RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEJADIAN DEMI KEJADIAN


__ADS_3

...***...


Sekelebat bayangan hitam itu berhenti di sebuah goa. Ia membaringkan tubuh Jaya Satria di atas batu itu, ia segera mengobatinya.


"Jaya satria, bertahanlah. Aku mohon padamu bertahanlah." Ia menyalurkan tenaga dalamnya agar jaya Satria bisa bertahan dari racun itu.


"kau harus bertahan jaya satria." Tanpa sadar ia menangis. seketika ia mengingat apa saja yang telah ia lalui di masa lalu. Bagaimana ia di masa lalu, bagaimana sikap bejadnya yang berhasil disadarkan oleh Jaya Satria.


"Gusti Prabu harus bisa bertahan"


Siapa kah kakek tua itu? apakah kakek tua itu mengenali jaya Satria? sehingga ia memanggil dengan sebutan Gusti Prabu? temukan jawabannya.


...***...


Sementara itu di Istana Kerajaan Suka Damai.


Lagi dan lagi kali ini prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak sadarkan diri. Mereka lagi-lagi mencemaskan keadaan sang prabu.


"Putraku. Ibunda mohon, katakan sesuatu. Ibunda mohon sadarlah nak."


"Rayi prabu. Kenapa rayi prabu bisa seperti ini."


"Rayi prabu. Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dari kami?. Bagilah rasa sakitmu pada kami rayi."


"Rayi prabu, aku mohon bukalah matamu, Rayi prabu."


Mereka semua sangat mencemaskan keadaan prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Mereka menangis, karena tidak bisa melakukan apapun untuk membangunkannya.


"Ya Allah, apa yang terjadi pada putraku. Ujian apa yang ia hadapi sehingga ia mengalami seperti ini." Ratu Dewi Anindyaswari berusaha menekan perasaan sedihnya. Anaknya lagi-lagi mengalami hal yang tidak sama sekali ia pahami penyebabnya.


"Mohon ampun gusti ratu. Maafkan hamba, jika hamba datang tidak pada waktu yang tepat." Senopati Mandaka Sakuta saat itu datang melaporkan apa yang terjadi di desa Damai Abdi.


"Katakan senopati. Apa yang membuatmu datang?. Kami sedang bersedih karena nanda prabu sedang tidak sadarkan diri. Apa yang hendak engkau sampaikan."


"Mohon ampun sekali lagi gusti ratu. Hamba turut bersedih, atas apa yang menimpa gusti prabu." Ia menghela nafasnya pelan. "Hamba hendak menyampaikan bahwa, ada kerusuhan yang terjadi di desa damai abdi. Desa itu diserang oleh seseorang. Dan kami telah memeriksanya, banyak korban yang berjatuhan. Mayat mereka dalam keadaan mengenaskan gusti ratu."


Mereka semua terkejut, bencana apa lagi yang menimpa negeri ini? sang prabu sedang dalam keadaan sakit?


"Bukankah ada jaya satria yang selalu bertugas?. Kemana ia?. Hingga terjadi bencana itu? " Raden Hadyan Hastanta bertanya heran.


"Mohon ampun raden. Hamba tidak melihat jaya satria dimanapun. Hamba tidak bisa menemukan keberadaannya."


"Apa?. Kemana jaya satria?. Tidak mungkin dia menghilang begitu saja." putri Andhini Andita meninggikan suaranya. Bagaimana mungkin Jaya Satria tidak ada di kerajaan ini. "Aku yakin dia ada di luar istana, dan dia pasti sedang mengejar orang yang telah berbuat keji pada desa damai abdi." Putri Andhini Andita mencoba berpikiran baik tentang Jaya Satria.


"Tenanglah yunda, tenangkan dirimu." putri Agniasari Ariani tidak ingin kakaknya terbawa perasaan amarah, karena mendengar kabar Jaya Satria yang entah dimana.


