RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERTARUNGAN DI KOTA RAJA


__ADS_3

...***...


Di kerajaan Mekar Jaya.


Kota Raja yang tak jauh dari Istana Mekar Jaya. Saat ini sedang ada pertarungan antara Jaya Satria dengan Tujuh Suara, Putri Andini Andita dengan Senjata Kabung, Putri Agniasari dengan Gempur Bedati, Syekh Asmawan Mulia dengan Rengkah merapi, Raden Hadyan Hastanta dengan Meduri Sepi, dan terakhir, Nyai Bestari Dhatu berhadapan dengan Sembur Hawa.


Pendekar golongan hitam yang disewa prabu Ganendra Garjitha tidak menyangka mereka sudah ditunggu oleh mereka semuanya di Kota raja kerajaan mekar jaya?.


Kembali pada rencana yang dikatakan oleh Jaya Satria yang katanya telah disetujui oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Kita akan tetap mengantar Gusti Putri ambarsari ke istana kerajaan mekar jaya." Jaya Satria menjelaskannya pada mereka. "Namun kita semua menyamar jadi rakyat biasa ketika mengantar Gusti Putri ambarsari sampai di kota Raja, saat itulah kita cegat para pendekar golongan hitam di sana."


"Artinya kita membiarkan yunda ambarsari ke istana sendirian?."


"Gusti Putri tenang saja, hamba akan mengakali mereka semua dengan jurus ilusi, mereka akan melihat Gusti Putri ambarsari datang bersama rombongan, tapi sebenarnya Gusti Putri datang sendirian."


"Baiklah jika memang seperti itu."


"Aku rasa mencegat para pendekar di kota raja keputusan yang baik, jangan sampai mereka meninggalkan kerajaan mekar jaya, dan malah bergerak ke kerajaan suka damai."


Ya, seperti itulah rencana yang dikatakan Jaya Satria setelah mempertimbangkan kembali apa yang akan ia lakukan demi mencegah kedatangan para pendekar golongan hitam ke kerajaan Suka Damai.


Saat ini mereka sedang bertarung melawan pendekar golongan hitam yang memiliki jurus-jurus yang cukup berbahaya.


"Kau jangan sombong dulu hanya karena jurus yang kau miliki itu? Jumawa sekali kau!." Tujuh Suara merasa kesal karena beberapa jurus yang ia gunakan berhasil dipatahkan oleh Jaya Satria.


"Aku tidak jumawa paman, Allah SWT akan marah padaku jika waku memiliki sifat yang seperti itu."


"Bedebah! Kau tidak perlu membawa-bawa nama tuhan yang sama sekali tidak aku ketahui!."


"Kalau begitu akan aku tunjukkan kepada paman, siapa itu Allah SWT?! Tapi paman berjanji akan menerimanya dengan hati paman."


"Diam kau! Aku tidak perlu diajari oleh bocah kemarin sore seperti kau."


Amarah yang ada di dalam dirinya, telah ia lepaskan. Menyerang Jaya Satria dengan semua ilmu kanuragan yang ia miliki. Menyerang tanpa arah, terus menyerang. Namun Jaya Satria bisa menghindari semua jurus-jurus yang melesat ke arahnya.


Di sisi lain, sepertinya Putri Andhini Andita mengalami sedikit masalah, karena lawannya yang cukup tangguh. Senjata Kabung, sesuai dengan nama yang ia miliki. Bukan hanya mengubah benda apapun saja menjadi senjata, namun pukulan yang dimilikinya juga membuat bahu kirinya terasa sakit.


"Kegkh! Ternyata dia kuat juga." Dalam hatinya sedikit khawatir, apakah ia akan kalah di sini?. "Apa yang harus aku lakukan untuk menghadapinya?." Dalam hati Putri Andhini Andita sedang memikirkannya.


Putri Agniasari Ariani, dengan piawainya memainkan jurus andalannya, sapuan angin bidadari. Gerakan lembut? Namun ketika mencoba untuk mendekatinya?. Akan merasakan angin yang seperti jarum perlahan melukai seseorang, dan itulah yang dialami oleh Gempur Bedati.


"Sial! Ternyata tidak bisa diremehkan begitu saja." Dalam hatinya mengamati dengan jelas bagaimana jurus itu memanfaatkan angin sekitarnya. "Aku tidak menduga jika ia memiliki jurus yang unik seperti itu." Ia mengamati musuhnya, ia tidak bisa menyerangnya dalam jarak dekat. "Aku terlalu meremehkannya hanya karena ia berpenampilan anggun seperti itu." Dalam hatinya sangat kesal karena tertipu dalam penampilan seorang wanita muda?.


Apakah yang akan terjadi di dalam pertarungan itu?. Simak dengan baik kisahnya.


...***...


