RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
SIKAP SERAKAH DAN MENCINTAI SESUATU


__ADS_3

...***...


Jaya Satria masih berada di Istana Kerajaan Buana Dewa. Karena besok akan melihat ke lokasi sumber Mata Air Dewa yang katanya tempat roh jahat itu bersemayam di sana. Setelah melaksanakan sholat Magrib dan Berbuka puasa, Jaya Satria yang tak lain adalah Raden Cakara Casugraha sedang beristirahat di bilik tamu kerajaan Buana Dewa. Akan tetapi Raden Jatiya Dewa masuk ke kamarnya. Begitu banyak yang ingin ia tanyakan pada Raden Cakara Casugraha.


"Maaf, apakah hamba boleh masuk gusti prabu."


"Boleh. Masuk saja raden."


"Maaf, jika hamba mengganggu istirahat gusti prabu." Ia melangkah masuk, dan ia duduk di depan Raden Jaya Satria yang kini tidak menggunakan topeng penutup wajah.


"Apa yang membuat raden datang ke bilik saya?. Apakah ada hal penting yang ingin raden sampaikan?."


"Hamba hanya ingin menyampaikan, dalam semedi yang hamba lakukan sebelumnya. Ada seorang kakek-kakek yang datang kepada hamba. beliau mengatakan, jika ia dulu manusia. Namun karena haus akan kekuatan, sehingga lama-kelamaan ia menjadi iblis." Raden Jatiya Dewa mengingat semedinya waktu itu. "Bagaimana menurut raden, tentang orang yang serakah seperti itu?."


Raden Cakara Casugraha tersenyum kecil. Rasanya ia merasa menjadi orang penting sekarang. Jika ia dimintai pendapat oleh seseorang dengan sebutan gusti prabu yang melekat padanya sekarang. Karena selama ini ia hanya bersembunyi di balik topeng, dan menggunakan nama Jaya Satria. "Maaf raden. Bukan maksud saya menggurui raden. Tentunya raden memiliki pendapat sendiri tentang sifat serakah yang dimiliki oleh seseorang. Bahkan diri sendiri, juga memiliki sifat serakah."


"Ya, gusti prabu benar. Bahkan hamba hampir saja celaka, karena ingin memiliki keris kembar itu."


"Semuanya tergantung pada diri kita masing-masing raden. Sesungguhnya sifat tamak atau serakah itu sangat tidak baik raden." Raden Cakara Casugraha menjelaskan pada Raden Jatiya Dewa. "Sifat serakah itu, bukan hanya harta saja. Melainkan terhadap kekuasaan, atau bahkan kekuatan. Rasa tidak puas, iri hati melihat orang lain memiliki kelebihan. Dan akhirnya ia akan terjerumus kedalam kesengsaraan. Kita semu bisa mengambil pelajaran berharga dari apa yang telah terjadi."


"Sungguh sangat menyeramkan sekali. Semoga saja hamba terhindar dari sikap serakah seperti itu gusti prabu."


"Aamiin. Semoga saja raden. Namun yang terpenting adalah menjaga hati, hawa nafsu yang menginginkan hal yang berlebihan." Raden Cakara Casugraha tersenyum kecil, mengingat apa saja yang telah ia lewati selama ini.


"Maaf gusti prabu. Jika hamba lancang, kenapa yunda raden begitu galak. Saya sedikit takut padanya gusti prabu."


Raden Cakara Casugraha terkekeh kecil, ia tidak menduganya. "Yunda andhini andita memang seperti itu dari dulu. Jika ia tidak suka pada sesuatu, dan ia merasa benar. Maka ia akan terlihat galak. Tapi pada dasarnya yunda andhini andita sangat baik pada siapapun."


"Jadi begitu ya. Unik juga ternyata sifat yang dimiliki oleh tuan putri andhini andita."


"Apakah raden menyukainya?."


"Ah. Ti-tidak seperti itu gusti prabu." Tiba-tiba saja Raden Jatiya Dewa mendadak gagap karena gugup. Ia tidak mengetahuinya dengan pasti, apakah ia menyukai Putri Andhini Andita atau tidak.


