RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KESEMBUHAN DUA INSAN


__ADS_3

...***...


Malam telah berganti, akhirnya perjalanan menuju Gunung Menahan Bumi telah sampai. Mereka memasuki kawasan itu, namun sepertinya tidak mudah masuk ke sana, karena banyak jebakan disekitar kawasan itu.


Perapian Suramuara berusaha untuk melindungi Jaya Satria agar tidak terkena serangan itu. Dan saat itu ia melihat seseorang muncul, ia mendekati orang itu, dan memukul kepala orang itu. "Kau itu bodoh atau buta? Kau tidak lihat siapa yang datang bersamaku? Hah?."


"Maafkan aku, aku hanya melindungi hutan ini saja, jadi wajar aku membuat jebakan yang seperti itu."


"Tapi tetap saja kau itu bodoh! Bagaimana serangan tadi itu melukai junjunganku?! Apakah kau sudah bosan hidup?!."


"Iya, aku yang salah, maafkan aku."


"Paman perapian suramuara? Apa yang terjadi paman?." Jaya Satria mencoba memanggil perapian suramuara, ia takut terjadi sesuatu padanya.


"Oh iya, maafkan aku jaya satria, hehehe! Tidak ada apa-apa, kita sudah sampai." Ia kembali menghampiri Jaya Satria, ia tadi hanya kesal saja. "Mari kita masuk ke dalam goa itu, agar kau bisa segera diobati." Ia membimbing Jaya Satria agar memasuki goa itu.


"Terima kasih atas kebaikan paman."


"Sama-sama jaya satria, tidak usah sungkan seperti itu padaku." Ucapnya dengan perasaan senang, karena bisa membantu Jaya Satria.


"Tapi ingatlah, paman jangan memanggilku gusti prabu, aku tidak ingin ada yang mengenaliku dalam keadaan seperti ini."


"Baiklah jaya satria, aku mengerti."


Setelah itu mereka masuk ke dalam sana, agar segera mendapatkan pengobatan. Alasan Jaya Satria tidak ingin dipanggil gusti prabu, karena ia hanya ingin menutupi identitasnya saja. selain itu, ia memang jaya Satria jika dalam keadaan seperti ini. Hanya satu nama ketika ia menggunakan topengnya, yaitunya Jaya Satria.


...***...


Di Istana kerajaan Kegelapan. Perlahan-lahan matanya membuka, ia masih mencoba untuk menarik kembali kesadarannya.


"Kau sudah bangun putriku?."


"Oh? Ayahanda Prabu?." Ia mencoba untuk duduk. Kepalanya terasa sakit, dan sulit rasanya ia menggerakkan tubuhnya.


"Jangan dipaksakan putriku, kau masih belum sembuh sepenuhnya, kau harus banyak beristirahat." Ia sangat mengkhawatirkan putrinya. Ia sangat khawatir jika anaknya meninggalkan dirinya, karena tidak bisa menahan jurus cakar naga cakar petir.


"Maafkan aku ayahanda, aku gagal membunuh orang bertopeng itu." Ada penyesalan di setiap kata yang ia ucapkan. "Rasanya sangat sedih, karena telah mengecewakan ayahanda." Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan kesedihannya. "Aku benar-benar putrimu yang tidak berguna sama sekali ayahanda."


"Tidak putriku." Prabu Wajendra Bhadrika memeluk putrinya dengan erat. "Kau jangan merasa sedih putriku, walaupun gagal berkali-kali? Namun kau jangan pernah menyerah! Teruslah mencoba sampai kau bisa melakukan apa yang kau inginkan."


"Ayahanda."


"Ayahanda selalu bangga padamu."


"Terima kasih ayahanda." Ia merasa lega dengan ucapan ayahandanya. Tadinya ia sangat takut mengecewakannya. Karena sudah tiga kali gagal untuk membunuh orang bertopeng itu. "Ternyata orang bertopeng itu memang memiliki ilmu Kanuragan yang sangat berbahaya." Dalam hatinya sangat kesal karena kalah terus dari pemuda itu.


