
...***...
Malam itu, malam yang paling membahagiakan bagi keluarga Bahuwirya. Karena mereka semua telah memeluk agama islam. Sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT. Ratu Gendhis Cendrawati, Raden Hadyan Hastanta, Putri Bestari Dhatu, Putri Andhini Andita dan Raden Rajaswa Pranawa telah mengucapkan kalimat syahadat, sebagai bukti bahwa mereka telah menyatakan diri sebagai seorang muslim.
"Malam ini adalah malam yang membahagiakan kita semua. Karena ibunda, yunda, bahkan raden rajaswa pranawa juga telah menetapkan hatinya untuk masuk agama islam yang baik. Semoga saja kita semua dilindungi Allah SWT." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengucapkan rasa syukur atas nikmat yang luar biasa ini.
"Aamiin ya Allah." Mereka semua juga merasa bersyukur, karena baru saja melakukan hal yang luar biasa.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin. Terima kasih syekh guru. Karena syekh guru telah membimbing keluarga besar bahuwirya untuk masuk agama islam." Kali ini Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengucapkan terima kasihnya pada Syekh Asmawan Mulia.
"Sama-sama nanda prabu. Itu semua karena Allah SWT. Kita manusia berjalan sesuai dengan takdir yang telah tertulis sejak kita lahir." Balas Syekh Asmawan Mulia dengan senyuman ramah. "Suatu hal yang luar biasa bagi hamba karena menjadi saksi, ketika keluarga yang nanda pimpin akhirnya masuk agama islam." Syekh Asmawan Mulia merasa bangga dengan apa yang telah dicapai oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang mendengarnya. Ia sangat mengharapkan hal yang baik seperti ini. "Rasanya ini adalah hal yang membahagiakan sekali syekh guru." Rasanya sangat mengharukan sekali perasaannya saat ini.
"Alhamdulillah yunda. Kita semua telah masuk agama islam." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum lembut pada Ratu Gendhis Cendrawati.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin, rayi dewi. Ini semua karena kesabaran rayi dewi yang mau mengajariku dengan baik." Ratu Gendhis Cendrawati merasakan kebahagiaan yang berbeda. "Rasanya aku seperti terlahir kembali, sehingga aku merasa lapang. Hatiku terasa sangat lapang sekali rayi." Ratu Gendhis Cendrawati mengungkapkan apa yang sedang ia rasakan saat ini.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin yunda. Itu adalah kebahagiaan yang luar biasa sekali." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk Ratu Gendhis Cendrawati.
Sementara itu, Putri Andhini Andita juga mengungkapkan perasaanya, bagaimana kebahagiaan yang ia rasakan setelah mengucapkan kalimat syahadat tadi.
"Rayi agniasari ariani. Terima kasih aku ucapkan padamu. Karena kau mau mengajariku dengan kesabaran." Ia memeluk adiknya dengan sayang.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin yunda. Dengan ini, aku harap yunda lebih bisa mengendalikan diri yunda." Balas Putri Agniasari Ariani dengan senyuman manis, dan tak lupa nasihat yang baik pada kakaknya.
"Jika itu, akan aku usahakan." Ucapan Putri Andhini Andita membuat mereka semua tertawa geli. Apalagi ekspresinya yang mengundang tawa bagi mereka semua.
"Lalu bagaimana dengan nanda rajaswa sendiri. Apakah merasa kerasan di sini?. Apakah tidak akan menyesal masuk agama islam?." Ratu Dewi Anindyaswari bertanya pada Raden Rajaswa Pranawa.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin. Saya sangat kerasan tinggal di sini. Terima kasih atas kebaikan gusti ratu beserta keluarga. Rasanya saya sangat bahagia memiliki banyak keluarga di sini." Jawab Raden Rajaswa Pranawa. "Saya tidak akan menyesalinya. Justru saya sangat senang mengenal agama yang baik bersama gusti ratu, gusti putri, raden hadyan hastanta, gusti prabu, serta syekh guru." Senyuman itu sangat tulus, sehingga mereka semua dapat merasakannya.
