda mohon." Putri Andhini Andita sangat gelisah. Ia sangat yakin, jika Jaya Satria mengalami kesulitan di Istana Kerajaan Suka Damai saat ini.
"Paman prabu. Kami mohon pamit pulang ke istana. Kami sangat menghawatirkan keadaan saudara kami yang masih tinggal di istana." Putri Agniasari Ariani memohon pada Prabu Kawanda Labdagati.
"Baiklah. Meskipun saya tidak mengerti apa yang terjadi. Semoga saja segera bisa diatasi." Prabu Kawanda Labdagati mengizinkan dua putri Raja kembali ke Istana untuk memastikan sesuatu?.
"Terima kasih paman prabu. Kalau begitu kami pamit dulu." Putri Agniasari Ariani sangat bersyukur atas izin itu.
__ADS_1
"Ibunda. Ananda akan kembali terlebih dahulu." Ucapnya. "Ibunda jagalah rayi prabu di sini." Lanjutnya.
"Berhati-hatilah nak. Ibunda sangat mengkhawatirkannya. Pastikan jaya satria baik-baik saja nak." Ratu Dewi Anindyaswari tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Hatinya sangat gelisah.
"Semoga saja ibunda. Ananda pamit dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Sampurasun." Ucapnya memberi hormat pada mereka semua.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Balas Ratu Dewi Anindyaswari.
"Ibunda. Ananda juga pamit. Sampurasun." Putri Andhini Andita juga pamitan pada ibundanya Ratu Gendhis Cendrawati.
"Berhati-hatilah nak. Jaga keselamatan kalian."
"Rampes." Balas mereka semua.
"Nanda hadyan hastanta tetaplah berada di sini nak. Ibunda sangat khawatir jika ada apa-apa dengan rayimu nantinya." Ratu Dewi Anindyaswari sangat berharap pada Raden Hadyan Hastanta.
"Baiklah ibunda. Semoga saja jaya satria tidak apa-apa di istana." Raden Hadyan Hastanta sangat mencemaskan keadaan adiknya juga.
"Jaya satria?. Bukankah itu nama utusan dari prabu asmalaraya arya ardhana waktu itu?." Sementara itu Raden Kawindra Labda mengingat saat utusan itu mengantar adiknya. Bahkan ia masih ingat saat adiknya memanggil utusan itu dengan sebutan Raden?.
"Seperti ada sebuah rahasia yang sedang mereka tutupi. Tapi mengapa rayi bestari dhatu agaknya mengetahui rahasia itu. Sehingga tadi rayi bestari dhatu menyadari jika terjadi sesuatu pada prabu asmalaraya arya ardhana." Raden Kawindra Labda sedikit kebingungan dengan hubungan mereka.
"Ya Allah. Hamba hanya memohon pada-Mu. Semoga saja jaya satria putra hamba dalam keadaan baik-baik saja." Dalam hatinya sangat berharap semuanya akan baik-baik saja.
"Tenanglah rayi. Semoga saja nanda prabu bisa disembuhkan oleh nimas bestari dhatu." Ratu Gendhis Cendrawati berusaha untuk menenangkan Ratu Dewi Anindyaswari.
"Semoga saja yunda." Ratu Dewi Anindyaswari menatap anaknya yang sedang terbaring saat ini.
"Kanda." Ratu Gendari Candramaya juga merasa khawatir dengan kondisi aneh yang ia lihat. Ia tadinya berpikir bahwa Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang sakit. Tapi jika melihat kekhawatiran yang mereka rasakan, sepertinya bukan hanya sekedar sakit. Namun ada hal lain yang membuat mereka semakin merasakan kesedihan.
"Kita lihat saja apa yang terjadi dinda." Baru kali ini, ia melihat ada hal yang aneh dialami oleh seseorang.
Apakah yang akak terjadi pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Bagaimana dengan nasib Jaya Satria yang berada di Istana Kerajaan Suka Damai?. Temukan jawabannya.
Dukungannya menjadi api semangat untuk lanjutkan ceritanya. Terima kasih selalu menyemangati author yang tidak berwujud ini. Salam cinta juga untuk semua pembaca yang like, atau hanya sekedar lewat saja. Hehehe.
...***...
__ADS_1