RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
JAYA SATRIA DISERANG


__ADS_3

...***...


Sudah lama ia menunggu namun orang yang ditargetkan belum juga muncul.


"Hah!. Apakah ia tidak mendengarkan suara teriakan dariku!." Hatinya marah, panas membara hingga ia melampiaskan kemarahannya pada sekitarnya.


"Cara apa yang harus aku lakukan, agar aku bisa mancingnya keluar!." Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi.


"Baiklah. Aku akan langsung membuat keributan. Setelah itu aku kan meminta bantuan, pada raja teluh dari negeri asap kabut, untuk membuat penduduk desa terlibat dalam kegaduhan itu." Itulah yang akan ia lakukan.


"Ya, aku akan segera melakukannya. Awas saja kau orang bertopeng bedebah!. Kau pasti akan aku bunuh secepatnya!. Agar aku tidak merasa gelisah lagi." Ia pergi meninggalkan tempat itu.


Apakah ia berhasil melakukan apa yang telah ia rencanakan?. Temukan jawabannya.


...****...


Di Istana Kerajaan Suka Damai. Di ruang pribadi raja.


"Maafkan hamba gusti prabu. pada saat itu aku mendengarkan suara teriakan di sekitar hutan, namun siapa sangka aku ditotok oleh seseorang dan ia membuatku tidak sadarkan diri'' ucapnya pada sang prabu


"Lalu bagaimana kau bisa terbebas darinya?."


"Hamba tidak menyangka bahwa orang itu adalah kakek yang waktu itu."


"Maksudmu kakek yang mengatakan kau adalah seorang pemimpin?."


"Benar gusti Prabu."


"Astagfirullah ya Allah. Lalu apa yang ia lakukan padamu?."


"Ia tidak melakukan apa-apa pada hamba, selain menunjukkan apa yang terjadi jika aku datang ke hutan itu gusti prabu." Jawabnya. "Ia memperlihatkan, jika hamba masuk hutan itu, hamba akan dicelakai oleh wanita yang berbuat kerusuhan di tempat hiburan malam waktu itu." Raut wajahnya tampak cemas. "Wanita itu masih dendam pada hamba, dan ia berencana ingin membunuh hamba dengan menggunakan asap kabut."


"Astagfirullah hal'azim ya Allah. Itu sangat berbahaya sekali, jaya satria. Kau harus waspada. Untuk saat ini tetaplah berada di istana. Aku khawatir, sangat khawatir jaya satria."


"Sandika gusti prabu. Untuk sementara waktu hamba berada di istana saja."


"Nanti kita sama-sama menemui kakek itu, untuk mengucapkan terima kasih padanya jaya satria."


"Hamba rasa akan sulit untuk menemukan keberadaanya."


"Kenapa?."


"Dia datang dan muncul tampa hamba ketahui. Sebelum ia pergi, aku sempat mendengar kata-kata yang diucapkan olehnya. Ia mengatakan bahwa ia melakukan itu hanya untuk melindungi junjungannnya."


"Melindungi junjungannya?."


"Ya, dia berkata seperti itu gusti prabu."


Keduanya mencoba berpikir tentang itu, mencoba mencari jalan keluarnya.


"Apakah ada hal kita lewatkan selama ini, sehingga ia berkata seperti itu?."


"Atau ia mengenali mendiang ayahanda, dan ia merasa berutang budi?."


"Namun jika itu yang terjadi, tidak mungkin ia mengenalimu yang bersembunyi dibalik topeng ini."


"Ya, benar juga. Karena tidak semua orang yang mengetahui hamba. Mengetahui siapa yang berada dibalik topeng ini." Ia menyentuh wajahnya yang ditutupi oleh topeng itu.


"Semoga saja dia memang orang yang baik, dari golongan orang yang baik-baik."


"Ya, hamna juga berharap seperti itu gusti prabu."


Sungguh orang yang aneh, namun mereka bersyukur karena masih ada orang yang menyelamatkan mereka dari ancaman kematian. itu semua karena Allah SWT yang masih menyayangi mereka. Apa yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.


...****...


Di Istana Kerajaan Kegelapan.


"Jadi putriku masih belum bisa menghabisi orang itu?."


"Belum gusti prabu. Tuan putri mengatakan, agar gusti prabu bersabar untuk saat ini. Karena tuan putri memiliki rencana yang bagus."