"Aku dan nanda prabu telah memutuskan. Untuk sementara waktu, nanda rajaswa tetaplah berada di sini. Teruslah belajar agama islam. Jika pada saatnya nanti, setelah pernikahan kalian. Baru nanda rajasawa boleh membawa nanda putri agniasari ariani dari istana ini." Dengan lapang hati, sebagai seorang ibu, Ratu Dewi Anindyaswari berkata pada Raden Rajaswa Pranawa.
"Terima kasih gusti ratu. Saya merasa bahagia mendapatkan kesempatan emas ini." Rasanya kebahagiaan yang dirasakan oleh Raden Rajaswa Pranawa saat ini.
"Jadi yunda agniasari ariani telah memiliki calon imam yang baik ya?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil menatap kakaknya. Sedangkan Putri Agniasari Ariani hanya diam sambil menunduk, karena ia merasa malu dengan ucapan adiknya.
"Alhamdulillah jika memang seperti itu." Ratu Dewi Anindyaswari juga menatap sayang anaknya. "Anak-anak kita sudah besar kanda prabu." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari mengingat mendiang suaminya. "Apa yang akan kanda prabu katakan, jika kanda melihat perubahan ini?." Dalam hatinya lagi berkata.
"Meskipun kita semua telah memeluk agama islam yang baik, tapi setelah ini jangan bosan untuk belajar ke arah yang lebih baik lagi. Syekh guru akan mengajari kita semua untuk membaca Alquran agar lebih fasih lagi." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengingatkan mereka semua. "Mohon bimbingannya syekh guru." Kali ini sang Prabu meminta bantuan pada Syekh Asmawan Mulia.
"Sandika nanda prabu." Dengan senang hati Syekh Asmawan Mulia akan melakukannya
Sementara itu, Putri Andhini Andita diam-diam mengamati mereka semua. Terutama matanya tertuju pada adiknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Sepertinya aku juga akan berpindah hati?. Tapi apakah aku mampu melakukannya?." Dalam hati Putri Andhini Andita merasa berat hati, jika harus menghilangkan perasaan cintanya pada Raden Cakara Casugraha yang jelas-jelas adalah adiknya. Apakah ia mampu melakukan itu?. Hanya waktu yang mampu menjawab semuanya.
...***...
Keesokan harinya.
__ADS_1
Dua pendekar saat ini sedang mengamati sebuah tempat yang sangat berbahaya. Di tengah hutan larangan desa Mata Air Dewa. Katanya hutan itu sangat angker dan banyak memakan korban. Desa itu tak jauh dari kerajaan Buana Dewa, yang dipimpin oleh Raja Lingga Dewa.
"Gusti prabu mengatakan, jika mata air itu mengandung hawa yang berbahaya. Jika siapa saja mampu mengatasi racun itu, maka ia akan diberikan hadiah yang sangat mewah." Ia melihat hawa yang tidak biasa di hutan ini.
"Lalu kita datang ke sini untuk mengincar hadiah itu?." Temannya bertanya jika itu tujuan mereka mengikuti sayembara itu.
"Memang untuk apalagi?. Kita harus mendapatkan harta melimpah itu supaya menjadi orang kaya." Ia menyeringai lebar, membayangkan jika ia dan temannya itu mampu mengalahkan sosok merah yang menyeramkan itu.
"Baiklah. Kalau begitu kita kembali ke istana dulu. Karena akan berbahaya jika langsung menuju mata air dewa itu." Ia tidak mau mengambil banyak resiko yang mungkin akan membuat mereka rugi nantinya.
"Siap."
Mereka pergi meninggalkan tempat itu. Karena mereka hanya mengamati suasana sekitar. Sebelum mereka melakukan pekerjaan itu. Sementara itu di kota raja Kerajaan Buana Dewa, banyak yang membicarakan tentang hadiah tersebut. Sedangkan di istana Kerajaan Buana Dewa, Prabu Lingga Dewa saat ini sedang berbincang-bincang dengan penggawa istana tentang masalah yang ada di desa Mata Air Dewa.
