
...***...
Disisi lain, Putri Andhini Andita telah sampai di sebuah tempat yang sangat ramai. Sepertinya ini sebuah kerajaan yang lumayan besar. Karena ia tiba dia sebuah kota raja. Begitu banyak orang yang berjualan, serta melakukan kegiatan di sini.
"Sepertinya pengembara yang aku lakukan telah sampai di kerajaan restu agung." Putri Andhini Andita melihat ada tugu Kerajaan yang mengukir dengan jelas nama Kerajaan Restu Agung. "Baiklah. Aku akan mencari penginapan. Mungkin aku bisa mengambil beberapa pelajaran di kerajaan ini nantinya." Putri Andhini Andita mencoba untuk menikmati perjalanannya di kerajaan ini.
Akan tetapi, saat ia hendak melangkah, ada seseorang yang terjatuh dihadapannya. Dan ia sama sekali tidak menyangka ada seorang pemuda malang yang didorong oleh beberapa orang dewasa?. Orang dewasa itu terlihat menertawakan orang yang tidak berdaya itu.
"Ahaha!. Pangeran lemah!. Tidak berguna!." Mereka semua menghina pemuda itu?. Tapi kenapa mereka lakukan itu?.
"Tidak berguna!. Buta!. Lebih baik kau mati saja!. Hanya menjadi beban saja. Memangnya siapa yang mau menerima orang buta seperti kau di kerajaan ini?!."
Seakan tiada henti-hentinya mereka mengeluarkan kata-kata yang sangat menyakitkan hati?.
"Cukup!. Hentikan!." Putri Andhini Andita tidak tahan lagi dengan apa yang mereka katakan. Begitu sangat menghina, dan menginjak harga diri seseorang.
"Hah?. Siapa kau?. Orang asing seperti mau sebaiknya jangan ikut campur!. Karena kau akan berhadapan dengan kami semua." Mereka semua menatap tidak suka pada Putri Andhini Andita.
"Maju kalian semua. Jika kalian berani berhadapan denganku!." Putri Andhini Andita mengeluarkan pedang Pembangkit Raga Dewi Suarabumi.
Mereka semua terkejut, dan mengambil ancang-ancang untuk bertarung. Sekitar ada lima belas orang yang ingin menerima tantangan dari Putri Andhini Andita. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
Karena arah kerajaan Angin selatan sangat berbanding perbedaan letak menuju ke sana, maka Jaya Satria tidak bisa singgah ke kerajaan Tapak Tiga. Jaya Satria hanya bisa berharap, jika Raden Jatiya Dewa mampu mengatasi masalah tersebut dengan sangat baik.
"Ada apa rayi prabu?. Apakah ada sesuatu yang ganjal?." Raden Hadyan Hastanta merasa heran dengan sikap adiknya.
__ADS_1
"Maaf raka. Aku hanya teringat dengan seseorang yang sedang membutuhkan bantuan." Jawab Jaya Satria.
"Jika kau merasa cemas, kenapa kau tidak membantunya saja?. Aku bisa datang ke istana kerajaan angin selatan sendirian." Raden Hadyan Hastanta mencoba untuk memahami apa yang sedang dihadapi oleh adiknya.
"Tidak apa-apa raka. Semoga saja ia bisa membantu masalah yang sedang dihadapi." Jaya Satria mencoba untuk percaya pada Raden Jatiya Dewa.
"Kalau begitu mari kita lanjutkan perjalanan kita menuju istana kerajaan angin selatan rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta hanya tersenyum maklum saja.
"Mari raka." Jaya Satria mencoba menguatkan dirinya. Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Semoga saja mereka bisa menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.
...***...
Kembali ke Putri Andhini Andita yang saat ini berhasil menghajar mereka yang dari tadi terus menerus menyerang dirinya. Hingga saat itu ada seorang pemuda serta lima orang prajurit Istana datang dan menghentikan mereka semua.
"Hentikan!." Suara pemuda itu terdengar sangat tinggi. Sehingga menghentikan mereka semua. Mereka semua bangun, dan memberi hormat pada Raden Bumi Putra.