"Baiklah kalau seperti itu. Tapi saya harap raden berhati-hati, karena yunda saya itu tidak mudah didekati."


Raden Jatiya Dewa kembali terlihat gugup, karena ia mendapatkan restu dari Raden Cakara Casugraha?. Bisa jadi seperti itu.


...***...


Istana Kerajaan Suka Damai.


Setelah melaksanakan sholat tarwih dan witir berjamaah. Putri Andhini Andita berjalan menuju taman istana seperti biasanya. Namun saat itu, matanya menangkap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Senyumannya mengembang di wajahnya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku melupakan perasaan ini rayi. Meskipun kau hanyalah raga keduamu saat ini bersamaku." Ia mendekati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang menatap langit malam.


"Perasaan cinta selalu datang pada siapa saja yunda. Dan perasaan ingin memiliki itu ada, bahkan sekilas bertemu pun. Jika memiliki perasaan suka, aku yakin saat itu cinta mulai tumbuh yunda."


"Rasanya hidup ini sangat aneh sekali ya rayi." Putri Andhini Andita menatap langit malam dengan senyuman manis. "Kenapa ada perasaan cinta, jika akhirnya tidak bisa memiliki orang yang kita cintai." Rasanya sangat sakit sekali dirinya.


"Yunda jangan bersedih. Karena cinta tidak harus memiliki. Cinta ada karena ungkapan perasaan yang berbeda dengan seseorang yang membuat hati kita bahagia. Cinta akan datang dengan sendirinya, seiring waktu berjalan."


"Mudah untuk mengatakannya, tapi sulit untuk aku lakukan rayi."


"Apa bedanya yunda. Ketika yunda mengatakan jika yunda mencintaiku, aku merasa gelisah. Rasanya aku sangat berdosa memberikan peluang cinta itu pada yunda dalam wujud jaya satria."


"Benarkah itu?." Putri Andhini Andita melirik ke arah adiknya. Ia baru mengetahuinya sekarang.


"Seperti yang yunda katakan. Aku seperti menjadi laki-laki yang jahat. Setelah mengulurkan kasih sayang, namun setelah itu malah terkesan memberikan harapan pada yunda. Sungguh maafkan aku yunda."


Entah mengapa, Putri Andhini Andita malah tertawa mendengarnya. Ia sekarang mengerti bagaimana adiknya.


"Kenapa yunda malah tertawa?. Apakah ucapanku tadi ada yang lucu?. Sehingga yunda tertawa?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengernyit heran.


"Kau adalah laki-laki yang hebat cakara casugraha. Maafkan aku membuatmu tidak nyaman atas ungkapan perasaan cintaku padamu selama ini." Senyuman Putri Andhini Andita sangat tulus, sehingga Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dapat merasakannya. Bahkan Raden Cakara Casugraha yang asli juga dapat merasakannya.


"Itu artinya yunda tidak mencintaiku lagi?." Keduanya seakan berkata dalam satu raga.


"Subhanallah. Artinya yunda telah mengikhlaskan semuanya. Semoga saja yunda bertemu dengan seseorang yang tulus mencintaimu yunda."


"Terima kasih doanya rayi. Aku juga akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga saja kau berjodoh dengan nini cahaya mutiara. Aku lebih setuju kau dengannya dari pada dengan cahya candrakanti."


"Jangan berkata seperti itu yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana malah tertawa aneh mendengarkan apa yang diucapkan Putri Andhini Andita. Ada bentuk rasa tidak suka yang ditunjukkan oleh kakaknya itu.


...***...


Keesokan harinya. Kembali ke kerajaan Buana Dewa. Raden Cakara Casugraha yang kini menggunakan topeng pergi bersama Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa ke desa sumber mata air Dewa yang diyakini sebagai tempat roh jahat itu bersarang sebelumnya. Mereka ingin memastikan, jika sumber mata Air Dewa telah aman dari gangguan pengaruh jahat atau tidak.


