
...**...
"Heh! belum bertarung saja tapi kalian sudah kesakitan duluan?." Ratu Gempita Bhadrika melihat bagaimana ekspresi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria yang sedang kesakitan. "Apakah benar kalian yang telah membunuh ayahandaku? Atau kalian yang terlalu lemah sekarang?."
"Diam kau perempuan kegelapan terkutuk!." Hardik Putri Andhini Andita dengan penuh amarah. "Berani sekali kau merendahkan rayiku!." Ia sangat tidak terima jika ada yang berani menghina adiknya.
"Heh! Ternyata kalian tidak sehebat yang terlihat." Renjana Kala, itulah nama pemuda itu. "Awalnya aku sangat waspada, tapi sepertinya tidak perlu." Ia memandang remeh pada Prabu Asmalaraya Ardhana dan Jaya Satria tanpa mengetahui apa penyebab dari kesakitan yang dirasakan oleh keduanya.
"Diam kau! Jangan sampai aku gunakan kekuatanku untuk membungkam mulutmu itu!."
"Sebaiknya kalian pergi dari sini sebelum aku murka!."
"Raka, yunda, jangan sampai terbawa amarah, justru itu sangat berbahaya."
"Apa maksudmu rayi Prabu?."
"Kegelapan ini bukan hanya karena malam saja, tapi mereka menyerap kegelapan dari kemarahan kita yunda, semakin kita marah? Hawa sekitar akan semakin gelap."
"Tenanglah Gusti Putri, mereka hanya memancing amarah kita saja, itu akan berbahaya bagi tenaga dalam kita nantinya."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sepertinya melihat itu dengan sangat jelas.
"Ilmu serap jiwa kegelapan kematian, kau menggunakan jurus itu untuk membunuh tanpa harus menyentuh kami semua."
"Ternyata kau memang memiliki persiapan yang sangat matang untuk menyerang kami."
Deg!.
Mereka semua terkejut dengan apa yang dijelaskan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
"Ho? Rasanya aku jadi tidak bersemangat lagi untuk bertarung jika musuhku mengetahui jurusku."
"Jangan berkata seperti itu Gusti Ratu, kita telah jauh-jauh datang ke sini untuk membunuh mereka? Tidak mungkin kita kembali dengan santai saja."
"Kurang ajar! Ternyata mereka sengaja memancing aku dengan jurus murahan seperti itu?." Putri Andhini Andita sangat marah. "Jangan remehkan aku penjahat rendahan! Kalian pikir bisa membunuh aku dengan jurus lemah seperti itu?." Ia mengeluarkan pedang panggilan jiwa untuk menyerang Ratu Gempita Bhadrika.
"Rayi!." Raden Hastanta ikut menyerang karena khawatir dengan kondisi adiknya.
Sementara itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih tinggal bersama Jaya Satria.
"Sepertinya kalian berdua tampak kesakitan?." Matanya menangkap dengan sangat jelas bagaimana kondisi musuhnya. "Aku tidak percaya jika sakit yang kalian rasakan hanya karena jurus hawa serap jiwa kegelapan yang dilepaskan oleh Gusti Ratu gempita bhadrika." Renjana Kala ingin mengetahui apa penyebab dari rasa sakit yang dialami oleh kedua orang itu. "Aku sangat yakin jika kalian memiliki alasan yang sangat khusus dalam masalah ini."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sama-sama mengatur hawa murni mereka, sambil menekan hawa pedang pelebur sukma agar tidak keluar dari tubuh sang prabu hanya karena kegelapan yang ditunjukkan oleh ratu Gempita Bhadrika tadi.
"Kau tidak perlu mengetahuinya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap tajam. "Tapi satu hal yang harus kau ketahui!." Kali ini sorot matanya terlihat sangat tajam.
"Aku tidak akan membiarkan kau berbuat kejahatan di tanah ini!." Jaya Satria yang melanjutkan ucapan itu. "Kami pasti akan mengusir kalian sebelum fajar menyongsong."
"Heh! Sikap sombongmu itu belum berubah sepertinya." Renjana Kala masih ingat bagaimana ia menyaksikan pertarungan ayahandanya dengan Jaya Satria di sebuah arena pertandingan yang diadakan satu tahun sekali untuk menentukan siapa yang paling terkuat. "Aku tidak takut denganmu, bahkan jika kau dibantu oleh Raja lemah itu."