"Apa yang terjadi?. Mengapa kalian malah menyerang wanita itu?. Apa kesalahan yang telah ia lakukan, sehingga kalian malah menyerangnya?. Tapi sepertinya kalian terluka cukup parah hanya karena berhadapan dengan seorang wanita?." Raden Bumi Putra kali ini melihat ke arah Putri Andhini Andita yang telah berhasil membantu pemuda yang baru saja dihajar oleh mereka semua.
"Mohon ampun raden. Sebenarnya kami hanya ingin mengusir si buta itu dari sini. Tapi wanita busuk itu malah mengganggu kami semua."
"Benar raden. Kami dikalahkan wanita itu dengan pedang aneh miliknya."
"Wanita itu sepertinya bukan orang sini raden. Kita harus segera mengusir dia dari wilayah kerajaan ini."
Mereka sepertinya mengadu pada Raden Bumi putra. Mereka mengadu bagaimana mereka dipermalukan oleh seorang wanita?.
"Sungguh sangat memalukan sekali." Raden Bumi putra menatap licik ke arah Putri Andhini Andita. "Tapi aku ingin melihat, seberapa kuatnya kau!." Lanjutnya lagi dengan nada membentak.
__ADS_1
"Maaf tuan, sepertinya ini akan menjadi proses yang agak rumit. Jadi tuan sebaiknya menepi lah terlebih dahulu." Putri Andhini Andita membimbing pemuda yang telah ia tolong tadi. Karena kali ini ia akan berhadapan kembali dengan seseorang yang bersikap sombong padanya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temuan jawabannya.
...***...
Sementara itu, Raden Jatiya Dewa, Putri Cahya Candrakanti dan Raden Pradhana Angkasa baru saja sampai di gerbang Istana Kerajaan Tapak Tiga. Kedatangan mereka telah ditunggu oleh mereka semua.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Mereka semua mengucapkan salam, sambil memberi hormat pada Prabu Guntur Herdian.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Jawab Prabu Kawanda Labdagati dengan ramah, mempersilahkan mereka untuk duduk di tempat yang telah disediakan.
"Ada apa ini putriku?. Kenapa ada tamu yang tidak terduga seperti ini." Prabu Guntur Herdian sama sekali tidak mengenali Raden Jatiya Dewa. Sehingga ia bertanya pada anaknya.
"Maaf ayahanda prabu. Jika saya membawa orang asing ke istana ini." Jawab putri Cahya Candrakanti memberi hormat pada ayahandanya. "Ia adalah utusan dari gusti prabu asmalaraya arya ardhana." Lanjutnya lagi.
"Bagaimana mungkin ada orang luar ikut campur?. Apa yang membuat kau menjadi utusan nanda cakara casugraha?. Katakan padaku alasannya." Prabu Guntur Herdian mengernyitkan keningnya dengan herannya.
"Maafkan ananda ayahanda prabu. Jika nanda melarikan diri sampai ke kerajaan suka damai. Karena ananda tidak bisa menerima perjodohan yang ayahanda serta ibunda lakukan pada ananda." Putri Cahya Candrakanti merasa sangat sedih, karena ia tidak bisa menyeret Jaya Satria dalam masalah ini. Sedangkan Raden Pradhana Angkasa hanya diam saja. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya agar tidak kelewatan.
"Lalu kau siapa?. Sehingga Kau ikut campur, dan menjadi utusan nanda prabu?." Prabu Guntur Herdian sepertinya ingin menguji bagaimana anak muda yang datang bersama anak perempuannya.
"Hamba hanyalah rakyat biasa gusti prabu. Namun hamba-." Raden Jatiya Dewa memberi hormat.
"Rakyat biasa?. Lalu kau inginkan dari putriku?. Sehingga kau ikut campur dalam pertengkaran batin antara Raden Jatiya Dewa dan Prabu Guntur Herdian.
"Hamba hanya menginginkan kebebasan wanita memilih pasangan pada wania itu. Bukannya untuk menyenangkan hati mereka, namun malah membuat hidup mereka dalam sebuah kisah yang rumit." Balas Raden Jatiya Dewa. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...