
......**......
Ratu Dewi Anindyaswari dan putrinya masuk ke bilik Jaya Satria, ternyata ada syekh Asmawan Mulia dan Perapian Suramuara. Kedatangan keduanya tentunya disambut dengan sangat baik.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."
"Sampurasun."
"Rampes."
Saling menyapa salam dengan baik sebagai sesama manusia yang memiliki akhlak baik. Namun saat itu Ratu Dewi Anindyaswari sangat cemas melihat keadaan Jaya Satria yang masih saja belum sadarkan diri.
"Bagaimana keadaannya syekh, apakah nanda jaya satria baik-baik saja?."
"Gusti Ratu tenang saja, obat yang kami berikan akan bekerja dengan baik, hamba yakin nanda jaya satria akan lebih baikan."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, saya merasa lega mendengarnya syekh, paman perapian suramuara."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin gusti ratu."
"Syukurlah gusti ratu."
Syekh Asmawan Mulia dan Perapian Suramuara tersenyum kecil. Mereka tidak menyangka jika Ratu Dewi Anindyaswari akan datang ke wisma kesatria untuk melihat keadaan Jaya Satria.
Ratu Dewi Anindyaswari mendekati Jaya Satria. Ia memperhatikan Jaya Satria yang sedang terbaring di dipan itu. Hatinya merasakan kesedihan, entah mengapa ia seperti melihat putranya sendiri saat ini.
"Putraku, apakah rasa sakitmu itu tidak bisa dibagikan pada ibunda nak?." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari sangat sedih melihat bagaimana keadaan Jaya Satria.
...****...
Raden Hadyan Hastanta saat itu hendak pergi menuju bilik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, akan tetapi pada saat itu ia melihat ibundanya yang sedang terlihat bersedih?.
"Ada apa ibunda? Kenapa ibunda terlihat sedih? Apakah ibunda sedang memikirkan sesuatu?." Ia duduk di samping ibundanya.
"Apakah ibunda terlihat jelas sedih di matamu putraku?." Ratu Gendhis Cendrawati malah balik bertanya pada anaknya.
"Memangnya ada masalah apa ibunda? Coba ceritakan pada nanda, mungkin nanda bisa mengurangi beban yang ada di dalam pikiran ibunda." Raden Hadyan Hastanta mencoba untuk menenangkan hati ibundanya yang tampak sedih.
"Sebenarnya ini masalah rayi mu nanda andhini andita yang mencintai jaya satria." Terlihat sangat jelas bagaiman tarikan nafasnya, Ratu Gendhis Cendrawati hanya cemas pada anaknya. "Apakah ibunda tidak boleh emas ketika putrinya mencintai seseorang yang sama sekali tidak ibunda ketahui siapa dia?." Ratu Gendhis Cendrawati kembali menghela nafas.
"Jadi karena itu ibunda terlihat sedih?." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta, sebenarnya ia juga cemas karena adiknya mencintai Jaya Satria.
"Ya, ibunda sedih karena merasa ada yang aneh dengan rasa cinta yang disampaikan rayi mu andhini andita pada seorang pemuda." Entah kenapa hatinya tidak bisa menerima itu sama sekali.
"Sepertinya ibunda sangat keberatan dengan itu." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta.
...****...
Di bilik Jaya Satria.
"Jaya satria." Ratu Dewi Anindyaswari menyebut nama itu dengan perasaan yang sedih. "Bahkan ketika nanda dalam keadaan seperti ini, nanda masih mengenakan topeng penutup wajah?." Rasanya hatinya sangat miris melihat keadaan Jaya Satria.
"Gusti Ratu." Dalam Syekh Asmawan Mulia bereaksi atas apa yang diucapkan Ratu Dewi Anindyaswari.
