RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
BUKAN PENOLAKAN, HANYA SAJA-


__ADS_3

...***...


Malam harinya setelah melaksanakan sholat isya dan tarawih, Jaya Satria saat ini sedang berbincang dengan Prabu Maharaja Dewa Negara beserta keluarganya.


"Jadi yang nanda lakukan itu adalah puasa?. Dan sholat?." Prabu Maharaja Dewa Negara sedikit penasaran.


"Benar sekali kakek prabu. Itu salah satu kewajiban yang harus dilakukan." Jaya Satria atau Raden Cakara Casugraha yang kini duduk diantara mereka tanpa mengenakan topeng penutup wajah. Ia juga mengenakan pakaian biasa, tidak mengenakan pakaian seorang pendekar ataupun saat ia mengembara. Benar-benar terlihat seorang pangeran serta seorang raja muda yang sangat mempesona mata yang memandangnya.


"Apakah tidak berat melakukannya gusti prabu?. Sebab menahan lapar itu tidaklah enak." Raden Jatiya Dewa mengeluarkan pendapatnya. "Tadi saya mencoba menahan lapar dari terbitnya matahari sampai matahari di tengah puncak kepala, namun rasanya saya tidak sanggup." Ia malah cengengesan mengingat bagaimana ia saat siang tadi.


Mereka malah tertawa geli mendengarkan apa yang dikatakan oleh Raden Jatiya Dewa. Termasuk Prabu Maharaja Dewa Negara.


"Kau ini ada-ada saja rayi. Tidak bisakah kau tidak mempermalukan kami dihadapan gusti prabu asmalaraya arya ardhana?." Putri Dewi Anjarwati, putri pertama dari ketiga putri Prabu Lingga Dewa. Ia juga ikut dalam pembicaraan mereka.


"Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan saja yunda. Apakah aku tidak boleh mengatakannya?." Keluh Raden Jatiya Dewa yang kini sedikit berubah sikapnya.


Namun mereka malah semakin tertawa mendengarkan apa yang menjadi keluhan Raden Jatiya Dewa.


"Lalu apa yang akan nanda lakukan setelah ini?. Apakah nanda akan kembali ke istana kerajaan suka damai?."


"Maafkan saya kakek prabu. Saya harus segera kembali ke istana kerajaan suka damai. Karena tidak baik jika nanda terlalu lama meninggalkan istana."

__ADS_1


"Ya. Kami memahaminya. Tapi aku harapan nanda datang ke istana ini lagi."


"Semoga saja kakek prabu." Raden Cakara Casugraha hanya tersenyum kecil.


"Tapi sebelum nanda kembali. Ada hal yang ingin kami katakan. Setelah berunding tadi." Prabu Lingga Dewa kali ini yang berbicara.


"Apa yang paman prabu katakan pada saya?. Tentunya itu adalah hal yang sangat penting."


"Tentu saja ini sangat penting. Karena dengan ini, saya sangat berharap, nanda prabu akan semakin menjalin hubungan baik dengan kami."


"Apa itu paman prabu, katakan saja pada saya." Rasa penasaran menggelitiki hatinya saat ini.


"Saya dan ayahanda prabu telah sepakat ingin menjodohkan nanda prabu dengan putri saya. Putri anjarwati." Meskipun Prabu Lingga mengatakan kalimat itu dengan senyuman bahagia, namun tidak dengan Raden Cakara Casugraha.


"Jadi kakek prabu, juga ayahanda ingin menjodohkan yunda dengan gusti prabu?." Raden Jatiya Dewa tidak menyangka jika yundanya akan menerima perjodohan itu?.


"Tidak biasanya rayi dewi mau menerima perjodohan. Apa karena wajah tampan dari gusti prabu?. Sehingga ia mau menerima perjodohan ini?." Raden Antajaya Dewa malah menatap curiga pada adiknya itu.


"Bagaimana menurut nanda sendiri?. Apakah nanda mau menerima perjodohan ini?." Pertanyaan Prabu Lingga Dewa seakan ingin memastikan, dan meyakinkan bahwa Raden Cakara Casugraha akan menerima perjodohan itu.


