
...***...
Saat ini Jaya Satria, Raden Jatiya Dewa, dan Raden Antajaya Dewa saat ini sedang bersama seorang kakek tua yang sudah lama berada di dekat pohon itu. Bisa dibilang kakek tua itu adalah penjaga sumber mata air dewa.
"Eyang. Maaf jika kami masuk ke alam sukma. Dan bertemu dengan eyang." Jaya Satria memberi hormat pada kakek tua itu.
"Kau adalah raja yang baik cucuku." Mata itu menatap ke arah Jaya Satria. "Apa yang ingin kau ketahui dari tempat ini cucuku. Katakan saja padaku. Semoga saja aku bisa membantumu cucuku."
"Terima kasih banyak eyang. Saya melihat banyak hawa jahat disekitar sumber mata air ini eyang. Sangat tidak baik untuk manusia yang serakah, menginginkan kekuatan yang tidak baik."
Kakek tua itu terkekeh kecil. "Kau memang raja yang hebat. Kau memiliki pandangan yang berbeda. Aku tidak menyangka ada yang bisa melihat alam sukma, walaupun tidak melalui semedi sekalipun." Kakek tua itu merasa kagum dengan Jaya Satria. "Dari auramu, kau adalah keturunan raja hebat. Gusti prabu jayantaka byakta. Dan aku juga melihat kau sudah menguasai pedang pemanggil jiwa." Mata itu seakan bisa menembus jauh ke dalam tubuh Jaya Satria. "Dan masih banyak benda pusaka yang berada di dalam tubuhmu cucuku. Aku harap kau bisa menjaga dirimu. Agar tidak berkahir seperti anak muda yang kau tolong tempo hari."
"Terima kasih eyang telah mengingatkan saya. Namun saya ingin memperlihatkan pada kedua raden dari putra gusti prabu lingga dewa. Bahwa tempat ini, saya yakini adalah tempat yang baik dulunya eyang." Jaya Satria melirik ke arah Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa. "Tapi tempat ini ternodai, karena kata. Dan juga keyakinan tempat ini dipengaruhi oleh kejadian mistis."
Lagi, kali ini kakek tua itu tertawa terkekeh. "Memang sebelumnya aku pernah menemui raden jatiya dewa. Karena rasa penasaran yang ia miliki. Makanya aku menemuinya."
"Saya eyang." Raden Jatiya Dewa memberi hormat pada Kakek tua itu.
"Apa yang terjadi sebenarnya eyang?. Mengapa hawa di sini sangat gelap sekali?. Sangat berbeda sekali dengan di dunia nyata."
"Saya juga baru merasakannya eyang. Kenapa berbeda sekali?."
"Seperti yang dikatakan raja muda itu. Tempat ini telah ternodai oleh sesajen yang dilakukan mereka yang meminta banyak hal di sini. Sehingga mengundang roh jahat untuk meminta tumbal di sini. Dan aku sebagai penjaga tempat ini tidak berdaya lagi menghadapi mereka semua yang datang."
__ADS_1
Kembali ke awal sumber mata air dewa sebelum dilihat oleh banyak manusia.
Mereka semua melihat ada seorang wanita yang sedang berlari masuk hutan, dan ia berhenti tepat di depan sumber mata air dewa. Ia terlihat menangis sedih. Meskipun mereka yang melihat itu tidak mengetahui sama sekali apa penyebab dari wanita itu menangis. Tapi mereka dapat mendengarkan apa yang dikatakan oleh wanita cantik itu.
"Oh dewata yang agung. Malang sekali nasib hidup saya. Kenapa malang sekali nasib percintaan yang saya rasakan." Begitulah ratapan tangis dari wanita malang itu. "Kenapa saya selalu dikhianati oleh orang yang saya cintai. Kenapa saya mengalami kepahitan dalam percintaan. Mengapa malang sekali hidup yang harus saya jalani dewata yang agung." Wanita itu terus mengungkapkan betapa besar kesedihan yang ia rasakan saat ini.
Hingga sesuatu menggelembung muncul dari dalam mata air dewa. Membuat wanita itu terkejut, dan merasa penasaran. Saat itu juga, ada sosok laki-laki yang muncul dari sumber mata air dewa. Laki-laki yang tampan menurut pandangan wanita cantik itu. Namun hal berbeda yang dilihat oleh mereka semua. Wujud iblis merah yang pernah merasuki pemuda yang diselamatkan oleh Jaya Satria.
"Siapakah kau wahai pemuda tampan yang muncul dari sumber mata air dewa?."
Laki-laki itu tersenyum dengan lebar, sehingga terlihat wajahnya semakin menawan. Sepertinya wanita itu semakin terpikat akan ketampanan laki-laki itu. "Bukankah kau memanggil dewata agung tadi manis?. Lalu apa yang kau ragukan dariku?."
"Apakah kau seorang dewa?. Tapi rasanya tidak mungkin." Wanita cantik itu masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki tampan itu.
"Apakah aku bisa mempercayai apa yang kau katakan?." Masih ada keraguan dari wanita itu.
"Aku akan memberikan hidupku padamu. Dan aku tidak akan mengecewakanmu."
"Oh terima kasih dewata yang agung. Terima kasih karena telah hadir di dalam hidupku." Wanita itu memeluk erat laki-laki itu. Namun mata laki-laki itu melihat ke arah Kaya Satria dan yang lainnya.
Deg!!!.
Merkea semua terkejut saat mata itu memerah menatap ke arah mereka semua. Laki-laki itu mengulurkan tangan ke arah mereka semua. Hingga ada hawa hitam yang mengarah dengan cepat. Hawa hitam itu menerpa tubuh mereka semua, sehingga mereka terpental dari alam sukma.
__ADS_1
Jaya Satria, Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa langsung kembali ke raga mereka. Karena terpental ke raga mereka dengan paksa.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Jaya Satria langsung menjauh dari batu tempat semedi tadi. Karena pohon itu, mengeluarkan hawa hitam yang sangat pekat. "Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Sungguh mengerikan sekali hawa ini. Dan juga orang-orang yang meninggal di tempat ini." Tanpa sadar Jaya Satria malah menangis sedih.
"Gusti prabu." Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa mendekati Jaya Satria, karena ia menjauhi pohon itu. Begitu jauh jarak mereka dari pohon itu sekarang.
"Untuk sementara waktu, kita jauhi pohon itu, juga sumber mata air dewa. Katakan pada gusti prabu lingga dewa, jangan biarkan siapapun untuk mendekati tempat ini."
"Memangnya apa yang terjadi setelah kita terpental tadi gusti prabu?."
"Benar gusti prabu. Apa yang terjadi?. Kenapa kita harus menjauhi tempat ini?."
Kedua pangeran Kerajaan Buana Dewa sangat penasaran. Pasti ada alasan mengapa Jaya Satria melarang mereka mendekati tempat ini bukan?.
"Pohon ini masih diselimuti hawa iblis. Apakah raden berdua tadi tidak melihat?. Bagaimana laki-laki tadi menatap kita. Dia adalah sosok iblis yang sebenarnya menghuni tempat ini."
"Lalu siapa kakek yang kita temui itu gusti prabu?. Apakah tidak ada cara untuk memulihkan tempat ini?."
"Katakan pada kami gusti prabu. Karena kami tidak melihat hawa hitam yang menyelimuti pohon itu."
"Ya, benar apa yang dikatakan oleh raka antajaya. Saya hanya melihat pohon biasa yang saat ini. Saya tidak melihat hawa hitam apapun, seperti yang gusti prabu katakan."
Bagaimana jawaban dari Jaya Satria katakan pada mereka?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...