"Entah kenapa aku dapat merasakannya, perasaan yang sangat luar biasa akan terjadi di sini." Dalam hati Paman Perapian Suramuara dapat merasakan itu, jika ia perhatikan bagaimana sikap Ratu Dewi Anindyaswari pada Jaya Satria.
"Apa yang nanda sembunyikan sebenarnya? Tidak bisakah nanda mengatakannya pada ibunda?." Ratu Dewi Anindyaswari mengelus kepala Jaya Satria dengan penuh kasih sayang, tak lupa kecupan kecil di kening Jaya Satria.
Sementara itu mereka yang melihat itu juga dapat merasakannya, bagaimana perhatian sang ratu pada jaya Satria. Kasih sayang seorang ibu pada anaknya yang luar biasa.
"Apakah segitu inginnya nanda menyembunyikan siapa diri nanda?." Ratu Dewi Anindyaswari menggenggam erat tangan Jaya Satria. "Rasanya ibunda tidak tega melihat kondisimu yang sedang sakit saat ini nak." Hatinya bergetar sakit melihat anaknya Raden Cakara Casugraha, dan juga Satria saat ini yang sedang terbaring tidak sadarkan diri.
"Ibunda." dalam hati Putri Agniasari Ariani sangat tersentuh dengan ucapan ibundanya pada Jaya Satria. "Aku tidak mengerti perasaan seperti apa yang ibunda rasakan pada jaya satria, tapi kasih sayang itu terlihat sangat tulus dari seorang ibu pada anaknya." Daam hatinya lagi.
"Apakah ibunda tidak boleh mengetahui apa yang nanda sembunyikan?." Ucapnya lagi dengan perasaan sedih. "Katakan pada ibunda, kesedihan apa sebenarnya yang ingin kau simpan hingga seperti ini?." Hampir saja air matanya jatuh membasahi pipinya, hatinya benar-benar sangat sedih karena kondisi Jaya Satria.
Deg!.
Ratu Dewi Anindyaswari seperti terseret oleh dimensi ruang dan waktu. Ratu Dewi Anindyaswari seperti melihat bayangan dirinya bersama anaknya Raden Cakara Casugraha ketika masa kecil.
"Ibunda." Suara imut itu menyebut nama ibundanya. "Jika suatu hari nanti nanda sakit? Atau tidak sadarkan diri? Ibunda cukup mengelus pelan dada nanda, dan menepuknya dengan pelan." Ia mecoba mengatakan pada ibunda tentang mantram ajaib. "Lalu ibunda mencium kening nanda dan berkata, ibunda sangat menyayangimu, putraku." Tangan kecil itu memperagakan apa yang ia ucapkan.
Ratu Dewi Anindyaswari yang memperhatikan itu merasa sangat gemas dengan tingkah laku anaknya yang sangat pintar.
"Nanda yakin, nanda akan segera sembuh dan cepat bangun kembali untuk membuat ibunda bahagia." Lanjutnya lagi dengan raut wajah polos.
"Benarkah?." Ratu Dewi Anindyaswari iseng bertanya pada anaknya.
"Jika ibunda tidak percaya ibunda bisa mencobanya, nanda yakin akan terjadi seperti itu." Senyuman itu adalah senyuman yang paling menggemaskan.
"Oh? Putraku nanda cakara casugraha putra ibunda yang sangat menggemaskan." Ratu Dewi Anindyaswari tidak tahan lagi.
Deg!.
Ratu Dewi Anindyaswari seperti ditarik kembali dari ingatan itu. Entah mengapa tiba-tiba saja ucapan itu terngiang-ngiang di telinga sang ratu. Ucapan ketika anaknya Raden Cakara Casugraha masih kecil usia lima tahun. Wajah polos yang masih menyimpan kebahagiaan dimasa kecilnya mengatakan kalimat itu, seakan-akan itu seperti mantram ajaib yang akan bisa menyembuhkan rasa sakitnya saat ini?.
