RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KECEMASAN DAN HARAPAN MEREKA


__ADS_3

...****...


Di kaki gunung menawan batin.


Syekh Asmawan Mulia berhasil menemui Aki Jarah Setandan. Ia menceritakan apa yang terjadi pada Raden Cakara Casugraha. Hatinya sangat sedih, mendengar kabar yang dibawakan oleh Syekh Asmawan Mulia.


"Nanda cakara casugraha saat ini sedang tidak sadarkan diri kakang. Karena mustika yang ada pada diri nanda prabu telah retak, sehingga nanda prabu menghilang. Nanda jaya satria tidak sadarkan diri."


"Oh dewata yang agung. Saat terakhir aku bertemu dengannya, ia juga sedang sakit. Karena tombak pusaka kelana jaya yang berontak di dalam tubuhnya. Dan sekarang malah mustika naga merah delima yang pecah." Ia menangis sedih karena tidak dapat menahan perasaannya.


"Tombak pusaka kelana jaya?. Mengapa aku nanda prabu atau nanda jaya satria tidak mengatakannya padaku?."


"Mungkin nanda cakara casugraha hanya tidak ingin membuat Adi merasa khawatir padanya."


"Ya, bisa jadi begitu kakang."


"Rasanya sangat sedih sekali hatiku adi. Begitu banyak cobaan yang dihadapi oleh nanda cakara casugraha. Rasanya sangat sedih, orang sebaik itu menanggung beban hidup dimasa mudanya."


"Begitu banyak masalah yang dihadapi nanda cakara casugraha. Begitu banyak ujian yang ia hadapi diusianya yang masih muda."


"Allah SWT, akan selalu menguji keimanan seseorang kakang. Karena itulah, nanda cakara casugraha saat ini sedang diuji. Apakah nanda cakara casugraha mampu mengatasi masalah ini atau tidak."


"Kalau begitu kita harus bergegas ke istana, agar kita bisa segera mengobatinya adi. Aku tidak kuasa mendengarnya yang saat ini sedang tidak sadarkan diri."


"Baiklah kakang. Aku juga tidak bisa berlama-lama di sini. Nyawa nanda cakara casugraha sedang dipertaruhkan saat ini."


"Mari adi. Mari kita segera pergi."


Keduanya segera meninggalkan Kaki Gunung Menawan Batin. Karena keselamatan Raden Cakara Casugraha sedang dipertaruhkan saat ini. Bisakah keduanya menyembuhkan Raden Cakara Casugraha?. Temukan jawabannya.


...***...


Di Istana Kerajaan Suka Damai. Sembari menunggu kedatangan Syekh Asmawan Mulia. Putri Bestari Dhatu melakukan tapa di kamarnya. Ia meminta petunjuk, mungkin ia dapat menemuka  sesuatu untuk menyelamatkan Raden Cakara Casugraha.


Kali ini Putri Bestari Dhatu seperti sedang dituntun menuju sebuah tempat di taman istana. Di sana ia melihat ada seorang laki-laki yang sangat gagah perkasa. Mengenakan mahkota kebesaran kerajaan Suka Damai. Selain itu, ia melihat Ratu Dewi Anindyaswari?. Juga seorang anak laki-laki yang masih kecil sedang bermain dengan wajah yang penuh keceriaan. Sayangnya mereka seakan terhenti.

__ADS_1


Akan tetapi lelaki dewasa itu bisa berbicara, dan melihat ke arah Putri Bestari Dhatu. Hanya ia yang bisa bergerak, sedangkan Ratu Dewi Anindyaswari dan anaknya seakan terhenti.


"Sampurasun."


"Rampes."


"Mohon ampun gusti prabu. Jika hamba mengganggu gusti prabu."


"Apa yang nanda putri lakukan di sini?. Apakah terjadi sesuatu pada putraku cakara casugraha?. Sehingga nanda putri ingin menemuinya?."


"Mohon ampun gusti prabu. Bukan hamba bermaksud lancang untuk memasuki kawasan ini tanpa izin. Akan tetapi, hamba ingin mencari petunjuk. Tentang cara mengobati raden cakara casugraha setelah raga keduanya menghilang."


"Jadi putraku cakara casugraha saat ini sedang sakit?. Tidak sadarkan diri setelah raga keduanya berpisah?."


"Seperti itulah yang terjadi gusti prabu. Hamba mohon petunjuk, agar hamba bisa membangunkan raden cakara casugraha putra bungsu gusti prabu."


