
...***...
Dua hari kemudian.
Ratu Gendhis Cendrawati telah sampai di Istana kerajaan Suka Damai, ia disambut oleh kedua anaknya. Ia sangat senang melihat kedua anaknya baik-baik saja.
"Ibunda sangat mengkhawatirkan keadaan kalian. Ibunda takut, nanda prabu melakukan sesuatu yang buruk pada kalian." Rasa cemas telah menyelimuti dirinya.
"Ibunda jangan berkata seperti itu." Putri Andhini Andita tidak menyangka, ibundanya masih berpikiran buruk pada adiknya.
"Ibunda." Raden Hadyan Hastanta menggenggam erat tangan ibundanya.
Saat ini mereka berada di bilik ibundanya. Setelah ibundanya sampai mereka langsung menuju bilik ibundanya.
"Kita tidak boleh berpikir seperti itu lagi ibunda. Rayi prabu adalah orang yang baik." Ucapnya dengan pelan, agar ibundanya dapat mendengarkan apa yang akan ia katakan pada ibundanya.
"Apa maksudmu putraku, jelas-jelas dia yang membuat yunda ardiningrum bintari berontak. Karena tidak rela jika ayahandanya diperlukan hina seperti itu." Ratu Gendhis Cendrawati mungkin akan melakukan hal yang sama pada saat itu?.
"Tidak seperti itu ibunda." Kali ini putri Andhini Andita yang berbicara. "jelas-jelas kakek prabu, yang ingin mengambil tahta kerajaan ini. Karena ia merasa, bahwa kerajaan ini adalah milik menantunya. Dan ia merasa berhak untuk memiliki kerajaan ini." Ia mencoba menjelaskan pada ibundanya. "Kami juga telah mendengarkan, penjelasan dari para sepuh. Bagaimana pemilihan raja di kerajaan ini. Raka juga mendengarkannya waktu itu." Lanjutnya.
"Benar ibunda. Para sepuh istana, telah menjelaskan kepada kami semuanya." Raden Hadyan Hastanta juga mendengarkan dan menyaksikan apa yang mereka ucapkan waktu itu.
"Rayi prabu sangat baik kepada kami ibunda. Bahkan rayi prabu yang mengobati ananda putri, ketika ananda putri terluka waktu perang terjadi." Putri Andhini Andita juga menjelaskan bagaimana ia ketika itu.
"Oh putriku." Ratu Gendhis Cendrawati memeluk putrinya dengan eratnya. Ia tidak bisa membayangkan, jika anak perempuannya ini tidak bisa diselamatkan waktu itu.
"Tidak ada alasan lagi bagi kita, untuk membenci rayi prabu ibunda." Raden Hadyan Hastanta tersenyum kecil pada ibundanya.
"Oh dewata yang agung. Apa yang harus hamba lakukan." Dalam hatinya mulai bimbang setelah mendengarkan penjelasan dari anak-anaknya.
"Apakah aku akan berbaikan dengan rayi dewi anindyaswari?." Disisi lain hatinya menolak menerima itu. Rasanya akan sangat aneh, jika ia berbaikan dengan Ratu Dewi Anindyaswari. Orang yang selama ini ia benci di dalam hidupnya setelah menjalani kehidupan pernikahannya.
...***...
Disisi lain
Jaya Satria saat ini berada di desa terdekat istana. Ia telah memutuskan untuk melakukan hal yang seharusnya ia lakukan sebelumnya.
Ia tidak akan sanggup berdekatan dengan prabu Asmalaraya Arya Ardhana jika di sana ada ratu Dewi Anindyaswari.
"Ya Allah. Kuatkan hati hamba." Ia selalu menahan perasaan yang membuat hatinya goyah.
...***...
kembali pada saat itu.
Sesuai janji, Ratu Dewi Anindyaswari akan membacakan kalimat syahadat, sebagai salah satu bahwa ia telah masuk islam.
Acara itu dilakukan mushola kecil yang baru didirikan di Kerajaan. Meskipun saksinya hanya kedua anaknya, dan dibimbing oleh syekh Asmawan Mulia. Ratu Dewi Anindyaswari merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
"Gusti ratu dewi anindyaswari. Apakah gusti ratu sudah siap lahir dan batin, akan menjalankan syariat agama islam yang telah ditentukan. Dan meninggalkan kebiasaan yang dianut agama sebelumnya?." Dengan suara yang tegas Syekh Asmawan Mulia bertanya.
"Saya sudah siap syekh." Balasnya.
"Di dalam setiap langkah. Gusti ratu hanya mengingat satu Tuhan. Yaitunya Allah SWT. Tidak ada Tuhan lainnya yang patut disembah, kecuali Allah SWT. Apakah gusti ratu sudah siap mengamalkannya." Ia bertanya lagi, ia tidak mau ada keraguan setelah itu.