"Tidak usah banyak bicara! Jika memang kau masih merasa dendam? Kenapa tidak mulai saja? Jika kau ingin mengobrol santai? Ini bukan waktu yang tepat." Jaya Satria seakan-akan terbawa amarah karena berusaha menahan tekanan pedang Pelebur Sukma, begitu juga dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Aku masih ingat bagaimana hawa merah yang menyelimutimu saat itu." Ingatannya kembali pada masa itu. "Kemarahan yang kau lepaskan waktu itu! Kemarahan yang mencelakai semua orang, termasuk diriku! Juga ayahandaku yang ikut serta dalam acara itu." Raut wajahnya berubah menjadi lebih serius. sakit hati yang ia rasakan hingga sekarang, tidak akan pernah ia lupakan begitu saja.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria saling berpandangan. Keduanya mencoba mengingat apa yang telah terjadi pada saat itu, namun keduanya masih belum bisa mengingatnya. Begitu banyak kejadian masa lalu yang telah mereka hadapi, namun bukan berarti melupakannya begitu saja.
"Malang sekali hidupmu, hanya memikirkan bagaimana caranya membalas dendam padaku? Hingga kau tidak menyadari ada hal penting yang seharusnya kau kerjakan! Apalagi kau bekerjasama dengan bangsa jin yang sangat menyesatkan manusia!."
"Diam kau jaya satria! Aku tidak butuh nasihat apapun darimu setelah apa yang kau lakukan dimasa lalu." Renjana Kala sangat marah. Setelah itu ia menyerang Satria tanpa banyak berbicara, tapi untung saja Jaya Satria menyadari serangan itu, dan berhasil menghindarinya.
"Jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat terkejut melihat itu. Apakah ia harus membantu Jaya Satria?. Namun ajian hawa serap jiwa kegelapan yang dikeluarkan oleh Ratu Gempita Bhadrika sangat mempengaruhi sekitarnya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menenangkan dirinya. "Apa yang harus hamba lakukan dalam situasi seperti ini?." Dalam hatinya merasa bimbang. "Jika hamba tidak menghambat pergerakan dari hawa serap jiwa ini? Maka orang-orang sekitar sini akan dalam bahaya karena hawa murni mereka diserap oleh wanita jahat itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana benar-benar memikirkan akibat dari jurus berbahaya itu.
Sementara itu di dalam Istana?.
Ratu Dewi Anindyaswari terbangun dari tidurnya karena merasakan sesak yang tidak biasa.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk keluar dari biliknya. "Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa tenagaku melemah seperti ini?." Dalam hatinya merasakan ada yang tidak beres dengan dirinya. "Putraku nanda Prabu? Nanda jaya satria? Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah nanda berdua baik-baik saja?." Ratu Dewi Anindyaswari masih memikirkan keselamatan anaknya. "Kalian di mana?." Rasanya tenaganya semakin melemah.
Begitu juga dengan Ratu Gendhis Cendrawati yang berada di ruangan yang berbeda, Ratu Gendhis Cendrawati juga merasakan perasaan yang tidak enak, tenaganya melemah dan hampir saja tidak bisa berdiri.
"Apa yang terjadi padaku? Kenapa tiba-tiba saja aku merasakan tubuhku melemah seperti ini? Kanda Prabu? Apa yang terjadi sebenarnya? Tolong dinda." Dalam hatinya sangat cemas dengan kondisinya yang seperti ini. "Apakah ini karma untuk dinda? Apakah dinda telah mendapatkan ganjaran atas apa yang telah dinda lakukan pada rayi dewi beserta anak-anaknya selama ini?." Pikiran Ratu Gendhis Cendrawati telah melayang-layang entah ke mana mengingat apa yang terjadi padanya secara mendadak.
"Maafkan aku rayi dewi, nanda Prabu, ananda putri agniasari ariani, sungguh maafkan aku, karena aku telah menyakiti kalian selama ini, maafkan aku kanda Prabu." Tanpa sadar Ratu Gendhis Cendrawati menangis mengingat semua perbuatannya. "Rasanya aku berada diambang kematian." Dalam hatinya semakin dihantui ketakutan jika memang itu adalah hari terakhirnya berada di dunia ini.