Tanpa sadar Ratu Dewi Anindyaswari melakukan apa yang terbayang diingatkannya. Tangannya seakan terhipnotis untuk melakukan apa yang dikatakan oleh anaknya.
"Apa yang akan ibunda lakukan?. Kenapa ibunda melakukannya?." Putri Agniasari Ariani sangat heran melihat ibundanya.
"Gusti ratu sangat perhatian pada jaya Satria, rasanya sangat mengharukan." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia tersentuh melihat apa yang dilakukan Ratu dewi anindyaswari.
"Kasih sayang seorang ibu memang tidak ada batasnya, bahkan disaat anaknya bersembunyi dibalik topeng itu." Dalam hati Paman Perapian Suramuara memperhatikan itu. "Sungguh sangat luar biasa sekali kasih sayang seorang ibu pada anaknya." Hatinya juga ikut tersentuh melihat itu.
...****...
Putri Andhini Andita saat itu baru saja keluar dari biliknya, ia ingin menemui Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Apakah rayi Prabu telah bangun?." Dalam hatinya saat itu bertanya-tanya. "Tapi apakah rayi Prabu akan menjawab pertanyaanku?." Ada keraguan di dalam hatinya. "Aku sangat gugup sekali ingin bertanya, sebab jika memiliki hubungan darah dengan rayi prabu? Artinya secara tidak langsung jaya satria adalah adikku juga?." Kepalanya mendadak pusing memikirkan apa yang akan ia tanyakan pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana nantinya.
"Bisa gawat jika memang jaya satria memiliki hubungan darah denganku, artinya cintaku akan sia-sia saja, aku tidak mau itu terjadi." Dalam hatinya sangat gelisah dengan pikirannya sendiri. "Kurang ajar! Kenapa aku malah merasa aneh seperti ini hanya karena perasaanku pada jaya satria? Apakah aku ini benar-benar andhini andita?."
Putri Andhini Andita merasa kacau sendiri dengan pikirannya saat itu. Bahkan ia tidak menggubriskan beberapa prajurit yang memberi hormat dan menyapa dirinya ketika ia hendak menuju bilik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
...****...
Raden Hadyan Hastanta menceritakan pada ibundanya Ratu Gendhis Cendrawati tentang apa yang terjadi pada adiknya Putri Andhini Andita.
"Ketika perang terjadi jaya satria sangat perhatian pada rayi, bahkan sebelum perang dimulai ia mengajarkan rayi andhini andita ilmu kanuragan." Raden Hadyan Hastanta masih ingat dengan itu.
"Jaya satria yang mengajarkan nanda putri andhini andita ilmu kanuragan?." Ratu Gendhis Cendrawati terkejut. "Nanda putri andhini andita yang selama ini tidak pernah menyukai kegiatan fisik? Tapi malah belajar ilmu kanuragan? Bahkan ketika dipaksa mendiang ayahandanya kanda prabu ia tidak mau? Tapi ketika dengan jaya satria ia mau?." Saking tidak percaya Ratu Gendhis Cendrawati mengungkapkan pertanyaan seperti itu untuk mengungkapkan betapa tidak percaya dengan apa yang dikatakan anaknya Raden Hadyan Hastanta.
__ADS_1
"Ya, seperti itulah ibunda, dia mau belajar ilmu kanuragan walaupun pada awalnya dengan alasan tidak mau mejadi beban ketika perang saat itu." Raden Hadyan Hastanta juga bingung.
"Lalu apa yang terjadi ketika perang saat itu? Tidak mungkin dia langsung mahir menggunakan ilmu yang ia pelajari secara mendadak itu." Entah kenapa perasaanya tidak enak memikirkan itu.
"Pada saat itu suasana perang sangat kacau sekali ibunda, jaya satria mengatakan ada pihak lain yang ikut campur dalam perang itu." Raden Hadyan Hastanta mengingat kejadian saat itu.
"Pihak lain yang ikut berperang?." Ratu Dewi Anindyaswari merasa heran.
