
"Ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha menahan tangisnya. Karena dua perasaan menjadi satu.
"Maafkan nanda." Ia menyembunyikan wajahnya dengan mencium tangan ibundanya.
"Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari mengelus puncak kepala anaknya dengan sayangnya.
"Nanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati juga merasakan simpati pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Hatinya benar-benar sudah berusaha untuk menghilangkan kebenciannya pada keduanya.
Sementara itu. Jaya Satria sedang berusaha untuk kuat berjalan dengan merasakan kasih sayang ibundanya melalui Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Ibunda. Nanda sangat menyayangi ibunda. Selalu merindukan ibunda, ingin segera bertemu dengan ibunda." Rasa rindu kembali menyelimuti hatinya. Sama seperti ketika ia mengembara dulu. Menjalani hukuman buangan, belajar banyak mengenai tentang kehidupan selama delapan tahun.
Tidak boleh menemui ibundanya selama delapan tahun memang sangat menyiksa lahir batin.
"Bertahanlah jaya satria. Setidaknya sampai kau bertemu dengan raka hadyan hastanta." Dalam hatinya berharap pada Jaya Satria.
"Semoga saja gusti prabu. Hamba sungguh tidak kuat lagi." Tubuhnya masih sakit. Hawa dari pukulan di punggungnya terasa menyebar di seluruh tubuhnya.
Bisakah keduanya bertahan?. Temukan jawabannya.
...*****...
Sementara itu. Putri Andhini Andita berhasil menemukan keberadaan Syekh Asmawan Mulia di desa Damai Jati.
"Sampurasun. Syekh asmawan mulia."
"Rampes. Gusti putri andhini adnita. Silahkan masuk, gusti putri." Ia menyambut kedatangan Putri Andhini Andita.
Saat ini ia berada di rumah persinggahan yang disiapkan warga desa Damai Jati untuknya. Namun bukan hanya dirinya saja yang terlihat di sana. Ada dua orang anak muda yang ikut berada di sana.
"Ada apa gerangan, gusti putri menemui hamba sampai ke desa ini?."
"Syekh. Saya datang menemui anda atas perintah rayi prabu." Tiba-tiba saja ia menangis sedih. Membuat mereka bertiga sedikit heran, dan kebingungan. Apa yang membuat seorang putri raja menangis?. Dan atas permintaan adiknya?.
"Apa yang terjadi?. Sehingga nanda prabu mengutus tuan putri untuk menemui hamba di desa ini?."
Putri Andhini Andita berusaha untuk menahan tangisnya. "Rayi prabu sakit syekh." Tangisnya lepas setelah ia mengatakan adiknya sedang kesakitan saat ini?.
__ADS_1
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Syekh Asmawan Mulia mendadak cemas. Perasaan gelisah menyelimuti hatinya.
Sementara itu kedua murid baru Syekh Asmawan Mulia yang tidak mengerti, namun mereka dapat menangkap bahwa Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini sedang sakit?.
"Sakit apa yang nanda prabu alami, gusti putri?."
"Rayi prabu mengatakan, jika jaya satria terkena jurus letusan merapi ditengah badai. Rayi prabu berkata hanya syekh yang bisa menyembuhkannya. Karena itu aku mohon, syekh segera datang menemui rayi prabu ke istana." Tangisnya semakin pecah saat menceritakan bagaimana keadaan adiknya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Nanda prabu, nanda jaya satria." Syekh Asmawan Mulia semakin gelisah. "Lalu bagaimana keadaan nanda jaya satria?."
"Saat ini raka hadyan hastanta sedang menuju perbatasan desa damai setia untuk menyusul jaya satria." Ia berusaha untuk menahan tangisnya. Kesedihan, kegelisahan yang ia rasakan saat ini.
"Baiklah gusti putri. Mari kita segera ke istana."
"Ya syekh. Kita harus segera kembali ke istana." Ia juga tidak mau membuang-buang waktu.
"Untuk sementara kalian tetaplah di sini. Tunggu aku kembali." Syekh Asmawan Mulia berpesan pada Ayu dan Lingga agar tetap berada di rumah persinggahan ini.
