
......***......
Sepertinya sedang ada perdebatan diantara dua orang pendekar. Perdebatan yang belum selesai diantara mereka. Lanang Sejagad masih mengingat siapa orang yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Kau datang lagi? Apakah kau masih penasaran dengan kekalahan waktu itu, sehingga kau membawa kawan? Hah?!."
"Aku belum akan puas! Jika aku belum bertemu dengan pendekar bertopeng yang bernama jaya satria!."
"Sudah aku katakan! Bahwa kau harus melangkahi mayatku terlebih dahulu, jika kau ingin bertemu dengannya!."
"Kau benar-benar sangat keras kepala! Heyah!."
Mereka memulai pertarungan untuk mempertahankan apa yang ada di dalam hati masing-masing. Lanang Sejagat masih mempertahankan keyakinannya, sebagai orang yang merasa diberikan kekuasaan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana, untuk menjaga keamanan desa ini dari siapa saja. Tentu saja ia tidak akan membiarkan siapa saja berbuat kerusuhan di desa itu.
"Ternyata pendekar itu cukup tangguh juga?." Ia sedikit terkejut. "Tidak salah seorang Raja mempercayainya untuk mengamankan daerah ini." Ia mengamati gerakan musuhnya. "Cerdik juga rajanya dalam menjaga desa yang jauh dari jangkauan pandangan matanya." Kawah Ijen, lelaki yang datang bersama Sulitsua.
Lelaki yang sedang mengamati pertarungan mereka. Ia melihat adiknya Sulitsua dan lawannya mengadu senjata di udara. Dentingan senjata mereka yang menghasilkan bunyi yang memekakkan telinga.
"Kurang ajar! Memang tidak bisa dibiarkan!." Kawah ijen merasa kesal karena adiknya terpojok, dan akhirnya ia malah ikutan dalam pertarungan itu.
Dengan beberapa kali gebrakan, Lanang sejagat dapat dikalahkan, ia terkena sebuah serangan yang cukup menyakitkan tubuhnya, sehingga tubuhnya melayang menjauh dari mereka. Namun saat Lanang Sejagat yang terlempar jauh karena sepakan, pukulan serta serangan Kawah ijen, tubuhnya ditahan oleh Jaya Satria?. Ya, Jaya Satria menahan tubuh Lanang Sejagat, agar tidak terbentur oleh pohon yang menunggunya.
"Akh! Terima kasih jaya satri." Entah kenapa ia merasa lega saat melihat kedatangan Jaya Satria.
"Bertahanlah." Matanya memperhatikan luka yang dialami oleh Lanang Sejagad. "Atur tenaga dalammu dengan baik, sementara itu akan menahan mereka sebentar." Jaya Satria memperhatikan ada dua orang yang memiliki wajah sangar.
"Aku hanya lengah saja tadi." Ia sedikit menghela nafasnya. Aku tidak menyangka, jika kawannya malah ikutan menyerang ku jaya satria." Lanang Sejagad meringis sakit.
"Akhirnya kau datang juga jaya satria!." Kawah ijen dan Sulitsua melompat mendekati jaya satria, wajah mereka sama sekali tidak bersahabat. Hanya wajah-wajah dipenuhi oleh amarah, yang segera mereka salurkan secepatnya.
"Sungguh pengecut! Pendekar yang main keroyokan, serta menyerang musuhnya disaat ia sedang lengah." Jaya Satria kesal melihat itu.
"Tidak usah banyak bicara kau jaya satria! Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan!." Kemarahan itu terlihat sangat kental, sangat alami, lahir dari hati seseorang yang memiliki dendam yang sangat dalam. "Aku datang jauh-jauh, untuk menagih hutang nyawa yang harus kau bayar!." Hatinya sangat memanas.
"Hutang nyawa?." Jaya Satria tampak berpikir. "Memangnya apa yang aku lakukan? Sehingga kau menagih hutang nyawa padaku?." Jaya Satria tidak merasa memiliki hutang nyawa pada dua orang berwajah sangar itu.