"Ada pasukan jin yang ikut dalam perang itu ibunda, suasana perang menjadi kacau karena serangan itu." Jawabnya. "Pihak yang dipimpin raka ganendra garjitha malah menuduh pihak rayi prabu menggunakan sihir." Lanjutnya. "Dan dalam kekacauan yang terjadi jaya satria lah yang menyelamatkan rayi andhini andita, bahkan membantu yunda ambarsari dari kekacauan itu, karena nyawa mereka dalam bahaya jika tidak diselamatkan."
"Oh? Ibunda tidak bisa membayangkan bagaimana situasi saat itu." Ratu Gendhis Cendrawati nampak menghela nafasnya sambil membayangkan hal mengerikan yang dialami oleh anaknya.
...****...
Kembali ke bilik Jaya Satria.
Dalam hati mereka merasa simpati dan penasaran, dengan apa yang dilakukan oleh sang Ratu yang mengusap, dan menepuk dada jaya satria dengan pelan. Seakan ia tidak ingin mengganggu putranya yang sedang tertidur.
"Ibunda." Putri Agniasari Ariani mencoba menahan air matanya, tangisnya. "Kenapa ibunda memberikan perhatian seperti itu padanya?." Ketika ia melihat apa yang dilakukan oleh ibundanya pada Jaya Satria. Apalagi ketika ibundanya mencium kepala Jaya Satria dengan sayangnya.
"Ibunda sangat menyayangimu, putraku." Dengan penuh kasih sayang, Ratu Dewi Anindyaswari mengatakan itu. "Bangunlah anakku, ibunda sangat ingin berbicara denganmu, ibunda sangat merindukanmu." Tanpa sadar air matanya telah jatuh berderai membasahi pipinya. Rasa sedih yang ia rasakan, perasaan seorang ibu yang menyayangi anaknya.
Kasih sayang yang selalu memberikan kehidupan pada anaknya, hingga anaknya dapat merasakan kasih sayang itu, walaupun dalam keadaan terlelap.
Deg!.
Detak jantung itu sebagai tanda respon yang telah diberikan seorang ibu pada anaknya.
"Ibunda." Suara Jaya Satria memanggil dan menyebut ibunda.
Deg!.
Mereka semua terkejut mendengar suara jaya satria yang menyebut ibunda?. Apakah mereka saat itu tidak salah dengar dan melihat?.
Sementara itu, mata Jaya Satria perlahan-lahan terbuka, menyesuaikan dengan cahaya sekitarnya. Tak lama kemudian mencoba untuk duduk, tubuhnya terasa ringan.
"Jaya Satria?." Ratu Dewi Anindyaswari merasa heran, apa yang ia lakukan tadi membuat jaya satria bangun?. "Bagaimana bisa ia bangun dengan apa yang telah aku lakukan tadi?."
"Aku jaya satria ya?." Dalam hatinya berkata seperti itu. Ia menyentuh wajahnya, dan ia merasakan topeng yang menutupi sebagian wajahnya. "Aku jaya satria." Hatinya terasa sedih karena fakta itu, dan ia tidak bisa menyentuh ibundanya?. "Aku memang jaya satria. Jadi tidak mungkin ibunda mengenali diriku." Hatinya merasakan pilu yang luar biasa karena tidak bisa memeluk ibundanya.
"Jaya satria bangun adi." Paman Perapian Suramuara sangat senang melihat itu.
"Jaya Satria terbangun setelah apa yang dilakukan oleh ibunda?." Putri Agniasari Ariani malah bingung dengan kejadian ajaib itu.
"Subhanallah." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia sangat takjub dengan apa yang ia lihat saat itu. "Ya Allah, apakah itu benar terjadi? Nanda jaya satria bangun?." Dalam hatinya tidak bisa memikirkan ulang kejadian ajaib itu.