Bisakah mereka mengalahkan Jaya Satria?. Temukan jawabannya.


...***...


Istana kerajaan Suka Damai. Saat ini Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang dikunjungi oleh petinggi-petinggi istana yang sudah mendengar kabarnya.


"Mohon ampun gusti prabu, kami semua baru mendapatkan kabar buruk ini, melalui sebuah pesan daun lontar yang dituliskan oleh g5usti Ratu dewi anindyaswari."


"Benar gusti, maafkan kami yang tidak sama sekali mengetahui kabar buruk ini."


"Lalu bagaimana dengan keadaan gusti prabu saat ini?."


"Untuk saat ini saya masih baik-baik saja, meskipun saya belum bisa melihat? Akan tetapi insyaAllah, satu dua hari lagi mataku akan sembuh."


"Memangnya apa yang terjadi terjadi gusti prabu? Jika kami semua boleh mengetahui mengapa mata gusti prabu bisa sakit."


"Saya sedang diserang oleh seseorang dengan kekuatan gaib, saya telah berhadapan dengan orang itu, dan saat ini saya sedang berusaha untuk menyembuhkan diri."


Mereka semua mendengarnya dengan jelas, jadi itulah alasan mengapa mata sang prabu masih ditutupi oleh perban?.


"Ya Allah maafkan hamba, bukan hamba bermaksud untuk membohongi mereka semua, hamba terpaksa untuk melakukan ini untuk melindungi jaya satria." Dalam pertemuan itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengatakan jika ia akan melakukan penyerangan pada kerajaan kegelapan. Mereka semua tidak setuju, tapi sang prabu tetap saja untuk melakukannya.


"Sama seperti ayahanda prabu, biarlah satu nyawa yang dikorbankan, jangan sampai mengorbankan ribuan nyawa yang lainnya."


"Tapi gusti, kami juga tidak mau kehilangan gusti prabu."


"Hidup dan mati, akan saya serahkan kepada Allah SWT, saya telah memutuskan untuk menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh raja Kegelapan."


Sepertinya mereka tidak dapat mengurungkan niat sang prabu, mereka hanya berharap sang prabu baik-baik saja. Disisi lain, mereka juga berharap sang prabu bisa mengatasi Raja Kegelapan yang sangat meresahkan.


...****...


kembali ke masa itu.


Kembali ke masa ketika prabu Kawiswara Arya Ragnala masih hidup. Sebelum ia pergi pergi ke kerajaan kegelapan karena ditantang oleh prabu Wajendra Bhadrika.

__ADS_1


"Hamba mohon gusti prabu, untuk mengizinkan hamba ikut untuk melawan raja kegelapan."


"Tidak, kau tidak boleh ikut."


"Tapi gusti prabu? Hamba sangat mencemaskan keadaan gusti prabu, hamba tidak ingin gusti prabu celaka karena kelicikan raja kegelapan."


"Tidak! Aku sangat melarang kau ikut denganku! Apakah kau tidak mendengarkan apa yang telah aku katakan ini jaya satria?!."


Deg!!!


"Mohon ampun gusti prabu, mohon ampun, bukan hamba bermaksud untuk tidak mendengarkan apa yang gusti prabu katakan, hamba hanya tidak ingin gusti prabu-."


Belum sempat ia meneruskan perkataannya, Prabu Kawiswara Arya Ragnala malah menotok dirinya, hingga ia tidak bisa bergerak.


"Apa yang gusti prabu lakukan? Lepaskan hamba!."


"Aku tidak akan melepaskanmu, karena kau sedang dikuasai oleh amarah, dan amarah itu akan merugikan dirimu."


"Apa yang gusti prabu katakan? Jangan lakukan ini, jangan pergi ke sana sendirian! Gusti Prabu lah yang harus mendengarkan ucapan hamba!."