"Kabar yang telah kita dengar bersama, begitu banyak korban yang berjatuhan karena hutan angker itu." Prabu Lingga Dewa sangat resah dengan kejadian yang seakan tidak ada habisnya meneror negerinya ini.
"Mohon ampun gusti prabu. Kabar itu telah beredar luas di kerajaan ini. Bahkan daerah perbatasan dengan hutan larangan itu merasa sangat takut untuk memasuki daerah itu gusti prabu." Dharmapati melaporkan bagaimana keadaan daerah sekitarnya.
"Kita tidak akan membiarkan korban berjatuhan lagi. Kita harus segera mengatasi masalah itu dengan cepat." Prabu Lingga Dewa semakin resah mendengarnya.
"Tapi bagaimana caranya gusti prabu?. Telah banyak pendekar, dan bahkan pedanda yang tewas. Mereka tidak sanggup untuk menghentikan roh jahat yang menguasai tempat itu gusti prabu." Salah satu Senopati bertanya pada Prabu Lingga Dewa. Karena telah banyak cara yang mereka lakukan namun belum juga terlihat hasilnya. Mereka sangat putus asa, bahkan salah satu dari mereka menjadi korban keganasan sosok jahat itu.
"Aku akan telah mengadakan sayembara kepada siapapun saja. Jika mereka mereka berhasil menghancurkan tempat terkutuk itu, maka ia akan mendapatkan hadiah yang mewah dariku." Jawab Sang Prabu dengan perasaan yang sangat tidak enak sama sekali.
"Meskipun telah diadakan sayembara, namun belum juga terlihat hasilnya gusti prabu."
"Ini sangat mengherankan sekali gusti prabu. Kita semua merasa dipermainkan oleh tempat itu, juga roh jahat itu gusti prabu."
...***...
Di sisi lain. Ada seorang pemuda yang sedang melakukan semedi di sebuah tempat. Dalam semedi yang ia lakukan, ia berharap mendapatkan sebuah petunjuk, tentang bagaimana caranya ia mengalahkan roh jahat yang bersembunyi di dalam mata air dewa.
Di alam bawah sadarnya, ia melihat suatu tempat yang sangat aneh menurutnya. Di sana ada seorang kakek tua yang menatap ke arahnya. Saat ini ia ingin mencari petunjuk, apa tang terjadi di hutan desa air mata dewa. Karena itulah ia melakukan semedi, memasuki hutan itu.
"Salam hormat saya eyang." Ia memberi hormat pada hormat pada kakek tua itu.
"Apa gerangan yang membuatmu datang ke alam sukma ini cucuku."
"Saat ini saya sedang bimbang eyang. Rasanya saya tidak bisa mengatasinya."
"Apa yang membuatmu bimbang cucuku?."
"Masalah yang terjadi akibat ulah roh jahat eyang."
Kakek tua itu tampak berpikir, ia menatap mata anak muda itu. Dan tersenyum tipis, sehingga tidak terlihat karena kumis dan jenggot yang menutupinya. "Dia dulu adalah manusia yang haus akan kekuatan. Sehingga lama-kelamaan ia menjadi iblis. Dan sekarang dia menjadi roh jahat yang tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Lalu apa yang harus saya lakukan untuk menghentikannya eyang?. Mohon katakan pada saya eyang."
Namun kakek tau itu malah menghilang. Ia tidak menjawab pertanyaan dari Pemuda itu.
__ADS_1
"Eyang!. Katakan padaku!. Apa yang harus aku lakukan!. Jika tidak segera diatasi, ia akan banyak memakan manusia lebih banyak lagi eyang!." Pemuda itu berusaha untuk terus berkomunikasi dengan kakek tua itu.