"Kalau begitu, kau temui dia. Bantulah dia. Aku sudah tidak sabar lagi, jika ia sudah mati. Maka aku belum bisa menyentuh raja bodoh itu!." Kemarahnnya seakan menggentarkan langit dan bumi. Begitu besar ambisi yang ia simpan.


"Sandika gusti prabu. Hamba mohon undur diri." Raja Teluh dari negeri asap berkabut pergi dari tempat. Ia tidak mau jadi korban kemarahan junjungannya.


"Andai saja kekuatanku masih penuh, aku pasti akan langsung menyerang raja itu, tapi-." Ia mengingat bagaimana pertarungannya dengan prabu Kawiswara Arya Ragnala yang waktu itu menyegel separoh dai kekuatannya. Jika tidak, mana mungkin ia sulit unuk disembuhkan.

__ADS_1


"Raja suka damai itu benar-benar bedebah!. Mati saja malah meninggalkan beban padaku." Sumpah serapah keluar dari mulutnya, rasa sakit hati yang ia rasakan. Dan kekuatnnya tidak bisa ia gunakan sepenuhnya. Itulah alasan mengapa ia tidak bisa sepenuhnya menyerang istana waktu itu dengan menggunakan raganya.


"Tapi aku akan berusaha, mencari cara agar kekuatanku sepenuhnya kembali." Hatinya masih memiliki tekad. "Semoga saja nini kabut bidadari berhasil menemukan orang, yang mampu melepaskan jurus kutukan itu dari tubuhku."


Ya, prabu Wajendra Bhadrika telah memberi tugas pada Nini Kabut Bidadari agar mencari orang yang mampu membebaskan dirinya. Apakah bisa?. Temukan jawabannya.


...****...


Di belalang Istana Kerajaan Suka Damai.


Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani sedang latihan ilmu kanuragan bersama Jaya Satria. Kedua putri Raja itu mengikuti gerakan-gerakan Jaya Satria dengan serius.


"Rayi andhini andita sepertinya sangat senang sekali." Raden Hadyan Hastanta sangat memperhatikan adiknya saat ini.


"Raka benar." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga memperhatikan itu. Raut wajahnya kakak perempuannya itu tampak berbeda dari yang sebelumnya.


"Mohon maaf nanda Prabu. Jika ibunda lancang, apakah ibunda boleh tahu, siapa jaya satria sebenarnya?. Ibunda bisa menangkap, ada sesuatu yang membuat yundamu andhini andita tertarik padanya." Ratu Gendhis Cendrawati begitu penasaran dengan sosok Jaya Satria yang misterius.


"Maafkan nanda ibunda. Mungkin nanda tidak bisa menjelaskan, secara terperinci mengenai jaya satria. Namun ia adalah orang yang baik. Ia hanya malu saja memperlihatkan wajahnya. Karena itulah ia mengenakan penutup wajah." Sang Prabu hanya bisa menjawab demikian. Karena ia memang tidak bisa menjelaskan siapa Jaya Satria sebenarnya pada Ratu Gendhis Cendrawati. "Ibunda tenang saja. Nanda jamin, jaya satria tidak akan menyakiti yunda andhini andita." Lanjutnya.


"Yunda tenang saja. Aku merasakan jika jaya satria memang orang yang baik, tidak mungkin kanda prabu bekerja dengan orang jahat." Ratu Dewi Anindyaswari ikut membantu menjelaskannya.


Saat ini mereka berada di pandopo, istirahat bersama untuk menikmati suasana yang jarang terjadi ini.


"Jaya satria sangat baik ibunda. Saat perang terjadi, dia yang menyelamatkan rayi andhini andita, juga yunda ambarsari ketika mereka terluka." Raden Hadyan Hastanta masih ingat, bagaimana ia pulang waktu itu mendapatkan adiknya yang sedang terluka. "Dia benar-benar orang yang baik. Aku bahkan merasakan kebaikan dan sikapnya yang sama seperti rayi prabu, yang seakan sedang bersembunyi dibalik topeng itu." Tanpa sadar ia berkata seperti itu.


Namun ucapan itu membuat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terkejut, jantungnya berdetak kencang.


"Ya Allah. Ternyata raka hadyan hastanta berpikiran seperti itu." Entah mengapa hatinya gelisah mendengar ucapan itu, ia hanya berharap rahasianya tetap aman hingga akhir hayatnya.


Apakah ia bisa mempertahankan itu?. Temukan jawabannya.


...****...


Dua hari berlalu.


Di desa Damai Abdi.


