
...***...
Pertarungan di desa gaib belum selesai. Sukma naga api, angin, petir, dan Sukma naga kegelapan masih berhadapan dengan jin itu. Jaya Satria tidak tinggal diam saja. Ia membantu mereka semua dengan mengumandangkan adzan. Sehingga jin dan makhluk gaib yang jahat semuanya berteriak kesakitan. Hingga menjelang masuk dini hari, semuanya berhasil dibebaskan. Jin itu berhasil dibinasakan.
Desa gaib yang berada di wilayah kerajaan Suka Damai berhasil dibebaskan. Namun tetap saja desa itu seperti menghilang. Mereka semua melihat Jaya Satria kini berdiri dihadapan mereka semua.
"Oh pendekar jaya satria. Apakah kau baik-baik saja?."
"Apakah semuanya sudah selesai?."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin. Semuanya telah selesai." Jaya Satria mendekati mereka semua.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin." Mereka semua bersyukur karena masalah telah selesai.
"Aku memiliki informasi penting dari gusti prabu. Bahwa kalian akan diundang saat lebaran nanti ke istana. Aku harap kalian semuanya nanti datang."
"Baiklah jaya satria. Sampaikan ucapan terima kasih gusti prabu."
"Akan aku sampaikan pada beliau." Jaya Satria hanya tersenyum kecil. "Kalau begitu mari kita semua kembali. Karena sebentar lagi mau masuk dini hari. Kita semua harus makan sahur." Lanjut Jaya Satria.
"Kalau begitu kami pamit dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Mereka semua meninggalkan tempat. Setelah mereka semua pergi, Prabu Guindara Arya Jiwatrisna mendekati Jaya Satria.
"Sampurasun." Prabu Guindara Arya Jiwatrisna tersenyum kecil.
"Rampes." Jaya Satria memberi hormat.
"Maaf anak muda. Bukankah itu pedang panggilan jiwa?." Matanya melihat dengan jelas, dan ia merasakannya.
Jaya Satria mengangkat pelan pedang Sukma Naga Pembelah Bumi. "Ini memang pedang panggilan jiwa. Kakek prabu." Jawab Jaya Satria.
"Kakek prabu?. Kenapa kau memanggilku dengan sebutan kakek prabu?. Dan kenapa kau memiliki benda pusaka Sukma naga?. Siapa kau sebenarnya anak muda?." Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkannya.
__ADS_1
"Ia adalah putra nanda, ayahanda prabu." Dari arah samping mereka, terdengar suara Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Ayahanda prabu." Jaya Satria mendekati ayahandanya, dan ia memeluk ayahandanya dengan erat.
"Kau berhasil melakukannya putraku. Syukurlah." Prabu Kawiswara Arya Ragnala memeluk anaknya dengan sayang. Tak lupa ia mencium puncak kepala anaknya.
Sedangkan Prabu Guindara Arya Jiwatrisna merasa heran dengan apa yang ia lihat. "Dihyan darya?. Benarkah itu kau nak?." Prabu Guindara Arya Jiwatrisna hanya ingin memastikan bahwa itu adalah putranya?.
"Ini nanda ayahanda prabu. Putra bungsu ayahanda." Jawab Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Kau sudah besar?. Dan memilki anak?. Lalu anak muda yang bisa menguasai isi benda pusaka, Sukma naga. Itu adalah hal yang luar biasa." Prabu Guindara Arya Jiwatrisna merasa kagum dengan kehebatan cucunya?.
"Semuanya karena Allah SWT, kakek prabu." Jaya Satria melepaskan topeng yang menutupi wajahnya. Membuat Prabu Guindara Arya Jiwatrisna terkejut.
"Bukankah kau anak muda yang aku temui di dalam ruangan pribadi raja?. Jadi kau adalah putra dari anakku dihyan darya?." Ia sangat mengingat wajah itu.
"Jadi kau melakukan perjalanan alam sukma putraku?." Prabu Kawiswara Arya Ragnala bertanya.
"Jadi begitu." Prabu Kawiswara Arya Ragnala mengerti apa yang dikatakan oleh anaknya. "Ayahanda prabu. Mari kita kembali. Kita tidak seharusnya berada di sini. Semua masalah desa gaib telah selesai. Serahkan kerajaan ini pada putra nanda. Nanda prabu asmalaraya arya ragnala." Prabu Kawiswara Arya Ardhana menatap ayahandanya dengan senyuman ramah.
