RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEBIMBANGAN PERASAAN HATI


__ADS_3

...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria saat ini sedang berada di ruang pribadi Raja. Keduanya mencoba untuk mencerna kembali masalah yang ada selama puasa.


"Dari laporan mereka, keadaan sekitar seben aman. Akan tetapi ada satu tempat di wilayah ini yang tiba-tiba saja tidak bisa dimasuki oleh siapa saja." Jaya Satria merasa aneh dengan tempat itu.


"Apa yang harus kita lakukan?. Kita tidak boleh membiarkan tempat itu menjadi tempat terlarang." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa cemas dengan apa yang akan terjadi.


"Untuk sementara waktu aku akan ke sana, aku ingin mengajak beberapa Pendekar untuk memeriksanya." Jaya Satria mengingat bagaimana seramnya tempat itu.


"Apakah kita tidak bisa melakukannya bersama?. Rasanya aku hanya sebagai pajangan saja di sini. Tidak melakukan apapun." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana lama-lama merasa tidak enak hati dengan Jaya Satria yang merupakan tubuh asli dari Raden Cakara Casugraha.


"jangan berpikir seperti itu. Kau di sini untuk melindungi ibunda ratu, yunda, raka, serta keluarga besar istana ini. Justru tugasmu yang sangat berat." Jaya Satria tertawa kecil melihat raut wajah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Baiklah, tapi aku harap kau baik-baik saja. Aku akan melakukan tapa semedi, menemui ayahanda yang mungkin masih berada di istana ini. Aku ingin bertanya pada ayahanda, bagaimana caranya memisahkan raga kita agar tidak terluka." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya pasrah saja jika Raden Cakara Casugraha yang asli berkata seperti itu.


"Ya, semoga saja ayahanda mau menjawabnya. Karena aku sangat takut, jika aku bertarung dengan seseorang yang memiliki ilmu kanuragan yang lebih tinggi dari aku, aku cemas kau juga akan dalam bahaya." Jaya Satria sangat berharap akan ada peruba pada mereka.


Apakah yang akan mereka lakukan setelah ini?. Temukan jawabannya.


***

__ADS_1


Di Desa Damai Setia.


Padepokan Al-Ikhlas, Raden Jatiya Dewa sedang berusaha untuk belajar dengan lebih baik lagi. Saat ini ia bersama santri baru yang ikut bergabung. Mereka pergi mengambil air bersih yang agak jauh dari padepokan.


"Apakah ini tidak apa-apa?. Bukankah kalian sedang melakukan puasa?. Tapi mengapa masih saja terlihat sangat kuat?." Mata Raden Jatiya Dewa melirik ke arah ketiga temannya yang juga membawa beban dipundak mereka masing-masing. "Bagaimana jika kalian haus atau merasa lapar nantinya?. Apakah kalian masih sanggup untuk melakukannya?." Begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulutnya, sehingga membuat mereka semua terheran-heran. Namun setelah itu mereka malah tertawa lepas.


"Apakah ada yang lucu dengan ucapanku tadi?." Entah karena polos atau karena memang tidak mengetahuinya, ia bertanya seperti itu pada mereka bertiga.


"Kami tidak apa-apa raden. Justru kami khawatir dengan keadaan raden." Mulni, pemuda yang berada paling dekat dengan Raden Jatiya Dewa.


"Ini namanya latihan kesabaran saat berpuasa raden. Karena jika tidak sabar, maka ia tidak akan menjadi pribadi yang kuat. Percayalah, jangan terlalu memanjakan diri hanya karena rasa malas yang menghalangi langkahmu." Barka, pemuda di sebelahnya Mulni berkata


"Hadapi semuanya dengan penuh kesabaran. Apalagi saat berpuasa. Pahala kesabaran itu sangat luar biasa. Begitu kata syekh guru." Purna, pemuda di sebelahnya Barka.


