RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
APAKAH AKHIR?.


__ADS_3

...***...


Jaya Satria telah kembali ke istana Kerajaan Suka Damai. Ia datang bersama Prabu Bumi Putra dan Raden Bumi Putra. Keduanya hanya ingin singgah saja, ingin melihat keadaan Putri Andhini Andita. Saat ini mereka berada di ruang tamu kerajaan. Mereka semua berkumpul untuk mengucapkan bela sungkawa atas apa yang terjadi, termasuk Raden Jatiya Dewa.


"Salam hormat hamba gusti prabu." Putri Andhini Andita memberi hormat pada Prabu Bumi Jaya.


"Salam hormat juga nimas putih." Prabu Bumi Jaya masih ingat dengan wajah Putri Andhini Andita atau yang ia kenal dengan sebutan nama Nimas Putih.


"Selamat datang di istana kerajaan suka damai gusti prabu, raden." Sambut Putri Andhini Andita.


"Terima kasih nimas putih." Balas keduanya.


"Tidak salah lagi. Kau adalah seorang putri yang telah menyelamatkan anakku, dan kau juga yang telah memberikan harapan pada anakku, bahwa hidup ini tidak selamanya dalam kegelapan." Rasanya ia hampir saja menangis, mengingat bagaimana anaknya berjuang untuk mendapatkan seorang putri yang telah menyelamatkan hidupnya.


"Lama tidak bertemu. Maaf, jika seperti ini yang terjadi." Putri Andhini Andita hanya mampu tersenyum kecil saja. Karena hatinya merasakan kesedihan yang tidak biasa. "Hamba tidak menduga jika masalah ini membuat kita sama-sama kehilangan raden raksa wardhana. Jika saja hamba mengetahui akan terjadi seperti ini, hamba tidak akan meminta raden raksa wardhana untuk datang ke istana ini gusti prabu." Ada perasaan sedih yang ia sampaikan saat itu.


"Semuanya telah terjadi karena kehendak dewata agung yang telah menentukan, jadi nimas jangan menyalahkan diri sendiri." Prabu Bumi Jaya memahami itu.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Putri Andhini Andita hampir saja tidak dapat menahan tangisnya.


"Terima kasih jaya satria. Karena kau telah membantu kami. Mungkin kami tidak akan mengetahui bagaimana kisah sedih ini bisa menimpa kami." Dengan kekuatan hati yang luar biasa ia mencoba untuk menekan hatinya yang terluka.


"Sama-sama gusti prabu. Hamba melakukan ini semua demi yunda andhini andita." Jaya Satria membuka topengnya. Tentunya membuat Prabu Bumi Jaya dan Raden Bumi Putra sedikit terkejut. Karena ada dua wajah yang sama?. Apakah mereka kembar. Ya, mungkin anggap saja seperti itu. "Selain itu, hamba sangat marah sekali, dengan apa yang telah mereka lakukan. Mereka telah merusak kebahagiaan yunda andhini andita." Sebagai seorang adik, Raden Cakara Casugraha tentunya tidak ingin membuat kakaknya menangis. Apalagi penantian yang mereka tunggu, adalah demi masa depan yang baik.


"Mungkin ini adalah bagian takdir yang harus kami terima dengan sangat lapang dada. Kami tidak akan melupakannya begitu saja, dengan apa yang telah mereka lakukan. Serta kebaikan dari keluarga besar kerajaan suka damai." Prabu Bumi Jaya mencoba menerima kenyataan pahit itu. Bahwa anaknya Raden Raksa Wardhana telah pergi bersama dengan istri selirnya Ratna Wardhani.


"Semoga saja gusti prabu tetap kuat. Sebagai seorang raja, gusti prabu harus tetap kuat demi semua orang yang telah mempercayai gusti prabu." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk menguatkan Prabu Bumi Jaya.


"Benar gusti prabu. Meskipun banyak hal yang membuat hati rapuh, namun gusti prabu jangan mudah melemah. Tetaplah kuat, demi orang-orang yang telah mendukung gusti prabu selama ini." Ratu Gendhis Cendrawati juga memberi semangat pada Prabu Bumi Jaya.


"Terima kasih. Rasanya saya sangat bersyukur bertemu dengan orang-orang baik. Saya tidak menyangka akan bertamu di kerajaan suka damai yang memiliki keluarga yang sangat baik." Prabu Bumi Jaya merasa sangat terharu sekali.