"Carilah keris pusaka kembar naga penyegel sukma. Hanya keris itu yang mampu menghentikan kekejaman roh jahat itu. Karena ia sudah termasuk golongan jin."
"Kemana saya harus mencarinya eyang?. Apakah ada petunjuk mengenai keris itu?. Mohon beri petunjuknya eyang."
Namun tidak ada tanggapan dari kakek tua itu. Sehingga pemuda itu terkejut karena ada asap putih yang menerpa tubuhnya, sehingga ia membuka matanya dengan paksa. Terlihatlah manik matanya yang hitam melebar dengan sempurna.
"Kakek tua itu tidak mau mengatakan, dimana aku harus mencari keris itu berada."
"Keris?. Keris apa yang kau maksudkan?." Seorang laki-laki setengah baya mendekatinya, sambil membawakan secangkir air putih. Pemuda itu mengambilnya, dan meminumnya. Setelah agak reda, ia mengatakan pada gurunya itu.
"Eyang guru. Dalam semedi yang saya lakukan, ada seorang kakek tua. Ia mengatakan pada saya, jika ingin menghentikan roh jahat itu menggunakan pusaka kembar keris naga penyegel sukma."
"Pusaka kembar keris naga penyegel sukma?. Rasanya aku pernah mendengarkan nama keris itu."
"Benarkah itu eyang guru?. Apakah eyang guru mengetahui dimana letak keris kembar itu?."
"Aku pernah mendengar kabar tentang keris itu dimana. Tapi aku tidak yakin apakah keris itu masih berada di sana atau tidak."
"Apa artinya itu?. Apakah sudah diambil seseorang?."
"Bisa jadi seperti itu. Karena sudah bertahun-tahun keris itu tertancap di gunung menahan bumi. Konon keris itu mencari wadah untuk bersemayam, mencari tuan yang paling pantas memilikinya."
"Jadi itu kesempatan untuk saya memiliki keris itu?."
"Belum tentu."
"Kenapa?."
"Karena keris itu tidak sembarangan dimiliki oleh orang lain. Sebelum kau menelan obat kekecewaan, sebaiknya kau melakukan semedi terlebih dahulu. Mengetahui dengan pasti, jika keris kembar itu masih berada di gunung menahan bumi atau tidak"
(Eps jaya satria pergi bersama paman perapian Suramuara pergi mengobati matanya. Itu lokasinya)
"Jadi begitu?. Jadi aku harus kembali melakukan semedi?. Apakah tidak ada cara yang lebih singkat mengetahui apakah keris kembar itu masih berada di sana eyang guru?."
Rengka Wana mengangkat bahunya pasrah. "Aku tidak tahu. Karen aku bukan penunggu keris itu. Jadi lakukan saja. Atau kau ke sana saja langsung, tapi akan membuang-buang waktu jika keris itu tidak berada di sana. Jangan salahkan aku jika kau yang merugi nantinya."
"Oh eyang guru. Apakah eyang guru tidak bisa membantuku?."
Rengka Wana bangkit dari duduknya. Aku tidak bisa membantumu. Karena itu keinginanmu. Jadi kau sendiri yang harus menyelesaikannya."
"Huh. Eyang guru ini pelit sekali."
"Ahaha. Aku tidak pelit, jika aku pelit, aku tidak akan berbagi ilmu denganmu." Rengka Wana hanya tertawa kecil. Setelah itu ia pergi meninggalkan tempat itu.
"Jadi aku harus bersemedi lagi?. Baiklah, aku akan berusaha agar mendapatkan keris kembar itu."
Apakah ia berhasil mendapatkan keris itu?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
(Apakah tidak penasaran, bagaimana Jaya Satria mendapatkan keris kembar itu?. Apakah tidak ada yang bertanya bagaimana Jaya Satria kembali tanpa ada lecet sedikitpun saat episode jaya satria?. Oke lanjutkan. Selamat berbuka puasa ya pembaca tercinta.)
...***...