
...***...
"Baiklah kalau begitu. Akan aku gunakan pedang pelebur sukma. Jika memang itu bisa membantu menyelamatkan gusti prabu maheswara jumanta." Jaya Satria mengeluarkan pedang pelebur sukma dari tubuhnya.
Sementara itu di alam nyata. Mereka semua menyaksikannya, bagaiman pedang Pelebur Sukma keluar dari tubuh Raden Cakara Casugraha?.
Mereka semua yang menyaksikan itu tercengang, karena ujung pedang itu mengarah tepat di leher Prabu Maheswara Jumanta yang sedang kesakitan.
Mereka yang menyaksikan itu berdebar-debar, merasa ngeri dengan apa yang akan dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha. Matanya masih terpejam?. Tapi mengapa ia seakan ingin membunuh Prabu Maheswara Jumanta, dengan menggunakan pedang pelebur Sukma?.
"Eyang mpu. Lakukan sesuatu!." Perintah Putri Haspari Iswara yang tidak tahan lagi dengan apa yang akan dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha.
"Mohon ampun gusti putri. Sepertinya hamba tidak bisa mendekatinya. Karena ada rajah pelindung gaib disekitar raden cakara casugraha. Mohon ampun gusti putri."
"Apakah eyang mpu menginginkan kematian ayahanda prabu?!."
Namun belum sempat Mpu Mahaprana menjawabnya, mereka dikejutkan dengan ayunan pedang Raden Cakara Casugraha yang menebas sesuatu.
Mereka semakin berdebar-debar melihat itu. Karena beberapa kali ia melepaskan tebasan itu ke arah Prabu Maheswara Jumanta yang semakin kesakitan, dan akhirnya berhenti berteriak?.
"Ayahanda prabu!." Putri Haspari Iswara langsung mendekati ayahandanya. Namun apa yang terjadi?. Ia malah terlempar menjauh, namun beruntung. Karena tubuhnya ditahan oleh Pupuh Ayu yang melihat itu.
Mereka yang menyaksikan itu semakin ngeri, tidak berani berkomentar. Karena takut kena dampak dari rajah pelindung gaib itu. Mereka tidak tahu sama sekali, apa yang telah dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha, terhadap Prabu Maheswara Jumanta.
"Hamba mohon tenanglah gusti putri." Pupuh Ayu mencoba untuk menenangkan Putri Haspari Iswara.
"Bagaimana aku bisa tenang. Ayahandaku dibunuh raden cakara casugraha." Putri Haspari Iswara menangis pilu. Rasanya sangat menyakitkan, dan sangat sesak.
"Setelah sepuluh tahun lamanya, ayahanda mencoba bertahan. Namun raden cakara casugraha malah membunuh ayahanda prabu dengan pedangnya?." Suara tangisan pilu seorang anak yang tidak rela kehilangan ayahandanya?.
Mereka semua yang mendengar itu merasakan simpati pada Putri Haspari Iswara. Mereka semua mengutuk apa yang telah dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha.
__ADS_1
"Saudaraku yang masih memihak pada prabu maheswara jumanta." Ucap prabu Tenggala Putih yang mulai terbakar amarah. "Raden cakara casugraha telah membunuh raja junjungan kita." Ucapnya dengan berapi-api. Ia mengambil keris yang terselip di pinggangnya. Mengarahkannya ke atas, seakan ia mengajak raja yang lainnya untuk menyerang Raden Cakara Casugraha.
"Tunggu dulu. Tidak mungkin raden cakara casugraha melakukan itu." Prabu Sajana Reswara mencoba untuk mengingatkan mereka agar tidak mengganggu apa yang sedang dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha saat ini.
Sayangnya mereka sama sekali tidak mau mendengarkan apa yang ia katakan. Dan ia justru dituduh bersekongkol dengan Raden Cakara Casugraha.
Kembali ke alam sukma.
Jaya Satria berhasil menyerap semua kegelapan yang ada di tali gaib itu. Dengan melakukan tebasan beberapa kali. Akhirnya tali gaib itu bisa terlepas dari tubuh prabu Maheswara Jumanta.
Agak memakan waktu yang cukup lama, Prabu Maheswara akhirnya bereaksi. Ia berusaha untuk menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku.
"Aku,,, tubuhku,," perlahan-lahan Prabu Maheswara Jumanta merasakan kembali dirinya.
"Syukurlah gusti prabu." Tombak pusaka Kelana Jaya merasa bersyukur dengan bebasnya sang prabu dari jeratan tali gaib itu.
"Tombak pusaka kelana jaya?." Prabu maheswara Jumanta akhirnya mengenali tombak pusaka miliknya?.
Sedangkan di alam nyata. Mereka yang dari tadi berdebat, terkejut melihat Tombak pusaka Kelana Jaya berpindah tangan?. Mereka semua yang menyaksikan apa yang terjadi?.