"Saya ucapkan terima kasih, pada gusti ratu juga gusti prabu beserta keluarga. Meskipun perjodohan ini tidak bisa diteruskan. Sungguh, kami telah bertemu dengan orang-orang yang baik. Semoga hubungan kita terjalin dengan baik." Raden Bumi Putra juga merasakan ketulusan yang mereka berikan.


"Amiin ya Allah." Prabu Armalaraya Arya Ardhana beserta keluarga mengaminkan itu.

__ADS_1


"Semoga kau juga kuat menjalani kehidupan ini nimas." Prabu Bumi Jaya tersenyum kecil menatap Putri Andhini Andita. "Terima kasih, karena kau telah mencintai anakku dengan hatimu. Aku yakin ia sangat bahagia, karena telah dicintai wanita yang sangat cantik serta baik hati sepertimu." Lanjutnya.


"Hamba juga sangat berterima kasih. Gusti prabu telah memberikan hamba kesempatan untuk bertemu dengan seorang pangeran yang sangat baik hati." Putri Andhini Andita juga menguatkan hatinya.


Memang suasana yang tidak enak untuk dibahas, masalah apa yang telah menimpa mereka. Tapi apakah mereka masih tegar menerima kenyataan pahit itu. Setelah itu, Prabu Bumi Jaya dan Raden Bumi Putra pamit kembali ke Kerajaan Restu Agung. Mereka hanya ingin memastikan keadaan Putri Andhini Andita baik-baik saja.


"Yunda." Putri Agniasari Ariani memeluk kakaknya yang terlihat sangat sedih. "Kuatkan hatimu yunda." Ia juga merasakan kesedihan yang dirasakan oleh kakaknya. Pasti sangat berat berpisah dengan orang yang dicintai seperti itu.


"Oh, putriku." Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Dewi Anindyaswari juga merasa simpati pada Putri Andhini Andita. Sebagai seorang ibu, perasaan mencintai tentulah sangat kuat. Tentunya mereka mengetahuinya, apa yang dirasakan oleh anak-anak mereka ketika mencintai seseorang, serta kehilangan orang yang mereka cintai.


"Putri andhini andita. Suatu saat nanti, aku akan membuktikan. Bahwa perasaanku saat ini, juga kedepannya tidaklah main-main. Karena itulah lihat aku sekali lagi dengan hatimu. Sama seperti kau melihat pangeran itu." Dalam hati Raden Jatiya Dewa mengamati itu dengan perasaan sedih. Ia telah bertekad akan memberikan kebahagiaan pada Putri Andhini Andita. Apakah ia mampu melakukannya?. Atau hanya hasrat sesaat saja?. "Namun yang pasti aku tidak akan mundur, meskipun kau menolak pesanan cintaku nantinya putri andhini andita." Hatinya yang telah dipenuhi hasrat yang baik, tekad untuk membuat orang yang dicintainya bahagia.


"Cinta kepada manusia, memang seperti air jatuh ke daun talas. Namun meskipun tidak berbekas bagi orang yang telah tiada, namun perasaan yang masih hidup akan meninggalkan tetasan kesedihan yang sangat menyakitkan." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dapat merasakan perasaan simpati dari Raden Cakara Casugraha yang asli.


"Semoga saja yunda andhini andita dapat mengikhlaskan yang telah terjadi. Kuatkan lah hatimu yunda, karena masih ada yang harus yunda lakukan." Dalam hati Raden Cakara Casugraha merasa simpati pada kakaknya. Memang perasaan cinta yang tidak mudah. Apakah kakaknya bisa menahan dirinya?. Apakah kakaknya akan melakukan pengembaraan lagi?. Pengembaraan yang ia lakukan hanya untuk mengobati hatinya yang terluka. Apakah bisa diobati?. Tidak ada yang mengetahui, jika tidak dilakukan dengan baik.


"Semua yang terlahir ke dunia ini akan segera kembali kepada yang menciptakannya. Sebagai manusia yang memiliki perasaan hati yang sangat lembut, kita hanya bisa berdoa dan memohon kepada Allah SWT, agar diberikan kekuatan hati untuk menghadapi semua masalah yang menimpa diri kita." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

__ADS_1


Hanya putri Andhini Andita sendiri yang akan mengubah jalan hidupnya kedepannya mau seperti apa. Apakah ia akan menerima Raden Jatiya Dewa, atau menerima lamaran dari Pangeran lain?. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.


...***...


__ADS_2