RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
JANGAN CEROBOH


__ADS_3

...***...


Raden Jatiya Dewa tidak menyangka akan melihat keris pusaka kembar keris naga penyegel sukma secara dekat. Hatinya berbunga-bunga, karena keris kembar itu akan menjadi miliknya?. Apakah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana benar-benar akan memberikan keris itu padanya?.


"Tunggu dulu rayi prabu." Putri Andhini Andita mencoba mencegah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana untuk memberikan keris pusaka kembar itu pada Raden Jatiya Dewa. "Mengapa rayi prabu malah memberikan keris pusaka kembar itu padanya?." Putri Andhini Andita heran dengan adiknya.


"Benar itu rayi prabu. Bukankah keris itu sah milikmu?. Tapi kenapa kau malah memberikannya pada orang lain?. Putri Andhini Andita juga penasaran.


Sedangkan Raden Hadyan Hastanta, Putri Bestari Dhatu, Raden Rajaswa Pranawa, pangeran yang ikut bersama Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara, Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Dewi Anindyaswari masih menyimak. Mereka semua ingin mendengarkan apa alasan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan mudahnya memberikan keris pusaka kembar itu pada Raden Jatiya Dewa?.


"Tidak apa-apa. Sungguh, ini hanyalah benda pusaka." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil menatap mereka semua. "Benda pusaka ini boleh dimiliki siapa saja. Termasuk raden jatiya dewa. Tapi-" Lanjutnya lagi.


"Apakah hamba boleh memilikinya gusti prabu?." Rasanya ia tidak salah dengar?. Apakah benar ia boleh memiliki benda pusaka itu?. Sementara itu mereka semua hanya pasrah saja, jika memang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sendiri yang mengizinkan untuk memberikannya pada Raden Jatiya Dewa. Memiliki, itu artinya tidak bisa diminta kembali bukan?. Apakah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana siap kehilangan dua benda pusaka nya sekaligus?. Mungkin sang Prabu memiliki benda pusaka lainnya untuk menjadi simbol kekuatan yang ia miliki. Ya, anggap saja seperti itu.


"Terima kasih atas kebaikan gusti prabu. Hamba tidak akan pernah melupakannya." Dengan perasaan yang tidak sabar Raden Jatiya Dewa mengambil keris itu dari tangan sang prabu. Namun apa yang terjadi?. Ia malah meringis kesakitan, seakan tangannya tersengat sesuatu yang sangat menyakitkan. Tentunya membuat mereka semua terkejut.


"Akh." Kedua tangannya berasap?. Dan malah terbakar?. Apa yang terjadi?. Kenapa itu bisa terjadi?.


"Rayi." Raden Antajaya Dewa langsung mendekati adiknya dan melihat tangan adiknya yang seperti terbakar.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apa yang terjadi. Apa yang terjadi nanda prabu?. Apa yang nanda lakukan nak?." Ratu Dewi Anindyaswari khawatir saat melihat tangan Raden Jatiya Dewa.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Ada apa nak?. Kenapa tangannya bisa terbakar?." Ratu Gendhis Cendrawati juga terkejut melihat itu. Ia tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Raden Jatiya Dewa.


"Gusti prabu. Apa artinya ini?. Kenapa tangan adik hamba seperti ini?. Apakah gusti prabu-."


"Maaf saja raden. Saya tidak mengatakan jika keris pusaka kembar keris naga penyegel sukma ini akan saya berikan begitu saja. Namun sepertinya raden jatiya dewa tidak mendengarkan penjelasan dari saya. Dengan terburu-buru ia malah menyentuh keris ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kembali duduk ke singgasana.


"Apa yang terjadi sebenarnya rayi prabu?. Tadi saya melihat ada hawa sukma naga petir dan sukma naga api yang hampir saja menerkam tangannya." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara terkejut melihat itu. "Tadi saya melihatnya dengan jelas. Apakah itu benar-benar diisi tiga sukma naga?. Katakan pada saya jika apa yang saya lihat itu tidak salah rayi prabu." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara berusaha menahan tubuhnya agar tidak menggigil takut melihat ada benda pusaka yang diisi oleh tiga sukma naga sekaligus.