Ia berusaha untuk berontak, lepas dari totokan itu. Tapi rasanya sangat sulit sekali, karena totokan itu bukan totokan biasa.


"Ayahanda percayakan kerajaan suka damai padamu, putraku." Ucapnya dengan senyuman lembut. "Ayahanda yakin kau bisa melakukannya, namun kau harus bisa mengendalikan amarahmu."


"Tidak! Jangan berkata seperti itu!. Nanda tidak mau! Ayahanda harus membawa nanda juga! Nanda pasti bisa membantu ayahanda menghadapi raja kegelapan! Ayahanda!." Hatinya sangat sedih, ayahandanya seakan ingin meninggalkan dirinya.


"Ayahanda sangat menyayangimu, jaya Satria." Prabu Kawiswara Arya Ragnala memeluk jaya Satria, ia elus dengan lembut kepala belakang jaya satria, dan ia cium puncak kepalanya.


"Ayahanda akan selalu bersamamu, putraku." Prabu Kawiswara Arya Ragnala pergi meninggalkan Jaya Satria yang dalam keadaan tertotok.


"Ayahanda! Ayahanda! Ayahanda!!." Teriakan jaya Satria yang memanggil prabu Kawiswara Arya Ragnala, ia menangis sedih karena ditinggalkan oleh sang Prabu


kembali ke masa ini.


Jaya Satria berhasil diobati oleh aki Semat Raya. Ia dulu adalah seorang tabib terkenal yang bisa mengobati jenis penyakit apa saja yang dialami oleh seseorang, termasuk racun ganas yang mengancam keselamatan seseorang.


"Untuk saat ini, biarlah perban ini tetap menutupi matamu, setidaknya obat yang aku berikan padamu, bisa mengurangi rasa sakit di matamu."


"Terima kasih aki semat raya, aku sangat berhutang budi padamu."


"Tidak perlu merasa berhutang budi padaku, sesama manusia sudah sepantasnya wajib saling tolong menolong."


"Ah! Kau ini membuatku malu saja." Ia merasa malu di puji oleh Jaya Satria.


Sementara itu. Jaya Satria merasa baikan, matanya agak mulai dingin. Ia merasa bersyukur karena mendapatkan pengobatan yang baik.


"Ayahanda, maafkan aku, jika aku selalu membuatnya merasa sakit, saat ini ia sedang merencanakan untuk melakukan penyerangan terhadap kerajaan kegelapan." Jaya Satria selalu merasakan apa yang direncanakan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana, karena itulah ia bertekad akan selalu berada di samping sang prabu.


"Tunggu saja prabu Asmalaraya Arya Ardhana, aku akan segera kembali, dan setelah itu, kita akan pergi bersama-sama, agar tidak ada penyesalan di masa lalu kita yang membiarkan ayahanda prabu pergi menghadapi maut sendirian, aku berjanji akan selalu bersamamu hingga ajal menjemputku."


Apakah Jaya Satria bisa sembuh dan kembali ke istana kerajaan Suka Damai?. Temukan jawabannya.


...****...


Kerajaan Kegelapan.


"Mohon ampun gusti prabu. Nini kabut bidadari telah kembali, dan ingin bertemu dengan gusti prabu."


"Nini Kabut bidadari telah kembali?. Ho? Bagus sekali, ini waktu yang sangat tepat." Ia merasa sangat senang, ia sudah menunggu kabar baik ini.


"Baiklah! Aku akan ke sana, katakan pada nini kabut bidadari untuk menemuiku di sini."


"Segera hamba laksanakan gusti prabu." Prajurit itu pamit, meninggalkan Prabu Wajendra Bhadrika yang sedang bahagia karena ia akan segera mendapatkan kekuatannya kembali.


"Ya, aku tidak sabar lagi." Ucapnya dengan wajah sumringah luar biasa.