"Siap syekh." Ia sudah meyakinkan dirinya untuk masuk ke dalam agama islam.
"Baiklah kalau begitu." Syekh Asmawan Mulia tidak bertanya lagi. "Gusti putri agniasari ariani. Mohon salaman dengan gusti ratu, untuk membimbing membacakan kalimat syahadat." Lanjutnya, ia meminta tolong putri Agniasari Ariani karena mukhrimnya.
"Baiklah syekh." Ia mengangguk mengerti. Dulu ia melakukan hal yang sama ketika mengucapkan kalimat syahadat. "ibunda. Ikuti apa yang ananda putri ucapkan." Ia mengulurkan tangan ibundanya, seperti orang salaman.
"Baiklah putriku." Ia senang jika anaknya yang ikut membimbing dirinya.
"Nanda prabu dan nanda jaya satria juga menjadi saksinya." Syekh Asmawan Mulia melihat k arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya satria.
"Tentu saja syekh. Kami dengan senang hati akan menjadi saksinya." Kebahagiaannya akan lengkap jika ibundanya juga masuk agama islam. Itu artinya keluarganya telah beragama islam.
"Ibunda. Kita mulai saja." Putri Agniasari Ariani tersenyum kecil.
"Asshadualla ilahaillaAllah." Acapnya dengan suara yang sangat jelas, namun agak pelan agar bisa diikuti oleh ibundanya.
__ADS_1
"Asshadualla ilahaillaAllah." Ratu Dewi Anindyaswari megikuti dengan baik dan benar.
"Waasshaduanna muhammadarrasulullah." Putri Agniasari ariani melanjutkan kalimat syahadatnya.
"Waasshadunanna muhammadarrasulullah." Ia mengulangi apa yang dibacakan oleh putrinya. Bacaannya begitu tepat, dan jelas.
"Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah yang patut di sembah." Kali ini dalam ucapan bahasa indonesianya.
"Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah yang patut disembah." Ulangnya.
"Dan aku bersaksi bawa Nabi Muhammad adalah utusan Allah." Lanjutnya.
"Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah." Ulangnya lagi.
"Alhamdulillah hirobbil 'alamin ya Allah." Mereka semua bersyukur atas nikmat berkah tersebut. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca doa kebahagiaan yang mereka rasakan.
"Alhamdulillah. Dengan begitu ibunda telah sah, menjadi seorang muslim." putri Agniasari Ariani memeluk ibundanya.
"Alhamdulillah nak. Ibunda sudah masuk islam sama sepertimu." Ia juga bersyukur karena telah menjadi orang yang lebih baik.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
"Terima kasih, karena nanda prabu menepati janji. Ibunda sangat bahagia sekali nak." Pelukan kasih sayang untuk anaknya karena telah menjadi saksinya.
"Tentu saja ibunda. Janji adalah hutang, dan hutang harus dibayar. Demi ibunda nanda akan melakukannya, dengan segenap jiwa dan raga nanda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tentunya tidak mau mengecewakan ibundanya.
"Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk anaknya. Ia sangat bahagia mendengarkan apa yang dikatakan anaknya. Ia cium anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Jaya satria. Kemari lah nak. Ibunda juga senang, nanda menjadi saksi ibunda." Ratu Dewi Anindyaswari juga memanggil Jaya Satria, yang dari tadi hanya diam sambil memperhatikan mereka.
"Jamba sangat senang gusti ratu." Agak berat ia mendekati sang Ratu. Namum siapa sangka, Ratu Dewi Anindyaswari malah mendekatinya dan memeluknya.
"Ya Allah." Hati Jaya Satria merasa bergetar mendapatkan pelukan itu. Ia tidak tahu harus berekspresi seperti apa, karena ia sendiri tidak membayangkan akan dipeluk begitu eratnya.
"Jaya satria." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang melihat itu. Ia merasakan perasaan senang dan gelisah bersamaan. Mungkin Jaya Satria saat ini sedang gugup. Karena itulah ia merasakan semuanya dari Jaya Satria.
"Nanda jaya satria." Syekh Asmawan mulia juga melihat itu. Kasih sayang seorang ibu pada anaknya.
Namun yang pastinya adalah, Ratu Dewi Anindyaswari telah menyatakan dirinya sebagai seorang muslim, setelah mengucapkan kalimat syahadat.
Apa yang akan terjadi berikutnya?. Baca terus ceritanya.
...***...
Kembali ke masa ini
Jaya Satria sayup-sayup mendengar suara beberapa orang yang sedang berteriak minta tolong. Dan ia segera menghampiri sumber suara itu. Saat itu ia melihat ada beberapa orang prajurit Istana, yang sedang menganiaya beberapa penduduk desa.
