
"Apa yang harus kita lakukan untuk mengalahkannya kakang?. Ternyata dia masih belum bisa atasi dengan mudah." Asinah Rembulan terlihat bimbang ketika melawan Jaya Satria.
"Sudahlah nini. Kita hadapi saja dia." Kendati Gulana merasa kesal. "Untuk apa kita jauh-jauh mencarinya jika tidak untuk menghabisi nyawanya." Lanjutnya lagi.
Setelah itu keduanya menyiapkan jurus yang mereka pelajari selama ini. Jurus letusan merapi ditengah badai. Mereka dengan sempurna memainkan jurus gabungan itu.
Namun saat mereka ingin melepaskan jurus itu ke arah Jaya Satria, mereka dikejutkan oleh angin sekitar yang tiba-tiba menghalangi pandangan mereka.
"Kegh. Apa yang terjadi?." Asinah Rembulan sulit untuk melihat sekitar karena pandangannya terhalangi.
"Kenapa tiba-tiba angin berubah bertiup kencang seperti ini?." Begitu juga Kendati Gulana. "Jika seperti ini bagaimana kita bisa membunuh sibedebah busuk itu." Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba angin menghalangi mereka untuk membunuh Jaya Satria?.
Sementara itu, Jaya Satria yang sedang dikuasai oleh kemarahan. Sama seperti yang dikatakan oleh Nyai Bestari Dhatu. Semakin ia marah, maka ia akan kehilangan kendali. Kesadarannya akan diambil alih oleh amarahnya. Ia akan kesulitan mengendalikannya meskipun ia sudah berusaha untuk meredakan amarahnya. Lalu apa yang akan ia lakukan jika sudah seperti itu?.
"Putraku. Apakah kalian mendengar suara ibunda nak?."
Suara lirih Ratu Dewi Anindyaswari memanggil kedua putranya. Perlahan-lahan keduanya membuka matanya. Mata mereka menangkap sosok yang sangat mereka cinta dalam hidup mereka. Dalam hembusan nafas, serta langkah mereka.
"Ibunda." Keduanya langsung memeluk Ratu Dewi Anindyaswari. Tangis mereka pecah begitu saja ketika memeluk ibundanya.
"Tenanglah nak. Ibunda akan selalu bersama kalian. Ibunda akan selalu berada disetiap langkah nanda." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk kedua putranya dengan perasaan cemas. Ia elus kepala kedua anaknya dengan pelan. Tak lupa ia selalu mencium puncak kepala kedua anaknya.
"Bersholawatlah nak. Tenangkan hati nanda. Semoga dengan bersholawat kemarahan nanda bisa reda." Bisik Ratu Dewi Anindyaswari menahan tangisnya. Ia harus kuat lahir batin disaat kondisi anaknya seperti ini. Ia tidak boleh memperlihatkan kesedihannya.
Keduanya melepaskan pelukannya, menatapi ibundanya yang sedang tersenyum lembut menatap keduanya. "Nanda Prabu, nanda jaya satria harus kuat nak. Ibunda akan terus bersama langkah nanda. Bersholawatlah, semoga amarah nanda bisa reda." Ratu Dewi Anindyaswari mengusap pipi kedua putranya dengan lembut. Kasih sayangnya sebagai seorang ibu tidak akan pernah hilang apapun kondisi kedua anaknya.
__ADS_1
"Baiklah ibunda. Terima kasih karena ibunda telah mengingatkan nanda." Jaya Satria yang paling sedih, karena ia yang menjadi sumber kemarahan itu.
"Terima kasih ibunda selalu bersama kami." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha menguatkan dirinya. Baginya, senyuman ibundanya adalah kekuatan baginya.
Kembali ke alam nyata. Perlahan-lahan terdengar bacaan sholawat badar yang dilantunkan oleh keduanya. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana di Istana Kerajaan Suka Damai. Sedangkan Jaya Satria masih di tempat ia bertarung tadi.
Di Istana Kerajaan Suka Damai.
Ratu Dewi Anindyaswari perlahan melepaskan pelukannya. Menatap anaknya yang sedang membacakan Sholawat badar.
"Ibunda. Sepertinya rayi prabu-." Putri Andhini Andita yang sedari tadi menyaksikan itu tidak menyangka melihat bagaimana kasih sayang seorang ibu yang mampu meredam amarah seorang anak.
"Nanda prabu sedang bersholawat. Membacakan sholawat badar. Untuk meredakan amarah yang menguasai dirinya." Lanjut Ratu Dewi Anindyaswari. Ia sangat suka mendengarkan suara putranya yang membacakan sholawat badar.
"Syukurlah kalau begitu ibunda." Putri Andhini Andita merasa lega. "Tadi aku takut sekali. Karena hawa kemarahan yang menyelimuti rayi prabu membuatku takut." Lanjutnya. Ia akui hawa yang menyelimuti tubuh adiknya membuatnya merinding.
