RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
USAHA MEREKA


__ADS_3

...****...


Istana Kerajaan Suka Damai.


Nyai Bestari Dhatu menggunakan air telaga warna bidadari untuk menetralkan Mustika Naga Merah Delima yang ada didalam tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. Ia cipratkan ke tubuh keduanya sedikit demi sedikit, setelah itu ia menyalurkan tenaga dalamnya ke arah tubuh Jaya Satria, karena tubuh Jaya Satria lebih kuat menampung kegelapan dibandingkan dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Sedangkan Syekh Asmawan Mulia sedang membacakan Al-Qur'an untuk menjaga sekitar. Selain untuk menuntun Ratu Dewi Anindyaswari, itu berguna untuk mengusir roh-roh gentayangan di alam sukma agar tidak mengganggu perjalanan Ratu Dewi Anindyaswari mencari sukma kedua anaknya.


Sementara itu di alam sukma. 


Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk menenangkan dirinya sambil terus membacakan Sholawat badar, berharap ia bisa menemukan keberadaan kedua anaknya?.


Air matanya semakin mengalir dengan deras ketika matanya menangkap kedua sosok anaknya yang dalam keadaan duduk berdampingan.


"Ibunda!."


Keduanya segera berdiri, menghampiri Ratu Dewi Anindyaswari, memeluk erat ibunda mereka.


"Putraku?." Ratu Dewi Anindyaswari menyambut pelukan kedua anaknya dengan hati yang dipenuhi oleh kebahagiaan.


"Ibunda!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria menangis. "Nanda sangat merindukan ibunda.!" Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengungkapkan kerinduannya pada ibundanya.


"Nanda juga merindukan ibunda." Begitu juga dengan Jaya Satria yang pada dasarnya tidak bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Ratu Dewi Anindyaswari.


"Ibunda juga merindukan kedua putra ibunda, Sangat rindu sekali." Air matanya mengalir membasahi pipinya, ketika matanya menatap kedua anaknya yang terlihat pucat pasi.


"Ibunda." Tanpa sadar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria menangis mendengar ucapan Ratu Dewi Anindyaswari.


...***...


Desa Rembung Hilir.


Sejara telah sampai di tempat perburuan, ia segera menghadap kepala desa untuk menyampaikan apa yang ia dapatkan.


"Mohon maaf tuan, sepertinya ada hal penting yang harus saya sampaikan."


Untuk sesaat kepala desa melihat ke arah Senopati Bumi Sejagad yang tampak sangat santai, dan memberi kode padanya untuk berbicara pada pemuda itu.


"Ada apa?."


"Sepertinya pendekar pengembara itu berada di pondok nyi senada, saat ini dia berada di sana." Bisiknya.


"Baguslah kalau begitu."


"Apa yang harus kami lakukan?."


"Tangkap dia, bawa ke sini dengan aman."


"Baik tuan."


Kepala Desa Pasupara Abdi tersenyum kecil, hatinya sedikit lega setelah menerima laporan itu.


"Mohon ampun Gusti, jika kurang sopan." Kepala desa Pasupara Abdi memberi hormat. "Kami akan menyiapkan wanita persembahan untuk Gusti, kami membawakannya tepat dihadapan Gusti."


"Bagus kalau begitu, kau memang bisa aku andalkan." Senyumannya terlihat sangat sumringah mendengar itu.


Sementara itu di pondok Nyai Senada.


"Oh iya nyi? Kenapa cucu nyai tidak dibawa ke balai desa saja? Bukankah setiap warga desa yang hendak tinggal di sini harus melapor pada kepala desa?." Teluk melihat ke arah Putri Agniasari Ariani. "Kenapa nyai tidak segera melapor.


"Untuk saat ini aku tidak bisa melakukannya, bukankah kalian telah mengetahui jika lelaki biadab itu ada di desa ini?!."


"Itu tidak ada hubungannya nyi."


