RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
RISIKO


__ADS_3

...***...


Istana Kerajaan Suka Damai.


Ratu Gempita Bhadrika sudah tidak bisa bergerak lagi. Tubuhnya benar-benar terpaku oleh keris pusaka kembar keris naga penyegel sukma. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berada di depannya, sedangkan Jaya Satria berada dibelakangnya?. Keduanya benar-benar ingin membunuh Ratu Gempita Bhadrika agar tidak lagi membuat malapetaka di kerajaan Suka Damai.


"Ayahanda." Dalam keadaan seperti itu Ratu Gempita Bhadrika justru teringat dengan ayahandanya?. "Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi untuk bergerak." Ia sangat kesal karena berada di dalam posisi yang tidak menguntungkan sama sekali. Namun dalam hatinya merapal sebuah mantram yang ia tinggalkan. Karena perlahan-lahan tubuhnya benar-benar menghilang dari pandangan.


Ratu Gempita Bhadrika berhasil dikalahkan oleh kedua. Akan tetapi ada satu hal yang membuat keduanya kebingungan?. Karena hawa kegelapan masih menyelimuti kerajaan Suka Damai.


"Apa maksudnya ini Gusti Prabu? Kenapa kabut kegelapan ini masih saja belum menghilang?."


"Aku juga tidak mengerti jaya satria, tapi sepertinya ini sangat berbahaya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dapat merasakan ada yang tidak beres.


"Jiwaku boleh mati! Tapi kegelapan yang ada didalam hatiku?! Masih akan terus menyelimuti kerajaan ini! Akan aku kutuk kalian semua dalam kegelapan!." Suara itu. Tidak salah lagi itu adalah suara Ratu Gempita Bhadrika.


"Bahkan kematiannya masih saja meninggalkan beban bagi kerajaan suka damai?." Jaya Satria tidak habis pikir dengan kejadian itu. "Wanita itu memang sangat mengerikan!."


"Kita harus berhati-hati jaya satria, jangan sampai salah dalam bertindak."


"Sandika Gusti Prabu."


Deg!.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria dapat merasakan getaran yang sangat hebat dari Pedang Pelebur sukma, kegelapan yang lebih kental dari yang sebelumnya.


"Kegh!." Keduanya sedikit meringis ketika hawa kegelapan itu seakan-akan menusuk kulit mereka dengan tajamnya.


"Apa yang terjadi? Kenapa kekuatan tenaga dalamku seperti disedot dengan sangat kuat?."


"Hamba rasa ini akibat kegelapan yang belum hilang ini Gusti Prabu."


"Aku rasa benar apa yang kau katakan jaya satria."


"Lantas apa yang akan kita lakukan Gusti? Tentu saja kita tidak bisa membiarkan ini terus terjadi, tentu saja akan membahayakan kita semua."


"Mari kita pecahkan besama!." Rintihnya.


"Serap lah kegelapan itu dengan menggunakan pedang pelebur sukma."


"Tapi? Jika aku menggunakan pedang pelebur sukma untuk menyerap kegelapan ini? Maka kami akan menjadi wadah kegelapan itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana teringat dengan apa yang dialami oleh Langitya Sukmana.


"Kau hanya punya dua pilihan." Tiba-tiba sosok Langitya Sukmana keluar dari pedang itu, menatap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria secara bersamaan.


"Paman langitya sukmana?." Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terkejut melihat sosok itu.


"Menjadi wadah kegelapan? Atau mereka semua akan mati? Karena hawa kegelapan ini menyerap jiwa mereka tanpa henti." Tatapan matanya terlihat sedih. "Dan kau akan menyesal seumur hidup karena tidak bisa menyelamatkan mereka semua." Setelah berkata demikian, Langitya Sukmana kembali menghilang, kembali menjadi wujud pedang Pelebur Sukma.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria terpaku, menatap sekitar yang telah dipenuhi oleh hawa kegelapan yang ditinggalkan oleh Ratu Gempita Bhadrika.


"Mari kita lakukan, demi kedamaian kerajaan ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menggenggam erat gagang pedang pelebur Sukma.


"Ya! Kita tidak punya pilihan lain selain melakukannya." Jaya Satria tidak bisa berkata apa-apa hanya untuk menghibur Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Toh keduanya juga akan merasakan apa yang akan terjadi. Hasilnya sama saja, baik itu hanya dilakukan oleh Jaya Satria, atau dirinya sekalipun.


Keduanya benar-benar terhubung tanpa ada pemisah sedikitpun. Karena itulah, keduanya harus mempersiapkan diri menerima apapun hasilnya nanti.


Tidak mau membuang waktu yang lama, keduanya mengatur hawa murni mereka, menyimpan pedang Sukma Naga Pembelah Bumi, dan juga keris naga penyegel sukma. Setelah itu menancapkan kuat pedang ke tanah untuk melakukan selanjutnya.