"Jaya satria, putraku." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk Jaya Satria dengan eratnya, seakan-akan ia memang memeluk putranya Raden Cakara Casugraha.
"Gusti Ratu?." Jaya Satria sangat gugup dengan apa yang telah terjadi, pikirannya belum kembali sepenuhnya karena ia baru saja bangun?.
"Putraku, kau adalah adalah putraku." Tangis air mata kesedihan membuat ratusan Dewi Anindyaswari semakin percaya bahwa Jaya Satria adalah anaknya?. "Tidak salah lagi kau adalah putraku nanda cakara casugraha." Hatinya sangat kuat mengatakan itu. Hatinya bergetar hebat ketika mengatakan jika Jaya Satria adalah anaknya Raden Bahuwirya Cakara Casugraha.
"ibunda, apa yang ibunda katakan?. Tidak mungkin jaya satria itu rayi cakara casugraha." Putri Agniasari Ariani merasa heran dengan sikap ibundanya, ia juga hampir menangis mendengarkan ucapan ibundanya. "Rayi cakara casugraha saat ini sedang terbaring di biliknya ibunda." Putri Agniasari Ariani menahan tangisnya.
"Gusti ratu." Syekh Asmawan Mulia dan Perapian Suramuara juga melihat itu, mereka merasa gelisah.
"Ibunda, ini nanda, putra ibunda." Dalam hati Jaya Satria bergetar takut untuk mengatakan itu. "Putra yang sangat merindukan ibunda, bolehkah nanda memanggil ibunda? Boleh kan? Ibunda?." Dalam hati Jaya Satria merasa sedih, ia berusaha untuk tidak menangis.
"Kenapa ibunda mengatakan jika jaya satria adalah rayi cakara casugraha?." Entah kenapa ia ingin mendengarkan penjelasan dari ibundanya.
"Tapi gusti ratu, hamba hanyalah bawahan dari gusti Prabu asmalaraya arya ardhana." Jaya Satria berusaha menahan tangisnya. "Hamba bukanlah Raden cakara casugraha." Ada perasaan sakit ketika ia mengatakan kalimat itu.
"Dulu, waktu putraku cakara casugraha sedang sakit? Ia berkata kepada ibunda." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba menjelaskannya. "Jika nanda sedang sakit, atau tidak sadarkan diri? Ibunda cukup mengelus dan menepuk dada nanda pelan, cium kening nanda, dan katakan bisikkan dengan pelan di telinga nanda, ibunda sangat menyayangimu, putraku." Ratu Dewi Anindyaswari menangis sambil menjelaskan bagaimana putranya waktu itu.
Deg!.
Jaya Satria sangat terkejut mendengarkan penjelasan itu.
"Ibunda sudah membuktikannya dua kali, ibunda sangat yakin, jika nanda adalah putra ibunda, apa yang nanda sembunyikan dari ibunda nak? Katakan jika nanda adalah putra ibunda nanda jaya satria" Desak Ratu Dewi Anindyaswari.
"Tapi hamba bukan raden cakara casugraha gusti ratu." Dengan perasan sakit Jaya Satria berkata seperti itu.
"Jika kau bukan putraku, tidak mungkin engkau terbangun? Hanya karena hanya putraku, yang bisa menanggapi apa yang baru saja aku lakukan, kau adalah putraku nanda cakara casugraha!." Tegasnya lagi.
"Ibunda, tidak baik memaksa seseorang mengaku putra ibunda." Putri Agniasari Ariani mencoba mengingatkan ibundanya. "Kasian jaya satria, kasihan rayi prabu jika mendengarkan apa yang ibunda katakan pada jaya satria."
"Tapi putriku-."
Putri Agniasari Ariani melepaskan topeng yang menutupi wajah Jaya Satria, membuat mereka terkejut, termasuk Ratu Dewi Anindyaswari.
"Wajah mereka memang sama ibunda, jaya satria telah menjelaskannya pada kami semua."