"Kau jangan pura-pura lupa jaya satria! Kau memang membuat amarahku semakin memuncak!." Ia hendak menyerang Jaya Satria, namun saat itu ia melihat ada gestur dari pemuda itu untuk menahan dirinya agar tidak terlalu terbawa amarah.
"Tahan!." Jaya Satria tidak menahan pemuda itu. "Aku tidak bisa bertarung dengan seseorang yang tidak aku ketahui duduk perkaranya seperti apa."
"Kau jangan membuatku marah! Kau harus bertanggungjawab, atas pembuatan bidabmu itu!." Amarah itu sangat jelas terlihat.
Sepertinya, kedua pendekar itu terlihat sangat marah pada Jaya Satria, seperti ingin menerkam Jaya Satria hidup-hidup. Namun Lanang Sejagad berbisik pada Jaya Satria.
"Orang yang mengenakan pakaian hitam itu, dia mengatakan padaku, bahwa dia datang untuk membunuhmu jaya satria." Bisiknya. "Kau telah membunuh seseorang yang mungkin dekat dengan mereka." Bisiknya lagi.
Jaya Satria hanya diam, ia mencoba mengingat apa yang telah ia lakukan pada kedua orang itu?.
"Memangnya nyawa siapa yang telah aku bunuh? Sehingga kalian datang padaku dalam keadaan marah seperti itu?." Jaya Satria langsung bertanya.
"Kalau kau masih lupa, akan aku ingatkan jaya satria!." Suara itu terdengar semakin tinggi, sementara hatinya telah memanas ketika melihat sosok Jaya Satria yang selama ini ia cari.
"Apakah kau masih ingat dengan pendekar wanita dengan jurus petik bunga pesona maya? Pendekar wanita yang kau bunuh itu adalah adikku! Aku yakin kau ingat itu, jaya satria!." Emosinya sangat menggebu-gebu, dan setalah itu Kawah Ijen menyerang jaya satria dengan sangat cepat. Hampir saja Jaya Satria tidak bisa menghindari.
"Hyok!."
Jaya Satria melompat ke belakang, namun sebelum itu jaya satria mendorong Lanang sejagat agar tidak terkena serangan Kawah ijen.
"Jaya satria!." Lanang Sejagad terkejut melihat itu, namun tenaga dalamnya belum pulih sepenuhnya sehingga ia tidak bisa mengejar pertarungan itu.
Pertarungan itu benar-benar terjadi, mereka saling menyerang musuh, tidak akan mereka biarkan diserang begitu saja. Walaupun sesekali mereka mempertahankan diri mereka dari serangan yang datang.
Setelah satu jurus mereka mainkan, meski hanya sekedar adu pukulan atau sepakan sebagai sapaan pembukaan, namun tetap saja tenaga mereka perlahan-lahan berkurang.
"Ternyata kau menyimpan dendam padaku?." Jaya Satria terus menghindari serangan itu. "Ingat kisanak! Dendam itu adalah penyakit hati, dendam itu sangat tidak baik, hanya akan menimbulkan amarah yang merugi." Jaya Satria mencoba memberikan nasihat pada pemuda itu.
"Diam kau bedebah!." Hatinya sangat tidak terima. "Setelah apa yang kau lakukan pada adikku? Kau seenak saja berkata seperti itu padaku? Itu sungguh tidak adil, jaya satria!." Hatinya sangat sakit mengingat bagaimana sakitnya kehilangan orang yang ia cimtai.
Sementara itu, Lanang Sejagad dan Sulitsua juga sedang bertarung. Meskipun tenaga dalamnya masih belum pulih?. Lanang Sejagad hanya bisa mempertahankan dirinya agar tidak diserang begitu saja. Apa lagi ketika matanya melihat gerakan mencurigakan dari Sulitsua.
