RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
BERBUAT ULAH


__ADS_3

...****...


Raden Cakara Casugraha saat ini sedang latihan ilmu kanuragan bersama kakaknya Putri Agniasari Ariani. Raden Cakara Casugraha dengan sabarnya melatih kakaknya belajar ilmu bela diri.


"Kuatkan kuda-kuda yunda. Jika kuda-kuda yunda tidak kuat, maka yunda akan mudah dikalahkan oleh musuh." Raden Cakara Casugraha memberikan arahan pada kakaknya.


"Baik rayi." Dengan patuhnya Putri Agniasari Ariani mengikuti apa yang dikatakan oleh adiknya.


Perlahan-lahan Putri Agniasari Ariani belajar, dan ia berhasil mengikuti semua yang dikatakan oleh adiknya dengan baik.


"Bagus yunda. Lakukan dengan baik. Yunda pasti bisa." Raden Cakara Casugraha menyemangati kakaknya. Ia sangat senang kakaknya mau belajar ilmu kanuragan dengannya.


"Aku bisa. Aku pasti bisa." Putri Agniasari Ariani juga menyemangati dirinya sendiri. Dengan penuh kesabaran ia mencoba berulang-ulang gerakan yang diajarkan oleh adiknya.


"Yunda juga harus bisa mengatur pernapasan dengan baik. Jika tidak, yunda akan cepat kelelahan, serta tenaga dalam yunda akan kacau saat bertarung. Itu sangat berbahaya jika yunda berhadapan dengan musuh yang memiliki kecepatan yang tinggi." Lagi, Raden Cakara Casugraha memberikan arahan pada kakaknya.


Putri Agniasari Ariani mencoba mengatur hawa murninya setelah melakukan satu jurus, ia menatap adiknya agak sedikit bingung. "Bagaimana caranya rayi. Aku sedikit bingung, karena agak sulit melakukannya."


"Yunda tidak perlu buru-buru mempelajarinya. Perlahan-lahan yunda akan bisa merasakannya melalui gerakan yang yunda lakukan. Kuncinya yunda tidak boleh terlalu kerasak-kerusuk ketika melakukannya." Jawabnya dengan senyuman kecil.


"Aku akan mencobanya rayi. Semoga saja aku bisa melakukannya."


"Aku yakin yunda bisa melakukannya." Raden Cakara Casugraha mendekati kakaknya. Ia ingin mengajari kakaknya cara melakukan pernapasan yang baik saat bertarung agar tidak terlalu mengeluarkan tenaga dalam yang banyak saat bertarung.


Namun apa yang terjadi ketika ia mendekati kakaknya?. Tiba-tiba mereka disiram air aneh Raden Ganendra Garjitha dan saudara-saudaranya. Tentunya membuat keduanya terkejut, mereka basah karena air aneh itu.


"APA YANG-." Raden Cakara Casugraha sangat murka, akan tetapi badannya merasa gatal karena air itu. Gatal yang sangat aneh, terasa panas.

__ADS_1


"Kegh gatal sekali rayi." Putri Agniasari Ariani meringis sakit, ia tidak tahan lagi dengan gatal yang ia rasakan.


Sedangkan Raden Ganendra Garjitha dan saudara-saudaranya malah tertawa melihat itu. Tanpa perasaan mereka malah tertawa melihat Putri Agniasari Ariani kesakitan.


"Itu hukuman buat kalian."


"Itu belum seberapa dengan yang kau lakukan pada kami cakara casugraha."


"Jika kau berani lagi melawan kami. Bukan hanya itu saja yang akan kau dapatkan. Tetapi lebih dari itu cakara casugraha."


"Itulah akibatnya jika kau berani melawan kami semua."


"Kegh. Kalian benar-benar keterlaluan!." Raden Cakara Casugraha ingin menghajar mereka semua, namun mereka berhasil melarikan diri sambil tertawa puas.


"Rayi. Kegh gatal sekali rayi." Putri Agniasari Ariani sudah tidak tahan lagi dengan rasa gatal yang ia rasakan.


"Bertahanlah yunda. Ayo kita menuju ruang pengobatan, semoga saja tabib istana dapat mengobati gatal yang kita rasakan." Raden Cakara Casugraha menarik tangan kakaknya. Membimbing tangan kakaknya menuju ruang pengobatan Istana. Raden Cakara Casugraha tidak tahan melihat kakaknya yang meringis kesakitan.