"Tapi bagaimana mungkin nak? Bagaimana mungkin nanda jaya satria memiliki wajah yang sama dengan nanda prabu?."
"Ayahanda prabu yang melakukannya ibunda, ayahanda prabu yang menyatukan darah mereka, sehingga jaya Satria memiliki wajah yang sama dengan jaya Satria." Putri Agniasari Ariani mencoba untuk menjelaskan pada ibundanya. "Dampak atau akibat dari semua itu, jika jaya satria atau rayi prabu yang terluka, keduanya akan mengalami hal yang sama ibunda, karena memiliki darah yang sama." Putri Agniasari Ariani hanya tidak ingin ibundanya salah faham dengan apa yang dilihat oleh ibundanya. "Itulah mengapa jaya Satria menggunakan topeng ibunda.
Karena ia tidak mau ada yang salah sangka padanya, dan menganggap ia adalah rayi cakara casugraha." Lanjutnya.
"Benarkah itu nak? Benarkah yang dikatakan oleh nanda putri agniasari ariani? Katakan pada ibunda nak." Ratu Dewi Anindyaswari masih tidak percaya.
"Itu benar gusti ratu. Itu sangat benar." Jaya Satria menganggukkan kepalanya, rasanya tidak sanggup ia mengiyakan, namun ia harus melakukannya.
"Jaya satria?." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk jaya satria dengan perasaan ini.
"Gusti Ratu." Syekh Asmawan Mulia dan Paman Perapian Suramuara sangat cemas melihat itu.
"Mungkin saja itu benar, tapi aku akan tetap menganggapmu sebagai putraku, sama seperti nanda prabu." Ia mencium kening Jaya Satria dengan kasih sayang yang luar biasa. "Kau adalah putraku nanda cakara casugraha." Hatinya tidak bisa menolak, jika Jaya Satria adalah putranya. Hatinya bersikeras mengatakan itu, hingga ia tidak bisa menyembunyikan apa yang ia rasakan.
"Ibunda, maafkan nanda karena tidak bisa mengatakan yang sebenarnya ibunda." Rintihan Jaya Satria yang tertahan di dalam hatinya, karena ia tidak bisa mengatakan kebenaran tentang dirinya.
"Mohon ampun gusti ratu dewi anindyaswari." Suara seseorang menyapa memecahkan suasana haru itu. "Hamba menghadap untuk membawa pesan dari Gusti Putri andhini andita, untuk menyampaikan kepada gusti ratu bahwa gusti prabu telah siuman, dan saat ini sedang dijaga oleh Gusti Putri andhini andita." Prajurit datang menghadap, mengatakan tentang kondisi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Putraku cakara casugraha telah simuan? alhamdulillah hirobbil a'lamin ya Allah."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin ibunda, rayi prabu telah siuman."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, kita semua bersyukur jika memang Nanda prabu telah siuman."
"Syukurlah, dengan begitu perasaan kita semua menjadi tenang."
Mereka semua sangat bersyukur mendapatkan kabar bahagia itu. Kabar yang paling mereka tunggu.
"Baiklah prajurit, kami akan segera ke sana, pergilah terlebih dahulu."
__ADS_1
"Sandika Gusti Ratu."
Prajurit tersebut meninggalkan tempat, karena tugasnya telah selesai.
"Putraku nanda jaya satria, ibunda akan melihat saudaramu nanda prabu." Ia usap kepala Jaya Satria dengan pelan. "Nanti jika nanda sudah merasa lebih baikan, ibunda mohon temui ibunda ya nak?." Ia mengelus kepala belakang jaya satria, mencium kening jaya Satria.
"Baiklah gusti ratu." Jaya Satria hanya menurut saja. Karena perasaanya yang sedang gelisah saat ini.
"Syekh, saya mohon jaga nanda jaya Satria, saya akan menemui nanda prabu dulu, assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."