Tatapan matanya menerawang sangat jauh, sehingga ia seperti sedang larut dalam lamunannya.


"Apa yang terjadi pada putraku?. Sehingga ia tertidur?. Katakan padaku." Matanya menatap putra kecilnya yang sedang bermain dengan istrinya Ratu Dewi Anindyaswari.


"Jadi itu yang tejadi padanya?. Sungguh aku tidak menyangka, jika ada Pendekar yang bisa menghancurkan batu mustika naga merah delima itu."


"Jadi gusti prabu telah mengetahuinya?. Lalu apa yang harus hamba lakukan gusti prabu?. Hamba mohon petunjuk, agar hamba bisa menolongnya."


"Hanya batu nirwana dewa yang bisa membantunya untuk memperbaiki mustika naga merah delima yang ada di dalam tubuhnya. Juga bantuan dua orang pendekar yang menciptakan mustika naga merah delima itu."


"Terima kasih atas petunjuk yang gusti prabu berikan pada hamba. Kalau begitu hamba pamit dulu. Sampurasun."


"Rampes."


Setelah Putri Bestari Dhatu pergi dari sana. Raden Cakara Casugraha kecil melihat ke arah Ayahandanya dan bertanya.


"Ayahanda prabu. Siapa orang nimas yang cantik tadi?."


"Nimas cantik?. Siapa yang nanda katakan nak?."

__ADS_1


"Tadi nanda melihatnya ibunda."


"Mungkin nanda cakara casugraha ingin bermain dengan yundanya. Mari kita bawa putra kita menuju nanda putri agniasari ariani dinda dewi."


"Baiklah kanda prabu. Dinda juga ingin bermain dengan putri kita."


Setelah itu, mereka masuk ke dalam istana untuk menemui Putri Agniasari Ariani.


"Semoga saja aku bisa bertemu dengan mereka di dalam. Sepertinya, keadaan putraku sedang gawat, sehingga wanita ahli obat itu tersedot jauh ke masa putraku masih kecil." Dalam hati sang prabu merasakan kesedihan yang mendalam. Apa yang akan ia lakukan, jika putranya sedang sakit?. "Ayahanda percaya, jika nanda bisa melewati masa sulit ini. Ayahanda akan selalu bersama nanda." Ia hanya berharap, jika anaknya baik-baik saja.


...***...


Sedangkan Ratu Dewi Anindyaswari dan Putri Agniasari Ariani sedang melaksanakan sholat Zuhur bersama ibundanya di bilik Raden Cakara Casugraha. Berharap, jika Raden Cakara Casugraha bisa disembuhkan. Ratu Gendhis Cendrawati, Raden Hadyan Hastanta, Putri Andhini Andita, Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara, dan Paman Perapian Suramuara menjaga Raden Cakara Casugraha yang masih terbaring di tempat tidurnya.


"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Hanya kepadamu lah kami meminta pertolongan. Tiada daya dan upaya kekuatan kecuali hanya kepada engkau ya Allah."


"Ya Allah. Hanya kepada-Mu lah hamba memohon. Tolong sembuhkan rayi cakara casugraha. Hamba tidak tega melihat keadaan rayi cakara casugraha seperti ini."


"Jangan bersedih, dinda dewi, nanda agniasari ariani. Kalian berdua harus kuat. Karena yang dibutuhkan nanda cakara casugraha adalah semangat dari kalian."


"Ayahanda prabu?."


"Kanda prabu?."


Ratu Dewi Anindyaswari dan Putri Agniasari Ariani tidak percaya, jika saat ini Prabu Kawiswara Arya Ragnala berdiri dengan senyuman yang sangat tulus pada mereka.


"Kanda prabu. Apa yang harus dinda lakukan?. Putra kita sedang sakit kanda prabu. Maafkan dinda yang tidak bisa menjaga putra kita kanda prabu."


"Ayahanda prabu. Tolong sembuhkan rayi cakara casugraha. Nanda sangat sedih melihat keadaan rayi cakara casugraha ayahanda."


"Tenanglah dinda dewi, nanda putri. Tetaplah berdoa kepada dewata yang agung. Semoga saja nanda cakara casugraha bisa sembuh. Untuk saat ini, keadaannya baik-baik saja. Hanya butuh istirahat, setelah berpisah dari raga keduanya."


"Aamiin ya rabbal aalaamiin."


Mereka semua seakan tersadar dari alam bawah sadar mereka. Air mata kesedihan telah membasahi istana kerajaan Suka Damai. Apakah Raden Cakara Casugraha berhasil disembuhkan?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2