"Maaf syekh guru. apakah saya tidak boleh ikut?. Saya ingin mengucapkan terima kasih pada jaya satria." Meskipun ia tidak mengerti apa hubungan sakit yang dialami oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan Jaya Satria. Namun entah mengapa hatinya ingin mengatakan jika dirinya ingin menemui Jaya Satria.
"Ayu juga mau bertemu dengannya, mengucapkan terima kasih karena telah membuat kakang lingga menyadari semua kesalahannya."
"Terima kasih syekh."
Syekh Asmawan Mulia hanya tersenyum kecil.
"Mari syekh. Rayi prabu sudah menunggu kedatangan Syekh."
"Mari gusti putri."
Tanpa banyak membuang waktu. Mereka semua menuju Istana. Mereka semua tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Disisi lain.
Raden Hadyan Hastanta sudah sampai di perbatasan Desa Damai Setia. Ia sangat gelisah menunggu kedatangan Jaya Satria.
Namun matanya melebar dengan besarnya ketika menangkap sosok Jaya Satria yang sedang berjalan sempoyongan. Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh, Raden Hadyan Hastanta segera mendekati Jaya Satria.
__ADS_1
"Jaya Satria!." Ia segera menangkap tubuh Jaya Satria yang hampir saja limbung.
"Jaya Satria. Bertahanlah jaya satria." Raden Hadyan Hastanta menangkap ada bekas luka telapak tangan dipunggung Jaya Satria.
"Raden." Dengan mata yang sayu-sayu seperti itu, serta kesadarannya yang hampir hilang dari raganya. Jaya Satria melihat kehadiran Raden Hadyan Hastanta yang ternyata berhasil bertemu dengannya.
"Terima kasih raden telah, menyusul hamba sampai ke desa ini." Rasa kantuk tidak bisa ia tahan lagi.
Begitu juga dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang berada di Istana Kerajaan Suka Damai.
"Ibunda. Ananda mau tidur sebentar. Jaya satria juga akan kembali bersama raka hadyan hastanta." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini sedang bermanja-manja dengan tidur dipangkuan ibundanya.
"Tidurlah nak. Istirahatkan tubuh nanda untuk sementara waktu." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba mengerti kondisi anaknya. "Ibunda selalu menyanyi nanda prabu juga nanda jaya satria." Bisiknya dengan pelan di telinga putranya.
"Terima kasih ibunda." Setelah berkata seperti itu. Matanya benar-benar terpejam dengan eratnya. Tidur dan tidak sadarkan diri, hanya beda tipis.
"Putraku." Namun hatinya harus kuat, walaupun air matanya tidak bisa ia tahan lagi. Meskipun ia tahu anaknya tidak tidur karena ngantuk, tetapi ia harus menguatkan hatinya Demi anaknya.
"Kuatkan hatimu rayi. Nanda prabu akan baik-baik saja." Ratu Gendhis Cendrawati juga merasa iba melihat kondisi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Apalagi ia tidak bisa berbuat banyak untuk membantu.
"Aku selalu menguatkan hatiku yunda. Bahkan setelah delapan tahun berpisah dengannya." Ia elus puncak kepada anaknya, tak lupa kecupan kasih sayang yang ia berikan untuk putranya.
Kembali pada Raden Hadyan Hastanta yang sedang berusaha menahan tubuh Jaya Satria yang tidak sadarkan diri.
"Pantas saja rayi prabu kesakitan jika seperti ini lukanya." Raden Hadyan Hastanta merasa simpati. Tidak tega melihat keadaan Jaya Satria.
Tapi tunggu.
"Oh dewata yang agung. Jika jaya satria pingsan, maka rayi prabu juga." Jantungnya berdegup kencang mengingat sesuatu. Tidak bisa ia bayangkan betapa paniknya Ratu Dewi Anindyaswari saat ini di Istana karena Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendadak pingsan.
"Aku harus segera membawa Jaya Satria menuju istana."
Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, Raden Hadyan Hastanta berusaha sekuat tenaga kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai. Ia tidak mau kepanikan melanda hati kedua ibundanya.
"Semoga saja aku bisa segera membawa jaya satria tepat waktu ke istana." Dalam hatinya sangat berharap.
Apa yang akan terjadi?. Bisakah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria diselamatkan?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
Mohon dukungannya ya pembaca tercinta