"Saya juga meminta bantuan padamu paman perapian suramuara, tolong jaga nanda jaya Satria, sampurasun."
"Rampes."
Setelah itu Ratu Dewi Anindyaswari dan putrinya Agniasari Ariani pergi meninggalkan wisma kesatria. Karena ia ingin melihat keadaan anaknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Syekh guru, paman perapian suaramuara." Jaya Satria tak dapat menahan tangisnya. "Sikap ibunda membuat nanda tidak tahan, rasanya sangat tersiksa sekali."
"Bersabarlah nanda jaya satria."
"Aku yakin kau bisa melewati ini, dan aku yakin kelak kau akan mendapatkan kebahagiaan atas kesabaran yang kau tahan saat ini."
"Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Apakah hamba berdosa, karena berkata bohong pada ibunda?." Jaya Satria mengusap air matanya, ia tidak kuasa lagi menahan kesedihannya.
"Bersabarlah nanda jaya satria, memang terasa berat berhadapan dengan firasat seorang ibu."
"Syekh guru benar, rasanya tidak sanggup untuk menahan kerinduan ini."
"Kasih sayang dan firasat seorang ibu, memang tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan apapun, karena itulah kasih sayang seorang ibu sepanjang masa."
Bisakah Jaya Satria menyembunyikan siapa ia sebenarnya?. Temukan jawabannya.
......***......
Di suatu tempat. Di sebuah gubuk yang cukup besar, di sana ada dua orang yang sedang mengobati putri Gempita Bhadrika yang saat ini tidak sadarkan diri karena terluka parah.
"Keadaannya lumayan parah juga, aku tidak bisa mengobatinya."
"Lukanya itu luka akibat sengatan pusaka kembar keris naga penyegel sukma, jadi kekuatannya sudah hampir hilang setengahnya."
"Kesaktian keris kembar itu sangat mengerikan, kena sambarannya saja membuat setengah tenaga dalam bangsa jin terkuras, apalagi memang sengaja diarahkan?."
"Tapi bagaimana pun caranya kita harus menyembuhkannya? Agar kita bisa bekerjasama dengannya, untuk membalaskan perbuatan pemuda bertopeng waktu itu yang mengganggu kita."
"Ya, kau benar, aku tidak akan pernah melupakan kejadian itu, aku bersumpah akan membunuh pemuda bertopeng itu."
"Tapi bagaimana caranya kita menolongnya? Kita saja tidak mampu mengobatinya."
"Kalau akau ingat lagi, di lembah kegelapan setan kerasukan. Aku yakin ia mampu menyembuhkan sakit apa saja."
"Oh ya, ya, ya, aku ingat! Aku juga pernah mendengar nama tempat itu."
"Tunggu apalagi? Kita segera ke sana, tapi sebaiknya kita jangan membuang waktu kita."
"Kalau begitu ayo bawa putri gempita bhadrika ke sana."
Siapakah mereka?. Siapakah orang-orang yang menyelamatkan putri gempita bhadrika?.
......***......
Kembali ke Istana kerajaan Suka Damai.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, nanda prabu juga telah siuman, ibunda sangat cemasmu nak." Ia memeluk erat putranya.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin ibunda, ini semua karena do'a ibunda, sehingga nanda bisa melihat ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum manis pada ibundanya.
"Yunda? Apa yang yunda lakukan tadi? Bagaimana yunda mengetahui jika rayi prabu sudah siuman?."
"Aku tadi hendak melihat keadaan rayi prabu, namun saat aku ingin masuk, aku melihat rayi prabu dalam keadaan duduk, jadi aku menyuruh prajurit mencari keberadaan ibunda ratu dewi anindyaswari, akku rasa rayi prabu pasti membutuhkan ibunda ratu dibandingkan aku."
"Alhamdulillah hirabbli'alamin nak, ibunda sangat bersyukur, nanda prabu dan nanda satria sudah baikan."