Saat itu juga, perlahan-lahan hawa kegelapan disekitar masuk kedalam pedang pelebur Sukma. Tidak, bukan hanya kedalam pedang pelebur Sukma saja, melainkan ke dalam tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


Hawa kegelapan sekitar terus masuk, membuat keduanya meringis sakit. Karena hawa Kegelapan itu membawa dendam, kemarahan, serta kedengkian dari orang-orang yang berhati jahat.


...***...


Deg!.


Ratu Dewi Anindyaswari yang baru selesai melaksanakan sholat tahajud terkejut dengan perasaannya saat itu.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Hatinya kembali merasakan kegelisahan yang sangat dalam. "Putraku nanda cakara casugraha, putraku nanda jaya satria, semoga kalian baik-baik saja nak." Air matanya telah membasahi pipinya, hatinya saat itu sangat tidak tenang sama sekali. "Hamba mohon ya Allah, selamatkan lah kedua putra hama, jangan biarkan mereka terluka dalam pertarungan itu ya Allah." Tangisnya memecahkan keheningan malam.


Hati ibu mana yang tidak akan sedih ketika anaknya sedang berjuang demi menjaga kedamaian semua orang?.


Deg!.


Putri Ambarsari kembali dapat merasakan adanya getaran aneh itu, hatinya semakin tidak tenang.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan dengan kegelisahan ini?." Dalam hatinya masih saja gelisah. Bahkan belum memejamkan matanya barang sejenak untuk mengistirahatkan tubuhnya. "Apakah terjadi sesuatu di istana kerajaan suka damai?." Dalam hatinya memikirkan sebab alasan kenapa pedang panggilan jiwa pedang Batari Saka Raksa masih saja bergetar.


Deg!.


Ia kembali terseret ke dalam alam sukma Dewi Darmani.


"Gusti Putri tenang saja, ini adalah dampak dari guncangan panggilan jiwa yang sedang tercemar oleh kegelapan."


"Sebenarnya apa yang terjadi pada rayi Prabu? Apakah aku tidak bisa membantunya?."


"Kalau begitu bersemedi lah Gusti Putri, semoga sukma hamba bisa membantu."


Putri Ambarsari langsung melakukan apa yang dikatakan sukma Dewi Darmani, ia ingin mengetahui apa yang bisa ia lakukan?. Saat itu tenaga dalamnya seakan-akan tersalurkan ke dalam sukma Dewi Darmani, hingga membawanya ke gerbang istana Kerajaan Suka Damai.


Deg!.


Namun sangat disayangkan sekali, sukma Dewi Darmani terlempar kembali ke dalam pedang panggilan jiwa.


"Apa yang terjadi? Kenapa tidak bisa masuk ke dalam istana suka damai?."


"Mohon ampun Gusti Putri, sepertinya begitu kuat kegelapan yang ada di dalam istana kerajaan suka damai? Kita tidak bisa masuk ke dalam istana begitu saja."


"Oh? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa membantu mereka." Perasaannya semakin cemas dengan apa yang telah terjadi. "Maafkan aku, karena tidak bisa membantu kalian." Dalam hatinya merasa bersalah. "Jika aku berangkat sekarang ke istana kerajaan suka damai? Itu akan memakan waktu yang sangat lama." Dalam hatinya semakin bimbang.


...***...


Istana kerajaan Suka Damai.


Raden Hadyan Hastanta, Putri Andhini Andita, Rapi Jaga, Lanang Sejagad dan beberapa pendekar lainnya datang. Mereka terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


"Rayi prabu!." Putri Andhini Andita ingin sekali membantu adiknya, tapi. "Kgah!." Tubuhnya terasa sakit saat hendak mendekati adiknya. Seakan ada tenaga dalam yang tak kasat mata menjadi pagar gaib di sana.


"Rayi!." Raden Hadyan Hastanta menarik tangan adiknya dengan kuat. Ia terkejut melihat tubuh adiknya yang mendadak kaku.


"Apa yang terjadi rayi? Apakah kau baik-baik saja?." Raden Hadyan Hastanta mencemaskan adiknya Putri Andhini Andita.


"Aku baik-baik saja raka." Putri Andhini Andita sedikit kesulitan. "Sepertinya kita tidak bisa mendekati rayi Prabu, ada pagar gaib yang menghalangiku untuk membantu rayi Prabu." Putri Andhini Andita meringis sakit. Ia tidak mengerti mengapa, tapi rasanya sangat menyakitkan.


"Apa yang akan kita lakukan Raden? Sepertinya Gusti Prabu dan pendekar jaya satria telah melakukan ritual serap hawa kegelapan." Sedikit banyak, Lanang Sejagad mengetahui apa yang dilakukan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


"Apa? Bukankah itu berbahaya?!." Raden Hadyan Hastanta terkejut mendengarnya.


