RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
BERUNDING


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita mengayunkan pedangnya, ke arah leher Tangkas Baron dan Soban Arus. Namun masih ia tahan, karena masih ada belas kasihan dihatinya. Sehingga ia tidak jadi memenggal kepala kedua pendekar itu.


Glug.


Keduanya menelan ludah dengan paksa. Karena hampir saja nyawa mereka melayang karena tebasan dari Pedang Panggilan jiwa milik Putri Andhini Andita.


"Berani sekali kalian merendahkan aku!. Rupanya kalian ingin mati di tanganku!." Tatapan mata itu semakin tajam dan mengerikan.


"Kau sama kejamnya dengan adikmu itu!. Orang-orang yang suka membunuh orang lain tanpa ragu!." Tangkas Baron mengeraskan suaranya.


"Kami akan mengutuk kalian!. Karena kalian adalah orang-orang yang suka menganiaya orang lain!." Dalam keadaan sakit, ia mengeluarkan rasa sakit hati yang ia rasakan.


Sedangkan Putri Andhini Andita benar-benar muak mendengarkan apa yang mereka katakan tentang adiknya.


"Kalian memang tidak pantas hidup. Hanya menyusahkan saja. Kalau kalian memang ingin mati. Maka akan habisi nyawa kalian sekarang juga." Putri Andhini Andita mengacungkan pedangnya ke arah mereka. Ia ayun pedang itu ke arah mereka.


"Yunda!." Dari dalam terdengar suara Putri Agniasari Ariani memanggil kakaknya. Dan pedang itu hampir saja memenggal kepala mereka berdua.


"Sangat gila." Raden Jatiya Dewa menyaksikan itu dengan perasaan berdebar-debar. Dan ia mencoba mendekati mereka semua. Begitu juga dengan putri Agniasari Ariani dan Raden Rajaswa Pranawa.

__ADS_1


"Yunda?." Putri Agniasari Ariani heran melihat kakaknya menggunakan pedang panggilan jiwa. "Yunda?. Apa yang terjadi?. Mengapa yunda hendak membunuh mereka berdua?. Apa kesalahan yang telah mereka lakukan?." Putri Agniasari Ariani sangat khawatir melihat kemarahan kakaknya itu.


Putri Andhini Andita belum menjawabnya. Ia mengatur tenaga dalamnya, dan menyimpan kembali pedang itu ke dalam tubuhnya. Setelah agak tenang ia menjawab pertanyaan dari adiknya. "Itu karena mereka bersikap kurang ajar padaku. Mereka sepertinya dendam pada rayi cakara casugraha." Jawabnya. "Akan tetapi mereka ingin menyandera aku, dan mereka ingin menodai aku sebelum mereka memanggil rayi cakara casugraha. Sungguh sangat kurang ajar sekali pikiran mereka terhadap ku rayi." Emosinya semakin meningkat ketika mengingat apa yang mereka katakan.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Putri Agniasari Ariani dan Raden Rajaswa Pranawa sangat terkejut mendengarnya. "Benarkah itu kisanak?. Kenapa kisanak melakukan itu?. Dendam seperti apa yang kisanak miliki terhadap adik saya?." Putri Agniasari Ariani bertanya pada mereka berdua.


"Katakan saja kisanak. Mari kita selesaikan masalah ini dengan baik. Jangan ada dendam diantara kita." Ucap Raden Rajaswa Pranawa mencoba memahami situasi saat ini.


"Katakan pada kami kenapa kau memiliki dendam pada gusti prabu." Raden Jatiya Dewa juga ikutan bertanya karena ia penasaran.


"Kenapa kau berada di sini jatiya dewa?." Putri Andhini Andita melirik tajam ke arah Raden Jatiya Dewa, membuatnya bergidik ngeri.


"Sudahlah yunda, obati mereka dulu. Mari kita selesaikan masalah ini dengan baik." Putri Agniasari Ariani khawatir dengan keadaan kedua orang itu. "Kisanak. Aku tidak mengerti dendam apa yang kau miliki dengan adikku. Tapi aku mohon jangan sampai kita saling membunuh, hanya karena dendam. Aku mohon dengarkan apa yang aku katakan pada kalian." Putri Agniasari Ariani memohon pada mereka berdua. "Mari ikuti aku ke ruang pengobatan. Mari kita obati luka kalian. Setelah itu mari kita berbicara dengan baik. Aku mohon dengarkan apa yang aku katakan."