"Diam kau dorma!." Bentak Nyai Senada dengan penuh amarah. "Sebaiknya kalian pergi dari sini! Jika tujuan kalian datang untuk membawa cucuku pada lelaki biadab itu?! Maka kalian akan berhadapan denganku!."


Deg!.


Tentu saja itu membuat kedua pemuda itu sangat terkejut.


"Ini semua demi melindungi desa ini nyi, serahkan wanita itu."


"Katakan sekali lagi?! Maka akan aku bunuh kalian berdua!." Amarahnya telah memuncak. "Sekarang kalian pergi!."


Dorma dan Teluk tidak punya pilihan lain, mereka terpaksa pergi dari sana. Namun mereka tidak akan menyerah begitu saja.


"Kurang ajar! Ternyata mereka telah mengetahui keberadaanmu ndok." Nyai Senada tampak cemas, ia mendekati Putri Agniasari Ariani. "Malam ini, segera pergi dari sini, aku tidak ingin kau celaka."


"Tapi nyi?."


"Lakukan saja, aku yang akan mengantarmu ke tempat aman."


"Baik nyi."


Putri Agniasari Ariani hanya mengiyakan saja, ia hanya tidak ingin Nyai Senada semakin cemas padanya.

__ADS_1


...***...


Di alam bawah sadar Ratu Dewi Anindyaswari.


"Ibunda ingin berkumpul lagi bersama kalian nak." Dengan lembut tangannya mengusap kepala anaknya.


Setelah itu ia cium puncak kepala kedua anaknya. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria benar-benar merasakan kasih sayang itu tulus dari sosok ibunda yang paling mereka sayangi.


"Rasanya sudah sangat lama sekali, ibunda tidak melakukan hal seperti itu ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menangis sambil berkata seperti itu.


"Ya, rasanya sangat rindu." Jaya Satria juga merasakannya. "Rindu senyuman ibunda, rindu dengan suara ibunda, rindu dengan pelukan ibunda, kami sangat merindukan semua yang ada pada ibunda." Jaya Satria juga mengatakan apa yang ia rasakan. Kerinduan itu membuatnya menangis sedih.


Perasaannya yang berpisah selama bertahun-tahun, serta keinginannya yang tertahan selama berada dibalik topeng itu, ia ungkapkan saat ini juga.


"Oh? Putraku nanda cakara casugraha, ibunda juga sangat merindukan kalian nak." Ratu Dewi Anindyaswari juga menangis. Tangannya sudah tidak tahan lagi ingin memeluk kedua anaknya. Tangannya merangkul kedua anaknya dengan erat.


Begitu besar kasih sayang yang mereka rasakan. Hingga sampai ke alam nyata yang dirasakan oleh Nyai Bestari Dhatu.


Tanpa sadar Nyai Bestari Dhatu meneteskan air matanya. Ia merasakan perasaan kasih sayang yang tulus seorang ibu kepada anaknya.


"Karena kasih sayang yang diberikan oleh gusti ratu pada keduanya, mustika naga merah delima dapat dinetralkan dengan mudah." Itulah yang ia rasakan ketika mengobati keduanya. "Suasana hati jaya satria juga mulai berubah, kegelapan? Kemarahan? Serta kesepian yang dirasakan oleh jaya satria perlahan-lahan mulai menghilang." Dalam hati Nyai Bestari Dhatu merasa kagum luar biasa saat mencoba mensucikan Mustika Naga Merah Delima yang ada didalam tubuh Jaya Satria.


Ia tidak pernah melihat hal ajaib seperti itu selama mengobati seseorang, dan ia tidak menyangka akan melihat hal yang sangat luar biasa ketika mengobati Prabu Bahuwirya Cakara Casugraha, sungguh sangat luar biasa baginya.