Kembali ke halaman Istana.
Deg!.
__ADS_1
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria terkejut karena tidak merasakan keberadaan kedua ibundanya.
"Ibunda! Ibunda ratu dewi anindyaswari? Ibunda gendhis cendrawati?."
"Gusti Prabu."
Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana segera bertindak, keduanya cepat melakukan penyerangan untuk mengusir musuhnya.
"Kurang ajar!." Ratu Gempita Bhadrika yang sedang bertarung berhadapan dengan Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta merasa kesal karena melihat apa yang dilakukan oleh musuhnya.
"Rayi Prabu?." Raden Hadyan Hastanta dan Putri Andhini Andita mendekati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Ratu Gempita Bhadrika tidak mau kalah begitu saja ketika hawa kegelapan itu berbalik ke arahnya. Ia semakin memperkuat jurus hawa serap jiwa kegelapan dengan mantram syair yang ia miliki.
"Rembulan tiada menerangi, cahaya sekitar tak melindungi. Hai sang pemilik kegelapan. Jangan sampai kau lalai hanya karena hembusan angin secuil ujung jari. perlihatkan padanya bagaimana rasa gelap yang membuatmu sesak. Hingga kau tidak ingin hidup lagi."
mantram syair yang dilantunkan oleh Ratu Gempita Bhadrika membuat hawa kegelapan sekitar semakin terasa kental.
"Jurus yang sangat mengerikan, menghasilkan kegelapan yang kental." Putri Andini Andita merasakan hawa sekitar terasa menyeramkan, pandangannya hampir tak terlihat karena kegelapan yang dihasilkan dari mantram yang dibacakan oleh ratu Gempita Bhadrika.
"Apa yang akan kita lakukan?." Raden Hadyan Hastanta kebingungan dengan kegelapan itu, gerakannya seperti terhalang karena tidak bisa melihat apapun. Halaman istana kerajaan Suka Damai benar-benar ditutupi oleh kegelapan yang sangat pekat.
Tapi apa yang terjadi ketika suasana sekitar menjadi lebih gelap dari yang sebelumnya itu?. Tiba-tiba saja Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria berteriak kesakitan, membuat mereka semua terkejut.
"Rayi prabu! Jaya satria." Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta terkejut melihat keduanya berteriak kesakitan di saat yang bersamaan. Apalagi Jaya Satria yang tadinya sedang berhadapan dengan Renjana Kala. Ia menghentikan jurusnya karena tubuhnya yang mendadak terasa sakit karena pedang pelebur sukma memaksa ingin keluar dari tubuhnya?.
...***...
Di sebuah tempat yang terpencil.
Deg!.
Putri Agniasari Ariani sangat terkejut dengan apa yang ia rasakan saat itu. Perasaannya mendadak gelisah, seakan-akan ada yang mengusir jiwanya saat itu.
"Ibunda? Rayi Prabu? Apakah terjadi sesuatu pada ibunda? Juga Rayi Prabu?." Suasana hatinya sangat tidak nyaman sama sekali, pikirannya tertuju pada Ibunda dan adik yang sangat ia cintai. "Semoga saja ibunda, juga rayi Prabu baik-baik saja." Hanya itu saja harapannya. "Tapi kenapa pedang panggilannya jiwa bergetar? Seakan-akan ada yang mengusiknya? Pedang panggilan jiwa bergetar, menangis sedih, seakan-akan merasakan saudara-saudaranya dalam keadaan bahaya." Putri Agniasari Ariani dapat merasakannya.
Deg!.
Namun saat itu ia seakan-akan terseret oleh dimensi waktu yang sangat aneh.
"Gusti Putri."
Putri Agniasari Ariani sangat terkejut ketika melihat ada seorang laki-laki yang memberi hormat padanya.
"Mohon maaf jika hamba telah mengusik ketentraman hati Gusti Putri, sepertinya memang ada masalah pada pedang panggilan jiwa yang lainnya."
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus kembali ke istana untuk memastikan jika mereka semua baik-baik saja?."
