RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
BUKAN SEKEDAR ANCAMAN


__ADS_3

...***...


"Kalian akan mendapatkan hukuman dariku!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengeluarkan Pedang Sukma Naga Pembelah Bumi. Tentu saja mereka semua terkejut, melihat pedang yang memancarkan pamor yang tidak biasa.


"Gusti prabu. Pastikan mereka membayar nyawa kakek prabu." Jaya Satria yang masih terhubung dengan baik, merasakan sakit hati yang luar biasa.


"Tentu saja aku akan melakukannya jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengacungkan pedangnya ke arah mereka.


"Rayi prabu juga menggunakan pedang panggilan jiwa?."


"Rayi prabu. Dengan menggunakan pedang ini. Mari kita selesaikan masalah yang ada di istana ini." Putri Ambarsari juga mengacungkan pedang Batari Saka Raksa ke arah Raden Ganendra Garjitha.


"Kalian tidak akan kami ampuni, karena telah membuat kejahatan. Entah itu di suka damai, ataupun mekar jaya." Raden Hadyan Hastanta juga ikutan memperlihatkan pedang Serat Raga Dewa Langit.


"Kalian tidak usah memamerkan apapun pada kami."


"Sekuat apapun pedang kalian, namun hari ini kalian akan mati!."


"Saya bersumpah, atas nama kakek prabu!. Saya akan menghukum mati kalian semua."


"Jangan beraninya hanya menggertak saja ambarsari. Kau itu adalah kelemahan bagi kami."


"Ibundalah yang lemah!. Karena ibunda tidak bisa menjadi ibunda yang baik. Maaf saja jika saya tidak bisa melindungi ibunda."


"Hei!. Kalian semua!. Beri mereka pelajaran!." Perintah Raden Ganendra Garjitha pada mereka semua pendekar yang ia sewa untuk menyerbu istana ini.


Mereka saling bertatapan, karena mereka bingung, apakah mereka akan melakukannya?.


"Apa yang kalian tunggu!. Aku sudah membayar kalian mahal!. Akan aku bunuh kalian!. Jika kalian berani mengkhianati aku!." Raden Ganendra Garjitha marah besar pada mereka yang sama sekali tidak bergerak sedikitpun.


Mereka terkejut mendengarkan suara bentakan itu. Membuat mereka segera mendekati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, hendak menyerangnya. Namun Sang Prabu melayangkan sebuah sabetan ke arah mereka. Sayangnya mereka menyadarinya, sehingga mereka sempat menghindar.


"Kalian jangan berani ikut campur dengan masalah kami." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap tajam ke arah mereka semua. Hawa kemerahan menyelimuti tubuhnya.


"Sepertinya rayi prabu benar-benar marah. Hawa kemerahannya itu tidak pernah berubah sama sekali." Dalam hati Putri Ambarsari berkata seperti itu. Ia tidak akan pernah melupakan bagaimana kemarahan adiknya.

__ADS_1


"Kalian jangan percaya dengan janji yang diucapkan olehnya. Sebaiknya kalian pergi saja."


"Cakara casugraha!. Berani sekali kau mempengaruhi mereka!."


"Itu adalah kenyataannya. Jika kau itu adalah seorang pengkhianat. Padaku, pada gusti prabu rahwana bimantara saja dia sanggup berkhianat. Apalagi pada kalian para pendekar. Aku yakin setelah dia berhasil menduduki tahtanya, kalian yang akan disingkirkan oleh mereka."


"Cakara casugraha!. Kau benar-benar kurang ajar!. Jangan kau berkata yang tidak-tidak tentang kami!."


"Kalau kau berani mempengaruhi mereka, akan aku bunuh kau!."


"Jaga bicaramu cakara casugraha!. Kau tidak pantas berkata seperti itu."


"Sebaiknya kalian pergi!. Pedang sukma naga Pembelah bumi sedang tidak ingin memakan jiwa kalian. Atau aku musnahkan kalian dengan pedang pelebur Sukma." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengeluarkan pedang Pelebur Sukma dari dalam tubuhnya.


"Aku bilang pergi dari sini!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menggesek kuat kedua pedang itu, hingga menimbulkan percikan api yang membuat para pendekar golongan hitam itu terkejut, mereka menghindari dengan cepat, karena api hasil dari percikan kedua pedang itu menimbulkan panas disekitarnya.


"Jika kalian masih sayang nyawa, juga tidak ingin dikhianati oleh mereka, maka segera pergi dari sini!."


Kemarahan itu juga semakin membuat mereka merinding. Selain suara yang berubah, tatapan mata itu sangat mengerikan. Sehingga mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat.