"Benar rayi, tenangkan dirimu. Kita tunggu berita jaya satra sampai besok pagi. Jika tidak ada, aku bersama Senopati mandaka Sakuta akan melakukan peninjauan ke sana nantinya." Raden Hadyan Hastanta mencoba untuk menenangkan adiknya.


"Putriku andhini andita. Nanda Putri jangan marah dulu nak. Kasihan rayimu nanda prabu yang sedang sakit. Ia akan merasa sakit, jika nanda tidak bisa mengendalikan dirimu." Ratu Gendhis Cendrawati juga mencoba menenangkan putrinya yang terlihat marah.


"Kita semua juga tidak boleh bergantung pada jaya Satria. Negeri ini luas, aku yakin dia mungkin sedang mengatasi masalah lain." Hatinya merasa sedih, karena begitu banyak yang terjadi disaat sang Prabu sedang sakit.


"Entah mengapa, hatiku gelisah tentang jaya satria. Semoga saja Allah SWT melindunginya, aamiin ya Allah." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari berharap jaya Satria akan baik-baik saja. Entah mengapa hatinya mengatakan, jika putranya Cakara Casugraha sakit mendadak ada hubungannya dengan Jaya Satria.


"Kalau begitu hamba mohon pamit gusti ratu. Hamba akan memberi tahu keadaan Gusti prabu pada syekh asmawan mulia."


"Ya, katakan pada syekh asmawan mulia. Saya yang menyuruhnya agar kembali secepatnya, dan jangan lupa perketat penjagaan istana. Karena saya tidak mau ada yang memanfaatkan keadaan ini di saat nanda prabu masih belum sadarkan diri."


"Sandika gusti ratu. Hamba pamit. Sampurasun."


"Rampes."


Senopati Mandaka Sakuta pergi meninggalkan tempat. Ia hendak menjemput syekh Asmawan Mulia yang sedang berada di desa Tanggul Damai, ia sedang berdakwah di sana sesuai dengan perintah Ratu Dewi Anindyaswari.


...***...


Untuk sementara kita tinggalkan masalah yang terjadi di istana negara Suka Damai, dan kita lihat bagaimana keadaan putri Gempita Bhadrika setelah terkena jurus cakar naga cakar petir?.


"HUAAAAAH BAJINGAN BUSUK!. KENAPA MALAH PUTRIKU YANG CELAKA!." Prabu Wajendra Bhadrika sangat marah. Ia tidak terima anaknya pulang dalam keadaan terluka.


"Mohon ampun gusti prabu. Sungguh hamba sudah berusaha untuk menolong tuan putri. Hamba juga menyerang orang bertopeng itu menggunakan serbuk racun, yang hamba buih kan ke matanya, gusti prabu."


"Tapi buktinya anakku hampir saja mati karena jurus berbahaya itu!." Emosinya benar-benar memuncak, ia tidak dapat lagi berpikir jernih.


Raja Teluh hanya terdiam, ia tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi karena sang prabu sangat murka.

__ADS_1


"Aku akan membunuh orang bertopeng itu dengan tanganku sendiri!. Dan akan aku pastikan, mayatnya akan aku cercah dengan senjata paling berbahaya di dunia ini!." Ia sangat geram, sangat geram. Di dalam benaknya semakin besar rasa ingin balas dendam pada orang bertopeng itu karena telah melukai anaknya


Rencana apa lagi yang akan ia lakukan setelah ini?. Temukan jawabannya.


****


Disatu sisi. Sang prabu seakan sedang duduk di depan api unggun bersama prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.


"Memang sulit untuk menjaga keseimbangan. Terkadang kita harus jatuh bangun untuk menyeimbangkan antara luar dan dalam."


"Eyang prabu benar. Tidak mudah bagi manusia lemah seperti kita ini melakukan hal yang sempurna."


"Humm ya. Tapi aku yakin nanda bisa melakukannya. Nanda harus percaya pada Tuhan yang telah nanda sembah."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terdiam. Memperhatikan api yang menyala di depannya dengan seksama, sambil memikirkan apa yang dikatakan oleh prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.