"Hentikan!." Ia sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh para prajurit yang memaksa mengambil harta benda penduduk.
"Apa yang kalian lakukan?. Sungguh tidak memiliki hati nurani!." Jaya satria sangat marah dan tidak suka dengan itu.
"Siapa kau kisanak?. Berani sekali kau ikut campur!." Salah satu prajurit itu malah berbalik marah pada Jaya satria.
"Sepertinya mereka bukan prajurit istana. Karena mereka tidak mengenali diriku." Dalam hatinya merasa aneh, merasa curiga dengan mereka.
"Untuk apa kalian melakukan itu?." Jaya Satria tidak tega melihat penduduk yang menangis. Dan menjerit kesakitan karena dianiaya oleh mereka.
"Kisanak harus mengetahui, bahwa kami ini adalah prajurit istana!. Dan ini adalah perintah langsung dari prabu asmalaraya arya ardhana!. Kau akan dihukum mati, jika kau berani mengganggu tugas kami!." Prajurit itu dengan suara yang keras membentak jaya satria.
DUAKH
prajurit yang membentak Jaya Satria tadi terkena pukulan keras dari jaya satria. Ia mendekati prajurit yang terjerembab itu. Ia merendahkan dirinya, menunjal kepala prajurit itu dengan kesalnya. Sedangkan beberapa prajurit lainnya juga terkejut melihat aksi mendadak itu, hingga mereka tak sempat untuk membantu temannya itu.
"Berani sekali kau berbuat kejam pada rakyat suka damai, dengan meng-atas namakan junjunganku gusti prabu asmalaraya arya ardhana!." Aura kemarahan itu lagi-lagi keluar dengan sendirinya.
"Apakah kepalamu, dan mulutmu sudah bosan untuk berpikir dan berbicara?!. Hingga kau lancang mengatakan, apa yang kalian lakukan adalah perintah dari gusti prabu?." Lanjutnya lagi.
"Aku adalah kepala prajurit istana!. Dan aku sudah memastikan, bahwa kalian bukanlah prajurit istana!. Karena kalian sama sekali tidak mengenaliku!." Ucapannya membuat prajurit itu terkejut.
"Kurang ajar." Prajurit itu hendak melepaskan pukulannya. Namun Jaya Satria bisa mengatasi serangan itu.
__ADS_1
Jaya satria yang sedang dikuasai oleh amarah langsung menghajar prajurit itu. Tentunya teman-temannya tidak tinggal diam melihat itu, mereka ikut menyerang jaya satria.
"Berani sekali kalian memungut pajak!. Menyiksa rakyat yang tidak berdosa!." Jaya Satria siap siaga. "Kalian harus membayar, atas apa yang kalian lakukan!." Jaya Satria menyerang mereka semua, dan pertarungan mereka tidak bisa dihindari. Sedangkan para penduduk hanya melihat apa yang terjadi, dan berharap orang yang menolong mereka baik-baik saja.
Beberapa pukulan dan hantaman, dan jurus yang mereka keluarkan namun mereka tidak bisa menghadapi jaya satria sehingga mereka semua melarikan diri.
"Kalau kalian berani berbuat seperti itu lagi, akan aku hajar kalian semua!." Jaya Satria benar-benar kesal. Ternyata yang ia hadapi hanyalah sekumpulan orang pengecut. Jaya Satria menghampiri para penduduk, ia merasa kasihan melihat mereka.
"terima kasih kisanak." Ucap mereka dengan pelan, karena mereka menahan sakit.
"Mereka bukanlah prajurit istana. Mereka hanyalah sekawanan perampok. Hanyalah sekumpulan orang-orang yang ingin menjatuhkan nama baik gusti prabu. Maafkan atas kejadian yang kurang menyenangkan ini." Jaya Satria hanya tidak ingin mereka slah faham, dan berpikiran bahwa prabu asmalaraya arya ardhana telah berbuat zalim pada mereka, hanya karena masalah pemungutan pajak.
"Saya adalah bawahan langsung dari gusti prabu asmalaraya arya ardhana. Saya memastikan sendiri, bahwa sang prabu tidak mungkin meminta rakyatnya membyar pajak dengan cara yang kasar." Lanjutnya lagi.
"Ya, memang mustahil prabu asmalaraya arya ardhana melakukan hal keji seperti itu." Sepertinya mereka mengerti apa yang dikatakan oleh jaya satria.
