
...***...
Dua hari berlalu, Putri Suliswati Suri Bulan masih menunggu kedatangan orang yang selalu ia tunggu-tunggu. Ia adalah Raden Kencana Prabakara. Anak dari Prabu Prabakara Jaya Estu. Saat ini ia datang dengan seserahan, karena sesuai dengan janjinya. Bahwa ia akan melamar Putri Suliswati Suri Bulan. Saat ini mereka diberi waktu untuk berdua, mungkin ada yang ingin mereka bicarakan sebelum acara pernikahan mereka nantinya.
"Nimas suliswati. Rasanya sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana keadaan nimas?."
"Aku baik-baik saja, alhamdulilah hirobbil'alamin baik raden." Putri Suliswati Suri Bulan tersenyum kecil, mengingat pertemuan mereka pada saat itu. "Memang sudah lama tidak bertemu. Lalu bagaimana dengan keadaan raden?."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, keadaanku baik-baik saja." Raden Kencana Prabakara juga tersenyum ramah menatap Putri Suliswati Suri Bulan. "Tapi aku sangat minta maaf padamu, karena aku sangat lama datang menemuimu nimas. Sungguh, maafkan aku." Ada rasa penyesalan di dalam dirinya saat ini.
"Tidak apa-apa. Aku selalu setia menunggumu. Karena raden telah menepati janji, seperti yang dikatakan oleh pendekar jaya satria."
"Oh. Jaya satria?. Rasanya aku ingin bertemu dengannya, dan mengucapkan rasa terima kasihku padanya." Raden Kencana Prabakara teringat dengan sosok misterius yang telah menyadarkan kebodohan, yang telah ia lakukan di masa lalu.
Kembali ke masa itu.
...***...
Terjadi pertarungan antara Jaya Satria dengan Raden Kencana Prabakara. Mereka saat ini sedang mengadu kekuatan tenaga dalam yang mereka miliki. Sesekali mereka mereka menggunakan ilmu kadigjayaan yang mereka miliki, untuk menjatuhkan lawan mereka. Keduanya terlempar menjauh, setelah mendapatkan sebuah tendangan di dada mereka.
Jaya Satria masih bisa mengendalikan dirinya dengan memanfaatkan tenaga angin yang ia miliki, sehingga ia tidak terlalu mendarat keras di tanah. Sedangkan Raden Kencana Prabakara terjerembab di tanah. Tubuhnya sangat terasa sakit, hingga ia meringis karena tidak bisa menahannya.
"Kau itu seorang muslim. Uhuk." Jaya Satria sedikit terbatuk, karena dadanya yang terasa sakit. Apalagi ada noda merah yang mengalir di sudut mulutnya. "Tapi mengapa kau malah berbuat keji pada orang lain?. Apakah kau tidak punya hati nurani untuk melihat penderitaan yang mereka alami hah?."
Raden Kencana Prabakara mencoba untuk bangkit, karena tubuhnya yang terasa sangat sakit. "Ternyata kau lumayan juga. Baru kali ini aku mendapatkan lawan yang sangat tangguh." Tenaga dalamnya sangat terkuras, dan merasakan sakit yang luar biasa. "Hei!. Orang bertopeng!. Siapakah kau sebenarnya?. Aku ingin mengetahui siapa namamu."
__ADS_1
"Kau tidak perlu mengetahui aku ini siapa. Namun aku akan mencegah perbuatan keji yang telah kau lakukan pada mereka."
"Sombong!. Cuih!. Jangan mentang-mentang kau memiliki ilmu kanuragan yang tinggi, kau bisa mengancam seorang putra raja?."
Entah mengapa, Jaya Satria malah tertawa mendengarnya. Membuat Raden Kencana Prabakara sangat marah. "Diam kau!. Apa yang kau tertawakan. Kau akan dihukum mati, karena kau telah berani menghina aku!."
Jaya Satria menghentikan tawanya, dan ia menunjuk kiri ke arah Raden Kencana Prabakara. "Kau itu tidak pantas menjadi seorang putra raja, jika perangai mu seperti binatang buas yang hanya memamerkan cakar saja."
"Bangsat!. Jaga ucapanmu!."
"Aku katakan kepadamu dengan jelas. Banyak anak raja di kerajaan di bumi ini. Namun tidak seperti kau!. Yang hanya bisa menganiaya orang lain dengan menggunakan nama Ayahandanya. Sungguh sangat memalukan sekali apa yang kau lakukan itu."
"Diam!. Aku tidak butuh ocehanmu yang menyakitkan hatiku."
