
...****...
Paginya. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menuju halaman Istana. Mereka semua sudah berkumpul di sana. Hanya menunggu dirinya saja. Rakyat menyambutnya dengan hati yang bahagia, sehingga ia tersenyum bahagia pula. Akan tetapi, hanya satu orang saja yang belum ia lihat.
"Apakah yunda ratu belum tiba?. Ibunda, harusnya yunda ratu telah tiba di istana ini."
"Benar rayi prabu. Mengapa yunda ratu belum sampai?. Apakah ada masalah di perjalanan?."
"Yunda ratu mengapa belum tiba?."
Mereka semua mencemaskan keadaan Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara yang belum terlihat.
"Tenang saja, nanda ratu telah berada di istana ini."
"Dimana ibunda?. Mengapa kami tidak melihat kedatangan yunda ratu?."
"Benar rayi dewi. Dimana nanda ratu berada."
"Sebentar ya, biar aku jemput sebentar." Ratu Dewi Anindyaswari meninggalkan mereka sebentar. Tentunya mereka kebingungan dan bertanya-tanya.
"Apakah ibunda dewi mengetahui kedatangan yunda ratu?."
"Bisa jadi seperti itu rayi agniasari ariani."
"Kita lihat saja, apa yang akan dilakukan oleh ibunda ratu dewi."
"Dinda bestari dhatu benar. Rasanya membuat kita berdebar-debar saja menebaknya."
Tak lama kemudian, Ratu Dewi Anindyaswari datang bersama Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara. Tentunya mereka terkejut, dan tidak percaya.
"Bagaimana bisa ibunda dewi bersama yunda ratu?."
"Maafkan saya, karena saya tiba malam hari. Hanya disambut ibunda dewi."
"Benarkah itu rayi dewi?. Mengapa tidak mengatakannya pada kami."
"Kejutan, ibunda dewi mengatakan untuk kejutan kedatangan nanda, ibunda gendhis. Apalagi nanda sampai di istana saat malam hari. Nanda takut mengganggu tidur ibunda, serta yang lainnya."
"Tapi itu sangat mengejutkan kami yunda ratu."
"Benar, kami mengira yunda ratu tidak akan datang."
"Tentu saja saya akan datang rayi hadyan hastanta, rayi prabu. Maaf, jika saya membuat kalian terkejut."
Mereka tersenyum kecil, memakluminya. Setidaknya hari ini harus dilewati dengan raut penuh kebahagiaan. Mereka duduk bersama sambil melihat rakyat Suka Damai yang turut hadir dalam kebahagiaan mereka saat ini. Sementara itu, Jaya Satria, Syekh Asmawan Mulia, dan Paman Perapian Suramuara sedang mengawasi area sekitar. Mewaspadai hal buruk yang akan terjadi.
"Mari kita duduk ibunda, yunda ratu, raka hadyan hastanta, yunda bestari dhatu, yunda andhini andita, juga yunda agniasari ariani."
"Terima kasih nanda prabu."
__ADS_1
"Terima kasih rayi prabu."
Mereka semua menatap ke arah rakyat Suka Damai yang semakin berdatangan, memenuhi halaman istana. Rasanya sangat bahagia melihat mereka, apalagi saat melihat senyuman rakyat Suka Damai.
"Bagaimana yunda ratu, apakah bisa berjalan dengan baik?."
"Masih berjalan dengan baik rayi prabu."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin jika seperti itu yunda ratu."
"Jika diperkenankan, saya ingin minta izin pada rayi prabu."
"Apa itu yunda. Katakan saja."
"Saya minta izin memboyong rayi agniasari ke istana mekar jaya."
"Eh?. Kenapa aku yunda ratu?."
"Saya ingin belajar agama islam bersama rayi. Rasanya aku juga ingin memeluk agama Islam."
"Dengan senang hati, aku akan ikut bersama yunda ratu."
"Yunda ratu tidak adil."
Mereka semua melihat ke arah Putri Andhini Andita yang terlihat manyun.
"Mengapa hanya rayi agniasari ariani saja yang di bawa, padahal aku sedang belajar agama Islam bersamanya."
"Maafkan saya rayi andhini adnita. Jika rayi mau ikut, tentu saja boleh."
"Terima kasih yunda ratu yang cantik."
Kembali mereka tertawa geli melihat tingkah laku Putri Andhini Andita yang menghormati Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara dengan cara yang unik.