"Kau!. Tidak akan aku izinkan kau ikut campur dalam pertarungan mereka!." Lanang Sejagat merasa ada yang aneh dengan pemuda itu. "Tidak akan aku biarkan, kau ikut campur dalam pertarungan mereka!."
"Kalau begitu, mengapa kau tidak bermain-main denganku saja?." Nada bicara itu seperti seseorang yang sedang menantang. "Dari pada kita hanya melihat saja apa yang terjadi pada mereka? Atau kita pergi dari sini tanpa mengganggu siapa saja." Senyumannya terlihat sangat jelas mencurigakan.
"Kau jangan berkata yang tidak-tidak." Lanang Sejagad kesal mendengarnya. "Tentu saja kau itu adalah urusanku, karena aku tidak akan membiarkan kau ikut campur dalam pertarungan mereka. Heyah." Lanang Sejagad mencium hal yang sangat mencurigakan. "Kau pasti akan melakukan sesuatu di saat jaya satria sedang lengah! Tidak akan aku biarkan itu terjadi!."
"Kurang ajar! Mata orang ini cukup jeli juga dalam mengamati situasi." Dalam hati Sulitsua sangat kesal karena ada orang lain yang seakan-akan mengetahui rencananya.
Lanang Sejagat bertarung dengan Sulitsua, mereka mengadu kekuatan mereka tanpa mengganggu Jaya Satria melawan Kawah ijen.
__ADS_1
Disatu sisi, Kawah Ijen benar-benar telah dikuasai oleh amarah yang berasal dari dirinya sendiri.
"Kau telah membunuh adikku! Kau pikir kau tidak sakit hati? Kau pikir membunuh itu adalah perbuatan baik?." Hatinya yang saat itu hanya diisi oleh dendam kemarahan yang sangat luar biasa, sehingga ia tidak memberi ampun pada orang lain untuk menjelaskan alasan kenapa ia melakukan itu.
"Aku melakukannya karena dia telah berbuat kejahatan." Jaya Satria sedikit ingat tentang itu. Ia terus menghindari serangan itu. "dia memanfaatkan kecantikannya untuk memikat para lelaki lajang, kemudian ia jadikan persembahan, dia telah melakukan kesesatan yang nyata." Jaya Satria telah ingat dengan kejadian itu.
"Bedebah busuk! Aku tidak terima dengan apa yang kau lakukan, dan akan aku pastikan kau akan mati hari ini juga!." Hatinya semakin panas mendengarkan ucapan Jaya Satria.
"Kau memang orang yang tidak bisa aku beri nasihat dengan ucapan yang baik lagi!." Jaya Satria terbawa amarah karena pemuda itu tidak mau mendengarkan ucapannya.
Tidak ada lagi kata damai setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh jaya satria. Hatinya hanya dipenuhi oleh amarah. Kawah ijen menyerang jaya satria, ia tidak dapat lagi menahan amarahnya.
......***......
Sementara itu, di istana di ruang pribadi raja. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dapat merasakan, jika Jaya Satria sedang bertarung dengan seseorang, dan ia merasakan kemarahan yang menguar di tubuhnya.
"Astaghfirullah halazim, jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba mengatur hawa murninya, memejamkan mata untuk lebih konsentrasi. "Sepertinya jaya satria sedang mengalami sesuatu." Mencoba untuk menenangkan dirinya, mencoba terhubung dengan jaya satria.
"Jaya satria? Jaya satria? Dengarkan aku! Dengarkan aku jaya satria?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memanggil Jaya Satria melalui hubungan batin keduanya yang saling terhubung satu sama lain dengan baik. "Janganlah engkau marah hanya karena ucapan orang itu, jaya satria? Bersabarlah! Cobalah untuk bersabar, jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk mengingatkan jaya satria.
Dan sayup-sayup Jaya satria mendengarkan suara sang prabu yang membacakan sebuah lantunan ayat alquran tentang kesabaran, yaitunya surat ali imran ayat 125.