"Nanda adalah satu-satunya keturunanku, yang memiliki keyakinan berbeda dari pendahulu. Tapi aku percaya ayahandamu, prabu kawiswara arya ragnala memiliki pandangan yang baik padamu, sehingga ia melakukan itu."


"Benar. Memang benar. Pada saat itu, nanda sedang dikuasai oleh amarah-amarah, yang sangat merugikan siapa saja, termasuk diri nanda sendiri." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengakui bagaimana dirinya masa lalu sebum masuk agama Islam.


"Nanda prabu harus bisa menjalani takdir yang saat ini. Aku yakin nanda prabu bisa. Berpegang teguhlah kepada kepercayaan mu, nanda prabu."


Senyuman itu, adalah senyuman yang membuat siapa saja merasakan kedamaian, apalagi sorot matanya yang sangat adem untuk dipandang.


"Terima kasih eyang prabu. Semoga nanda bisa melakukannya dengan baik." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.


...***...


Sementara itu di Istana Kerajaan Suka Damai. Seperti biasanya, putri Andhini Andita yang tidak bisa tidur. Ia datang ke taman istana. ia duduk merenung di sana.


"Jaya satria." Ia berharap Jaya Satria akan menemuinya malam ini, dan yang ia harapkan hanyalah Jaya Satria.


"Tidak baik seorang putri raja malam-malam begini melamun. Nanti bisa disapa hantu yang lewat, itu sangat berbahaya."


"Jaya satria." Ia tidak menyangka akan melihat Jaya Satria yang duduk di tempat biasanya.


"Oh jaya satria. Kau telah kembali. Kau baik-baik saja?. Kenapa kau tidak mengabariku jaya satria." Rasanya ia hampir saja menangis, karena keinginannya yang ingin bertemu dengan jaya Satria. Namun ia terkejut saat ia mencoba untuk menyentuh jaya Satria, ia terbangun?.


"Putriku!." Suara itu adalah suara ratu Gendhis Cendrawati yang sangat khawatir pada anaknya.


"Prajurit mengatakan pada rakamu. Mereka menemukanmu tidur di taman istana. apa yang sedang nanda putri pikirkan?. Ibunda sangat mencemaskanmu nak."


"Ibunda. Ibunda." Putri Andhini Andita menangis sambil memeluk ibundanya. Ia menangis karena ia bermimpi melihat Jaya Satria. Namun ia tidak bisa menyentuh Jaya Satria. Hatinya sangat sedih, ia tidak kuasa menahan perasaannya.


"Oh putriku. Tenanglah nak." Ratu Gendhis Cendrawati berusaha untuk menenangkan anaknya. Hatinya sangat gelisah dengan keadaan anaknya, yang memikirkan Jaya Satria.


"Oh dewata yang agung. Semoga saja semuanya baik-baik saja." Ratu Gendhis Cendrawati sangat khawatir dengan keadaan yang mengkhawatirkan ini.


...***...


Subuh telah datang, Ratu Dewi Anindyaswari dan putri Agniasari Ariani sedang melakukan sholat subuh. Tak henti-hentinya mereka berdoa agar Allah SWT menyembuhkan rasa sakit yang dialami oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Ya Allah. Sesungguhnya apapun yang terjadi pada kami, pada putra hamba cakara casugraha, semuanya adalah kehendak-Mu ya robbi. Kuatkanlah hati kami menerima cobaan ini. Kami hanyalah manusia lemah, yang membutuhkan sandaran." Air mata kesedihan, pilu dan menusuk hati, dari seorang ibu yang menginginkan kesembuhan anaknya.


"Ya Allah. Berikanlah kesehatan dan keselamatan kepada rayi prabu. Hilangkan semua rasa sakit yang ia alami ya Allah, hamba hanya memohon kepada-MU. Karena engkaulah tempat hamba untuk meminta pertolongan." Begitu juga dengan putri Agniasari Ariani yang mengharapkan kesembuhan adiknya.


"Untuk nanda jaya satria. Entah mengapa hati hamba gelisah ya Allah. Semoga saja nanda jaya Satria baik-baik saja. Lindungilah ia dimana pun ia berada ya Allah. Aamiin aamiin ya rabbal aalaamiin."