"Saya pikir, inilah yang dimaksud oleh Gusti Prabu bahuwirya jayantaka byakta, mengenai kasih sayang seorang ibu yang dapat menyambut anaknya." Dalam hatinya masih ingat dengan salah satu petunjuk itu. "Lebih tepatnya merangkul anaknya dalam keadaan apapun, bahkan disaat anaknya terjebak di alam sukma." Dalam hatinya sangat terkesan dengan kasih sayang yang mereka tunjukkan. "Namun kasih sayang seorang ibu masih sampai pada anaknya, hingga benar-benar dapat menyelamatkan anaknya dari kesedihan, kesepian, keputusasaan, sungguh kasih sayang yang sangat luar biasa ia berikan kepada anaknya." Hati Nyai Bestari Dhatu sangat tersentuh. Ia benar-benar iri dengan perasaan itu, membuatnya ingin segera kembali ke rumahnya.


Sedangkan Syekh Asmawan Mulia yang memperhatikan itu?. Ia sedikit heran melihat Nyai Bestari Dhatu yang menangis sambil mengobati Jaya Satria.


"Kenapa nyai bestari dhatu menangis? Apa yang membuatnya menangis?." Syekh Asmawan Mulia memperhatikan itu. Dalam hatinya bertanya-tanya apa yang membuat wanita muda itu menangis?. Namun ia harus fokus membaca Alquran, karena ia takut terjadi sesuatu pada Ratu Dewi Anindyaswari selama berada di alam nyata.


...***...


Desa Rembung Hilir.


Balai desa.


Brakh!.


Kepala desa Pasupara Abdi sangat marah mendengarkan laporan dari ketiga pemuda itu, hingga ia menggebrak meja itu dengan sangat kuat.


"Jadi kalian gagal membawanya?!."


"Maafkan saya, itu karena nyai senada sangat marah ketika saya mengatakan untuk membawanya ke balai desa."


"Kurang ajar! Kenapa perempuan tua itu malah melindungi wanita singgahan itu?."


"Sial!." Umpatnya dengan sangat kesalnya. "Apapun caranya kita harus mendapatkan wanita itu!."


"Sepertinya kalian sedang kesulitan menangkap wanita untuk persembahan ku malam ini?."


Deg!.


Mereka yang berada di ruangan balai desa sangat terkejut mendengarnya, mereka tidak menduga jika Senopati Bumi Sejagad malah mendatangi mereka?.


"Sepertinya ada sedikit masalah? Apakah kalian ingin bantuan dariku?." Senopati Bumi Sejagad tersenyum dengan lebarnya.


Untuk sesaat mereka terdiam, sambil memikirkan ucapan itu?.


"Apakah itu nantinya tidak akan merepotkan Gusti?."


"Kau tenang saja, anak buahku, para pendekar yang sangat hebat! Pasti dengan sangat mudahnya akan memboyong wanita itu." Jawabnya dengan sangat santai. "Tapi apakah dia adalah wanita muda yang cantik?."


"Sangat cantik Gusti! Sangat cantik!." Sejara yang menjawabnya. "Kulitnya sangat putih, dan dia juga memiliki rambut hitam yang lembut, berbeda dari wanita desa pada umunya."


"Ho? Rasanya aku sangat penasaran seperti apa dia." Ia memberi kode pada anak buahnya. "Segera bergerak, aku tidak mau dia sampai melarikan diri."


"Sandika Gusti."


Mereka segera pergi meninggalkan balai desa, tentu saja mereka ingin melakukan tugas mereka dengan baik.


"Apa yang akan kita lakukan tuan?."


"Kita ikut, aku juga ingin melihatnya."


"Baiklah, mari kita ke sana."


Mereka juga pergi ke rumah Nyai Senada, mereka sangat penasaran apa yang akan terjadi di sana?.


...**...


Raden Hadyan Hastanta menyusul adiknya, ia sangat cemas dengan keadaan adiknya. Namun ketika ia hendak memasuki kota Raja?. Ia melihat adiknya yang juga berjalan ke arahnya.


"Raka? Kenapa raka ada di sini? Apakah air telaga warna bidadari telah raka serahkan pada nyai bestari dhatu?."