"بَلَىٰٓ ۚ إِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ
"Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda." Suara sang prabu begitu menangkan hati jaya satria yang sedang bertarung. Begitu ia menapakkan kakinya ke tanah, ia juga membacakan sebuah surat shad ayat 17.
"أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
ٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَٱذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُۥدَ ذَا ٱلْأَيْدِ ۖ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ."
"Bedebah! Apa yang ia bacakan itu? Tapi suaranya enak didengar." Kawah Ijen terkejut sekaligus terheran-heran dengan bacaan itu. Ia tidak pernah mendengarkan bacaan seperti itu sebelumnya.
"Terima kasih karena gusti prabu telah mengingatkan hamba." Dalam hati merasa bersyukur karena kemarahan yang ia rasakan perlahan-lahan mulai mereda. Jaya Satria mencoba untuk menenangkan amarah yang tadinya membuncah di dalam hatinya.
"Apa yang kau bacakan bedebah?! Tidak usah kau bacakan mantram-mantram aneh yang sama sekali tidak aku ketahui artinya!." Amarahnya semakin membuncah karena ia tidak mengerti sama sekali dengan apa yang ia dengar.
"Kalau kau penasaran? Kau bisa mempelajarinya dariku." Ajak Jaya Satria dengan nada yang bersahabat. "Akan aku tunjukan padamu jalan kebaikan, jalan yang diridhoi oleh allah SWT, kau akan menjadi manusia yang lebih baik, dari yang sebelumnya." Jaya Satria telah kemabli bersikap ramah.
"Jangan mengada-ada kau! Aku melakukan kejahatan karena keinginanku sendiri!." Ia masih saja belum mau menerimanya. "Kau tidak usah mengajak aku melakukan kebaikan setelah apa yang kau lakukan pada adikku!." Itulah alasan kenapa ia tidak bisa menerima ajakan Jaya Satria.
"Kau terlalu banyak bicara jaya satria! Aku sudah muak dengan ocehanmu yang tidak berguna sama sekali bagiku!." Hatinya sama sekali tidak terima, ia menolak dengan sangat keras ajakan Jaya Satria.
Karena suasana hatinya yang terlanjur marah itu?. Ia menyerang Jaya Satria dengan lebih gesit lagi.
"Aku tidak akan puas sebelum aku membunuhnya!." Gerakannya semakin cepat, ia sangat bernafsu ingin membunuh Jaya Satria.
Apalagi dengan jurus-jurus berbahaya yang ia gunakan, membuat jaya satria tidak bisa membiarkan dirinya diserang. Dengan menggunakan jurus cakar naga cakar petir, Jaya Satria menghentikan Kawah ijen. Jurus cakar naga yang berbentuk petir yang sangat berbahaya. Kawah ijen tidak bisa menghindari jurus itu, karena angin disekitar telah dialiri tenaga dalam Jaya Satria.
"Kqeakh!." Ia berteriak kesakitan.
Tubuh Kawah ijen seperti terbakar karena hantaman jurus Jaya Satria. Benar-benar jurus yang sangat mematikan, sehingga kondisinya seperti itu.
"Astaghfirullah halazim ya allah." Dalam hatinya mengucap kalimat istighfar, dan ia ingat dengan sebuah nasehat dari syekh asmawan mulia ketika ia belajar tentang agama islam bersama gurunya itu.
"Janganlah engkau mati dalam keadaan kafir, sesungguhnya Allah SWT maha penerima taubat, bagi hambanya yang menyadari kesalahan-kesalahan yang telah ia perbuat." Nasihat Syekh Asmawan Mulia kala itu. "Akan sia-sia taubat seorang hamba, jika ia hanya mengingat sang pencipta sementara ajalnya sudah di ujung tandu."
Disisi lain, ternyata Lanang Sejagat juga berhasil mengalahkan Sulitsua. Dalam keadaan kesakitan, ia menghampiri jaya satria.