"Rayi. Aku tidak tahan lagi." Rengek Putri Agniasari Ariani sambil menggaruk lehernya, tangannya, wajahnya, bahkan badannya yang terkena air itu.


"Yunda harus bertahan, gatal ini akan hilang jika kita segera meminta obatnya pada tabib istana." Meskipun tubuhnya juga terasa gatal, ia berusaha untuk menguatkan kakaknya. Ia juga gelisah karena rasa gatal yang mendera tubuhnya.


"Mereka benar-benar kurang ajar!. Setelah aku berhasil mengobati gatal ini. Akan aku hajar mereka semuanya." Dalam hati Raden Cakara Casugraha mengutuk apa yang telah dilakukan oleh Raden Ganendra Garjitha dan saudara-saudaranya. "Ini sungguh tidak bisa dimaafkan begitu saja." Ia sangat geram dengan kelakuan mereka. "Berani sekali mereka menyakiti yundaku dengan cara seperti ini." Hatinya dipenuhi oleh amarah-amarah yang membuncah. Jika saja ia tidak memikirkan kakaknya, bisa jadi ia segera mengejar mereka, dan menghajarnya satu persatu. Akan tetapi, ia harus membawa kakaknya yang tidak tahan dengan gatal yang mendera tubuhnya.


Begitu sampai di ruang pengobatan. "Nimas. Apa yang terjadi?." Tabib Istana yang kebetulan berada di sana merasa heran.


"Cepat berikan obat penawar gatal dari bubuk bambu. Yundaku sudah tidak tahan lagi dengan gatal yang ia rasakan."

__ADS_1


"Baik den." Tabib Istana segera melakukan apa yang diperintahkan padanya. Ia segera membuat ramuan itu, ia takut kena amukan Raden Cakara Casugraha jika tidak segera melakukannya.


"Gatal sekali rayi. " Putri Agniasari Ariani benar-benar tidak tahan lagi. Wajahnya sampai memerah pekat karena semakin digaruk olehnya.


"Sebentar lagi yunda. Tabib istana sedang membuat ramuannya." Raden Cakara Casugraha berusaha untuk menenangkan kakaknya. Ia tidak tega melihat kakaknya yang kesakitan. Hatinya semakin panas melihat kakaknya yang meringis sakit, bahkan sampai meneteskan air mata menahan gatal itu.


"Awas saja kalian. Akan aku hajar kalian tanpa ampun." Raden Cakara Casugraha benar-benar tidak tahan lagi. "Tabib, pastikan yundaku sembuh dengan baik. Pastikan gatal yang ia rasakan hilang. Jaga yundaku sampai gatalnya hilang." Ucapnya dengan nada yang agak tinggi.


"Sandika raden." Ia hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha.


"Memangnya rayi mau kemana?." Putri Agniasari Ariani penasaran, mengapa adiknya berkata seperti itu?.


"Yunda tetaplah di sini. Aku ingin menghajar mereka semua. Karena mereka telah berani membuat yunda kesakitan seperti ini. Jika terjadi sesuatu pada kulit yunda. Akan aku bakar kulit mereka sampai hangus."


"Tapi rayi-."


"Yunda tenang saja. Tunggu di sini, sampai aku segera kembali." Hawa kemerahan telah menyelimuti tubuhnya. Hawa kemerahan yang muncul setiap ia tidak bisa mengendalikan amarahnya.


"Rayi." Putri Agniasari Ariani mencoba untuk menahan adiknya, namun adiknya telah pergi duluan. Sepertinya kemarahan yang dirasakan oleh adiknya lebih besar, sehingga gatal yang mendera tubuhnya, tidak ia rasakan lagi.


Raden Cakara Casugraha yang diselimuti oleh hawa kemerahan dari kemarahannya bergegas meninggalkan tempat. Ia ingin mencari keberadaan Raden Ganendra Garjitha.


Putri Agniasari Ariani tidak dapat menahan adiknya agar tidak berbuat gegabah. Namun rasa gatal yang mendera tubuhnya tidak mau diajak untuk kompromi, hingga ia tidak dapat mengejar adiknya.


"Bertahanlah gusti putri. Hamba akan segera mengobati gusti putri sesuai dengan perintah raden cakara casugraha." Ucap Tabib berusaha untuk mengingatkan Putri Agniasari Ariani agar berada dimana ia duduk. Ia akan mencoba mengobati rasa gatal yang dialami oleh Putri Agniasari Ariani.


Apa yang akak terjadi?. Temukan jawaban. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2