"Jadi jaya satria sudah siuman juga, ibunda?."
"Ya nak, jaya Satria terbangun saat ibunda melakukan hal yang sama, dengan apa yang ibunda lakukan ketika nanda prabu sakit, atau tak sadarkan diri."
"Ya Allah, semoga saja jaya satria tidak merasa sedih dengan apa yang ibunda lakukan." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat berharap.
"Jadi jaya satria sudah siuman?." Disisi lain Putri Andhini Andita merasa bersyukur untuk itu. Ia sangat lega mendengar kabar Jaya Satria.
"Benar yunda."
"Setelah itu aku ingin melihat keadaannya." Dalam hati Putri Andhini Andita merasa senang mendengar kabar tentang Jaya Satria. Itu artinya ia bisa melihat Jaya Satria. Hatinya berbunga-bunga karena kabar yang ia terima hari ini.
"Putraku cakara casugraha, katakan pada ibunda, siapa jaya satria itu sebenarnya nak?" Rasa penasaran masih bersemayam di hatinya. "Meskipun nanda adalah anak pertama yang ibunda lahir kan? Entah kenapa ibunda merasa jika jaya satria adalah kembaranmu nak." Ratu Dewi Anindyaswari merasakan seperti itu.
"Ibunda, nanti saja bahas masalah itu ibunda, kasihan rayi prabu yang baru saja sadar ibunda." Putri Agniasari Ariani mencoba untuk mengingatkan ibundanya, agar tidak memaksakan adiknya untuk menjawab rasa penasarannya.
"Bersabarlah ibunda, nanti jika keadaan rayi prabu benar-benar pulih? Ibunda bisa menanyakannya, jika perlu ibunda bisa berbicara bertiga dengan jaya satria." Putri Andhini Andita juga ikut menenangkan Ratu Dewi Anindyaswari.
Ratu Dewi Anindyaswari menatap wajah putranya yang masih pucat, ia jadi tidak tega melihat keadaan anaknya. "Maafkan ibunda ya nak?." Ia melihat ke arah Putri Andhini Andita.
"Tidak apa-apa ibunda, lagi pula memaksa kehendak orang lain, itu sangat berbahaya ibunda."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, maafkan hamba karena telah memaksa kehendak." Ia merasa bersalah pada anaknya.
"Terima kasih yunda, aku tadi sangat cemas karena ibunda melihat wajah jaya satria yang sama dengan wajah rayi prabu." Putri Agniasari Ariani merasa lega.
"Semoga saja ibunda tidak penasaran lagi, jika sudah berbicara dengan jaya satria dan rayi prabu" Hanya itu harapannya.
"Semoga saja yunda." Putri Agniasari Ariani juga berharap.
"Bagaimana keadaanmu nak? Apakah nanda masih merasakan sakit?."
"Alhamdulillah ibunda, nanda baik-baik saja, nanda hanya perlu istirahat sejenak, ibunda tidak perlu khawatir." Senyuman itu sangat meyakinkan. Senyuman yang terpaksa karena keadaan.
"Aku sangat yakin jika keduanya adalah putraku." Dalam hatinya sangat yakin dengan perasaanya. "Kalau begitu, ibunda akan memerintahkan emban untuk membuatkan bubur untuk nanda prabu, dan nanda jaya satria, ibunda yakin kalian perlu mengisi kembali tenaga kalian."
"Terima kasih ibunda, terima kasih banyak semuanya." Ia tersenyum lembut, ia sangat bersyukur dengan kebaikan ibundanya
Prabu Asmalaraya merasa bimbang, pakah ia akan mengatakan yang sebenarnya pada ibundanya?. Apakah ia akan mengaku siapa jaya satria, hanya pada ibundanya? temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya, agar author yang tidak berwujud ini semangat melanjutkan ceritanya. Simak terus ceritanya.
__ADS_1
...****...