"Hamba menghadap, gusti prabu." Suara itu, tidak salah lagi itu adalah suara Nini Kabut Bidadari.


"Hormat hamba gusti prabu." Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi, wajahnya sangat gahar, dan menyerahkan.


"Selamat datang kembali, nini kabut bidadari, dan aku terima sembah hormat kalian."


"Mohon ampun gusti prabu, hamba telah berhasil membawa seseorang yang bisa mengembalikan kekuatan gusti prabu, dia adalah pendekar segala geni, dia adalah pendekar golongan hitam yang sangat jahat, gusti prabu."


Prabu Wajendra Bhadrika merasa tertarik dengan penjelasan itu. ia menatap laki-laki itu, mengamatinya dengan seksama.


"Aura hitam yang sangat pekat menyelimutimu, aura jahat dari ribuan nyawa melayang ditanganmu yang ganas, bagaimana mungkin mau bisa dapat mengembalikan kekuatan seseorang?."


"Gusti Prabu memiliki penglihatan yang tajam juga, sangat luar biasa sekali Gusti Prabu." Ia tersenyum bangga karena apa yang dilihat oleh raja Kegelapan hampir benar, ia begitu terkesima dengan raja Kegelapan.


"Bagaimana dengan jawabanmu mengenai ucapanku tadi?."

__ADS_1


"Masalah itu, hamba bukan hanya bisa mengembalikan kekuatan seseorang, namun juga bisa mengambil kekuatan orang itu gusti prabu." Jawabnya. "Hamba bisa menjadi seorang pengobat dan perusak sekaligus, karena seperti itulah kemampuan hamba." Lanjutnya.


"Hamba sudah melihat secara langsung apa yang dia lakukan, sangat berbahaya gusti, pokoknya gusti prabu kali ini tidak akan kecewa lagi pada hamba." Nini Kabut Bidadari berusah untuk meyakinkan Raja Kegelapan, tentang kesakitan yang dimiliki oleh Segala Geni.


Prabu Wajendra Bhadrika tertawa keras, ia tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nini Kabut Bidadari. "Aku bisa melihat dengan jelas nini kabut bidadari, kali ini sepertinya kau menemukan orang yang tepat untuk bekerja sama dengan baik, aku selalu percaya kau tidak akan pernah mengecewakan aku." Suasana hatinya sedang baik, ia sudah tidak sabar lagi ingin mengembalikan kekuatannya, dan ia akan membalaskan kekalahan yang dialami oleh putrinya.


"Dengan begini aku bisa membunuh orang bertopeng itu! Dan aku bisa menguasai kerajaan suka damai dengan satu serangan."


Bisakah ia melakukannya?. Temukan jawabannya.


...****...


Di kerajaan Suka Damai.


Ratu Dewi Anindyaswari sedang membuka perban yang menutupi mata anaknya. Sangat hati-hati ia melakukannya, karena tidak ingin anaknya merasa sakit.


Sementara itu, Ratu Gendhis Cendrawati, putri Andhini Andita, putri Agniasari Ariani, dan Raden Hadyan Hastanta menunggu dengan cemas. Mereka tentunya sangat khawatir dengan keselamatan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang bertubi-tubi mendapatkan serangan gaib.


"Bukalah perlahan matamu nak."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melakukan apa yang dikatakan oleh ibundanya, ia membuka pelan matanya.


Awalnya ia memang agak sedikit terasa berat, pandangannya agak buram, namun perlahan-lahan, pandangannya sudah jelas.


"Ibunda?." Yang pertama kali ia lihat adalah wajah ibundanya yang terlihat cemas.


"Bagaimana putraku? Apakah kau bisa melihat ibunda?."


"Ibunda, nanda bisa melihat ibunda." prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang karena bisa melihat ibundanya.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, putraku." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk putranya dengan erat, ia sangat bahagia dengan apa yang dikatakan putranya.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin ya Allah. Alhamdulillah hirobbil a'lamin, rayi prabu bisa melihat lagi."


