
...***...
Seperti yang telah dijanjikan Raden Jatiya Dewa telah sampai di desa damai setia. Mereka disambut dengan baik oleh para santri.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." Syekh Asmawan Mulia mengucapkan salam pada mereka semua.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Balas mereka dengan senyuman ramah.
"Sampurasun." Raden Jatiya Dewa mengucapkan salam pada mereka.
"Rampes." Balas mereka semuanya.
"Mari masuk syekh guru. Lebih enak berbicara di dalam sambil duduk." Lingga mempersilahkan Syekh Asmawan Mulia dan Raden Jatiya Dewa masuk ke dalam.
"Mari raden." Syekh Asmawan Mulia mempersilahkan Raden Jatiya Dewa untuk masuk.
"Terima kasih syekh." Raden Jatiya Dewa mengikuti Syekh Asmawan Mulia. Begitu juga dengan mereka yang merasa penasaran dengan seorang pemuda yang ikut bersama syekh Asmawan Mulia.
Begitu sampai di dalam, mereka semua duduk bersimpuh bersama di lantai. Membuat Raden Jatiya Dewa sedikit kebingungan.
"Maaf raden. Jika di sini semuanya duduk sama rata di bawah. Memang agak berbeda dengan keadaan istana." Bisik Syekh Asmawan Mulia agar hanya didengar oleh Raden Jatiya Dewa.
"Maafkan saya syekh." Ada perasaan canggung yang timbul dihatinya setelah itu.
Sementara itu mereka semua telah menunggu apa yang akan disampaikan oleh Syekh Asmawan Mulia pada mereka.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." Kembali syekh Asmawan Mulia mengucapkan salam pada mereka semua.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Balas mereka dengan semangatnya.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin kita ucapkan kepada Allah SWT. Meskipun kita saat ini sedang menjalani ibadah puasa, namun kita masih memiliki semangat yang luar biasa." Syekh Asmawan Mulia sangat senang melihat semangat yang mereka miliki.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin." Mereka juga bersyukur atas nikmat yang telah mereka dapatkan.
__ADS_1
"Gusti prabu asmalaraya arya ardhana menitip salam pada kalian semua. Nanti saat lebaran datang, nanda prabu akan mengajak kalian semua untuk datang ke istana untuk merayakan hari lebaran." Syekh Asmawan Mulia menyampaikan pesan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin. Semoga gusti prabu selalu diberi keberkahan di bulan puasa ini syekh." Lingga mewakili mereka semua. Mereka semua sangat senang mendapatkan kabar bahagia itu dari Syekh Asmawan Mulia. Raden Jatiya Dewa memperhatikan bagaimana kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka saat ini.
"Sungguh luar biasa sekali. Hanya undangan untuk datang menemui junjungan mereka. Mereka terlihat sangat bahagia sekali. Pasti gusti prabu telah menjadi raja yang baik untuk mereka semua." Dalam hati Raden Jatiya Dewa merasa kagum.
"Selain itu, mungkin nanda jaya Satria telah menyampaikan pada kalian semua. Bahwa akan ada seorang putra dari kerajaan buana dewa yang akan belajar bersama kita semua di padepokan ini." Syekh Asmawan Mulia mulai masuk pada tujuannya datang ke sini.
"Ya syekh guru. Kami telah mendengarkan kabar itu jaya satria. Lalu apakah pemuda ini adalah raden jatiya dewa?." Sebagai ketua yang bertanggung jawab, Lingga tentunya ingin mengetahuinya.
"Ya. Pemuda yang hadir bersama kalian saat ini adalah raden jatiya dewa. Aku harap kalian bisa menerima raden jatiya dewa dengan baik." Jawab Syekh Asmawan Mulia.
"Salam kenal. Saya jatiya dewa." Raden Jatiya Dewa memperkenalkan dirinya. "Saya sebelumnya bertemu dengan jaya Satria di kerajaan buana dewa. Saya merasa tertarik dengan apa yang dilakukan beliau. Semoga saja saya bisa belajar dengan baik di padepokan ini. Mohon bimbingannya, saya ingin belajar dengan sungguh-sungguh." Raden Jatiya Dewa tersenyum lembut menatap mereka semua.
"Aku juga berharap kalian bisa menjadi teman yang baik. Jika ada sesuatu yang salah, tegurlah dengan bahasa yang baik juga. Supaya tidak menimbulkan perasaan tidak enak atau bahkan menimbulkan perasaan dendam." Syekh Asmawan Mulia mencoba mengingatkan mereka agar belajar lebih baik lagi bersama-sama.
