RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
BERTEMU KAKEK TUA


__ADS_3

...*** ...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Raden Cakara Casugraha mencoba untuk mengingat kejadian waktu itu. Kejadian dimana ia membunuh dua orang nyawa?.


"Apakah itu benar rayi prabu?. Apakah benar Rayi prabu melakukan itu?." Putri Agniasari Ariani terlihat sangat cemas.


"Coba ingat lagi rayi prabu. Mungkin kau memang pernah melakukannya?." Putri Andhini Andita seakan tidak sabar, ia hanya tidak ingin adiknya menjadi korban fitnah mereka.


"Aku memang melakukannya yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengingat yang terjadi hari itu.


"Tapi kenapa kau melakukan itu rayi prabu?." Putri Andhini Andita tidak dapat menahan dirinya.


"Katakan alasannya rayi. Kenapa kau melakukannya!." Putri Agniasari Ariani semakin gelisah, dan tanpa sadar ia meninggikan suaranya.


"Tenanglah gusti putri. Mungkin gusti prabu memiliki alasan untuk melakukan itu." Raden Rajaswa Pranawa menenangkan Putri Agniasari Ariani.


"Benar itu tuan putri andhini andita. Pasti gusti prabu memiliki alasan yang kuat, mengapa gusti prabu melakukan itu." Raden Jatiya Dewa tidak tega melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dihakimi kedua kakaknya.


"Katakan pada kami, kenapa kau melakukan itu raden cakara casugraha." Hati Tangkas Baron merasa iba mendengarkan pengakuan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Jika memang kau memiliki alasan yang kuat, katakan pada kami. Sebelum kesabaran kami habis." Soban Arus sangat kehilangan kekasihnya. Ia sangat ingin menuntut balas atas kematian kekasihnya.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafas dengan pelan. "Maaf sebelumnya. Ada hal yang harus kalian ketahui sebelum kalian mengetahui, bahwa mereka telah meninggal sebelum berhadapan denganku yang kebetulan melewati desa hulu."

__ADS_1


Tentunya penjelasan itu membuat mereka semua terheran. Bagaimana mungkin mereka bisa bertarung dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sementara mereka telah mati?.


"Apa yang kau maksud rayi prabu?. Bagaimana mungkin mereka telah mati sebelum bertarung denganmu?."


"Itu rasanya sangat mustahil sekali rayi."


"Memang sangat aneh sekali gusti prabu. Seperti sebuah cerita yang sangat aneh."


"Mungkin gusti prabu memiliki penjelasan yang lebih masuk akal?. Kami tidak mengerti sama sekali."


Mereka semua menutut penjelasan yang membuat mereka mengerti. Bagaimana mungkin kasus aneh itu bisa terjadi.


"Pada saat itu aku baru saja sampai di desa hulu. Aku bertemu dengan seorang kakek tua. Beliau mengatakan jika ada di sebuah tempat di desa itu tersimpan sebuah pusaka jahat yang sedang diincar oleh semua orang yang menginginkan kekuatan itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengingat dengan jelas bagaimana pertemuannya dengan kakek tua itu.


Rasanya sudah cukup jauh Raden Cakara Casugraha pergi meninggalkan tempat gurunya pendekar Jarah Setandan. Ia pamit pada gurunya untuk kembali mengembara. Kali ini perjalanannya sampai di desa hulu. Namun saat ia baru saja memasuki Desa itu. Ia melihat kakek tua yang menatapnya dengan lekat. Raden Cakara Casugraha melihat ke belakangnya, ke samping, atas dan bawah.


"Hanya kau yang ada di hadapan ku saat ini anak muda." Kakek tua itu merasa aneh dengan sikap Raden Cakara Casugraha.


"Oh, maafkan saya eyang." Raden Cakara Casugraha tersenyum canggung. "Saya hanya memastikan, jika eyang melihat ke arah saya." Lanjutnya.


Kakek tua itu tertawa kecil. Ia tidak menyangka, hanya ucapan seperti itu. Hatinya sedikit terhibur dan ingin tertawa. "Sepertinya kau telah melakukan perjalanan yang cukup jauh cucuku." Ia seakan menerawang jauh ke dalam mata Raden Cakara Casugraha. "Aku sarankan kau sebaiknya pergi saja dari desa ini."