"Yunda ratu benar. Tadi itu memang hawa sukma naga yang hampir saja mencengkram tangannya." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Sedangkan mereka semua semakin terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Jika yunda ratu bisa melihat hawa sukma naga tadi, itu artinya yunda bisa menyentuh keris ini. Itupun jika mereka tidak menolak yunda." Lanjutnya.


"Mohon ampun gusti prabu. Lalu bagaimana dengan tangan adik hamba yang terluka seperti ini?." Raden Antajaya Dewa masih tidak terima jika adiknya terluka setelah menyentuh Keris Pusaka Kembar itu?. "Apa yang bisa gusti prabu jelaskan tentang ini?. Hamba mohon penjelasan dari gusti prabu." Raden Antajaya Dewa masih belum terima?.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya. "Keris ini saya dapatkan bukan semata-mata dengan istimewanya. Melainkan karena keris ini adalah peninggalan dari eyang prabu. Raja pendiri dari kerajaan suka damai. Bahuwirya jayantaka byakta. Jadi raden jatiya dewa tidak semudah itu menyentuh keris ini." Ucapan sang Prabu membuat mereka semua terkejut. Pantas saja keris itu melawan, karena orang lain yang menyentuhnya.


"Tapi bukankah keris itu kau ambil ketika sebelum kita menyerang kerajaan kegelapan kala itu rayi prabu?. Kau sendiri yang mengambil ke gunung menahan bumi kalau tidak salah." Putri Andhini Andita masih ingat dengan jelas kejadian waktu itu.

__ADS_1


"Itu benar. Bukankah kau yang mengambil keris itu dan menggunakannya untuk menyegel raja kegelapan waktu itu." Putri Agniasari Ariani juga ingat dengan kejadian itu.


"Tapi, jika memang keris itu peninggalan dari eyang prabu. Kenapa keris itu bisa berada di gunung menahan bumi rayi prabu?." Raden Hadyan Hastanta merasa aneh dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Benar sekali nak. Bagaimana mungkin keris pusaka kembar itu sampai di sana?. Coba ceritakan pada kami nak." Ratu Dewi Anindyaswari ingin mendengarkan penjelasan dari anaknya.


"Memang aneh. Kenapa benda pusaka ini bisa berada jauh sampai ke gunung menahan bumi. Tapi saat sebelum kami melakukan penyerangan terhadap raja kegelapan, saya mendapatkan petunjuk dari eyang prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskan pada mereka semua. "Eyang prabu mengatakan, bahwa keris kembar ini adalah, sah miliknya. Eyang prabu mengatakan, jika keris itu berada di gunung menahan bumi. Karena pada saat itu ada roh jahat yang menguasai gunung itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melanjutkan penjelasannya. " Eyang prabu menancapkan keris kembar di sana. Dan kelak nanti, akan dicabut kembali oleh keturunannya. Dan sekarang, keris itu berada di tangan saya. Tentunya raden berdua mengetahui dengan pasti apa artinya bukan?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap ke arah Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa.


"Maafkan atas kelancangan hamba gusti prabu. Hamba yang salah. Tanpa bertanya terlebih dahulu, hamba malah langsung mengambil keris kembar itu dari tangan gusti prabu. Ampuni hamba gusti prabu." Raden Jatiya Dewa memberi hormat pada sang Prabu, dan ia mengakui kesalahannya. Tangannya masih terasa sakit, sehingga sesekali ia merintih sakit.


"Mungkin petunjuk dari semedi raden itu benar. Tapi apakah raden tidak mendengarkan sejarah tentang keris ini?. Jadi raden jangan terlalu terburu nafsu. Kita ini memiliki aturan, apalagi terhadap benda pusaka." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memperlihatkan pada mereka semua, apa isi dari keris kembar itu.