Di Istana Mekar Jaya.


Ada seorang Prajurit yang datang mengadu setelah melihat apa yang telah terjadi?.


"Mohon ampun Gusti Prabu, hamba hendak melapor jika di kota raja saat ini ada pertarungan." Ia memberi hormat, ia terlihat takut.


"Apa kau bilang?!." Bentaknya dengan sangat keras. "Ada pertarungan di kota raja? Apakah kau tidak salah dalam memberikan laporan padaku?!." Prabu  Ganendra Garjitha mendapatkan laporan dari prajurit kepercayaannya.


"Tidak Gusti Prabu, hamba telah memastikannya."


"Kita lihat siapa yang sedang menghadang pendekar yang kita sewa itu raka Prabu? Aku takut jika memang mereka yang datang."


"Tapi bagaimana mungkin bisa?."


Mereka semua melihat kearah Putri Ambarsari, karena mereka mencurigai Putri Ambarsari berkhianat pada mereka semua.

__ADS_1


"Mengapa ibunda dan raka malah melihat saya seperti itu?."


"Kau tidak mengkhianati aku, kan? Rayi ambarsari?."


"Kejam sekali raka prabu menuduh saya seperti itu!." Putri Ambarsari sakit hati mendengarnya. "Apa gunanya saya membawa mahkota itu?! Jika saya mengkhianati raka Prabu?! Inikah balasan atas apa yang telah saya lakukan?!." Bentaknya dengan suara yang sangat keras.


"Sudahlah! Sebaiknya kalian lihat saja! Dari pada berdebat di sini!" Ratu Ardiningrum Bintari tidak mau melihat pertengkaran ketiga anaknya.


"Mari raka prabu, mari kita lihat mereka semua." Raden Gentala Giandra mengajak kakaknya itu segera melihat pertarungan di Kota Raja. Mengapa mereka berani sekali membuat kegaduhan di Kota Raja?.


"Ibunda tetaplah berada di istana ini." Putri Ambarsari mencegah ibundanya yang ingin ikut. "Ibunda? Sebaiknya ibunda merenungi apa yang telah ibunda lakukan pada kakek Prabu."


"Apa maksudmu berbicara seperti itu padaku?." Ratu Ardiningrum merasa curiga. Mengapa anaknya berkata seperti itu padanya?.


"Ibunda? Durhaka kepada seorang ayah itu tidak baik." Putri Ambarsari menatap tajam ibundanya. "Bukankah ibunda mengajari saya untuk menghormati mendiang ayahanda Prabu?." Ia masih ingat dengan itu. "Namun apa yang ibunda perlihatkan pada saya waktu itu? Sungguh tindakan yang membuat saya kecewa pada ibunda." Ia melangkah pergi meninggalkan ibundanya.


"Tunggu! Kau tidak bermaksud untuk mengkhianati kami, kan?." Ratu Ardiningrum Bintari hanya ingin memastikan kesetiaan anaknya.


"Jangan salahkan saya, jika saya tidak mengikuti apa yang ibunda lakukan?." Putri Ambarsari menghentikan langkahnya. "Karena ibunda sendiri yang mengajari saya menjadi seorang pengkhianat!." Putri Ambarsari benar-benar meninggalkan ibundanya.


"Tidak mungkin anakku ambarsari akan berkhianat padaku, dan malah membela mereka?." Dalam hati Ratu Ardiningrum Bintari tidak ingin itu sampai terjadi.


"Kurang ajar sekali prajurit itu melaporkan pertarungan yang terjadi di kota raja?! Akan aku bunuh dia nanti!." Dalam hati Putri Ambarsari mengutuk prajurit yang datang melapor apa yang terjadi. Padahal ia sangat berharap jika Jaya Satria bisa mengalahkan pendekar golongan hitam itu tanpa diketahui oleh kedua kakaknya.


Sedangkan Ratu Ardiningrum terdiam di tempat. Melihat putrinya yang pergi meninggalkannya dengan perkataan yang menusuk hatinya.


"Putriku? Aku tidak akan membiarkan ia berkhianat padaku!." Hatinya sangat tidak terima. "Akan aku hukum berat dia jika berani melakukan itu." Dalam hatinya yang sedang panas sedang memikirkan apa yang akan ia lakukan jika memang benar anaknya berani berkhianat padanya.


...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang berada di ruang pribadi Raja, sang Prabu ingin membantu Jaya Satria yang kini sedang bertarung dengan salah satu pendekar golongan hitam. Suasana hati sang Prabu sangat cemas dengan keselamatan saudara-saudaranya.


Kita lihat pertarungan yang sedang terjadi di Kota Raja. Pertarungan yang sangat menegangkan karena jurus-jurus yang digunakan para pendekar golongan hitam memnag sangat berbahaya, hampir saja Putri Andhini Andita cs tidak bisa mengatasi jurus itu.


