RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERINGATAN DAN KABAR


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita merasa aneh melihat keadaan Wunitari. Keadaan wajahnya yang hangus seakan terbakar, dan menghitam. Rasanya Putri Andhini Andita tidak sanggup melihat keadaan Wunitari saat ini.


"Rayi. Apa yang terjadi padanya?. Mengapa keadaannya seperti ini rayi?."


"Itu karena ia belajar ilmu sesat yunda. Saat ketiga setan itu dikalahkan oleh ayat suci Al-Qur'an, maka ia yang dijadikan tumbal setan akan mendapatkan karmanya yunda."


"Lalu apa yang akan kita lakukan padanya rayi?. Ia terlihat kesakitan, dan sangat mengerikan."


"Itulah yang akan didapatkan jika kita menyekutukan Allah yunda. Padahal sudah sangat jelas, bahwa kita dilarang bersekutu dengan setan, jin dan bangsanya."


"Apakah kita bisa menyelamatkannya rayi?."


"Semua tergantung padanya yunda. Apakah dia mau bertaubat, atau mati dalam keadaan kafir."


"Kalau begitu coba selamat dia rayi. Rasanya aku jadi kasihan padanya."


"Aku akan mencobanya yunda."


Perlahan-lahan Jaya Satria mencoba untuk membantu Wunitari. Ia tidak tahu apakah ia akan berhasil menyelamatkan wanita itu atau tidak.


...***...


Sementara itu di gerbang Istana Kerajaan Suka Damai. Ada sepasang pendekar yang mencari Raden Cakara Casugraha. Mereka memaksa untuk masuk. Tentunya prajurit yang menjaga gerbang Istana ingin mengetahui tujuan mereka.


"Maaf tuan, ada keperluan apa sehingga tuan berdua ingin bertemu dengan gusti prabu?."


"Katakan pada gusti prabu. Pendekar dari bukit setangkai ingin bertemu. Ada hal penting yang ingin kami sampaikan padanya."


"Baiklah tuan. Kalau begitu tuan berdua tunggu di sini. Saya akan memanggil gusti prabu."


Salah satu prajurit masuk ke dalam Istana, menemui Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang berada di ruang pribadi Raja.


"Mohon ampun gusti prabu. Maafkan jika hamba mengganggu gusti prabu."


"Ada apa prajurit?. Apakah ada hal penting yang ingin kau sampaikan padaku?."


"Mohon ampun gusti prabu. Di depan gerbang istana, ada dua orang pendekar. Katanya berasal dari bukit setangkai ingin bertemu dengan gusti prabu."

__ADS_1


"Pendekar bukit setangkai?."


"Benar gusti prabu. Katanya ingin bertemu dengan gusti prabu. Ada hal penting yang ingin ia sampaikan pada gusti prabu."


"Kalau begitu suruh mereka masuk. Aku akan menunggu di ruang utama istana."


"Sandika gusti prabu."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit berpikir, dan mengingat tentang bukit setangkai. Rasanya dulu ia pernah mendengar nama itu. Apa yang terjadi padanya saat itu?. Temukan jawabannya.


...***...


Kembali pada Jaya Satria dan Putri Andhini Andita. Mereka tidak menyangka, jika Wunitari menolak untuk diajak mengucapkan kalimat syahadat. Karena hatinya telah dipenuhi oleh ambisi untuk mendapatkan kecantikan yang abadi, sehingga ia melupakan bahwa diatas langit masih ada langit. Hingga ia menemui ajalnya, tidak mau sama sekali bertaubat.


"Sungguh malang sekali nasibnya rayi. Mengapa dia tidak mau diajak untuk menuju jalan kebaikan?."


"Itu salahnya yunda. Sama seperti yang dijelaskan dalam al-qur'an."


Jaya Satria membacakan ayat suci Al-Qur'an tersebut, tentang peringatan untuk menyembah Allah SWT. Surah Al Baqarah ayat 7 dan ayat 21.


"اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ


Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman."


"Benar sekali yunda. Padahal di dalam al-qur'an sudah dijelaskan. Sebagai umat manusia sudah patut menyembah Allah.


يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اعۡبُدُوۡا رَبَّكُمُ الَّذِىۡ خَلَقَكُمۡ وَالَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ


Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”


"Sungguh malang sekali orang-orang yang mati dalam keadaan seperti ini rayi."