Tapi sayangnya kebahagiaan mereka terganggu, karena rakyat Suka Damai berlarian ketakutan.
"Apa yang terjadi?. Mengapa mereka semua berlari ketakutan?."
Mereka semua keluar dari tenda itu, dan saat mereka di luar.
"Mohon maaf gusti prabu, sepertinya ada beberapa orang yang berusaha merusak acara ini."
"Amankan segera jaya satria."
Akan tetapi, disaat Jaya Satria mau melakukan perintah sang Prabu, ada sekitar sepuluh orang pendekar yang melompat menghadang mereka.
"Raden cakara casugraha. Ternyata kau sekarang menjadi raja."
"Siapa kau?. Berani sekali kau mengganggu acara penting ini!."
__ADS_1
Namun pemuda itu tidak menjawabnya. Justru ia memperhatikan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan seksama. Ia mencoba lebih mendekat ke arah sang Prabu. Membuat mereka waspada, terutama Ratu Dewi Anindyaswari yang merasa cemas.
"Kau bukanlah raden cakara casugraha. Kau siapa?."
Mereka semua terkejut, mendengarkan apa yang dikatakan oleh pemuda itu.
"Hei!. Siapa kau?. Mengapa kau berkata kurang ajar pada rayi prabu?."
"Putri Andhini Andita yang terhormat. Apakah kau tidak menyadari, jika dia bukanlah adikmu."
"Cukup!. Kau pendekar segala tahu. Apa yang inginkan?. Masalah apalagi yang kau inginkan sehingga kau datang ke istana ini?."
"Nanda prabu, izinkan kami untuk mengurusi mereka semua."
"Tenanglah syekh guru. Mereka semua bukanlah orang sembarangan. Nanda hanya tidak ingin mereka mencelakai ibunda."
"Kalau begitu, bawa gusti ratu ke tempat aman."
"Baiklah paman perapian. Tolong bawa ibunda ke tempat aman."
Belum sempat Paman Perapian Suramuara membawa kedua Ratu Kerajaan Suka Damai ke tempat aman, namun ucapan Pendekar Segala Tahu, membuat mereka semua terkejut.
"Nah!. Kau!. Kau orang bertopeng!. Kau adalah raden cakara casugraha yang asli. Kau yang aku lawan beberapa tahun yang lalu."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Gusti prabu." Dalam hati Jaya Satria mencoba untuk berkomunikasi dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Tenanglah jaya satria. Jangan sampai terpancing dengan ucapannya." Sang Prabu berusaha untuk bersikap tenang.
"Astaghfirullah hal'azim ya. Mengapa orang itu mengetahuinya?." Sementara itu, di dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari merasa cemas, jika rahasia anaknya akan ketahuan?.
"Hei kau!. Jangan asal bicara kau!."
"Sudah aku katakan putri andhini andita, bahwa adikmu yang asli adalah orang bertopeng itu."
Akhirnya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sudah tidak tahan lagi. Keduanya menyerang Pendekar Segala Tahu. Terjadilah pertarungan diantara mereka.
"Rayi prabu, jaya satria!." Raden Hadyan Hastanta yang tadi hanya diam menyimak, merasa khawatir melihat adiknya. Ia berniat membantu adiknya, namun dihadang oleh mereka pendekar yang ikut bersama pendekar Segala Tahu tadi.
"Mari ibunda. Kira mencari tempat yang aman."
"Tapi bagaimana dengan nanda prabu. Ibunda sangat mengkhawatirkannya nak."
"Rayi prabu akan aman ibunda. Setidaknya kita sedikit menjauh dari pertarungan itu."
"Apa yang dikatakan nanda ratu benar rayi dewi. Kita jangan sampai menjadi beban untuk mereka. Biarkan mereka konsentrasi berhadapan dengan lawan mereka."
Hatinya sangat gelisah, karena kedua anaknya sedang bertarung. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Ya Allah, lindungilah kedua putra hamba. Jangan sampai orang itu mengatakan hal yang sebenarnya."
__ADS_1
Halaman istana saat ini diwarnai pertarungan antara pendekar dengan keluarga istana. Syekh Asmawan Mulia dan Paman Perapian Suramuara juga membantu. Apa yang akan terjadi?. Benarkah pendekar Segala Tahu, mengetahui siapa Raden Cakara Casugraha yang asli?. Temukan jawabannya.
...****...