"Cakara casugraha!. Berani sekali kau melakukan itu!. Kau benar-benar kurang ajar!."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap Ratu Ardiningrum Bintari, sorot matanya begitu tajam, terlihat memerah. Namun sebelum itu, tatapan matanya melihat ke arah para pendekar yang siap-siap kembali ingin menyerangnya.


"Hei!. Kalian semua. Hadapi dia!. Biar kami yang hadapi dua orang bodoh ini. Tugas kalian menghabisi raja bodoh itu!."


"Tugas menghabisi kalian berdua adalah urusan kami."


Para pendekar itu benar-benar ingin menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Jadi kalian ingin memilih ingin dikhianati oleh mereka?. Kalau begitu aku tidak punya pilihan lain, selain mengusir paksa kalian semua dari istana ini!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memainkan jurus cakar naga cakar petir. Tenaga dalam itu ia satukan ke dalam pedang Sukma Naga Pembelah Bumi, serta Pedang Pelebur Sukma. Hingga menimbulkan hawa petir naga yang mengandung panas luar biasa.


"Kakang. Bukankah ini jurus cakar naga cakar petir?. Kegh!. Bagaimana bisa bisa dia memiliki jurus itu?."


"Sakit!. Tubuhku saja terasa sakit karena hawa petirnya sangat panas."

__ADS_1


"Kegh!. Sebaiknya kita pergi saja dari sini!. Aku tidak tahan lagi dengan panasnya!."


"Mari kita tinggalkan tempat ini!. Sebaiknya kita lupakan saja tahta yang mereka janjikan!."


"Benar!. Aku tidak mau mati konyol di sini!. Aku tidak menyangka jika pemuda itu adalah seorang raja!."


"Cepat kita tinggalkan tempat ini!."


Mereka dengan susah payah meninggalkan tempat itu. Karena mereka tidak sanggup untuk menahan hawa panas, apalagi tubuh mereka seperti disengat oleh aliran petir yang menusuk pembuluh darah. Itu sangat berbahaya untuk mereka, karena dapat mematikan pergerakan darah mereka, dan dampaknya mereka akan kehilangan tenaga dalam. Selain itu, mereka bisa saja mati perlahan-lahan karena aliran darah mereka pecah, tidak kuasa menahan serangan naga petir. Itu baru dampaknya saja. Belum mereka terkena sengatan itu, atau kena sabetan salah satu pedang itu, maka nyawa mereka akan melayang.


Satu pedang Pembelah Sukma, satunya pelebur Sukma. Keduanya bukan pedang baik, melainkan pedang untuk membunuh siapa saja yang terkena sabetan pedang itu.


"Kalian benar-benar pengecut!. Tidak berguna sama sekali!." Raden Ganendra Garjitha sangat marah, murka, dan benci.


"Tidak berguna sama sekali. Apanya yang pendekar hebat!. Jika gertakan dari cakara casugraha membuat mereka lari ketakutan!."


"Kenapa nanda prabu memilih mereka untuk menyerang istana ini?. Tidak berguna sama sekali."


Sementara itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memasukkan kembali pedang Pelebur Sukma ke dalam tubuhnya. Setelah itu ia mendekati kedua kakaknya.


"Bagus sekali rayi. Kekuatan pedang rayi prabu semakin hebat."


"Terima kasih karena rayi prabu mengurangi beban kita menghadapi musuh."


"Sama-sama yunda. Aku hanya tidak mau tenaga kita terkuras habis menghadapi mereka." Matanya menatap kakaknya yang tidak bisa dikatakan baik lagi. Mungkin benar saja jika para pendekar itu memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Karena itulah kakaknya itu kewalahan, hingga banyak gores luka di tubuhnya.


"Kau tidak usah berbangga hati dulu, cakara casugraha!. Kami belum kalah darimu!."


"Kau jangan sombong dulu hanya karena kau berhasil mengusir mereka semua!."


"Mulut itu, mulut yang tidak pernah diajarkan sopan santun." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melirik ke arah Ratu Ardiningrum Bintari. "Berani sekali kalian berkata yunda dan rakaku orang bodoh, dan kalian ingin menghabisi yunda dan rakaku?." Kali ini matanya melirik ke arah kedua kakaknya.


"Yunda, raka. Mari kita tunjukkan kepada mereka, bagaimana kekuatan keadilan yang suci itu. Mari kita gunakan pedang panggilan jiwa ini, agar mereka mengetahui dimana letak perbedaan mereka dengan kita."


"Sandika rayi prabu." Keduanya memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Tentunya mereka terkejut, melihat Putri Ambarsari dan Raden Hadyan Hastanta yang begitu patuh dengan ucapan adiknya?.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.


...****...


__ADS_2