RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEMARAHAN RADEN CAKARA CASUGRAHA


__ADS_3

...***...


Dua hari telah berlalu. Keadaan Raden Cakara Casugraha dan Putri Agniasari Ariani sudah baikan. Hari ini ia ingin kembali mengajari kakaknya latihan ilmu kanuragan. Karena kebetulan ia belum mendapatkan tugas dari ayahandanya.


Namun saat ia ingin menemui kakaknya di kaputren. Ia dihadang oleh Ratu Ardiningrum Bintari dan Ratu Gendhis Cendrawati.


"Ibunda ratu." Raden Cakara Casugraha memberikan hormat pada kedua Ratu Kerajaan Suka Damai.


"Kau tidak usah berpura-pura sopan dihadapan kami cakara casugraha." Ratu Ardiningrum Bintari menatap tidak suka pada Raden Cakara Casugraha.


"Sifat burukmu itu sangat mengganggu, dan kami tidak menyukainya sama sekali." Begitu juga dengan Ratu Gendhis Cendrawati.


"Apa yang ibunda inginkan dari nanda. Tidak biasanya ibunda ratu menemui nanda." Raden Cakara Casugraha masih berusaha untuk bersikap sabar. Ia belum mengerti mengapa kedua Ratu Kerajaan Suka Damai ini begitu membenci dirinya?.


"Tidak usah basa-basi lagi cakara casugraha. Katakan padaku dengan jujur. Apa yang telah kau katakan pada kanda prabu, sehingga putra putriku dihukum oleh kanda prabu!." Ratu Ardiningrum Bintari sudah tidak tahan lagi. Ia sangat marah pada Raden Cakara Casugraha yang mengadu pada suaminya.


"Yah. Apa yang kau katakan pada kanda prabu, sehingga putra putriku dihukum. Kau pasti berkata yang tidak-tidak pada kanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati menatap tajam pada Raden Cakara Casugraha.


"Jadi ini alasan mereka menemuiku?. Apa yang mereka pikirkan sebenarnya?." Dalam hati Raden Cakara Casugraha merasa heran melihat kedua ibunda tirinya ini.


"Nanda telah mengatakan semuanya sesuai dengan fakta yang terjadi. Bahwa raka ganendra garjitha dan saudara-saudaranya berubah, karena hasutan dari ibunda ratu ardiningrum Bintari, yang telah meracuni pikiran mereka. Sehingga dengan teganya mereka menganiaya adik mereka tanpa perasaan." Balas Raden Cakara Casugraha dengan nada suara penuh penekanan.


"CAKARA CASUGRAHA! JAGA UCAPANMU!." Kedua Ratu Kerajaan Suka Damai sangat marah dengan apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha.


"Itu adalah kenyataannya ibunda. Nanda pernah mendengarkannya secara langsung, apa yang telah ibunda berdua rencanakan. Yaitunya ibunda ratu ingin menyingkirkan ibunda ratu dewi anindyaswari dari istana ini." Raden Cakara Casugraha sangat faham dengan rencana jahat kedua ibunda tirinya itu.

__ADS_1


Tentunya Kedua Ratu Kerajaan Suka Damai terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha. Mereka tidak menyangka jika anak tirinya ini mengetahui rencana mereka?.


"Jika ibunda ratu berdua berani melakukan itu. Akan nanda pastikan, ibunda ratu berdua lah yang akan terusir, jika nanda menceritakan rencana jahat ibunda ratu pada ayahanda prabu." Sepertinya Raden Cakara Casugraha memiliki senjata untuk mengancam kedua Ratu Kerajaan Suka Damai.


"Kau tidak usah mengancam kami cakara casugraha. Kami akan melakukan apapun pada ibundamu yang berhati busuk itu."


"Heh!. Kami tidak takut dengan ancaman kecilmu itu. Akan kami buat kau, saudarimu, juga ibundamu angkat kaki dari istana ini secepatnya."


"Kalian benar-benar berhati busuk!. Jika kalian berani melakukan itu!. Akan aku bunuh kalian berdua!." Raden Cakara Casugraha benar-benar telah dikuasai oleh kemarahan. Ia merasa marah, karena mereka telah berani mengatakan ibundanya adalah wanita busuk?.


"Kau tidak perlu marah cakara casugraha. Karena yang kami katakan itu adalah kenyataannya."


"Kau saja yang tidak mengetahui kenyataan itu. Jika ibundamu adalah wanita penggoda. Karena itulah kanda prabu sampai tergila-gila padanya."


"Asal kau tahu saja cakara casugraha. Ibundamu itu adalah wanita yang gila, sehingga dengan cara apapun ia lakukan untuk mendapatkan kanda prabu. Jadi kami sangat faham dengan sifat kalian, yang selalu ingin menjadi perhatian kanda prabu, sehingga melupakan anak-anak kami."