Mereka memang meragukan akan sikap sang Prabu. Tidak mungkin Raja mereka meminta pajak dengan cara kasar seperti itu pada mereka semua. Rasanya memang mustahil dilakukan oleh Sang Prabu. Beruntung Jaya Satria berhasil menjelaskan kepada mereka dengan baik. Sehingga kondisi kembali aman, dan ia bisa melaporkan masalah ini dengan baik pula pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Sepertinya kalian terluka. Kalian semua mendekatlah satu persatu. Aku akan mencoba mengobati kalian." Ucapnya menyuruh mereka untuk mendekatinya satu-satu, ia akan mengobati mereka yang terluka.
"Terima kasih kisanak. Kisanak sangat baik sekali." Mereka sangat senang karena dibantu oleh jaya satria. Mereka satu persatu diobati oleh Jaya Satria, hingga terakhir ia mengobati seorang kakek tua.
"Kau adalah pemuda yang baik. Meskipun hanyalah wujud amarah." kakek tua itu tersenyum kecil.
"Apa maksudmu kek?." Jaya Satria sungguh tidak mengerti sama sekali.
"Kau melindungi mereka dibalik topeng itu. Menutupi amarahmu menjadi kebaikan. Kau memang pemimpin yang baik nak." Kakek itu semakin tersenyum ramahm
Jaya satria hanya terdiam. Ia tidak bisa membalas ucapan itu. Ia hanya bertanya dalam hatinya. "Siapa kakek ini sebenarnya?." Ia merasa heran dengan kakek tua itu.
"Meskipun kau sekarang hanyalah wujud kemarahan. Tetaplah tunduk pada tuhan yang kau percayai. Dan tetap menghadapkan wajahmu ke arah barat." Tangannya menunjuk ke arah barat, dan jaya satria malah mengikuti kemana arah kakek itu menunjuk.
"Dan kau harus waspada. Karena apa yang terjadi tadi adalah, salah satu dari rencana yang akan membawa bencana ke negeri yang kau pimpin." kakek tua itu memberikan nasehat pada jaya satria.
"Apa yang kakek maksud?." Jaya Satria sungguh tidak mengerti. Ia melihat ke arah kakek itu namun matanya tidak lagi melihat keberadaannya.
"Astagfirullah hala'zim ya. Kemana kakek itu?.'' ia sangat terkejut, matanya tidak melihat sosok kakek tua itu.
"Siapa kakek itu sebenarnya?. Mengapa dia mengetahui rahasia yang aku simpan dari siapapun juga?." Jaya Satria merasa sedikit gentar.
"Bagaimana jika dia orang jahat?." Dalam hatinya merasa khawatir dengan kakek itu. "Ya Allah. Hamba hanya berserah diri padamu. Dan kekuatan yang ada di dalam diri hamba, kemarahan hamba. Tolong jadikan kebaikan yang tidak merugikan siapapun juga." Ia tidak mau rahasia yang ia simpan bersama sang prabu diketahui siapa saja. Bahkan pada pada gusti Ratu Dewi Anindyaswari ibunda rajanya pun rahasia itu tidak boleh dikatakan.
...****...
sementara itu.
Di istana.
''jaya satria. Apakah kau berada di istana?. Jaya satria?." Dari tadi putri andhini andita memanggil Jaya Satria. Namun tidak ada jawabannya. ia sudah mencarinya kemana-mana di lingkungan istana
"Apakah yunda mencari jaya satria?." Kebetulan prabu asmalaraya ardhana berada di sana dan ia melihat kakaknya.
"Maafkan aku rayi prabu. Apakah jaya satria bersamamu?." Putri Andhini Andita ingin bertemu dengan Jaya Satria?.
"Jaya satria tidak ada di lingkungan istana yunda." Jawabnya dengan senyuman ramah.
"Kenapa?." Rasa penasaran menyelimuti dirinya. Hingga ia bertanya pada adiknya itu.
"Jaya satria kembali ketugasannya. Ia yang meminta padaku yunda." Jawabnya lagi.
"Padahal aku ingin berlatih ilmu kanuragan dengannya rayi." Ia terlihat cemberut. Ia tidak menyangka Jaya Satria akan kembali ke tugasnya yang lama?.
"Memangnya ada apa yunda." Rasanya tidak tega juga melihat kakaknya yang mengeluh seperti itu.
"Apakah aku boleh minta izin padamu, rayi prabu." Tatapan mata itu sangat berharap sekali.
"Sebaiknya yunda bertanya langsung padanya. Aku tidak punya hak untuk menyuruhnya untuk berlatih dengan yunda. Dan aku tidak bisa menggunakan kekuasaanku sembarangan padanya." Ia mengerti, hanya saja Jaya Satria yang menentukannya.
''baiklah rayi prabu.'' ia hanya bisa berharap. Karena ia ingin sekali belajar ilmu kanuragan lebih dalam lagi.
Apakah Jaya Satria mau mengajarinya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.
__ADS_1
...***...