"Baiklah, kalau begitu mari kita lanjutkan. Semoga dengan keikhlasan yang kita lakukan hari ini, air yang kita bawa menjadi berkah untuk kita semua nantinya." Mulni menyemangati teman-temannya.


"Semangat!." Raden Jatiya Dewa menyambut dengan semangat ucapan teman-temannya. "Luar biasa sekali mereka ini. Apakah aku bisa seperti mereka?." Dalam hati Raden Jatiya Dewa mencoba untuk menyesuaikan diri. Tidak mungkin ia menjadi orang egois, menuruti semua kehendaknya saja. Meskipun awalnya ia agak berat melakukannya tapi ia harus bisa. Apa jadinya jika ia kembali ke Istana Kerajaan Buana Dewa sambil merengek mengadu kepada ayahandanya. Mengatakan jika mereka semua bersikap kurang ajar padanya?. Harga dirinya akan terhina, karena ia sendiri yang memutuskan untuk belajar agama islam. Jadi apapun akan ia hadapi dengan menanggung semua resikonya.


...***...


Putri Andhini Andita saat ini sedang berada di kamarnya. Ia mencoba untuk melakukan semedi?. Tapi untuk apa ia melakukan itu?. Karena ia merasakan ada getaran aneh dengan pedang Panggilan Jiwa yang ada di dalam tubuhnya. Pedang pembangkit Raga Dewi Suarabumi seperti ingin memanggilnya.

__ADS_1


Ketika ia membuka matanya, ia berada di suatu tempat yang sangat asing. Di sebuah istana yang sangat megah, dan besar. Matanya juga menangkap ada seorang wanita cantik, berpakaian yang sangat indah, serta anggun. Menggambarkan sekali jiwa seorang putri raja yang sangat indah dipandang mata.


"Sampurasun." Putri Andhini Andita memberi hormat pada tuan putri yang sedang duduk dengan manjanya di hadapannya.


"Rampes." Suaranya terdengar sangat anggun, dan bahkan menggetarkan siapapun.


"Maaf, jika saya boleh bertanya. Siapakah tuan putri ini?. Apakah tuan putri yang memanggil saya?." Putri Andhini Andita hanya ingin memastikannya.


Tuan putri itu tersenyum kecil sambil memperbaiki posisi duduknya. Ia belum menjawab pertanyaan dari Putri Andhini Andita, dan ia malah memberi kode pada Putri Andhini Andita untuk duduk.


"Terima kasih." Putri Andhini Andita hanya menurut saja. Setelah itu ia menatap ke arah tuan putri tersebut.


"Aku adalah Sukma dari dewi suarabumi yang mengisi pedang panggilan jiwa milikmu, putri andhini andita." Senyumannya begitu manis, namun membuat Putri Andhini Andita terlihat bingung.


"Apa yang membuat tuan putri memanggil saya?. Apakah terjadi sesuatu pada tuan putri selama berada di dalam tubuh saya?." Putri Andhini Andita hanya ingin memastikan alasan mengapa pedang Pembangkit raga Dewi Suarabumi memanggilnya?.


"Aku memanggilmu, karena kebimbangan yang kau rasakan sangat mengganggu ketenangan ku berada di dalam tubuhmu." Jawabnya. Kali ini tatapannya menjadi datar. Seketika senyuman itu telah berubah menjadi senyuman yang sangat kaku. "Perasaan bimbang yang ada di dalam hatimu, telah membuat aku merasa tidak nyaman sama sekali." Sorot matanya menjadi lebih tajam dari yang sebelumnya.


"Maaf, jika saya telah membuat tuan putri merasa tidak nyaman. Saya telah mencobanya namun tidak bisa." Hati Putri Andhini Andita juga merasa sedih, karena memang tidak sanggup rasanya ia menahan perasaan itu terlalu lama.


"Jangan bercanda kau andhini andita!." Tiba-tiba saja suara tuan putri menjadi lain. Karena kemarahan yang ia rasakan, Putri Andhini Andita sangat dikejutkan oleh angin kencang yang menerpa tubuhnya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2