"Gusti Putri tenang saja, percayalah! Jika mereka mampu melakukannya, mampu mengatasi masalah dengan baik."
"Malam ini aku akan beristirahat, setelah pagi datang aku akan kembali ke istana."
"Hamba akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk keluarga Gusti Putri."
"Terima kasih Gusti Prabu laksamana dewantara."
"Oh? Rasanya senang sekali Gusti Putri menyebutkan nama asli hamba." Hatinya menghangat ketika ada yang menyebutkan nama aslinya. "Nama itu terakhir kali disebutkan oleh Gusti Prabu bahuwirya jayantaka byakta." Dalam hatinya masih ingat sebelum ia masuk ke dalam sebuah pedang yang sangat tajam.
Kembali ingatannya ke masa itu.
Sesak, sakit, ketika ia dikhianati oleh orang yang sangat ia percayai. Hingga akhirnya mengalami kemalangan hidup, diserang bersama-sama di medan perang yang sangat mengerikan itu!.
"Hahaha! Kau adalah Raja yang sangat bodoh sekali! Mau saja percaya pada kami!."
Suara tawa mereka sangat memuakkan, tawa yang sangat tidak enak untuk didengar.
"Nasib sial telah menimpa diriku, patih yang sangat aku percayai malah membalas aku dengan cara kejam seperti ini." Dalam hatinya merasakan sakit yang sangat luar biasa. "Ingin rasanya aku membalas perbuatan mereka, hanya saja aku tidak bisa melakukannya."
Ya, tubuhnya telah tergeletak di tanah dengan keadaan luka yang sangat parah, tubuhnya tidak sanggup lagi untuk bergerak, itulah alasan kenapa kenapa sang Prabu tidak mampu menggerakkan lagi tubuhnya. Anak panah dan sebilah pedang telah menembus tubuhnya tanpa ampun, hingga merasakan sakit tiada tara lagi.
"Rasanya aku berada diambang kematian." Dalam hati sang Prabu merasakan kesedihan yang sangat dalam. Air mata tidak cukup untuk mengungkapkan betapa pedih hatinya mendapatkan pengkhianatan itu. Hatinya dan raganya telah hancur berkeping-keping atas kenyataan yang menyakitkan itu.
"Sepertinya kalian adalah makhluk yang tidak tahu balas budi ya?."
Deg!.
Mereka semua sangat terkejut dengan suara itu, suara yang menyapa mereka.
"Hei! Setan busuk! Sebaiknya kau tidak usah bermain suara saja! Tunjukkan saja wujudmu!."
__ADS_1
"Kau tidak usah berteriak seperti itu."
Deg!.
Mereka kembali terkejut karena melihat seorang pemuda yang berdiri di samping sang Prabu.
"Aku tidak tuli, jadi tidak usah berteriak seperti itu." Lanjutnya dengan senyuman ramah.
Mereka melihat dengan sangat jelas bagaimana pemuda itu merunduk?. Dan duduk dengan santainya?.
"Gusti Prabu tenang saja, mereka semua hanyalah kumpulan orang lemah yang berani main keroyokan saja." Pemuda itu menyalurkan tenaga dalamnya pada anak panah itu, mencabutinya satu persatu. "Hamba hanya bisa membantu melepaskan anak panah ini supaya tidak menyakiti tubuh Gusti Prabu."
"Siapa kau anak muda?." Suara sang Prabu terdengar sangat lemah.
Namun belum sempat ia menjawab pertanyaan itu?. Ia mendapatkan serangan anak panah, sayangnya anak panah itu meleset.
"Wah?! Kalian tidak sabar ingin berkelahi dengan aku?." Entah kenapa pemuda itu merasa sangat kesal. "Kalau begitu kalian dulu yang akan aku singkirkan, kalian bisa menganggu aku dalam melakukan pengobatan." Pemuda itu mengeluarkan sebilah pedang yang sangat aneh, pedang yang mirip dengan lekukan naga.
"Pedang apa itu? Kenapa bentuknya aneh seperti itu?!."
"Hm? Kalian takut?."
"Kurang ajar! Kau meremehkan kami?!."
