RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERJALANAN ALAM SUKMA


__ADS_3

...***...


Jaya Satria yang dibantu oleh Sukma naga Kegelapan dan Sukma naga angin saat ini sedang berhadapan dengan mahkluk gaib. Satu per satu berhasil mereka kalahkan. Sukma naga Kegelapan dengan ganas menghajar mereka mereka yang berhadapan dengannya. Hingga akhirnya mereka berhasil mengalahkan mereka semua.


"Dasar makhluk tidak berguna. Bau busuk kalian membuat hidungku terasa sakit." Dengan kesalnya Sukma naga Kegelapan yang kini berwujud seorang pemuda mendengus sambil terus mengusap hidungnya yang tidak nyaman sama sekali.


Jaya Satria mengatur tenaga dalamnya. Melawan mahkluk gaib itu ternyata tidaklah mudah seperti yang dibayangkan. "Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Janganlah engkau berkata seperti itu wahai Sukma naga Kegelapan. Tidak baik berkata seperti itu." Jaya Satria mendekati Sukma Naga Kegelapan yang terlihat sangat kesal sekali.


"Maafkan hamba gusti prabu. Hamba hanya tidak suka saja. Sebagai makhluk kegelapan, hamba justru menampung semua kegelapan. Bahkan memakan kegelapan itu di dalam tubuh hamba." Sukma naga Kegelapan memberi hormat. Ia merasakan bahwa tidak semua mahkluk gaib kegelapan seperti itu.


"Apa yang dikatakan gusti prabu benar. Jangan mengeluarkan kata-kata kasar. Kau saja yang mudah terbawa amarah." Sukma Naga Angin juga mendekati mereka. Ia tertawa kecil melihat raut wajah Sukma Naga Kegelapan.


"Ya sudah. Mari kita lanjutkan perjalanan kita. Sebelum dini hari kita harus segera kembali. Karena waktu subuh adalah para makhluk gaib sedang masa puncaknya sebelum suara adzan dikumandangkan." Jaya Satria hanya tidak ingin mereka berdebat panjang.


"Sandika gusti prabu." Keduanya memberi hormat pada Jaya Satria. Setelah itu mereka mengikuti langkah Jaya Satria yang terus memasuki alam gaib itu. Matanya terus memperhatikan apa yang sedang ia lihat.


***


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih berada di dalam ruang pribadi raja. Ia saat ini sedang berzikir dan membacakan ayat suci Al-Qur'an dan. Pikirannya tidak tenang, karena ia tidak bisa berkomunikasi dengan Jaya Satria, tubuh asli dari Raden Cakara Casugraha. Namun saat itu ia melihat ada sosok yang masuk ke dalam ruang pribadinya.

__ADS_1


"Sampurasun kakek prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengucap salam pada seorang laki-laki yang rasanya tidak asing baginya.


"Rampes." Balasnya tanpa senyuman. Ia sedikit heran karena ia bisa melihat anak muda yang berada di ruang pribadinya?.


"Apa yang membuat kakek prabu masuk ke sini?. Apakah kakek prabu lupa sesuatu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasakannya.


"Aku hendak mengambil keris dewa bumi. Keris yang mungkin bisa aku gunakan untuk mengatasi desa gaib." Jawabnya dengan perasaan gelisah. "Lalu kau siapa?. Kenapa kau bisa berada di ruang pribadi raja?. Apakah kau mahluk gaib yang hendak memberikan petunjuk padaku bagaimana caranya aku mengatasi masalah desa gaib?. Selain itu, aku masih muda. Kenapa kau malah memanggil aku dengan sebutan kakek prabu?." Begitu banyak pertanyaan yang keluar dari Prabu Guindara Arya Jiwatrisna.


"Maaf sebelumnya kakek prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat. "Maaf jika saya lancang memasuki ruangan pribadi raja ini tanpa izin melalui alam sukma." Ya, kali ini ia memang memasuki alam sukma, karena perasaannya yang gelisah membuat ia terseret ke masa lalu. "Meminta lah bantuan pada sang pencipta kakek prabu." Lanjutnya lagi.