Perlahan-lahan angin disekitar mulai mereda. Sehingga Asinah Rembulan dan Kendati Gulana dapat melihat kembali. Namun, mereka sedikit heran dengan apa yang dibacakan oleh Jaya Satria.
"Mengapa suaranya begitu merdu sekali kakang. Tembang apa yang sedang ia lantunkan sehingga angin sekitar seakan tunduk padanya?." Asinah Rembulan keheranan melihat kondisi sekitar yang mulai reda seperti biasanya.
"Entahlah nini. Aku tidak tahu tembang apa yang ia lantunkan. Tapi lihatlah." Matanya melihat sesuatu yang aneh juga terjadi.
"Hawa kemerahan yang menyelimuti tubuhnya menghilang?." Asinah Rembulan semakin terkejut melihat itu.
"Bagaimana bisa ia mengendalikan amarahnya hanya dengan melantunkan tembang itu?." Keduanya bertanya-tanya karena keheranan.
__ADS_1
Sementara itu, Jaya Satria yang sudah merasa baikan setelah membacakan sholawat badar. Ia mengatur hawa murninya dengan baik. Kemarahannya benar-benar telah reda.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin. Terima kasih ibunda. Ananda janji akan pulang secepatnya setelah ananda menghadapi mereka." Dalam hatinya ia berucap seperti itu. Karena tidak mungkin rasanya ia akan dibiarkan pergi begitu saja oleh kedua pendekar itu.
"Bedebah!. Tembang apa yang kau lantunkan, sehingga kemarahan ganas yang kau keluarkan malah menghilang begitu saja." Ada aura kemarahan terdapat dalam ucapannya itu. Apalagi sorot matanya yang tajam, membuat Asinah Rembulan terlihat bengis. Seakan ingin menghajar Jaya Satria segera mungkin.
"Benar. Tembang itu terdengar merdu, namun aku tidak mengerti sama sekali makna tembang yang mainkan. Hingga aku sedikit pusing mendengarnya." Kendati Gulana juga mengomentarinya. Ia tidak mengerti sama sekali, dan bagaimana mungkin itu bisa terjadi?.
Jaya Satria tersenyum kecil. Ia merapikan pakaiannya, bersikap santai seperti tidak ada kejadian apapun sebelumnya. "Aku katakan pada kalian berdua. Yang aku bacakan itu adalah sholawat badar. Sebagai umat muslim banyak cara untuk meredakan amarah. Salah satunya membaca sholawat badar." Jawabnya dengan santainya.
"Seorang muslim?." Keduanya bersamaan mengulangi ucapan Jaya Satria.
"Jadi kau sekarang adalah seorang muslim?." Asinah Rembulan sedikit terkejut.
"Ya. Setelah pertarungan dengan kalian, tak berselang setelah itu aku masuk agama islam. Aku telah kembali ke jalan yang benar." Jawabnya lagi.
"Persetan dengan apa yang kau lakukan. Aku tidak peduli!. Yang pasti aku akan membalaskan apa yang kau lakukan pada kami waktu itu." Kendati Gulana tidak peduli sama sekali. Ia hanya dendam karena dirinya dipermalukan oleh Raden Cakara Casugraha waktu itu.
"Ya. Rasa malu yang aku dan suamiku rasakan waktu itu, dihina dan direndahkan oleh pendekar lainnya karena kalah dari bocah seperti kau. Aku tidak akan mengampunimu. Aku harus menanggung malu sepanjang jalan hidupku." Asinah Rembulan benar-benar menunjukkan kemarahannya. Ia tidak akan pernah melupakan kejadian itu.
"Astaghfirullah hal'azim. Rugi sekali hidup kalian jika kalian masih menaruh dendam padaku." Jaya Satria menghela nafasnya dengan pelan.
"Diam kau. Dendam yang kami rasakan sudah membara. Kau pikir apa tujuan kami selama ini mempelajari ilmu Kanuragan kalau tidak untuk membunuhmu!." Asinah Rembulan tidak dapat menahan amarahnya.
"Benar. Aku dan istriku harus menanggung malu karena kekalahan kami waktu itu. Sehingga dendam yang kami rasakan sudah membuncah seperti gunung yang hendak meledak." Kendati Gulana juga menunjukkan kemarahannya.
__ADS_1
"Dalam sebuah hadist telah dijelaskan. Abghodura juli ilallahi aladdul qhishoom. Yang artinya orang yang paling dibenci Allah ialah orang yang menaruh dendam kesumat atau bertengkar. Hadist riwayat muslim." Jaya Satria mencoba menjelaskan kepada keduanya.
Apakah keduanya akan menerima begitu saja?. Temukan jawabannya. Jangan lupa tinggalkan jejaknya. Terima kasih atas dukungannya. Salam cinta untuk pembaca tercinta.