Mereka semua sangat terkejut melihat isi dari keris pusaka keris kembar penyegel sukma itu. Ada tiga sukma naga yang seakan keluar dari dalam tubuh sang Prabu, sehingga auranya sebagai seorang Raja semakin keluar. Kekuatan seorang raja yang tidak bisa ditandingi siapa saja.


"Ada tiga sukma naga yang menghuni keris kembar itu?." Putri Andhini Andita sangat terkejut melihat itu.


"Seperti yang saya lihat tadi. itu memang sukma naga." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara tidak salah dalam melihatnya.


"Subhanallah. Baru kali ini saya melihat ada tiga sukma naga sekaligus berada di dalam tubuh seseorang." Raden yang belum diketahui namanya itu terkejut melihat dan percaya dengan apa yang ia lihat.


"Sangat luar biasa. Hamba mengira hanya dua, karena kembar." Raden Antajaya Dewa juga terpana melihat itu. Ia tidak menyangka jika memang ada tiga sukma naga yang mengisi keris kembar itu. Ia kira Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara hanya bercanda?. Hanya untuk menggertak saja?.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyimpan kembali keris kembar itu ke dalam tubuhnya dengan bantuan tenaga dalamnya. Ia tersenyum kecil menatap ke arah mereka semua.


"Rayi prabu. Apakah sukma naga putih, jangan-jangan itu adalah sukma naga dari jurus cakar naga cakar petir." Putri Andhini Andita hanya ingin memastikan apa yang dilihatnya tadi adalah sukma naga petir?.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "Yunda benar. Sekarang sukma naga dari cakar naga cakar petir memiliki wajah baru. Yaitunya menyatu dengan keris kembar yunda." Jawab Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Meskipun sebelumnya Sukma naga petir menyatu dalam aliran tenaga dalam ku, namun kali ini ia telah bersatu dengan sukma kembar naga api." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menjelaskan kepada mereka semua.


Mereka tidak tahu mau berkata apa tentang kekuatan baru yang dimiliki oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Namun yang pasti, itu adalah kekuatan yang sangat dahsyat.


"Tapi untuk apa kekuatan sebesar itu nak?. Kenapa nanda mempelajari jurus itu?. Dan untuk apa nanda mempelajari jurus itu?." Perasaan Ratu Dewi Anindyaswari merasa tidak nyaman sama sekali. "Ibunda takut, jika jurus itu akan membahayakan nanda prabu, sama ketika nanda prabu mendapatkan jurus cakar naga cakar petir." Itu adalah ungkapan perasaan cemas seorang ibu kepada anaknya.


"Tidak apa-apa ibunda. Semuanya akan baik-baik saja. Nanda mempelajari jurus itu demi kebaikan. Ibunda tidak perlu khawatir." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengerti bagaimana perasaan ibundanya.


Namun, disisi lain Raden Jatiya Dewa masih penasaran bagaimana nasib mereka jika tidak bisa memiliki keris pusaka kembar itu. "Mohon ampun gusti prabu. Lalu bagaimana caranya kami menyelesaikan masalah di negeri kami, jika kami tidak bisa memiliki keris kembar itu gusti prabu." Raden Jatiya Dewa ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Jika gusti prabu berkenan, kami meminta bantuan dari gusti prabu." Raden Antajaya Dewa meminta bantuan pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.

__ADS_1


"Baiklah. Besok pagi saya akan ikut dengan kalian berdua menuju kerajaan buana dewa. Semoga saya dapat membantu menyelesaikan masalah di sana." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Terima kasih atas kebaikan gusti prabu mau membantu kami." Raden Antajaya Dewa memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Maaf, jika hamba telah berbuat lancang pada gusti prabu." Raden Jatiya Dewa juga memberi hormat pada sang Prabu.


"Itu hanyalah masalah yang terjadi karena kesalahpahaman saja raden. Jadi saya masih memakluminya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya tersenyum kecil saja.


