RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KETAKUTAN SANG PRABU


__ADS_3

...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berteriak keras. Dada kanannya seakan ditarik kuat oleh pemuda itu.


"Kgekh le-lephaskhaaaan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk menepis tangan pemuda itu, akan tetapi, pemuda itu semakin kuat mencengkram dadanya.


"Aku tidak akan melepaskannya raden cakara casugraha. Karena kau harus mati ditanganku. Mustika Naga Merah Delima ini akan menjadi milikku selamanya. AHahahaha!."


Pemuda itu tertawa keras, hatinya merasa puas, karena melihat raut wajah keasikan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia mencengkram kuat dada kanan sang prabu, seakan ia hendak merobek tubuh itu. Sehingga sang prabu berteriak keras, karena tidak kuasa menahan sakit.


"Sakit ya Allah." Ia berharap dapat pertolongan dari Allah SWT. Namun saat itu juga, ia melihat Jaya Satria dengan langkah tertatih mendekati dirinya. Wajahnya terlihat pucat, dan ia merintih kesakitan?. Apakah karena dirinya yang tidak berdaya, Jaya Satria juga terkena dampaknya?. Sang Prabu mulai tampak panik. Dan saat itu juga, ia teringat dengan perkataan ibundanya.


*Tiba-tiba saja jaya satria menghilang, ibunda tidak mau kehilanganmu lagi nak. Tetaplah berada di dekat ibunda. Nanda adalah putra ibunda.*


"Tidak!. Tidak!. Itu tidak boleh terjadi. Jaya satria kau tidak boleh menghilang."


Ucapan, serta raut wajah ibundanya yang mengatakan tidak mau kehilangan Jaya Satria. Namun apa yang terjadi jika pemuda itu berhasil menarik paksa Mustika Naga Merah Delima itu dari dalam tubuhnya?.


SRAKH!!!


Pemuda itu berhasil mengambil Mustika Naga Merah Delima dari dalam tubuhnya dengan paksa. Sehingga Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak berkutik lagi.


"Selamat tinggal, gusti prabu."


Deg!!!.


Mata sang Prabu melotot lebar, karena ia mendengar dengan jelas, apa yang dikatakan Jaya Satria.


"Tidak!. Tidak jaya satria. JAYA SATRIA!!!."


...***...


Di gerbang Istana Kerajaan Suka Damai. Ratu Dewi Anindyaswari menyambut kedatangan Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara. Pelukan kasih sayang yang didapatkan olehnya. Hanya Ratu Dewi Anindyaswari saja menyambutnya, itu karena ia berpesan pada prajurit, jika Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara datang, untuk memanggil dirinya.


"Selamat datang nanda ratu. Alhamdulillah hirobbil'alamin, nanda ratu telah tiba dengan selamat."

__ADS_1


"Terima kasih atas sambutannya ibunda. Rasanya nanda bahagia telah tiba di istana ini."


Mereka berjalan pelan meninggalkan gerbang Istana.


"Bagaimana keadaan nanda ratu?. Mengapa nanda ratu baru sampai di malam hari?."


"Maafkan nanda ibunda. Kami mengalami sedikit gangguan, tapi berhasil kami atasi."


"Jadi begitu?. Tapi nanda ratu tidak apa-apa kan nak?. Apakah nanda ratu terluka?."


"Nanda baik-baik saja ibunda. Tidak ada yang patut dicemaskan ibunda. Semuanya baik-baik saja."


"Alhamdulillah hirobbil'alamin jika begitu nak. Ibunda sangat khawatir sekali pada nanda."


Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara tersenyum lembut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ratu Dewi Anindyaswari.


"Lalu kemana yang lainnya ibunda?. Apakah mereka tidak mengetahui kedatangan nanda?."


"Ibunda memang tidak mengatakannya. Biar besok pagi mereka semua terkejut melihat kedatangan nanda. Pasti akan menjadi kejutan untuk mereka, saat melihat nanda ratu telah tiba di istana ini."


Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara tertawa kecil. "Baiklah ibunda. Saran ibunda akan nanda ikuti." Tentunya Ratu Dewi Anindyaswari juga ikutan tertawa.