Seketika itu ia mendapatkan gambaran, tentang Jaya Satria yang sedang terbaring di sebuah batu di dalam goa. Tentunya gambaran itu membuatnya terkejut.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ia menangis karena penglihatan itu, hatinya semakin gelisah.


*Ibunda. Tolong nanda ibunda. Rasanya sangat sakit sekali ibunda. Tolong nanda ibunda.*


"Astaghfirullah hal'azim nanda jaya satria."


"Ibunda, apa yang terjadi?. Kenapa ibunda menangis seperti itu?."


"Ibunda,,, ibunda seperti melihat bayangan tentang. Tentang nanda jaya satria nak. Ibunda mendengarnya memanggil ibunda. Nanda jaya satria meminta tolong pada ibunda nak." Ia menangis terisak karena merasakan perasaan sedih itu. Ia merasa sesak karena Jaya Satria meminta tolong padanya.


"Tenanglah ibunda. Tenangkan diri ibunda. Jaya satria baik-baik saja ibunda." Putri Agniasari Ariani sungguh tidak mengerti sama sekali dengan apa yang dilihat ibundanya.


"Ibunda hanya mencemaskan keadaannya nak. Ibunda sangat sedih jika nanda jaya satria juga kenapa-kenapa nak." Perasaannya yang gelisah, karena ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Ya Allah. Sebenarnya apa yang terjadi?. Mengapa ibunda begitu mencemaskan keadaan jaya satria?." Putri Agniasari Ariani tidak mengerti sama sekali dengan penglihatan ibundanya mengenai jaya Satria.

__ADS_1


"Ya Allah, selamatkan lah nanda jaya satria. Semoga saja ia baik-baik saja." Ratu Dewi Anindyaswari juga mendoakan Jaya Satria.


"Ibunda begitu menyayangi jaya satria. Meskipun ibunda tidak tau jaya satria seperti apa. Namun kasih sayangnya, seperti ibunda menyayangi rayi prabu."


"Sudahlah ibunda. Kita do'akan saja jaya satria baik-baik saja." Putri Agniasari Ariani tidak ingin ibundanya larut dalam kesedihan yang mendalam.


"Putriku."


Mereka hanya berharap kebaikan, dan negeri ini aman dari bahaya manapun, sehingga sang prabu tidak mengalami kejadian aneh-aneh lagi.


Apakah harapan mereka akan terkabulkan?. Temukan jawabannya.


...***...


Di bawah alam sadar Jaya Satria. Ia bertemu dengan prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Pasti sulit untuk nanda menjalani kehidupan seperti ini. Namun ayahanda harap, nanda kuat menjalaninya."


"Nanda selalu mencobanya. Dengan segenap jiwa dan perasaan yang nanda tanamkan di dalam diri nanda."


"Itulah yang selalu ayahanda harapkan darimu putraku." Ia membelai kepala belakang Jaya Satria. Ia cium puncak kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Tetaplah kuat dalam situasi apapun. Ayahanda yakin, kau mampu mengatasinya, putraku jaya satria."


"Terima kasih ayahanda. Nanda sangat senang, karena ayahanda selalu memberikan semangat hidup untuk ananda." Ia menangis terisak, tidak kuasa menahan perasaan sedihnya.


"Bertahanlah, putraku. Ayahanda yakin dengan kekuatan saudaramu. Kau bisa bertahan. Kau boleh menangis, kau boleh tertawa, dan kau boleh marah. Ketika pada waktunya, bersama saudaramu."


"Ayahanda. Jika saja ananda mampu melakukannya. Ananda akan melakukannya, ayahanda." Hatinya sangat pilu, sedih, perih mengingat bagaimana ia selama ini.