"Heh! Sepertinya kau ketakutan dengan jurus-jurus yang aku keluarkan." Ia mendengus sambil meremehkan kemampuan musuhnya. "Jika kau masih sayang dengan nyawamu? Sebaiknya kau segera pergi dari sini mumpung aku berbaik hati mengampuni nyawamu."


Syekh Asmawan Mulia tersenyum kecil, ia masih terlihat tenang. "Aku memang membutuhkan pengampunan manusia jika aku bersalah pada orang itu! Akan tetapi Allah SWT, lebih maha pengampun dari manusia." Balas Syekh Asmawan Mulia. "Allah selalu mengampuni hamba-Nya, namun tidak dengan manusia yang memiliki akal yang licik untuk mengelabui manusia lainnya."


"Heh! Sepertinya kau memiliki pandangan yang berbeda! Aku kira kau hanya berbeda penampilan saja." Ia sangat tidak setuju dengan ucapan Syekh Asmawan Mulia.


Setelah itu ia melompat ke arah Syekh Asmawan Mulia, ia menyerang dengan menggunakan jurus sembur hawa panas gunung merapi. Menyalurkan tenaga dalamnya ke telapak tangannya, kemudian ia arahkan ke musuhnya. Keluarlah api panas yang hendak membakar tubuh lawannya. Akan tetapi Syekh Asmawan Mulia bisa menghindari jurus-jurus itu.


Sedangkan pertarungan Raden Hadyan Hastanta melawan Medan Sepi?.


Di tempat yang cukup terbuka, Raden Hadyan Hastanta sedang memejamkan matanya, ia mencoba fokus mendengarkan langkah sunyi yang sama sekali tidak ia ketahui serangan yang datang padanya.


Duakh!.


Tiba-tiba saja ia mendapatkan serangan pukulan, dan hantaman di punggungnya. Cukup menyakitkan hingga membuatnya meringis kesakitan. Namun ketika ia berbalik arah, musuhnya sudah tidak terlihat lagi


"Sial! Aku benar-benar dipermainkan olehnya." Ia mencoba lagi, memusatkan pikirannya. Ia tidak akan kalah begitu saja, ia pasti akan membalaskan pukulan yang ia terima itu dua kali lipat.


Sedangkan Nyai Bestari Dhatu?.


Pertarungannya dengan Sembur Hawa cukup imbang, keduanya sama-sama kuat.


"Boleh juga ilmu kanuragan yang kau miliki?! Gerakannya sederhana, namun bisa mengelabui musuh? Ternyata kau licik juga dalam menghadapi musuh!."


"Aku tidak akan besar kepala hanya karena pujian darimu, karena itulah kenyataannya."


"Heh! Mulutmu itu lancang juga ternyata."


Sembur hawa, jurusnya hampir sama dengan Rengkah Merapi karena mereka memiliki aliran yang sama. Hanya sedikit perbedaan? Sembur merapi menggunakan buluh bambu sebagai senjata yang ia gunakan untuk menyembur hawa panas itu, api yang menyembur ke arah lawannya lebih besar.

__ADS_1


Nyai Bestari Dhatu menghindarinya dengan melompat ke atas, dengan meringankan tubuhnya, ia berhasil menghindari serangan itu dengan sempurna. Saat itu juga menyalurkan tenaga dalamnya ke telapak tangannya, dengan menggunakan jurus air samudera menyapu ombak. Sembur Hawa sedikit terkejut karena jurus itu hampir saja mengenai tubuhnya jika ia tidak segera menghindarinya.


"Sial! Jurus itu itu bisa melumpuhkan semburan apiku?!." Ia merasa khawatir jika jurus yang ia miliki berhasil dihentikan, karena api dan air sangat berlawanan. "Aku tidak akan tinggal diam saja!." Hatinya tidak bisa menerima begitu saja, jika jurus yang ia mainkan dapat dipatahkan oleh musuhnya.


Namun, disaat pertarungan itu sedang berlangsung dengan sengitnya?. Prabu Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra datang?.


"Heh! Tidak aku sangka kalian malah datang kemari?." Suara itu lumayan keras, hingga mampu menghentikan pertarungan mereka semua.


Pendekar golongan hitam mendekati orang yang telah menyewa mereka, dan untuk sejenak mereka meninggalkan pertarungan itu.


Sementara itu. Jaya Satria, juga yang lainnya saling mendekat. Mereka sepertinya sudah ada yang terluka karena pertarungan tadi, terutama putri Andhini Andita.


"Heh! Amatir sepertimu, tidak akan menang begitu saja andhini andita!." Matanya mengamati luka-luka yang dialami oleh adiknya itu.