Deg!.


Tanpa sadar perasaan itu kembali menggetarkan pedang panggilan jiwa pedang pembangkit Raga Dewi Suarabumi.


"Perasaan ini semakin kuat!." Setidaknya itulah yang dirasakan Sukma Dewi Suarabumi. "Kenapa perasaan ini kembali hadir?." Dalam hatinya sangat bimbang.


Namun Putri Andhini Andita yang saat itu memang murni merasakan kecemasan pada Jaya Satria tidak merasakan getaran yang dirasakan Sukma Dewi Suarabumi, karena ia memang perasaanya memang sangat cemas, hanya itu saja.


"Mohon maaf Gusti Putri, sepertinya tidak mudah untuk kita melakukan itu." Matanya saat itu mengamati keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. "Karena pedang pelebur sukma itu tidak akan membiarkan kita menghentikannya." Rapi Jaga juga mengamati bagaimana hawa kegelapan yang diserap oleh pedang pelebur Sukma itu mengikat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sehingga keduanya seperti terpaku dengan apa yang mereka kerjakan. "Kita bisa terbunuh jika memaksa untuk menghentikan mereka.


Deg!.


Mereka semua terkejut mendengarkan penjelasan itu, siapa yang tidak merinding jika seperti itu yang terjadi?.


"Tidak! Itu tidak mungkin! Jaya Satria! Rayi Prabu dalam bahaya!." Putri Andhini Andita tidak bisa terima dengan penjelasan itu.


"Rayi andhini andita?." Raden Hadyan Hastanta merasa bersimpati pada adiknya.


"Rayi prabu? Jaya Satria!." Putri Andhini Andita semakin panik, ia tidak mau terjadi hal buruk pada adiknya, juga Jaya Satria. "Raka! Kita harus melakukan sesuatu! Aku tidak mau rayi Prabu dan jaya satria terluka nantinya!." Putri Andhini Andita menangis. Ia menangis karena hatinya yang dipenuhi ketakutan dengan apa yang akan dialami oleh dua orang yang ia sayangi.


Raden Hadyan Hastanta juga tidak tahu apa yang akan dilakukan?. Karena baru pertama kalinya ia melihat keadaan seperti ini. "Aku tidak bisa memikirkan apapun." Dalam hatinya merasa pikun mendadak.


"Ohokh!" Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria terbatuk darah hitam kental. Dari mulut, mata, bahkan telinga mereka perlahan-lahan mengalir darah kental berwarna hitam. Mereka berdua terlalu lama menyerap hawa Kegelapan, karena itulah tubuh mereka tidak sanggup lagi untuk menampungnya.


...***...


Deg!.


Kembali perasaan Ratu Dewi Anindyaswari semakin cemas, bayangan anaknya semakin kuat di dalam pikirannya.


"Dinda dewi."


"Kanda Prabu?."

__ADS_1


Ratu Dewi Anindyaswari tidak menduga, dalam keadaannya yang gelisah memikirkan keadaan putranya?. Ratu Dewi Anindyaswari melihat sosok yang sangat dirindukan.


"Kanda Prabu?." Pelukan erat, sangat erat. Itu adalah ungkapan rasa sayang dan rindunya pada suami yang sangat ia cintai.


"Tenanglah dinda dewi, semuanya akan baik-baik saja." Dengan penuh kelembutan Prabu Kawiswara Arya Ragnala membelai rambut Ratu Dewi Anindyaswari. "Putra kita nanda cakara casugraha adalah seorang Raja, tentunya dinda mengerti resiko apa saja, serta tanggung jawab apa saja yang akan ia emban."


"Dinda hanya takut, jika terjadi sesuatu pada putra kita." Hatinya sangat sakit membayangkan jika anaknya terluka. "Beberapa kali nanda cakara terluka, dan sekarang ada banyak beban yang harus ia tanggung kanda." Ia menangis sedih mengingat bagaimana anaknya yang terluka saat itu. "Dinda tidak sanggup melihat ia terlelap dalam keadaan kesakitan kanda, cukup! Cukup masa lalunya saja yang menderita!."


"Tenanglah dinda, jangan menangis dinda dewi." Prabu Kawiswara Arya Ragnala mencoba menenangkan Ratu Dewi Anindyaswari. "Itu semua adalah resiko yang akan diterima." Perlahan-lahan Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghilang. "Dinda harus kuat dengan keadaan putra kita yang sekarang, dinda tidak boleh lemah! Dinda lah yang menjadi penyemangat putra kita, karena itulah dinda harus kuat!."


"Kanda Prabu." Ratu Dewi Anindyaswari menatap berkas cahaya setelah kepergian Prabu Kawiswara Arya Ragnala, hatinya memang sangat lemah.