Raden Cakara Casugraha sudah tidak tahan mendengarkan apa yang mereka katakan. Dengan hatinya yang panas, ia telah mengeluarkan amarah yang bersemayam di dalam tubuhnya.


Tanpa banyak bicara, ia hantam tubuh Ratu Ardiningrum Bintari dengan kekuatan tenaga dalamnya, sehingga tubuh Ratu Ardiningrum Bintari terlempar jauh.


"Aaaaakh." Ratu Ardiningrum Bintari berteriak kesakitan. Rasanya sangat sakit dihajar oleh seseorang yang memiliki tenaga dalam yang sangat kuat. Hingga ia sulit untuk menahan sakit yang ia rasakan.


Sedangkan Ratu Gendhis Cendrawati terbelalak kaget melihat itu. Ia tidak menyangka jika Raden Cakara Casugraha menyerang Ratu Ardiningrum Bintari. "Anak ini benar-benar gila. Menyerang siapa saja tanpa pandang siapa orang yang ia serang." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati merasa takut melihat Raden Cakara Casugraha saat ini.


Matanya memerah aneh, tubuhnya diselimuti kemerahan yang membuatnya terlihat mengerikan. Sebenarnya apa yang terjadi pada Raden Cakara Casugraha?. Mengapa ia mendadak menjadi ganas seperti itu?.

__ADS_1


"Kau!. Berani sekali kau menghina ibundaku." Kali ini ia menatap tajam ke arah Ratu Gendhis Cendrawati. "Mulutmu yang kurang ajar!. Pikiranmu yang kotor itu!. Berani sekali kau berkata dan berpikiran buruk terhadap ibundaku!. Apakah kau sudah bosan hidup, sehingga kau berani berkata seperti itu dengan otakmu yang dangkal itu!." Raden Cakara Casugraha ingin semakin mendekati Ratu Gendhis Cendrawati.


Tentunya ia mundur, karena ia takut akan dihajar juga oleh Raden Cakara Casugraha. Kakinya sampai gemetaran, apalagi ketika matanya melirik ke arah Ratu Ardiningrum Bintari yang tidak berdaya lagi. Matanya melihat ada bekas darah yang mengalir di sudut mulut Ratu Ardiningrum Bintari. Seberapa kuat pukulan dari Raden Cakara Casugraha, sehingga Ratu Ardiningrum Bintari seperti itu?.


"Kau tidak akan aku ampuni!. Karena kau berniat jahat pada ibundaku!." Raden Cakara Casugraha benar-benar menunjukkan kemarahannya. Ia hendak menghajar Ratu Gendhis Cendrawati, jika saja gerakannya tidak ditahan oleh Raden Hadyan Hastanta.


Raden Cakara Casugraha mundur beberapa langkah, namun bukan berarti ia kalah hanya gerakannya ditahan oleh Raden Hadyan Hastanta.


"Ibunda!." Raden Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra sangat terkejut melihat keadaan ibunda mereka.


"Putraku." Ratu Ardiningrum Bintari meringis kesakitan, tubuhnya yang masih sakit, sulit untuk digerakkan. Akhirnya ia tidak sadarkan diri, karena tidak sanggup untuk menahan sakit itu.


"Ibunda!. Bangun ibunda!." Raden Gentala Giandra dan Raden Ganendra Garjitha sangat panik, ketika ibundanya tidak bergerak lagi.


"Ibunda. Kenapa ibunda bisa seperti ini!." Putri Ambarsari juga takut, melihat keadaan ibundanya yang terluka.


"Ibunda." Putri Andhini Andita segera menarik tangan ibundanya. Ia mengamankan ibundanya yang terlihat ketakutan.


"Putriku." Ratu Gendhis Cendrawati yang ketakutan, segera memeluk putrinya. Ia masih merasakan ketakutan yang luar biasa, setelah menyaksikan bagaimana Raden Cakara Casugraha menghajar Ratu Ardiningrum Bintari tadi.


"Cakara casugraha!. Berani sekali kau terhadap ibundaku!." Raden Hadyan Hastanta menatap tajam ke arah Raden Cakara Casugraha.


"Kau tidak usah ikut campur hadyan hastanta. Akan aku hajar kau seperti hari itu. Akan aku buat kau menyesal, karena kau telah berani membuat yundaku tersiksa karena ulahmu, yang menyiramnya dengan air yang dibubuhi serbuk bambu." Raden Cakara Casugraha tidak akan melupakan apa yang telah dilakukan oleh mereka, terhadap kakaknya Putri Agniasari Ariani.


Apa yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2