"Oh? Dewata yang agung, syukurlah nanda prabu."


"Rayi prabu sudah bisa melihat kembali? Syukurlah."


"Dewata yang agung masih menyayangi rayi prabu, dengan begitu kita semua merasa senang." Putri Agniasari Ariani, ratu Gendhis Cendrawati, putri Andhini Andita, dan Raden Hadyan Hastanta sangat bahagia. Mereka tidak merasa cemas lagi, karena prabu Asmalaraya Arya Ardhana sudah sembuh.


"Alhamdulillah hirobbila'lamin nak, ibunda sangat bersyukur dengan kesembuhanmu."


"Alhamdulillah hirobbila'lamin ibunda, nanda juga merasa bersyukur kepada Allah SWT, karena masih diberikan kesempatan untuk melihat kembali." Ia tersenyum bahagia.


"Itu artinya jaya satria juga sudah sembuh, alhamdulillah hirobbila'lamin ya Allah, engkaulah tempat hamba meminta pertolongan." Dalam hatinya berharap begitu. buktinya ia sudah dapat melihat seperti semula. "Jaya satria cepatlah kembali ke istana, dengan begitu kita akan segera menyusun rencana untuk menyerang raja kegelapan." Ia tidak sabar menunggu kepulangan Jaya Satria.


"Tapi putraku, ibunda sangat sedih nak."


"Apa yang membuat ibunda merasa sedih?. Katakan pada ananda."


"Ibunda sedih, karena ananda setelah ini akan pergi ke kerajaan kegelapan untuk menyerangnya." Ternyata kabar itu sudah sampai pada ibundanya?.


"Kenapa kau ingin pergi sendirian ke sana rayi prabu."


"Benar rayi prabu, apakah kau tidak bisa mengajak kami?."


"Apakah kami nantinya, akan menjadi beban bagimu?."


Putri Agniasari Ariani, putri Andhini Andita, dan Raden Hadyan Hastanta menyerbu prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan pertanyaan seperti itu.


"Maafkan aku, yunda, raka, bukan aku tidak mau mengajak kalian, atau merasa terbebani, aku hanya tidak ingin yunda dan raka celaka di sana."


"Kami pun begitu rayi, meskipun kau adalah seorang raja, kami tidak mau adik yang kami cintai menghadapi bahaya sendirian."


"Betul itu rayi prabu, kita ini keluarga, kau adalah adik kami, tidak mungkin kami membiarkanmu berjuang sendirian."


"Rayi prabu, apa gunanya kita bersaudara? Jika kau menanggung beban sendirian."


Ucapan mereka sangat menyentuh hati sang prabu, ia dapat merasakan ketulusan itu.


"Putra-putriku, kalian memang telah berubah nak." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati yang melihat itu merasa terharu, hingga ia hampir saja menangis. "Kanda prabu, apakah kanda bisa melihat perubahan mereka yang sangat luar biasa itu?." Dalam hatinya saat itu ingat dengan sosok Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang selalu mengatakan pada anak-anaknya agar selalu kompak dalam hal apapun untuk mempererat hubungan persaudaraan diantara mereka.


"Yunda tenang saja, mereka pasti bisa melewati masalah ini dengan baik, kita hanya dapat mendukung mereka saja." Ratu Dewi Anindyaswari juga terharu melihat kedekatan mereka.


"Ya, kau benar rayi dewi, mereka saat ini telah mempererat hubungan persaudaraan dengan baik, kanda Prabu pasti bangga melihat ini." Ratu Gendhis Cendrawati tidak dapat menahan tangisnya ketika melihat kedekatan anak-anaknya.


"Ya, tentu saja kanda Prabu akan bahagia melihat ini." Ratu Dewi Anindyaswari sangat setuju dengan ucapan itu.


Next halaman.


...***...

__ADS_1


__ADS_2