"Apakah kita berdosa setelah membunuh seseorang, jaya satria?." Lanang Sejagad merasa berdosa setelah melakukan perbuatan itu?.
"Syekh guru mengatakan, jika kita memang dilarang untuk membunuh seseorang, namun melainkan suatu alasan." Jaya satria sangat ingat dengan apa saja yang diajarkan oleh gurunya.
"Alasan untuk mempertahankan diri misalnya?." Lanang Sejagad kembali bertanya.
"Ya, salah satunya itu, karena alasan kondisi yang mendesak." Jaya Satria merasakan seperti itu. "Jika kita tidak mempertahankan diri, mungkin kita yang akan dibunuh."
"Semoga allah mengampuni dosa-dosa kita, dan kita terhindar dari kematian yang hina seperti mereka." Lanang Sejagad hanya bisa pasrah saja. "Aku juga akan melakukan sholat taubat setelah ini, rasanya aku telah sangat berdosa setelah berurusan dengan orang-orang jahat itu." Ucapnya dengan sangat kesalnya.
Jaya Satria hanya tertawa kecil mendengarkan itu. "Tapi aku rasa itu pemikiran yang bagus." Jaya Satria tidak pernah berpikiran ke arah sana.
"Lalu kita apakan mayat mereka, jaya satria? Tidak mungkin kita biarkan dia seperti ini." Lanang Sejagad memperhatikan dengan merinding sambil membayangkan orang itu tergeletak di sana entah sampai kapan.
"Kita kuburkan mereka dengan baik, aku rasa itu lebih baik untuk menghormatinya." Jaya Satria sebenarnya sangat tidak tega melihat itu.
"Baiklah jaya satria." Lanang Sejagad sangat setuju. "Tapi sepertinya, sebentar lagi masuknya waktu sholat ashar." Ia mengamati matahari yang semakin condong ke barat?.
"Kalau begitu setelah sholat ashar kita kubur dia."
__ADS_1
"Baiklah jaya satria."
Lanang Sejagad menuruti apa yang dikatakan Jaya Satria.
......***......
Lalu bagaimana dengan sang prabu?. Ia mengingat apa yang terjadi di masa lalu, dimana ia pernah menghadapi seorang pendekar wanita dengan jurus petik bunga pesona maya.
"Ya, kejadian itu sudah cukup lama." Prabu Asmalaraya Arya mencoba mengingat kejadian itu. "Ketika aku sudah memeluk agama islam, dan saat itu aku berada di sebuah desa yang cukup menyeramkan untuk di huni." Ingatan Prabu Asmalaraya Arya jauh pada kejadian hari itu. "Di sebuah desa yang anak bujangnya diculik oleh seorang wanita dan mereka dijadikan persembahan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat miris mengingat kejadian itu.
kembali ke masa itu. Perjalanan Jaya Satria menuju istana suka damai sepertinya akan memakan waktu yang cukup lama. Membutuhkan waktu dua hari, karena ia selalu mengikuti kata hatinya ketika menuju kemana saja yang ia inginkan. Dan saat ini kakinya sedang menuju sebuah desa, yang rasanya jika dilihat sedang diselimuti masalah yang sangat berat. Desa yang sedang diselimuti oleh kegelapan, ketidak nyamanan.
"Sampurasun, kisanak." Ia melihat seorang laki-laki paruh baya berjalan dengan keadaan terseok-seok menuju Sebuah rumah.
"Rampes." Lelaki tua itu membalikkan badannya saat ia hendak masuk ke rumahnya.
"Maaf kisanak, apa yang terjadi dengan desa ini? Kenapa desa ini sepi sekali? Tidak ada kegiatan yang saya lihat di desa ini." Keanehan itu sangat kental ia rasakan.
"Apakah anak muda baru datang ke desa ini?." Pertanyaan pertama yang kakek itu lontarkan.