"Baik syekh guru." Mereka semua mematuhi apa yang dikatakan oleh Syekh Asmawan Mulia.
...***...
Seperti yang telah dijanjikan Raden Jatiya Dewa telah sampai di desa damai setia. Mereka disambut dengan baik oleh para santri.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." Syekh Asmawan Mulia mengucapkan salam pada mereka semua.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Balas mereka dengan senyuman ramah.
"Sampurasun." Raden Jatiya Dewa mengucapkan salam pada mereka.
"Rampes." Balas mereka semuanya.
"Mari masuk syekh guru. Lebih enak berbicara di dalam sambil duduk." Lingga mempersilahkan Syekh Asmawan Mulia dan Raden Jatiya Dewa masuk ke dalam.
"Mari raden." Syekh Asmawan Mulia mempersilahkan Raden Jatiya Dewa untuk masuk.
__ADS_1
"Terima kasih syekh." Raden Jatiya Dewa mengikuti Syekh Asmawan Mulia. Begitu juga dengan mereka yang merasa penasaran dengan seorang pemuda yang ikut bersama syekh Asmawan Mulia.
Begitu sampai di dalam, mereka semua duduk bersimpuh bersama di lantai. Membuat Raden Jatiya Dewa sedikit kebingungan.
"Maaf raden. Jika di sini semuanya duduk sama rata di bawah. Memang agak berbeda dengan keadaan istana." Bisik Syekh Asmawan Mulia agar hanya didengar oleh Raden Jatiya Dewa.
"Maafkan saya syekh." Ada perasaan canggung yang timbul dihatinya setelah itu.
Sementara itu mereka semua telah menunggu apa yang akan disampaikan oleh Syekh Asmawan Mulia pada mereka.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." Kembali syekh Asmawan Mulia mengucapkan salam pada mereka semua.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Balas mereka dengan semangatnya.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin kita ucapkan kepada Allah SWT. Meskipun kita saat ini sedang menjalani ibadah puasa, namun kita masih memiliki semangat yang luar biasa." Syekh Asmawan Mulia sangat senang melihat semangat yang mereka miliki.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin." Mereka juga bersyukur atas nikmat yang telah mereka dapatkan.
"Gusti prabu asmalaraya arya ardhana menitip salam pada kalian semua. Nanti saat lebaran datang, nanda prabu akan mengajak kalian semua untuk datang ke istana untuk merayakan hari lebaran." Syekh Asmawan Mulia menyampaikan pesan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin. Semoga gusti prabu selalu diberi keberkahan di bulan puasa ini syekh." Lingga mewakili mereka semua. Mereka semua sangat senang mendapatkan kabar bahagia itu dari Syekh Asmawan Mulia. Raden Jatiya Dewa memperhatikan bagaimana kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka saat ini.
"Sungguh luar biasa sekali. Hanya undangan untuk datang menemui junjungan mereka. Mereka terlihat sangat bahagia sekali. Pasti gusti prabu telah menjadi raja yang baik untuk mereka semua." Dalam hati Raden Jatiya Dewa merasa kagum.
"Selain itu, mungkin nanda jaya Satria telah menyampaikan pada kalian semua. Bahwa akan ada seorang putra dari kerajaan buana dewa yang akan belajar bersama kita semua di padepokan ini." Syekh Asmawan Mulia mulai masuk pada tujuannya datang ke sini.
"Ya syekh guru. Kami telah mendengarkan kabar itu jaya satria. Lalu apakah pemuda ini adalah raden jatiya dewa?." Sebagai ketua yang bertanggung jawab, Lingga tentunya ingin mengetahuinya.
"Benar sekali." Balas Syekh Asmawan Mulia tersenyum kecil. "Aku harap kalian bisa kalian bisa lebih akrab lagi." Hanya itu harapan dari Syekh Asmawan Mulia. "Untuk saat ini aku akan berada di sini. Membimbing kalian semua." Lanjutnya lagi.
Mereka semua sangat senang mendengarnya. Mereka sudah lama tida bertemu dengan Syekh Asmawan Mulia. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, apakah Raden Jatiya Dewa mampu belajar dengan baik di sini?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya. Salam cinta untuk pembaca tercinta.
...***...
__ADS_1