"Benar yunda. Tapi kita tidak bisa berbuat banyak. Hanya Allah SWT tempat hukum yang adil bagi orang-orang yang seperti itu."


"Lalu kita apakan mayatnya rayi?."


"Sebagai sesama manusia, kita harus menguburkannya dengan baik yunda. Semoga saja Allah SWT memberikan keringanan baginya."


"Baiklah kalau begitu rayi. Mari kita urus jenazahnya."

__ADS_1


Putri Andhini Andita dan Jaya Satria melupakan bahwa Wunitari adalah orang yang hampir mencelakai Putri Agniasari Ariani. Untuk saat ini mereka berbaik hati untuk mengurus jenazah Wunitari.


...***...


Kembali ke Istana Kerajaan Suka. Dua orang pendekar dari bukit setangkai saat ini menghadap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Sepertinya mereka berdua menyampaikan hal yang sangat penting pada sang prabu.


"Mohon ampun gusti prabu. Kiranya kami datang ke sini membuat gusti prabu bertanya-tanya. Mungkin gusti prabu sebelum menjadi raja akan lupa dengan peristiwa di bukit setangkai."


"Maaf, bukan saya bermaksud untuk melupakan kejadian penting itu. Karena masa pengembaraan membuat saya memiliki banyak hal yang telah saya lalui. Maafkan saya sekali lagi."


"Baiklah kalau begitu gusti prabu. Kami memahami apa yang gusti prabu katakan. Namun peristiwa itu terjadi enam tahun yang lalu. Ketika gusti prabu berhadapan dengan seorang pendekar bernama tapa simulung. Pendekar kejam yang tidak pernah mendengarkan perkataan siapa saja."


"Pendekar tapa simulung?. Ya, saya hampir mengingatnya. Lalu apa yang terjadi, sehingga kalian datang kepada saya saat ini."


"Saat ini kondisinya sangat memprihatinkan gusti prabu. Tidak ada satupun orang yang mau mengurusnya, setelah dikalahkan oleh gusti prabu pada saat itu."


"Kondisinya yang tidak bisa dikatakan baik gusti. Dan ia mengutus kami untuk menemui gusti prabu. Katanya ia ingin minta diobati oleh gusti prabu."


"Jadi begitu?. Keadaanya saat ini sedang sakit parah?."


"Benar gusti prabu. Kami mohon agar gusti prabu berkenan datang ke sana. Karena keadaannya yang tidak bisa dibawa perjalanan jauh, jadi kami memutuskan untuk menjemput gusti prabu."


"Maaf jika orang seperti kami lancang ingin membawa gusti prabu ke bukit setangkai. Tapi kami sangat berharap kebaikan dari gusti prabu."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tampak berpikir. Apakah ia akan pergi meninggalkan istana ini?. Jaya Satria belum kembali. Apakah ia akan pergi ketika Jaya Satria tidak ada di Istana?. Saat itu, ia teringat ada Putri Bestari Dhatu ahli pengobatan dalam hal bidang kesehatan. Namun saat keduanya diberi tawaran, mereka saling bertatapan, dan agak bingung.


"Apakah saya yang harus ke sana?. Apakah tabib kepercayaan saya tidak bisa mengobatinya?."


"Sudah banyak tabib yang mencoba mengobatinya gusti prabu. Namun belum juga ada tanda-tanda akan sembuh. Malah makin parah gusti prabu."


"Tabib yang satu ini sudah tidak diragukan lagi dalam ilmu pengobatan. Bahkan mendiang kakek prabu rahwana bimantara pernah diobatinya. Insyaallah, jika Allah telah berkehendak semuanya akan baik-baik saja."


"Baiklah kalau begitu gusti prabu. Kami akan menerima tawaran yang gusti prabu berikan."


"Kalau begitu untuk sementara waktu kalian beristirahat lah di wisma tamu. Saya ingin berbincang dengan yunda saya, apakah beliau mau ke sana atau tidak."


"Terima kasih atas kebaikan gusti prabu."


"Terima kasih gusti prabu. Kami menunggu kabar baik dari gusti prabu."

__ADS_1


Apakah Putri Bestari akan berkenan menolong kedua pendekar tersebut?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya.


...****...


__ADS_2