Bagaimana mungkin tombak pusaka Kelana Jaya bisa berpindah tangan?. Sementara itu, Raden Cakara Casugraha masih berdiri di tempat. Matanya terpejam dengan eratnya, sama sekali tidak melihat atau, bergerak untuk memindahkan tombak itu.
Apa yang terjadi sebenarnya?. Mengapa begitu aneh kejadian yang mereka saksikan?.
Kembali ke alam sukma.
"Mohon ampun gusti prabu. Sebaiknya jangan terlalu lama berada di alam sukma ini." Ucap Jaya Satria mengalihkan pandangan Prabu Maheswara Jumanta. "Karena alam sukma sangat tidak baik untuk manusia tinggali. Kita harus segera kembali ke alam nyata." Lanjut Jaya Satria, mengingatkan sang prabu.
"Baiklah. Kalau begitu, mohon bantuannya sekali lagi anak muda. Karena aku masih belum bisa menggunakan tenaga dalamku untuk kembali ke alam nyata." Balasnya dengan raut wajah yang sangat sedih.
"Kalau begitu, mari gusti prabu." Jaya Satria menyentuh pundak Prabu Maheswara Jumanta. Dengan membacakan beberapa ayat, serta doa. Jaya Satria berhasil membawa kembali sukma Prabu Maheswara Jumanta.
__ADS_1
Atas izin Allah SWT. Perlahan-lahan mata prabu Maheswara Jumanta terbuka lebar, melihat ke segala arah.
Mereka semua sangat terkejut, melihat sang prabu terbangun?. Setelah sepuluh tahun lamanya terbaring di tempat tidur, dan akhirnya sang prabu bangun?.
Perlahan-lahan pedang pelebur Sukma di tangan Raden Cakara Casugraha, atau Jaya Satria menghilang dari genggamannya. Dan ia juga membuka matanya. Mengatur hawa murninya dengan baik, setelah ia kembali dari alam sukma.
"Ayahanda prabu!." Putri Haspari Iswara mencoba mendekati ayahandanya. Kali ini ia memang dapat menyentuh ayahandanya tanpa adanya halangan yang membuatnya terlempar seperti tadi?.
"Oh ayahanda prabu." Putri Haspari Iswara menangis sambil memeluk ayahandanya?. Namun belum ada tanggapan dari sang prabu, karena ingatannya belum pulih sepenuhnya.
"Tenanglah dulu gusti putri. Biarkan gusti prabu beristirahat terlebih dahulu." Ucap Jaya Satria sambil memperhatikan kondisi prabu Maheswara Jumanta, yang tidak merespon sama sekali dengan apa yang diucapkan oleh putranya sendiri.
"Apa yang kau maksud?. Katakan padaku!." Putri Haspari Iswara melepaskan pelukannya, menatap tajam ke arah Jaya Satria.
"Ingatan gusti prabu belum pulih sepenuhnya. Karena ingatannya sepuluh tahun yang lalu. Masih membekas dibenaknya, ketika ia diserang oleh orang yang berusaha merebut tombak pusaka kelana jaya. Jadi kita yang masa ini, masih belum bisa berkomunikasi dengan baik pada gusti prabu." Jawab Jaya Satria.
"Sepertinya apa yang dikatakan oleh raden cakara casugraha sangat benar nanda putri. Itulah yang terjadi pada gusti prabu sekarang." Mpu Mahaprana dapat melihatnya dengan sekilas.
"Lalu apa yang akan kita lakukan, agar ingatannya bisa pulih, eyang mpu."
"Kita serahkan pengobatan pada raden cakara casugraha. Mungkin ia dapat menemukan cara menyembuhkan gusti prabu." Balasnya dengan tenangnya.
Putri Haspari Iswara menatap lekat mata Jaya Satria. Ia masih waspada dengan apa yang dilakukan oleh pemuda itu?.
Jaya Satria menghela nafasnya dengan pelan. Ia tidak suka diragukan seperti itu.
"Jika gusti putri ragu. Hamba juga tidak bisa memaksakannya." Ucap Jaya Satria sambil melirik ke arah Putria Haspari Iswara. "Karena urusan hamba dengan tombak pusaka kelana jaya telah selesai, hamba mohon undur diri kembali ke istana kerajaan suka damai." Ucapnya lagi.
"Tapi hamba berharap, jika gusti putri tidak mengirim pesan perperangan ke kerajaan suka damai, dengan alasan raden cakara casugraha tidak bertanggungjawab, atas meninggalnya prabu maheswara jumanta. Karena tidak berhasil disembuhkan dengan cara biasa." Itulah peringatan keras dari Jaya Satria.
Apa tanggapan dari Putri Haspari Iswara?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya.
__ADS_1
...***...