"Apa yang kau maksudkan?. Aku sama sekali tidak mengerti." Prabu Gindara Arya Jiwatrisna merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Masalah desa gaib. Biarkan saya yang mengatasinya. Saat ini raga saya yang asli sedang masuk ke sana." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan senyuman ramah.


"Demi Allah saya telah masuk ke sana dengan menggunakan panah semara naga. Panah yang katanya dapat menembus alam sukma." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha untuk meyakinkan Prabu Guindara Arya Jiwatrisna.


"Apa?. Bagaimana mungkin kau bisa memiliki panah itu?!. Panah yang tidak sembarangan dimiliki oleh orang lain. Apalagi kau masih muda seperti itu. Kau jangan bermain-main dengan guindara arya jiwatrisna." Perasaan yang tidak percaya membuat ia sedikit marah.


Sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana malah tersenyum kecil. "Percayalah padaku kakek prabu. Karena aku adalah keturunanmu. Semoga saja suatu hari nanti kita bisa bertemu kembali." Setelah berkata seperti itu, ia kembali ke raganya.

__ADS_1


Sedangkan Prabu Guindara Arya Jiwatrisna tidak mengerti sama sekali. Mengapa anak itu bisa berkata seperti itu padanya?. "Siapa anak muda itu?. Sepertinya wajahnya tidak asing. Sangat mirip sekali dengan putraku dihyan dirya." Prabu Guindara Arya Jiwatrisna merasa heran. Apakah dia adalah anakku di masa depan?. Tapi dia memanggilku kakek prabu. Atau jangan-jangan dia adalah cucuku?." Pikirannya jadi kacau setelah bertemu dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Ayahanda prabu?." Pangeran kecil menghampirinya. "Ada apa ayahanda prabu?. Tadi nanda melihat ada seseorang yang berada di sini." Raden Bahuwirya Dihyan Dirya mendekati ayahandanya dan menunjuk ke arah tempat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tadi duduk.


Prabu Guindara Arya Jiwatrisna hanya tersenyum pada anaknya. "Jadi nanda bisa melihatnya?." Ia menggendong anaknya. "Jangan katakan pada ibunda jika nanda melihatnya. Nanda mengerti?." Ia hanya tidak ingin istirnya mencemaskan anaknya.


"Mengerti ayahanda prabu." Dengan jawaban yang sangat menggemaskan, Prabu Guindara Arya Jiwatrisna tidak dapat menahan tawanya lagi. Rasanya ia sangat beruntung memiliki anak hebat seperti Bahuwirya Dihyan Dirya. "Semoga saja apa yang dikatakan anak itu tidak bohong. Besok aku akan melihat apakah desa itu benar-benar bisa diatasi atau tidak." Dalam hatinya ia merasakan kegelisahan.


***


Sementara itu Jaya Satria melihat bagaimana menderitanya mereka setelah mempelajari hal-hal yang aneh di desa ini. Ada yang menyembah batu, menyembah pohon untuk meminta harta. Bahkan ada yang menyembah sesama manusia. Pemandangan yang sangat mengerikan untuk dilihat.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Mengapa semua itu terjadi. Mengapa mereka melakukan itu semua?." Dalam hati Jaya Satria merasa miris dengan apa yang mereka lihat.


"Mereka ini manusia yang tidak baik sama sekali. Penampilan mereka sama sekali tidak ada yang pantas untuk dilihat." Dalam hati Sukma naga Kegelapan merasa mual melihat pemandangan itu.


"Mereka ini sangat memperihatinkan sekali. Kenapa mereka melakukan perbuatan bodoh ini?." Bahkan Sukma naga angin tidak sanggup untuk melihat itu.


Apakah mereka sama sekali tidak kasihan pada diri mereka hingga melakukan itu?.

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2