"Tenanglah rayi, saat ini mereka sedang mengobati rayi Prabu." Raden Hadyan Hastanta menghela nafasnya dengan pelan. "Aku ke sini untuk menyusul mu, aku takut terjadi sesuatu padamu."

__ADS_1


"Raka tenang saja, aku baik-baik saja."


"Lantas bagaimana dengan mereka? Apakah kau mengalahkan mereka?."


"Melarikan diri, mereka malah melarikan diri karena tidak sanggup berhadapan denganku!."


"Ba-baik lah, kalau begitu mari kita istirahat di istana sembari menunggu pengobatan rayi Prabu, jaya satria selesai."


"Baiklah raka."


"Hadeh, biasa repot kalau dia marah terus." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta lelah dengan sikap adiknya yang seperti itu.


Raden Hadyan Hastanta sangat heran dengan sikap pemarah adiknya datang dari mana?. Tapi setidaknya ia sangat bersyukur karena adiknya baik-baik saja, ia hanya takut terjadi sesuatu pada adiknya.


...**...


Kembali ke alam sukma.


Ratu Dewi Anindyaswari duduk bersama kedua anaknya. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahu kanan, sedangkan Jaya Satria menyandarkan kepalanya di bahu kiri Ratu Dewi Anindyaswari.


"Bagaimana keadaan kalian nak? Apakah masih merasakan sakit?." Dengan pelan Ratu Dewi Anindyaswari bertanya. Tangannya mengelus kepala kedua anaknya, setelah itu mencium puncak kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Rasa sakit yang kami rasakan akan menghilang karena kasih sayang yang ibunda berikan." Ucap Prabu Asmalaraya Arya dengan senyuman kecil.


"Ya, juga senyuman ibunda yang sangat manis, itu adalah obat paling mujarab di dunia ini." Lanjut Jaya Satria dengan hati yang lapang.


Perasaan dan suasana hati keduanya saat ini benar-bebar tentram, tenang, adem, dari yang sebelumnya. Kegelisahan yang mereka rasakan. Ketakutan yang menyelimuti mereka diri mereka terasa lebih ringan dari yang sebelumnya.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, ibunda sangat senang mendengarkan apa yang kalian katakan nak." Ratu Dewi Anindyaswari merasa tenang mendengarkan itu. Ia sangat senang karena anaknya masih baik-baik saja setelah bertemu dengan dirinya?.


Namun rasa bahagia itu terganggu, ketika ada sosok roh penasaran yang mencoba mengganggu mereka.


"Kegh!." Tiba-tiba Saja Nyai Bestari Dhatu yang berada di alam nyata meringis sakit.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah! Apa yang terjadi nyai?." Syekh Asmawan Mulia melihat itu sedikit terkejut. Ia berhenti membaca Alquran, karena khawatir dengan keadaan Nyai Bestari Dhatu.


"Sepertinya salah satu roh gentayangan yang berada didalam pedang pelebur Sukma berhasil keluar, ia akan mengganggu proses menetralkan racun yang menodai mustika naga merah delima, apalagi mereka tidak bisa menggunakan tenaga dalam mereka di alam sukma karena pengaruh racun itu masih menutup aliran tenaga dalam mereka" Jawab Nyai Bestari Dhatu. Ada kepanikan yang tersirat diwajahnya saat ini. Ia tidak bisa membantu karena harus fokus mensucikan Mustika Naga Merah Delima.


"Lalu apa yang bisa aku bantu? Katakan saja." Syekh Asmawan Mulia ikutan gelisah. Tapi ia berharap dapat membantu Nyai Bestari Dhatu mengatasi masalah itu.


"Kalau begitu, tolong bisikkan ayat-ayat Alquran ke telinga jaya Satria, semoga saja jaya satria mendengarnya, dan mengikuti apa yang syekh bacakan di alam sukma." Nyai Bestari Dhatu sangat berharap dengan cara itu dapat membantu mereka yang sedang diganggu.