"Dinda harus kuat, untuk menyemangati putra kita nanda cakara casugraha." Setidaknya itulah pesan yang diinginkan Prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Dinda akan berusaha kanda." Dalam hatinya merasakan sesak. "Tapi apakah dinda bisa melakukannya?." Dalam hatinya merasa sangat bimbang, dan tidak kuat.


...***...


Istana Kerajaan Suka Damai.


"Rayi prabu! Jaya satria!." Putri Andhini Andita semakin menangis melihat kondisi keduanya. Ia berusaha untuk mendekat, namun hasilnya sama saja.


"Rayi andhini andita! Tenanglah rayi!." Raden Hadyan Hastanta menarik kuat lengan adiknya, ia juga tidak mau adiknya terluka. Ia berusaha menahan adiknya agar tidak nekad menerobos hal yang tidak mungkin bisa mereka lakukan.


"Tapi raka?! Rayi Prabu?! Rayi Prabu?! Jaya satria?! Mereka sedang kesakitan! Aku harus membantu mereka! Lepaskan aku raka!." Putri Andhini Andita semakin menangis meraung-raung. Ia tidak kuasa melihat adiknya begitu saja didepannya berjuang untuk mengembalikan cahaya di kerajaan Suka Damai.


"Yunda?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria masih bisa mendengarnya.


Namun keduanya tidak bisa bergerak, karena memang harus fokus pada apa yang dikerjakan saat itu. Jika mereka melakukan kesalahan?. Tentu saja akan fatal nantinya, mereka tidak akan bisa melakukannya dari awal karena tenaga dalam mereka telah terkuras.


"Rayi!." Raden Hadyan Hastanta memeluk erat adiknya. "Aku juga ingin membantu rayi Prabu! Tapi itu sangat berisiko! Aku harap kau bisa menunggu rayi Prabu! Menunggu jaya satria selesai melakukannya! Setelah itu kita selamatkan keduanya dengan secepatnya!." Ya, hanya itu yang ia pikirkan saat ini. Hatinya juga gelisah karena tidak bisa berbuat banyak untuk menolong Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


"Apakah kita memang tidak bisa melakukan sesuatu untuk membantu Gusti Prabu? Juga jaya satria?." Lanang Sejagad sangat cemas.


"Tidak ada! Kita hanya bisa menunggu sampai ritual itu selesai." Rapi Jaga juga gelisah.


"Rayi Prabu! Jaya satria! Aku harap kalian akan baik-baik saja!." Itulah harapan Putri Andhini Andita. "Aku sangat tidak berguna di saat kalian seperti ini." Hatinya sangat sedih karena tidak bisa membantu sama sekali.


Deg!.


Sedangkan di dalam alam bawah sadar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


Tentu saja keduanya di kelilingi oleh kegelapan yang sangat dahsyat. Kegelapan yang membuat keduanya merasa sangat sesak, dan hampir kesulitan untuk bernafas.


"Kegelapan yang sangat mengerikan sekali." Keluh Jaya Satria.


"Kita harus menyerapnya, jangan sampai kegelapan ini menyebar, dan malah membuat rakyat suka damai menderita."


Di dalam keadaan yang seperti itu?. Keduanya merasakan ada kekuatan tambahan yang dirasakan.


Deg!.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria terbelalak terkejut ketika melihat siapa yang berdiri di belakang.


"Hanya ini yang bisa ayahanda lakukan untuk membantu kalian, putraku."


"Ayahanda Prabu?."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sangat terharu mendengarnya.


"Kalian telah melakukannya dengan baik, tentu saja aku tergerak hati untuk membantu kalian."


"Terima kasih eyang Prabu."


Ya, Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta juga ikut membantu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sangat terharu mendengarnya.


Sedangkan di dunia nyata?. Mereka yang dalam keadaan panik?. Malah melihat hal luar biasa atas apa yang telah dilakukan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


"Ayahanda Prabu?." Dalam hati Putri Andhini Andita tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat itu. "Apakah aku tidak salah? Aku melihat ayahanda Prabu membantu rayi Prabu?." Dalam hatinya hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat?.


"Ayahanda Prabu membantu rayi Prabu? Itu sangat luar biasa sekali." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta juga melihat itu. "Bahkan aku juga melihat eyang Prabu yang juga membantu rayi Prabu, sungguh sangat luar biasa." Dalam hatinya merasa sangat kagum dengan apa yang ia lihat.


"Kita harus bersiap-siap lanang sejagad, aku rasa sebentar lagi Gusti Prabu, jaya satria akan selesai."


"Ya, aku akan bersiap-siap." Lanang Sejagad telah siap membantu hal yang lainnya.

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah memang benar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria bisa menyelesaikan ritual menyerap hawa kegelapan itu?. Resiko apa yang akan mereka dapatkan setelah ritual itu selesai?. Simak dengan baik kisah selengkapnya.


...****...


__ADS_2