"Gusti prabu. Inilah sumber mata air dewa itu. Tempat yang selama ini ditakuti oleh rakyat kerajaan buana dewa yang berada di desa sumber mata air dewa."


Jaya Satria mengamati sebuah tempat yang merupakan sumber mata air yang lumayan besar. Mirip seperti Sendang, namun air di sana selalu mengalir ke segala arah. Matanya memang menangkap hawa hitam yang menyelimuti tempat ini.


"Tempat ini benar-benar ternodai oleh keinginan-keinginan manusia yang telah melakukan sesajen di tempat ini. Sehingga mengundang makhluk halus untuk masuk ke dalam sumber mata air dewa." Matanya menatap sebuah pohon besar yang tidak jauh dari sana. "Apakah tempat ini pernah dijadikan tempat sesajen, atau persembahan sebelumnya?."


Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa saling bertatapan satu sama lain. Karena memang benar apa yang dikatakan oleh Jaya Satria.


"Memang begitulah yang terjadi gusti prabu. Selain itu, ayahanda prabu dan warga desa selalu melakukan sesajen sekali sebulan untuk melakukan persembahan. Meminta permohonan pada sumber mata air dewa."

__ADS_1


"Para petani ketika akan panen melakukan sesajen, meminta permohonan supaya hasil panen mereka melimpah. Dan dari dulu kami telah melakukan itu."


"Nauzubillah minzalik." Jaya Satria tidak menyangka akan mendengarkan pengakuan seperti itu dari kedua pangeran Kerajaan Buana Dewa.


"Memangnya kenapa gusti prabu?. Apakah ada sesuatu yang sangat aneh dengan itu?."


"Benar gusti prabu. Apakah ada yang salah dengan itu?."


Jaya Satria menghela nafasnya dengan pelan. "Maaf raden. Dalam pandangan agama islam. Melakukan sesajen itu adalah perbuatan yang salah. Apalagi meminta pada pohon, atau sumber mata yang yang jelas-jelas adalah ciptaan Allah SWT." Jawab Jaya Satria. Sepertinya ia harus berhati-hati saat mengatakan pada keduanya, supaya tidak menyinggung perasaan.


"Kenapa kita tidak melakukannya gusti prabu?. Tentunya ada alasannya bukan?."


"Katakan pada kami, supaya kami mengerti gusti prabu."


Jaya Satria melihat keseriusan yang terpancar di raut wajah keduanya saat ini.


"Baiklah kalau begitu. Sebelum masuk waktu Zuhur, mari kita berjalan-jalan sedikit melewati alam sukma."


"Memasuki alam sukma?." Keduanya sangat terkejut dengan ucapan Jaya Satria. Sehingga keduanya mengulang ucapan Jaya Satria.


"Akan saya perlihatkan pada raden berdua, mengapa tempat ini menjadi sarang iblis. Dan kenapa pemuda itu bisa menjadi iblis."


"Bagaimana raka?." Raden Jatiya Dewa melihat ke arah kakaknya.


"Baiklah. Kami ingin mengetahuinya." Raden Antajaya Dewa setuju. Karena perasaan penasaran yang menyelimuti hatinya.


"Baiklah. Kalau begitu mari kita semedi di sana. Semoga saja kita bertemu dengan kakek yang raden ceritakan itu."


"Mari gusti prabu."


Kebetulan mereka melihat ada batu besar memanjang di sana. Mereka duduk bersila di atasnya, melakukan semedi di sana. Ingin melihat apa yang terjadi di tempat ini.


Tak lama kemudian mereka memasuki alam sukma. Alam yang memperlihatkan kejadian masa lalu. Dan kejadian itu tak jauh dari tempat mereka semedi tadi.


"Sampurasun." Jaya Satria memberi hormat pada seorang kakek tua yang kini berdiri dihadapannya.


"Sampurasun." Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa juga melakukan hal yang sama.


"Rampes." Jawab kakek tua itu. Ia melihat salah satu pemuda yang tidak asing baginya.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya. Semangat dalam menjalankan ibadah puasa ya pembaca tercinta.


...***...

__ADS_1


__ADS_2