Kekacauan benar-benar terjadi di desa itu. Semua orang berlari ketakutan karena serangan dari raja teluh. Dari mulutnya itu keluar asap beracun. Mereka yang terkena serangan itu, seperti kesurupan, dan ikut menyerang yang lainnya, hingga kekacauan semakin besar.


"Tolong!. Tolong!. Tolong kami!."


Tangisan anak kecil yang terpisah dari orang tuanya, rintihan orang tua yang sudah tidak berdaya karena tidak memiliki kekuatan untuk melindungi diri mereka.


Saat itu Jaya Satria datang menyerang raja teluh, ia benar-benar marah melihat keadaan itu. Jaya Satria mengarahkan sebuah tendangan keras ke arah raja teluh,


"Qhak." Raja Teluh terkena sepakan keras itu, hingga tubuhnya terjerembab ke tanah.


"Berani sekali kau berniat kerusuhan di desa ini!." Amarahnya memang sudah tidak bisa ia kendalikan lagi, hingga keluar aura merah yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Sialan, aura yang ia tunjukkan sangat ganas, dan membuatku merinding." Dalam hatinya ia sedikit merasa gentar saat melihat aura merah itu.


"Jadi kau adalah sibedebah bertopeng itu?!." Ia baru menyadari dari penampilan itu.


"Lagi-lagi orang suruhan raja kegelapan, aku sudah menduganya!."


"Kau harus membayar sepakan yang kau berikan padaku, hyaaaaa."


Keduanya saling menyerang, Raja Teluh memberikan pukulan keras ke arah bahu kiri. Namun kaya Satria bisa menghalanginya dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya ia gunakan untuk menyerang Raja teluh.


Raja Teluh yang menyadari itu juga menangkis serangan itu, mereka saling memberikan pukulan dan tendangan. Jaya Satria melompat menghindari sepakan raja teluh, dan saat itu juga ia melepaskan tenaga dalamnya melalui telapak tangannya.


Raja Teluh juga menyadari serangan itu, ia menahan serangan jaya Satria dengan tenaga dalamnya. pertarungan jaya Satria dan Raja Teluh sedikit imbang. Namun jaya satria yang sedang diselimuti amarah tidak akan membiarkan pertarungan itu imbang. Dengan menggunakan jurus angin aliran kilat, ia memanfaatkan angin sekitarnya untuk menyerang Raja Teluh.


"Keqh."


Raja Teluh meringis kesakitan karena tubuhnya seakan terkena sengatan listrik yang menyakitkan tubuhnya.


"Bedebah!. Jurus apa itu?!. Kenapa angin disekitar ini terasa menyakitkan."


Gerakan Raja Teluh juga seakan terhenti, tubuhnya mati rasa. Ia tidak menyangka orang bertopeng itu memiliki jurus yang berbahaya juga.


"Hyaaah."


Dari arah belakang ada seseorang yang datang menyerang Jaya Satria. Membuat tubuh jaya Satria maju ke depan beberapa langkah, tapi ia berhasil menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke tanah. Begitu ia membalikkan tubuhnya untuk melihat orang yang menyerangnya?.


"Bukankah kau wanita itu?. Berani sekali menyerangku dari belakang!." Aura kemarahannya semakin besar saat ia mengetahui siapa yang telah menyarngnya.

__ADS_1


"Kau masih ingat dengan aku rupanya?!." Senyuamn itu Senyuman meremehkan Jaya Satria.


"Ya. aku adalah orang yang akan mencabut nyawamu!."


"Kau tidak berhak untuk mencabut nyawaku!. Aku tidak akan mati ditanganmu!.


"Tuan putri, selamat aku." Raja Teluh yang belum masih bisa bergerak meminta bantuan dari tuannya.


"Jurus sengatan petir lagi. Apakah hanya jurus itu yang kau punya?.'' ia mneyadari dari gerakan kaku Raja Teluh.


"Kau juga akan merasakan jurus itu lagi. Dan kali ini akan aku pastikan, kau mrasakannya hingga kau tidak ingin lagi terjun ke dunia persilatan."


"Bedebah busuk!. Kau pikir kau takut dengan ancamanmu?. Hiyaaaaaah."


Putri Gempita Bhadrika benar-benar tidak tahan lagi, ia menyarang Jaya Satria dengan jurus-jurus yang ia miliki, begitu juga dengan Jaya Satria. Pertarungan mereka sangat cepat, dan hampir tidak bisa ditangkap oleh mata biasa. Hanataman dan sepekan terus mereka luncurkan untuk menjatuhkan lawannya, bahkan sesekali mereka menggunakan tenaga dalam mereka untuk menyerang musuhnya.