"Terima kasih ibunda. Rasanya sangat terhormat sekali diantarkan oleh ibunda."


"Jangan berkata seperti itu. Nanda tetaplah putri ibunda, yang sangat ibunda rindukan."


"Nanda juga merindukan ibunda."


Setelah itu mereka masuk ke dalam istana, untuk segera beristirahat. Karena acara besok pagi, kondisi tubuh mereka segar, dan bisa menikmati kebersamaan.


"Seperti yang aku duga. Ibunda ratu dewi pastilah sangat baik." Dalam hati Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara merasakan kebahagiaan, walaupun hanya disambut oleh Ratu Dewi Anindyaswari. Karena ini sudah malam, pasti keluarga Istana Kerajaan Suka Damai telah tertidur lelap. Beristirahat untuk acara penting besok pagi.


...***...


"JAYA SATRIA!."

__ADS_1


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berteriak keras, jantungnya berdetak dengan kencangnya. Kepalanya terasa sakit, seakan sedang ditarik paksa untuk bangun?.


Sang prabu terduduk?. Dalam keadaan takut, panik. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba mencerna sekitarnya. Matanya mencoba fokus, melihat kembali dimana ia berada saat ini.


Begitu ia berhasil menarik kembali kesadarannya. "Ini adalah bilikku. Tapi?."


"Gusti prabu?. Gusti prabu?. Apakah gusti prabu mendengar suara hamba?." Suara Jaya Satria terdengar sangat panik, ketakutan juga nafasnya sangat tidak teratur, seperti orang sedang ketakutan.


"Jaya satria. Kau kah itu jaya satria?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menangis sedih.


"Hamba gusti prabu. Ini hamba, jaya satria."


"Kau berada di mana jaya satria?. Aku akan menyusulmu. Aku Ke sana menemuimu jaya satria."


"Hamba akan menuju bilik gusti prabu. Hamba saat ini bersama syekh guru. Sebentar lagi akan sampai ke bilik gusti prabu."


"Ya Allah jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bergegas turun turun dari tempat tidurnya. Ia ingin melihat Jaya Satria. Ia segera ke luar biliknya.


Tak lama kemudian, matanya menangkap sosok Jaya Satria yang sedang dipapah oleh Syekh Asmawan Mulia. Setelah itu mereka masuk ke dalam bilik sang prabu.


"Apa yang terjadi pada nanda berdua?. Mimpi apa yang membuat nanda berdua terlihat kacau seperti ini?."


Keduanya mencoba untuk mengatur nafas, rasanya belum sepenuhnya mereka kembali setelah mengalami mimpi buruk yang sangat mengerikan menurut mereka itu?.


"Nanda bermimpi, jika nanda bertarung melawan seorang pemuda yang aneh syekh. Dia mengetahui tentang mustika naga merah delima yang ada di dalam tubuh nanda. Sehingga ia berusaha untuk mengambilnya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menceritakannya. "Dia berhasil mengambilnya syekh guru. Nanda melihat jaya satria menghilang setelah mustika naga merah delima itu berhasil ia keluarkan dari tubuh nanda."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Itu pertanda buruk nanda prabu. Itu sangat bahaya jika terjadi, maka salah satu dari nanda berdua akan menghilang." Syekh Asmawan Mulia melihat wajah ketakutan, sampai terlihat pucat pasi.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat terkejut mendengarnya. Salah satu?.


"Ibunda pernah mengatakan jika ibunda bermimpi, jika jaya satria menghilang syekh guru."


"Benar syekh guru. Apakah itu juga pertanda buruk juga syekh guru?. Karena firasat seorang ibu tidak akan pernah salah syekh guru."


"Serahkan semuanya pada Allah SWT. Semoga saja nanda berdua selalu dilindungi oleh Allah SWT. Syekh guru akan selalu bersama nanda berdua. Untuk saat ini nanda berdua tenanglah."

__ADS_1


Kegelisahan itu bahkan sampai terbawa mimpi. Sebenarnya apa yang akan terjadi pada keduanya?. Mengapa Jaya Satria yang menghilang?. Takdir apa lagi yang akan mempermainkan keduanya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.


...***...


__ADS_2