Raden Cakara Casugraha mengernyit heran. "Maaf eyang. Saya baru saja sampai di desa ini. Tapi mengapa eyang menyuruh saya untuk meninggalkan desa ini?."

__ADS_1


"Aku hanya tidak mau kau menjadi korban dari sifat rakus yang kau miliki. Aku hanya tidak ingin kau mati hanya karena menginginkan pusaka jahat iblis yang terus menerus memakan korban." Jawab kakek tua itu. "Jika kau datang ke sini hanya untuk mengambil senjata pusaka jahat milik iblis, sebaiknya kau pulang saja. Karena kau akan mati dengan sia-sia." Ada perasaan sedih yang ia rasakan saat ini. "Telah banyak korban jiwa yang melayang ketika mencoba untuk mengambil senjata jahat iblis itu. Jiwamu akan mati, dan kau akan berjalan menuju sungai hulu dengan keadaan mengenaskan, serta mayatmu akan hanyut sepanjang sungai hulu." Lanjutnya dengan perasaan yang bercampur sedih.


Raden Cakara Casugraha tersenyum kecil. "Terima kasih telah mengingatkan saya eyang. Jika memang itu yang terjadi. Saya akan segera meninggalkan tempat ini."


"Kau sungguh anak yang baik. Semoga dewata yang agung selalu melindungi mu cucuku." Kakek tua itu sangat senang mendengarnya. "Aku tidak menyangka jika kau mau mendengarkan apa yang aku katakan."


"Kalau begitu saya pamit dulu eyang. Semoga eyang selalu dilindungi dewata yang agung. Saya harap eyang mampu menjaga tempat ini dengan baik. Saya harap eyang tidak mengalami kesulitan memelihara tempat ini." Raden Cakara Casugraha tersenyum kecil.


"Jadi kau memiliki mata yang bagus anak muda. Tanpa memasuki alam sukma kau bisa melihat aku dengan mata biasa." Kakek tua itu sekarang mengerti, mengapa anak muda itu tidak melewati dirinya ketika ia masuk ke desa ini. Anak muda itu melihat ke sana ke sini, memastikan bahwa ia melihat ke arahnya.


"Saya memang memiliki kemampuan untuk melihat alam sukma eyang."


"Katakan padaku. Siapa eyangmu, sehingga kau memiliki kekuatan langka itu. Mungkin aku pernah mendengar namanya." Kakek tua itu penasaran.


"Gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta. Dan yang mewarisi kekuatan tersebut, dari ayahanda saya kawiswara arya ragnala." Jawab Raden Cakara Casugraha.


"Oh. Jadi kau keturunan dari gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta?. Pantas saja kau memiliki kekuatan itu. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan salah satu keturunan orang-orang yang memiliki mata yang hebat." Ada rasa kebanggaan di dalam dirinya. "Suatu hari nanti kau akan menjadi seorang raja yang hebat. Aku yakin kau mampu mengatasi masalah dengan baik. Jika saatnya tiba kau menjadi seorang raja. Aku mohon kau kembali ke sini. Untuk menenangkan tempat ini. Aku yakin, hanya kau yang bisa menenangkan tempat ini." Ucap kakek itu.


Raden Cakara Casugraha hanya menyimak saja. Karena baginya tidak mungkin ia menjadi raja, mengingat kekuatan terkutuk yang ada di dalam dirinya, jadi tidak mungkin ia menjadi raja. "Kalau begitu saya pamit eyang. Sampurasun." Raden Cakara Casugraha memberi hormat pada kakek tua itu.


"Rampes." Balas kakek tua itu.


Akan tetapi, ketika ia hendak meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba saja ada terpaan angin yang cukup kencang yang menerpa tubuh Raden Cakara Casugraha dari arah belakangnya. Terpaan angin itu disertai dengan asap kegelapan yang tidak enak untuk dicium. Raden Cakara Casugraha membalikkan tubuhnya, melihat apa yang terjadi di belakangnya. Namun apa yang ia lihat pada saat itu?. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2