"Terima kasih sekali lagi gusti prabu." Keduanya sangat menyesali apa yang telah terjadi. Mungkinkah mereka akan belajar lebih bersikap sopan, atau lebih menghormati seseorang setelah ini?. Namun saat itu, terdengar suara azan, pertanda sholat isya akan segera dilaksanakan. Mereka semua bersyukur, dan sangat senang mendengarkan suara adzan yang sangat merdu.


"Maaf, kami harus segera melaksanakan sholat isya berjamaah. Mohon raden berdua menunggu di wisma tamu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana turun dari singgasananya. "Saya akan menyuruh tabib istana untuk menyembuhkan luka di tangan raden." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menepuk pelan pundak Raden Jatiya Dewa.


"Sandika gusti prabu." Keduanya memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Ibunda, yunda, raka, raden. Mari kita melaksanakan sholat isya berjamaah. Syekh guru telah mengumandangkan azan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengajak keluarganya untuk segera melaksanakan sholat isya berjamaah.


"Mari nak." Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati menyambut baik ajakan anaknya.


"Maaf rayi prabu. Kami juga mau ikut melaksanakan sholat isya berjamaah." Tanpa diduga Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara juga ingin melaksanakan sholat isya berjamaah bersama Raden yang ikut bersamanya.


"Mari yunda ratu. Alhamdulillah hirabbli'alamin. Nanti ceritakan pada kami yunda ratu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana senang mendengarnya.


"Mari rayi prabu."


Mereka semua meninggalkan ruang utama istana. Mereka semua akan melaksanakan sholat isya berjamaah. Namun saat mereka semua pergi, hanya putri Andhini Andita yang masih tinggal.


"Heh!. Tenyata kau memang orang yang sombong jatiya dewa." Putri Andhini Andita mendekatinya, melihat tangan Raden Jatiya Dewa yang melepuh. "Kau pikir keris kembar itu keris biasa yang mudah kau sentuh begitu saja?." Ia mencoba membersihkan darah yang meleleh dari telapak tangan Raden Jatiya Dewa dengan kain kecil.


"Kegh." Raden Jatiya Dewa meringis kecil, karena sentuhan itu sedikit menyakitkan tangannya.


"Keris kembar itu adalah milik seorang raja. Benda pusaka yang diisi oleh kekuatan yang berbeda dengan pedang pendekar biasa. Bukan golok rampok yang bisa digunakan siapa saja. Dan lihatlah betapa cerobohnya dirimu raden." Putri Andhini Andita menyeringai lebar menatap Raden Jatiya Dewa yang hanya diam saja. "Kau harus belajar lebih memahami kondisi raden. Jangan kau turuti sikap buru-buru mu itu. Atau kau akan celaka karena sikapmu itu." Putri Andhini Andita selesai membersihkan darah yang meleleh di kedua tangan Raden Jatiya Dewa. "Kali ini kau sangat beruntung, karena keris yang berada di tangan rayi prabu tadi tidak mengigit tanganmu sampai putus. Karena kau bersikap kurang ajar. Meskipun hanya benda pusaka, kau harus menghormati dengan baik. Tadi rayi prabu telah mengendalikan keris itu. Artinya nyawamu masih selamat." Putri Andhini Andita tersenyum kecil, setelah itu ia pergi meninggalkan mereka berdua.


"Dia itu sebenarnya baik atau apa sih?. Sangat galak sekali." Rasanya sangat miris sekali hidupnya hari ini. Ia hanya menatap telapak tangannya yang tadinya berdarah, sekarang telah kering.


"Aku tidak mengerti sama sekali rayi. Tapi apa yang dikatakan tuan putri itu benar. Kau harus merubah sikap ceroboh mu. Kau masih hidup, karena gusti prabu masih berbaik hati padamu. Aku tadi juga melihat gusti prabu segera menarik keris itu dari tanganmu." Raden Antajaya Dewa juga memperhatikan itu tadi dengan matanya. Ia juga tadi takut melihat adiknya yang meringis kesakitan setelah menyentuh keris kembar yang berada di tangan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


...***...

__ADS_1


__ADS_2