"Kali ini aku akan membunuhmu!. Tidak akan aku biarkan kau berkesempatan, untuk membacakan mantarm-mantram anehmu lagi. Hyaaaaaah. Telapak tangannya yang telah ia salurkan tenaga dalamnya, hendak ia hantam ke tubuh Jaya Satria. Namun Jaya Satria memanfaatkan angin disekitarnya, untuk menjadikan tameng sehingga ia tidak terkena jurus itu.


Sementara itu Raja teluh tidak tinggal diam saja melihat pertarungn itu. Karena Jaya Satria yang sedang fokus, efek jurus itu mulai melemah. Raja Teluh bisa bergerak bebas, meskipun tubuhnya masih sakit karena aliran tenaga dalamnya seakan tehambat.


"Sialan!. Aku harus membantu tuan putri. Nyawaku bisa terancam jika terjadi sesuatu padanya." Ia melihat jaya satria yang berhasil meluncurkan serangannya pada Putri Gempita Bhadrika.


"Eqakh."


Pukalan bertubi-tubi yang ia terima, membuatnya ia kesakitan, ia mundur kebalakang karena menerima pukulan keras itu.


"ehaaaaaakh."


Putri Gempita Bhadrika menerima pukulan cakar naga cakar petir, tubuhnya tidak bisa menahan serangan itu, ia berteriak kesakitan.


"Tuan putri!."


Raja Teluh melompat ke arah Jaya Satria, ia lepaskan asapa beracun itu ke arah wajah jaya satria.


"Keqh."


Jaya Satria yang tadinya hendak menangkap Putri Gempita Bhadrika tidak jadi, karena kemunculan Raja Teluh yang tidak ia duga dan menyerang matanya dengan asap beracun. Jaya Satria berteriak keras karena matanya terasa sakit.


"Tuan putri. Bertahanlah!."


Raja Teluh menggendong Putri Gempita Bhadrika, ia membawa pergi dari sana. Sedangkan Jaya Satria seperti orang linglung, karena tidak bisa mlihat dalam kesakitan yang ia rasakan.


"Astaghfirullah ya Allah." Ia berusaha untuk menenangkan dirinya, ia menyalurkan tenaga dalamnya melalui telapak tangannya untuk mengurangi rasa sakitnya. Namun tiba-tiba sekelebat bayangan hitam menyambar tubuh jaya satria dan membawanya dari sana.


Apa yang akan terjadi pada jaya satria? temukan jawabannya?.


...****...


Lagi, lagi dan lagi di saat yang bersamaan. Prabu Asmalaraya arya Ardhana yang sedang menikmati santapan makan siang bersama keluarganya, ia meringis kesakitan, membuat mereka semua terkejut.


"Astaghfirullah hal'azim rayi prabu." Putri Agniasari Ariani yang kebetulan berada di dekat adiknya langsung menahan tubuh adiknya agar tidak limbung.


"putraku!." Ratu Dewi Anindyaswari sangat panik melihat anaknya yang tiba-tiba meringis kesakitan.


"Rayi prabu \ nanda prabu."


begitu juga dengan ratu gendhis cendrawati, raden hadyan hastanta dan putri andhini adita.


"Sakit. Astaghfirullah hal'azim mataku terasa sakit."


"Rayi, apa yang terjadi padamu!."


"Putraku. Putraku nanda prabu, kenapa dengan dirimu nak?."


"Rayi prabu, kataka pada kami apa yang terjadi."


"Rayi prabu."


Mereka semua mengkhawatirkan prabu asmalaraya arya ardhana. Kali ini apalagi penyebabnya?.


"Dewata yang agung. Mengapa akhir-akhir ini ada kejadian aneh yang menimpa nanda prabu." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati merasakan keanehan yang dialami anak tirinya itu.


"Apakah itu resiko menjadi seorang raja?. Apakah putraku juga akan mengalami hal yang sama, jika ia menjadi raja?." Pikirannya melayang entah kemana melihat itu. "Sungguh tidak enak menjadi raja, jika seperti ini yang akan terjadi." Hatinya sedang dipenuhi kekhawatiran yang berlebihan.


"Oh dewata yang agung. Tolong selamatkan nanda prabu." Dalam hatinya sangat berharap kebaikan pada anaknya itu.


Apakah sang prabu bisa disembuhkan?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2