"Benar kisanak." Jaya Satria tidak berbohong. "Saya datang dari tempat yang jauh, karena merasa letih? Rencananya saya mau menumpang beristirahat di desa ini." Dari raut wajahnya memang terlihat sangat jelas menggambarkan apa yang ia rasakan saat itu.
"Kalau begitu sebaiknya anak muda tidak usah datang kemari, akan sangat berbahaya, apalagi jika anak muda adalah anak lajang." Kakek itu terlihat seperti ketakutan, meskipun nada bicaranya seperti sangat tidak menyukai kedatangan orang asing.
"Memangnya ada kenapa jika saya lajang kisanak?." Jaya Satria malah penasaran dengan alasan itu.
"Asalkan anak muda tahu saja? Desa ini telah dikuasai oleh seorang pendekar wanita yang sangat keji." Bisiknya dengan penuh ketakutan. "Dia memangsa anak lajang di desa ini, dan kemudian ia jadikan tumbal untuk menambah kesaktiannya." Ia semakin ketakutan mengingat bagaimana kejadian yang ia saksikan hari itu?. "Karena itulah desa ini sepi." Bahkan sesekali ia melihat ke belakang Jaya Satria, seakan-akan takut ada orang lain yang datang. "Desa ini tidak aman, anak lajangnya menjadi mangsa, sehingga tidak diperbolehkan keluar untuk meninggalkan rumah, karena itulah desa ini sangat sepi."
"Astagfirullah halazim ya Allah." Jaya Satria merasa miris dengan informasi yang ia dapatkan. "Sungguh kejam sekali apa yang telah dilakukannya."
"Sebaiknya segera tinggalkan desa ini, dari pada anak muda mendapatkan celaka." Kakek tua itu hanya tidak ingin Jaya Satria ikut menjadi korbannya.
Namun belum sempat ia ingin berpamitan dengan kakek itu, ia mendengarkan suara tawa aneh. suara perempuan tertawa, namun wujudnya tidak terlihat.
"Aku belum mengatakan apa-apa dia sudah datang? Anak muda selamatkan dirimu, jangan sampai kau tertangkap oleh wanita jahanam itu!." Kakek tua itu sangat cemas dengan keselamatan Jaya Satria.
"Tenanglah kisanak." Balas Jaya Satria dengan senyuman lembut. "Jangan takut kepada makhluk gaib yang menyesatkan, namun takutlah kepada allah SWT."
"Kau bicara apa anak muda, siapa itu Allah? Sebaiknya kau cepat pergi!." Dalam ketakutannya yang bersembunyi di belakang jaya satria dan bertanya siapa itu Allah?.
"Kisanak? Allah SWT adalah tuhan yang menciptakan alam semesta ini dengan sebaik-baiknya" Dengan pelan-pelan Jaya Satria menjelaskannya. "Hanya kepada-Nya lah kita patut takut, bukan pada dia yang tidak memberikan apapun pada kita, kecuali ketakutan." Jaya Satria percaya dengan apa yang telah diajarkan oleh Syekh Asmawan Mulia selama ini. "Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan, dikala ketakutan menyapa kita, jadi paman harus mengetahui siapa itu Allah."
"Ah! Aku tidak mengerti, buktikan padaku kalau Allah itu bisa menolong kita." Kakek tua itu masih belum percaya dengan penjelasan Jaya Satria.
"Baiklah kalau begitu kisanak." Jaya Satria terlihat sangat santai menanggapi itu. "Kisanak tenanglah di sini, dan akan aku buktikan bahwa Allah memang menolong hambanya." Jaya Satria hanya ingin melakukan apa yang ia anggap itu adalah sebuah kebenaran saat itu.
Jaya Satria mencoba untuk melepaskan tangan kakek itu, ia maju beberapa langkah. Setelah itu ia memejamkan matanya, menghadap ke arah barat, Jaya Satria mengumandangkan adzan.