Syekh Asmawan Mulia segera melakukan apa yang dikatakan Nyai Bestari Dhatu. Ia segera mendekati Jaya Satria, ia membacakan ayat kursi.


Kembali ke alam sukma.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sedang berusaha untuk melindungi ibunda mereka dari serangan roh gentayangan itu.


"Ibunda, tetaplah berada dibelakang kami." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana khawatir dengan keselamatan ibundanya.


"Berhati-hatilah nak." Ratu Dewi Anindyaswari sangat mencemaskan anaknya yang sedang berusaha untuk melawan roh gentayangan itu.


Sedangkan Jaya Satria sayup-sayup mendengarkan ada suara ditelinganya saat ia sedang bertarung. Dengan nalurinya yang kuat, ia mengikuti suara itu.


Secara tidak sengaja Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga membacakan apa yang dibacakan oleh Jaya Satria. Sementara itu roh gentayangan itu merasa kesakitan dengan.


Beberapa menit kemudian mereka berhasil mengusir roh itu. Mereka sangat bersyukur, setidaknya mereka tidak perlu khawatir lagi.


Sedangkan di dunia nyata.


"Merek sudah tenang syekh, sedikit lagi saya berhasil menetralkan mustika naga merah delima ini." Nyai Bestari Dhatu masih fokus menyalurkan tenaga dalamnya ke arah tubuh Jaya Satria. Nyai Bestari Dhatu mulai merasa lega karena keadaan prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sudah tenang.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin ya Allah." Syekh Asmawan Mulia sangat senang mendengarnya. Ia tadinya sangat takut ketika Nyai Bestari Dhatu mengatakan jika mereka yang berada di alam sukma diserang.


"Lalu apa yang harus aku lakukan nyai?." Syekh Asmawan Mulia bertanya lagi.


"Aku mohon teruslah baca Alquran syekh, ini adalah yang terakhir, semoga kita bisa menyelamatkan mereka dari alam sukma." Ucapan  Nyai Bestari Dhatu membuat Syekh Asmawan Mulia sangat bersyukur.


"Baiklah, aku akan membacakannya, tapi aku mohon lakukan dengan cepat, supaya mereka tidak mendapatkan masalah lagi." Syekh Asmawan mulia kembali ke tempat duduknya tadi.


"Terima kasih banyak syekh." Nyai Bestari Dhatu sangat merasa terbantu dengan adanya Syekh Asmawan Mulia.


"Sama-sama nyai, terima kasih kembali." Balas Syekh Asmawan Mulia. Setelah itu ia kembali membaca Alquran untuk membantu mereka lancar kembali ke alam nyata.


"Gusti ratu, apakah gusti ratu dapat mendengarkan hamba?." Nyai Bestari Dhatu mencoba untuk berkomunikasi dengan Ratu Dewi Anindyaswari di alam sukma.


Di alam sukma.


"Aku mendengar suaramu nyai, spa yang harus aku lakukan?." Jawab Ratu Dewi Anindyaswari.


"Bukankah itu suara nyai bestari dhatu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria mengenali suara itu.


"Gusti Ratu? Genggam kuat tangan gusti prabu, juga tangan jaya satria, hamba akan mencoba menarik kembali kesadaran sukma Gusti Ratu, Gusti Prabu, juga jaya satria." Nyai Bestari Dhatu memberikan arahan, karena Mustika Naga Merah Delima telah dibersihkan.


"Putraku? Mari kita kembali nak." Ratu Dewi Anindyaswari menggenggam erat tangan kedua putranya. Ia tidak akan melepaskan lagi anaknya. Ia berjanji didalam hatinya.

__ADS_1


Setelah itu sebuah cahaya menyelimuti tubuh mereka. Apakah yang akan terjadi?. Apakah mereka bisa kembali dengan selamat?. Temukan jawabannya.


...****...


__ADS_2