"Nanda prabu asmalaraya arya ardhana?. Sungguh gelar nama yang sangat indah." Prabu Guindara Arya Jiwatrisna merasa kagum. "Baiklah nanda prabu. Aku serahkan kerajaan ini padamu. Semoga kau bisa membawa perdamaian sesuai dengan nama gelar mu, cucuku. Lain kali aku ingin mendengarkan kisahmu. Aku akan datang berkunjung suatu hari nanti." Setelah berkata seperti itu. Prabu Guindara Arya Jiwatrisna dan Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghilang. Mereka telah kembali ke alam maya.
"Aku juga harus kembali. Karena sebentar lagi ibunda akan terbangun untuk makan sahur. Aku tidak mau ibunda khawatir, jika aku tidak berada di istana." Jaya Satria kembali mengenakan topeng penutup wajahnya. Ia segera kembali ke istana, supaya tidak membuat ibundanya merasa khawatir padanya.
...***...
Di padepokan. Siangnya, Raden Jatiya Dewa dan ketiga temannya sedang beristirahat di pondok kecil di halaman belakang. Setelah selesai mengerjakan tugas, mereka selalu beristirahat di sana.
"Sebentar lagi mau lebaran. Jaya satria mengatakan kalau kita diundang oleh gusti prabu untuk datang ke istana." Mulni mencoba menghibur diri dengan membayangkan jika ia berada di istana kerajaan suka damai.
"Jaya satria itu sebenarnya adalah gusti prabu. Kalian saja yang tidak mengetahuinya." Dalam hati Raden Jatiya Dewa ingin berkata seperti itu. Tapi katanya rahasia, jadi ia tidak jadi mengatakannya.
__ADS_1
"Sungguh baik sekali gusti prabu ya. Mau mengundang kita rakyat biasa datang ke istana." Barka juga membayangkan dirinya berada di istana nantinya.
"Kalau raden jatiya dewa sih sudah biasa. Sedangkan kita baru pertama kalinya." Purna melihat ke arah Raden Jatiya Dewa.
"Hanya seperti rumah biasa. Tidak ada yang istimewa." Raden Jatiya Dewa memalingkan wajahnya, kerena mereka semua melihat ke arahnya. Sedangkan mereka bertiga malah cengengesan.
"Tapi tunggu dulu." Dalam hati Raden Jatiya Dewa teringat dengan sesuatu. "Jika aku ikut ke istana, artinya aku akan bertemu dengan tuan putri galak?." Dalam hatinya tiba-tiba merasa galau.
"Hm?. Ada apa raden?. Kenapa wajah raden terlihat pucat begitu?."
"Benar raden. Apakah raden ingat sesuatu?."
"Sungguh aneh."
Mereka bertiga melihat perubahan raut wajah dari Raden Jatiya Dewa yang sangat mengherankan. "Jika kalian rakyat suka damai. Apakah kalian pernah bertemu dengan Putri andhini andita?."
"Gusti putri andhini andita?." Mereka serempak bertanya
"Iya. Gusti putri andhini andita."
"Oh gusti putri sih dulu katanya sangat sombong, pemarah. Dan tidak ada manis-manisnya."
"Tapi, setelah kabar tersebar bahwa beliau masuk agama islam. Beliau terlihat ramah."
"Beliau semakin terlihat cantik. Begitu kata orang-orang yang pernah bertemu dengan gusti putri."
"Kami belum pernah melihat ataupun bertemu dengan beliau. Jadi kami tidak mengetahui banyak tentangnya."
Mulni, Barka dan Purna hanya mendengar kabar dari mulut ke mulut saja. Mungkin untuk pertama kalinya mereka akan melihat bagaimana wajah ayu dari Putri Andhini Andita.
"Jadi begitu ya." Raden Jatiya Dewa tersenyum aneh. "Mungkin hanya padaku saja ya?. Ia bersikap galak." Dalam hati Raden Jatiya Dewa merasakan jika putri Andhini Andita pilih kasih padanya. "Tapi, jika dipikir-pikir. Memang aku yang telah membuat ia marah pada waktu itu." Raden Jatiya Dewa teringat bagaimana pertemuannya dengan Putri Andhini Andita pada waktu itu. "Ukh. Rasanya aku akan sulit mendekati putri andhini andita. Oh Tuhan bantu hamba untuk menaklukkan hatinya." Raden Jatiya Dewa sepertinya telah terpikat oleh Putri Andhini Andita. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah perasaan Raden Jatiya Dewa akan tersampaikan?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...