Suara jaya satria sangat merdu, membuat kakek itu terkagum akan keindahan suara itu. Namun tidak dengan suara yang tadi tertawa itu. Suara yang tadinya tertawa kini berganti dengan suara teriakan kesakitan. ia akhirnya menampakkan dirinya.
"Demi dewata yang agung, ternyata nini petik bunga keluar karena anak muda itu? Tapi kenapa dia malah kesakitan?. Padahal suara anak muda itu sangat merdu dan indah untuk didengar, eh malah kesakitan si neng cantik itu, benar-benar aneh!." Ia sangat kebingungan.
Mari kita lihat wanita yang keluar karena tidak tahan mendengarkan suara adzan yang dilantunkan Jaya Satria. Wanita itu mencoba untuk menyerang jaya satria, namun sepertinya suara adzan itu menghalanginya untuk menyerang jaya satria.
"Kurang ajar! Hentikan suara jelekmu yang mengerikan itu! Suaramu memekakkan telingaku!." Ia berteriak dalam kesakitan. Rasanya tidak sanggup lagi untuk menahannya. Wanita itu terjajar lumayan jauh dari Jaya Satria setelah ia selesai mengumandangkan azan.
"Astagfirullah halazim nisanak, tidak baik mengganggu orang yang sedang berbuat kebaikan." Jaya Satria hanya menghela nafasnya.
"Diam kau! Siapa kau?." Ia malah marah. "Kenapa kau menggunakaan topeng penutup wajah? Untuk apa kau datang ke sini? Kenapa kau menggangguku dengan lantunan aneh itu?." Dalam keadaan marah ada perasaan penasaran yang menyelimuti dirinya ketika melihat penampilan Jaya Satria.
Jaya Satria tertawa kecil mendengarnya. Entah mengapa ia merasa lucu dengan pertanyaan itu. "Rasanya sangat aneh sekali orang ini hanya karena keheranan dengan penampilanku ini." Dalam hatinya merasa sangat lucu.
"Apa yang kau tertawakan bedebah?! Apakah aku terlihat sedang memberikan lawakan?!." Hatinya semakin memanas.
"Aku tertawa karena pertanyaanmu menyerbu diriku, jadi pertanyaan mana dulu yang harus aku jawab hah?." Ia masih tertawa karena itu sedikit lucu baginya.
"Kurang ajar! Beraninya kau menertawaiku hanya karena pertanyaaan dariku?!." Emosinya memuncak, ia merasa dipermainkan oleh orang bertopeng itu. Ia tidak terima, ia sangat merasa direndahkan.
Wanita itu menyerang jaya satria dengan beberapa jurus yang ia miliki, dan Jaya Satria terus menghindari serangan itu dengan cepat. Ia tidak akan membiarkan dirinya diserang, dan ia tidak akan membiarkan tubuhnya merasa sakit karena terkena jurus dari wanita itu. Sedangkan kakek itu hanya melihat dengan keadaannya yang dipenuhi oleh ketakutan.
"Semoga saja anak muda itu bisa menghentikan wanita jahat itu." Dalam hatinya sangat berharap. Karena akan berbahaya jika wanita itu menguasai desa itu. "Dewata yang agung, bantu pemuda itu." Dalam hatinya berdoa dengan sepenuh hatinya untuk keselamatan Jaya Satria. "Desa ini akan semakin menjadi desa terkutuk jika anak muda itu sampai tertangkap." Kecemasan yang sangat luar biasa ia rasakan saat itu.
Sementara itu Jaya Satria?.
"Aku harus berhati-hati berhadapan dengannya, dia sedang dikuasai oleh tenaga dalam yang sangat menyesatkan." Dalam hatinya harus waspada menghadapi wanita itu.
"Sial! Aku tidak bisa melihat wajah pemuda ini dengan jelas jika ditutupi dengan topeng." Dalam hatinya sanga kesal dengan itu. "Akan aku buka topeng itu, aku sangat yakin ada raut wajah yang sempurna dibalik topeng itu." Dalam hatinya.
......***......
__ADS_1