"Jika masalah ini. Maaf sekali kakek prabu, paman prabu. Karena nanda belum bisa memberikan jawaban yang bisa menjamin. Namun nanda juga tidak mau memberikan harapan pada nimas dewi, jadi nanda hanya menjawab. Untuk menunda masalah ini." Agak berat ia mengatakannya. Namun ia harus ia katakan agar tidak memberikan harapan pada mereka semua.

__ADS_1


"Apakah nanda telah memiliki kekasih?. Atau calon istri?. Sehingga berkata seperti itu?." Prabu Lingga Dewa penasaran.


"Jangan terlalu memaksakan putraku. Mungkin nanda prabu memiliki pandangan lain. Karena tidak semua raja yang mau memiliki banyak istri." Prabu Maharaja Dewa Negara mencoba memahami alasan mengapa tidak mau terburu-buru menerima perjodohan itu.


"Maaf kakek prabu. Bukan nanda bermaksud untuk mengecewakan kakek prabu. Nanda rasa, kita masih bisa menjalani hubungan dengan baik. Nanda harap kakek prabu juga paman prabu memahaminya." Raden Cakara Casugraha harap tidak terjadi kesalahpahaman antara mereka.


"Aku akan memahami apa yang kau katakan. Namun aku hanya berharap, kau mau menerima lamaran dari kami suatu hari nanti. Jika kau memang telah memiliki calon permaisuri saat ini." Prabu Maharaja Dewa Negara mencoba untuk memahami situasinya. Dan ia tidak mau memaksakan diri hanya untuk melakukan hubungan yang lebih baik dengan Raden Cakara Casugraha.


"Baiklah jika memang ayahanda berkata seperti itu. Tapi aku juga berharap, kita masih tetap menjalin hubungan yang baik." Prabu Lingga Dewa mencoba untuk mengalah, dan tidak memaksakan kehendaknya.


"Terima kasih paman prabu mau memahaminya." Raden Cakara Casugraha tersenyum lega. "Jodoh tidak akan kemana. Jika memang ditakdirkan untuk bersama. Saya yakin Allah SWT tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya. Saya harap nimas dewi tidak berkecil hati." Raden Cakara Casugraha menatap ke arah Putri Dewi Anjarwati. "Bukan saya tidak menyukai nimas Dewi, hanya saja saat ini saya tidak mau membuat uru-hara karena masalah perasaan hati. Perasaan cinta, dan juga hati wanita." Lanjutnya lagi. "Akan berdosa seorang laki-laki jika ia menggantungkan harapan pada seorang wanita. Apalagi sampai membuat ia menangis. Maka hidupnya akan sengsara seumur hidupnya. Sebab ia telah menyakiti hati wanita. Karena itulah saya tidak mau memberi harapan pada nimas dewi."


"Saya memahami apa yang gusti prabu katakan." Putri Dewi Anjarwati tersenyum kecil. Meskipun hatinya sedikit sakit, namun entah mengapa ia tidak bisa membenci Raden Cakara Casugraha yang telah berkata seperti itu padanya. "Sungguh beruntung sekali wanita yang akan menjadi ratu agung, ratu utama yang akan mendampingi gusti prabu nantinya." Lanjutnya lagi. "Saya hanya mendoakan kebahagian gusti prabu. Semoga saya masih memiliki tempat dihari gusti prabu suatu hari nantinya." Begitu lembut hati Putri Dewi Anjarwati, sehingga ia hampir saja ingin menangis saat mengatakannya.


...***...


Sementara itu. Di istana Kerajaan Suka Damai. Di taman istana malam hari. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap langit malam sambil menyimak apa yang didengarkan indera pendengarannya melalui Raden Cakara Casugraha.


"Kuatkan hatimu raden cakara casugraha. Karena ini masalah hati, juga perasaan. Akan terjadi perang, jika raden memboyong putri buana dewa ke istana ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini sedang berkomunikasi dengan Raden Cakara Casugraha. Walaupun hanya melalui pendengaran dan berbeda dengan yang sebelumnya, namun tetap saja. Ikatan keduanya tidak akan terputus begitu saja bukan?.


"Ya. Hamba memahaminya gusti prabu. Yunda andhini andita akan murka, dan bisa jadi menyebabkan perperangan nantinya." Dalam hati Raden Cakara Casugraha merasa miris.

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Apakah akan ada masalah atau rahasia lagi dari sang Prabu?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2