"kau jangan berkecil hati. Sudah ayahanda katakan. Topeng itu hanyalah untuk menyegel amarahmu saja. Namun bukan untuk menyegel hati dan perasaanmu yang lain, putraku." Prabu Kawiswara Arya Ragnala juga merasakan sedih. "Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Kecuali Tuhan, yang tidak akan pernah salah dalam menguji ketaatan hambanya. Ayahanda yakin, nanda telah mengetahui semuanya dari agama baru itu."


"Ayahanda benar. Ananda tidak boleh putus asa. Aanda telah memutuskan untuk menjalaninya dengan ikhlas rilahita'ala."


"Itu lebih baik. Ayahanda sangat senang mendengarnya, putraku." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum lembut menatap putranya. Setelah itu, Sang prabu menghilang dari pandangan Jaya Satria, dan ia terbangun?.


"Gusti prabu sudah bangun?." Orang itu langsung mendekati Jaya Satria.


"Siapakah Kisanak sebenarnya?. Mengapa mataku ditutupi kain seperti ini?."


"Gusti prabu tenang saja. Hamba telah berusaha, untuk mengobati mata gusti. Agar mata gusti tidak rusak parah akibat racun ganas itu."


"Terima kasih, karena kisanak telah menolongku. Tapi apakah aku boleh tahu, siapa Kisanak ini?. Mengapa Kisanak menolongku?." Jaya Satria bertanya-tanya, siapa orang yang telah berbaik hati menolongnya?.


Lelaki tua itu nampak berpikir, apakah ia akan mengatakan pada Jaya Satria mengapa ia menolongnya?. "Hamba rasa tidak perlu gusti prabu mengetahui siapa hamba. Hamba hanyalah rakyat biasa, yang masa lalu telah berbuat dosa. Namun gusti prabu telah menyadarkan hamba atas dosa-dosa tersebut." Ucapnya dengan nada sedih. Ia tidak mau mengingat apa saja yang telah ia lakukan dimasa lalunya.


Jaya Satria mencoba untuk mengingatnya. kapan ia melakukan itu? apakah benar dia?


"Jika aku masih ingat dengan suaramu. Suara itu seperti suara paman perapian suramuara. Apakah paman adalah paman perapian suramuara?." Jaya Satria mencoba mengingatnya. Dengan melalui suara, mungkin ingatannya tidak akan salah.


"Meski hanya dengan suara saja. Ternyata gusti prabu masih mengingat hamba dengan baik. Hamba sangat merasa terhormat, karena gusti prabu mengingat hamba."


"Tapi aku ini bukanlah prabu asmalaraya arya ardhana, aku hanyalah-."


"Benar. Hamba sangat mengerti. Hamba sangat memahaminya dengan baik keadaan gusti prabu. Meskipun hanyalah amarah. Tapi raga ini masih memiliki ingatan yang telah dilalui oleh raden cakara casugraha. Itu artinya raga ini tetaplah raga gusti prabu asmalaraya arya ardhana." Ternyata Perapian Suramuara memang mengetahui rahasia itu.


Jaya Satria kehilangan kata-kata. Ia tidak menyangka ada orang yang bisa melihat dirinya lebih dalam lagi. Ia tidak bisa menyembunyikan identitasnya dihadapan Perapian Suramuara yang lebih memiliki banyak pengalaman darinya.


"Untuk dapat menyembuhkan mata gusti prabu, hamba berencana akan membawa gusti prabu ke puncak gunung menahan bumi. Di sana ada tabib yang dapat menyembuhkan mata gusti prabu."


"Terima kasih paman perapian suramuara, telah berbaik hati padaku."


"Hamba hanya melakukan yang seharusnya, gusti Prabu. Hamba akan membalas kebaikan yang telah gusti prabu berikan pada hamba."


"Tapi aku mohon, paman jangan menceritakan pada siapa tentang rahasia ini. Akan berbahaya jika mereka mengetahuinya paman."


"Sandika gusti prabu. Hamba akan menyimpan rahasia ini dengan segenap jiwa dan raga hamba."


"Alhamdulillah hirobbil'alamin. Terima kasih paman perapian suramuara."


"Sama-sama gusti prabu."


Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.


Vote nya kakak.

__ADS_1


...***...


__ADS_2