...***...


Raden Jatiya Dewa juga ikut ke ruang pengobatan, karena ia masih penasaran dengan apa yang terjadi. Namun Putri Andhini Andita jauh lebih penasaran dengan kedatangan Raden Jatiya Dewa.


"Apa yang kau lakukan di sini raden jatiya dewa. Kau belum menjawab pertanyaan dariku." Putri Andhini Andita masih memburu jawaban.


Sedangkan Raden Jatiya Dewa sangat gugup ditanyai oleh Putri Andhini Andita seperti itu.

__ADS_1


"Saya, saya hanya-." Belum sempat Raden Jatiya Dewa menjawab pertanyaan itu. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana datang bersama Putri Agniasari Ariani.


"Tidak salah lagi. Kau adalah raden cakara casugraha. Orang yang telah membunuh guruku." Tangkas Baron menatap benci ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Kau harus bertanggung jawab atas kematian kekasihku!." Soban Arus juga menatap benci. Seakan ada perasaan dendam yang harus ia sampaikan.


"Jaga ucapan kalian dihadapan adikku. Jika kalian masih sayang nyawa. Aku dengan senang hati akan membunuh kalian." Putri Andhini Andita sangat tidak suka dengan mereka.


"Tenanglah yunda. Jangan mudah terbawa amarah. Aku ingin mendengarkan penjelasan mereka. Aku ingin mendengarkan apa alasan mereka mengatakan jika aku yang membunuh guru serta kekasih mereka?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil.


"Katakan pada kami, supaya kami bisa mengetahui duduk perkaranya. Jika kisanak berdua main serang saja, kami tidak akan mengetahui dimana letak kesalahan kami. Kita ini manusia kisanak. Bukan hewan, jika bertemu orang yang kita anggap sebagai musuh langsung main serang." Putri Agniasari Ariani mencoba memberikan pengertian pada mereka. "Jika kita mengetahui duduk perkaranya, bisa jadi kita saling membunuh, dan kisanak berdua mungkin tidak akan mengetahui sama sekali bagaimana penyebab dari kematian mereka bukan?."


Tangkas Baron dan Soban Arus akhirnya luluh setelah mendengarkan perkataan Putri Agniasari Ariani. Setelah keduanya selesai diobati oleh tabib Darsa mereka semua menuju ruang tamu istana. Mereka berunding di sana. Tangkas Baron dan Soban Arus menceritakan alasan mereka mencari Raden Cakara casugraha untuk balas dendam.


"Di desa hulu timur. Pada saat itu aku ingin menemui guruku. Aku melihat angin yang sangat kencang. Karena penasaran, aku mendekat. Tapi siapa sangka aku melihat raden cakara casugraha telah membunuh guruku dengan menggunakan pedang aneh." Tangkas Baron menceritakan apa yang ia lihat hari itu. "Guruku mati ditangannya, dengan luka sayatan yang sangat mengerikan di tubuhnya. Aku sangat kehilangan guruku, dan aku telah bersumpah akan membunuh raden cakara casugraha sebagai balas dendam rasa sakit hatiku." Lanjutnya dengan perasaan sedih.


"Lalu bagaimana denganmu kisanak?. Bagaimana mungkin adikku membunuh kekasihmu kisanak?." Putri Agniasari Ariani bertanya pada Soban Arus.


"Mungkin di lokasi yang sama. Saat itu aku ingin menjemput kekasihku yang berada di sana. Aku melihat angin kencang di desa itu. Karena merasa penasaran, aku ingin melihat apa yang terjadi. Namun hatiku saat itu tersayat sembilu tajam, saat aku melihat tubuh kekasihku melayang dan hampir saja melayang ke sungai hulu. Aku segera menangkapnya." Ada jeda dari ceritanya, karena hatinya terasa sakit mengingat itu semua. "Hatiku sangat sedih sekali, karena ia dalam keadaan sekarat. Sebelum ia meninggal, ia sempat mengatakan. Jika ia meninggal karena dibunuh oleh raden cakara casugraha. Hatiku sangat sakit, sama setelah itu aku berlatih ilmu kanuragan untuk menambah kekuatan ku." Dengan perasaan menggebu-gebu, ia menceritakan bagaimana perasaan terlukanya pada saat itu.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bagaimana tanggapan dari Raden Cakara Casugraha atau Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2