"Sebaiknya kau kembali ke istana suka damai! Sampaikan salam kematian pada cakara casugraha! Bahwa aku akan mencabut nyawanya melalui pendekar golongan hitam yang aku sewa untuk membunuhnya."


"Diam kau!." Dengan suara yang sangat keras, ia membentak Ganendra Garjitha. "Kau memang biadab ganendra garjitha!." Putri Andhini Andita benar-benar telah dikuasai oleh kemarahan yang sangat membara ketika melihat Prabu Ganendra Garjitha. "Ayahanda prabu pasti kan mengutuk kau! Aku juga akan mengutuk karena kau telah membuat adikku cakara casugraha terluka! Aku tidak akan mengampuni kau." Amarahnya semakin berkobar-kobar ketika ia ingat dengan kejadian itu.


"Yunda andhini andita." Dalam hati Putri Agniasari Ariani tidak menduga akan melihat kemarahan kakaknya sampai membuncah Seperti itu?.


Prabu Ganendra Garjitha malah tertawa keras mendengarnya, ia tidak menyangkal itu pernah terjadi.


"Kau dengar itu rayi gentala giandra? Orang lemah seperti dia malah mengancam akan mengutukku?." Dalam tawanya ia berkata seperti itu?.


"Sungguh bodoh sekali dia raka." Raden Gentala Giandra malah ikutan tertawa. "Dia itu hanya pandai berbicara saja, mana mungkin orang lemah seperti dia bisa mengutuk mu raka?." Ia menatap rendah ke arah Putri Andhini Andita.


"Rayi andhini andita? Kau memang memiliki tekad yang sangat kuat." Dalam hati Putri Ambarsari, ia melihat bagaiman kesungguhan tatapan mata adiknya itu dalam berkata. Saat itu ia sedang bersembunyi di balik pohon yang cukup besar, karena ia harus menjaga jarak untuk sementara waktu.


"Diam! Tawa kalian itu sungguh tidak enak didengar! Berani sekali kau menertawai yundaku!." Putri Agniasari Ariani sangat tidak suka dengan itu.


"Hei! Agniasari ariani, anak selir! Jangan beraninya kau berbicara seperti itu pada maharaja ganendra garjitha-"


Duakh!.


Belum sempat ia meneruskan perkataannya? Jaya Satria telah menyerang Prabu Ganendra Garjitha, membuat mereka semua terkejut.


Begitu juga dengan Prabu Ganendra Garjitha sendiri?. Ia mendapatkan sepakan kuat di dadanya, membuat tubuhnya terjajar kebelakang.


"Kurang ajar!."


Tujuh suara dan Rengkah merapi langsung menyerang Jaya Satria. Entah itu hanya bentuk spontanitas atau apa, namun mereka tidak suka dengan cara jaya satria yang menyerang orang yang telah menyerang tuan mereka?.


"Jaya satria?!." Raden Hadyan hastanta ikut membantu, rasanya tidak adil dua lawan satu.


"Bedebah! Kurang ajar! Dia berani menerjang seorang raja dengan kakinya yang kurang ajar." Raden Gentala Giandra sangat tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan Jaya Satria.


"Itu baru kakinya! Belum pedangnya yang akan memenggal kepalamu nantinya!." Putri Andhini Andita sedikit tersenyum miring, merendahkan prabu Ganendra Garjitha.


"Tutup mulutmu! Akan aku hajar kau!." Prabu Ganendra Garjitha langsung menyerang Putri Andhini Andita. Pada hal tadi ia meringis kesakitan karena sepakan keras yang mendarat di dadanya.


"Yunda?." Ketika Putri Agniasari Ariani hendak membantu, namun ia dihalangi oleh dua pendekar golongan hitam, yaitunya Senjata Kabung, dan Meduri Sepi.


"Kalian akan menjadi lawan kami!." Raden Gentala menghadang syekh Asmawan Mulia dan Nyai Bestari Dhatu, namun bukan ia saja, masih ada Gempur Bedati dan Sembur Hawa yang ikut menyerang.


Lalu bagiamana dengan putri Ambarsari?. Hatinya saat ini sedang bimbang, karena yang bermusuhan adalah keluarganya sendiri.


"Oh? Dewata yang agung? Apa yang harus saya lakukan dalam situasi ini?." Dalam hatinya berharap akan ada petunjuk yang mampu menghilangkan rasa bimbang di hatinya.


Berat sekali rasanya harus memilih pihak mana yang akan ia bela. Kebenaran membela hak yang sah, atau hak yang dipaksakan?.


"Ayahanda Prabu? Tolong bantu saya dalam mengambil keputusan ini, saya tidak mau perang ini terjadi, ayahanda prabu." Hatinya menangis, menjerit pilu, karena tidak bisa memilih.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak dengan baik lanjutnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2