"Kau mau bermain-main denganku rupanya." Raden Kencana Prabakara juga mengeluarkan senjata yang ia miliki. Yaitunya panah tiga dewa, panah yang mengeluarkan racun berbahaya.
"Lihatlah. Pedang ini telah menyerap hawa tenaga dalam mu yang sangat kotor itu. Kau tidak pantas menjadi seorang muslim, jika kau masih saja berbuat kejayan di muka bumi ini."
"Kau sebaiknya diam saja. Kau tidak usah menilai aku bagaimana." Raden Kencana Prabakara mengarahkan sebuah bidikan anak panahnya ke arah Jaya Satria. Setelah merasa tepat, ia lepaskan anak panah itu, dan benar, seperti ada ada tiga panah dengan hawa yang mengerikan meluncur ke arah Jaya Satria.
Panah itu seakan memiliki nyawa, sehingga ia terus mengejar Jaya Satria, meskipun telah berhasil menghindar. Kemanapun Jaya Satria melompat, panah itu masih mengejarnya. Jaya Satria tidak membiarkan panah itu terus membuntutinya.
"Lahaula walakuata illabillahia'liyil'azim. Bismillahi allahuakbar." Jaya Satria menebas ketiga anak panah yang datang padanya dengan menggunakan pedang pelebur Sukma. Ia berhasil menahan serangan yang datang itu. Tentunya Raden Kencana Prabakara sangat terkejut, karena baru kali ini ada yang mampu menghalau serangannya.
"Boleh juga kau orang bertopeng." Ia sedikit terkesan dengan apa yang ia lihat. "Tapi kali ini aku pastikan, bahwa kau tidak akan bisa menghindari serangan ku."
__ADS_1
Jaya Satria mengalirkan tenaga dalamnya ke dalam pedang pelebur Sukma. Karena ia merasakan ada ancaman dari tarikan busur yang dilakukan oleh Raden Kencana Prabakara yang terlihat berbeda dari yang sebelumnya. Sambil menyalurkan tenaga dalam ke pedang pelebur Sukma, Jaya Satria membacakan sebuah ayat suci Al-Qur'an.
"وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ.
Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri."
"Surah luqman ayat 18. Jadi kau membacakan ayat itu hanya untuk mengatakan padaku, jika aku. Ah tidak, atau kau yang sombong?."
"Jika kau telah mengetahui maksud dari ayat itu, maka segera kembali ke jalan yang benar. Jangan kau teruskan perbuatan salah yang telah kau lakukan."
"Diam kau!." Dengan perasaan yang sedang dipenuhi oleh kemarahan yang luar biasa, ia menyerang Jaya Satria dengan menggunakan panah Tiga Dewa. Panah itu menjadi banyak, menyerang Jaya Satria.
Dengan lincahnya Jaya Satria menangkis setiap hujanan panah yang datang padanya. Tebasan pedang pelebur Sukma yang dilambari jurus cakar naga cakar petir, membuat angin dapat menahan serangan itu. Sementara itu, Raden Kencana Prabakara meringis kesakitan.
"Kegh. Kenapa anginnya tiba-tiba saja menyengat aliran darahku?. Jurus apa yang ia gunakan?." Ia mencoba untuk mengatur hawa murninya dengan baik, namun tetap saja masih terasa menyakitkan.
Sedangkan Jaya Satria masih berhadapan dengan hujanan anak panah yang hendak melukai dirinya. Semakin lama, anak panah itu semakin cepat menyerang ke arahnya. Membuatnya kewalahan harus menghindari itu semua. Saat itu juga, ada sebuah anak panah yang tidak bisa ia hindari. Panah itu datang dari arah belakangnya. Menusuk cepat pada bahu kirinya hingga tembus.
"Keghaaaaaaaakh." Jaya Satria berteriak keras karena tidak dapat menahan rasa sakit itu. Teriakan yang sangat pilu, akibat rasa sakit yang seakan hendak mencabut nyawanya.
Sedangkan Raden Kencana Prabakara tidak dapat lagi menahan tebasan terakhir yang diarahkan Jaya Satria sebelum ia pingsan. Tenaga dalam berupa sengatan petir itu mengenai tubuhnya yang sudah tidak bisa bergerak lagi.
"Keghaaaaaaaakh." Ia juga berteriak keras, karena sakit yang luar biasa ia terima. "Ohok." Ia memuntahkan darah, karena tidak kuasa menerima serangan yang mematikan itu. Keduanya terkapar di tanah dengan luka parah yang mereka alami. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1