"Pedang ini namanya pedang sukma naga pembelah bumi, pedang yang istimewa." Ia tersenyum ramah menatap mereka. "Aku rasa pedang ini cukup untuk mengalahkan kalian yang bermain dengan dunia lain."
Deg!.
Mereka semua sangat terkejut dengan ucapan pemuda itu, tidak menduga jika pemuda itu dapat melihat apa yang mereka miliki untuk berhadapan dengan seorang Raja?.
Pertarungan singkat itu dimenangkan oleh pemuda itu, ia memiliki kemampuan yang sangat luar biasa untuk mengalahkan mereka semua.
"Kau sangat luar biasa sekali anak muda." Sang Prabu sangat masih merasakan kesadarannya ketika memperhatikan pertarungan itu. "Bagaimana caranya aku berterima kasih padamu? Sedangkan tubuhku sudah diambang batas." Nafasnya memang terlihat melemah.
"Jika Gusti Prabu berkenan? Jadilah salah satu pilar utama kerajaan yang akan hamba bangun, kekuatan Gusti Prabu dalam memberikan kehidupan rakyat sangat luar biasa." Pemuda itu seakan-akan dapat melihat itu. "Begitu banyak warna kehidupan yang telah Gusti Prabu rasakan dalam memerintah, tentu saja itu akan sangat berguna untuk hamba kelak."
Sang Prabu memikirkan sejenak ucapan itu. "Apakah kau yakin akan menggunakan kekuatanku untuk menopang kerajaanmu? Sebab aku mudah sekali dikhianati."
"Kehidupan seperti itu pasti akan terjadi, hamba telah siap jika memang itu terjadi suatu hari nanti."
"Baiklah jika memang seperti itu." Perlahan-lahan tubuhnya bercahaya.
"Terima kasih banyak atas kerelaan hati Gusti Prabu laksamana dewantara telah bersedia menjadi pilar kerajaan hamba."
Deg!.
"Jadi kau mengetahui nama asliku? Sepertinya aku tidak akan ragu lagi."
Perlahan-lahan tubuhnya yang bercahaya itu berubah bentuk menjadi sebilah pedang yang sangat cantik, pedang yang memiliki motif warna yang sangat indah.
"Pedang warna kehidupan, salah satu pedang yang akan menopang kerajaan besar." Pemuda itu sangat senang ketika melihat wujud pedang itu.
"Gunakan lah aku dengan bijak anak muda, wujudku dalam sebilah pedang ini akan menjadi senjata yang sangat mematikan jika kau menggunakannya untuk kejahatan."
"Gusti Prabu tenang saja, hamba akan menggunakan kekuatan Gusti Prabu dengan bijak."
"Itulah yang aku harapkan anak muda."
Kembali ke masa ini.
Itulah yang terjadi, asal usul pedang panggilan jiwa pedang warna kehidupan yang dimiliki Putri Agniasari Ariani.
...***...
Kerajaan Suka Damai.
"Apa yang terjadi padanya? Mengapa ia terlihat kesakitan seperti itu? Sementara dua yang lainnya tidak bereaksi seperti itu?." Dalam hati Renjana Kala melihat keanehan pada Jaya Satria. Padahal ia tidak melakukan apapun ketika bertarung dengannya. Tapi mengapa malah mendadak kesakitan begitu?.
Namun pertanyaan mereka terjawab ketika melihat sebilah pedang keluar dari tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.
Deg!.
"Pedang apa itu? Aku baru melihatnya!." Raden Hadyan Hastanta terkejut melihat pedang itu melayang di atas adiknya?.
"Pedang apa yang keluar dari tubuh rayi prabu? Tapi mengapa jaya satria juga ikut kesakitan?." Putri Andhini Andita merasa heran melihat kejadian itu.
"Pedang pelebur sukma?!." Sepertinya Ratu Gempita Bhadrika mengetahui pedang itu. "Tidak salah lagi! Itu adalah pedang pelebur sukma! Karena aku bisa melihat pamor pedang itu yang memancarkan hawa kegelapan sekitar! Lebih tepatnya, menyerap hawa kegelapan sekitarnya." Setelah berkata seperti itu, Ratu Gempita Bhadrika malah tertawa keras.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?.
__ADS_1
...***...