
...***...
Di Kerajaan Angin Selatan. Prabu Kawanda Labdagati, Raden Kawindra Labda, dan Gendari Cendramaya telah menerima surat dari Raden Hadyan Hastanta dan Putri Bestari Dhatu. Mereka sangat bahagia saat membacakan surat itu.
"Surat ini dari putri serta menantu kita kanda." Ratu Gendari Cendramaya menyerah surat itu pada suaminya dengan senyuman bahagia.
"Syukurlah. Semoga saja ini kabar bahagia yang kita dapatkan dari putri kita." Prabu Kawanda Labdagati mengambil surat tersebut dari tangan istrinya.
"Bacakan ayahanda. Saya juga ingin mendengarkan apa yang tertulis di sana." Raden Kawindra Labda tidak sabar ingin mendengarkan kabar yang disampaikan adiknya melalui surat itu.
Prabu Kawanda Labdagati membuka pelan gulungan surat itu, dan membacanya. "Salam rindu buat ayahanda, ibunda, serta rakanda." Prabu Kawanda Labdagati menatap anak dan istrinya dengan senyuman kecil. Setelah itu melanjutkan membaca surat itu. "Semoga ayahanda, ibunda, serta rakanda dalam keadaan baik-baik saja. Kami selalu mendoakan semoga keberkahan melimpah pada ayahanda prabu, ibunda ratu, juga rakanda. Maaf jika kami hanya menyampaikan pesan melalui tulisan ini. Maafkan nanda karena tidak mengizinkan dinda bestari dhatu ke istana kerajaan angin selatan saat ini. Kandungan dinda bestari dhatu telah memasuki bulan ke delapan. Kadang kondisinya sangat mengkhawatirkan. Karena memakan waktu yang cukup lama, nanda minta maaf kepada ayahanda prabu, serta ibunda ratu. Nanda harap ayahanda prabu, serta ibunda ratu memahami kondisi kandungan dinda bestari dhatu saat ini." Prabu Kawanda Labdagati kembali menatap istrinya.
"Lanjutkan kanda. Dinda mau mendengarkan lanjutannya." Ratu Gendari Cendramaya khawatir dengan keadaan anaknya.
"Nanti nanda akan menjemput ayahanda atau ibunda setelah lebaran. Maafkan nanda, bukan bermaksud untuk bersikap tidak sopan pada ayahanda prabu, ibunda ratu, juga raka. Karena anak pertama, nanda tidak mau dinda bestari dhatu mengalami kelelahan selama diperjalanan nantinya. Sungguh maafkan nanda sekali lagi. Tapi nanda berjanji akan terus menjaga dinda bestari dhatu. Jadi ayahanda, ibunda, serta raka tidak perlu cemas. Sebagai suami, nanda akan berusaha sekuat tenaga agar membuat dinda bestari dhatu lebih nyaman dengan kehamilan pertamanya. Mungkin dari nanda cukup sekian. Karena dinda bestari dhatu juga ingin menyampaikan perasaannya melalui surat ini. Kepada ayahanda, ibunda, serta rakanda yang saya cintai. Semoga saja selalu dalam lindungan-Nya." Prabu Kawanda Labdagati menghentikan membaca surat itu. Entah mengapa hatinya merasa iba.
"Ada apa kanda prabu?. Apa yang dikatakan oleh Putri kita?. Katakan pada dinda." Ratu Gendari Cendramaya tidak sabar.
"Benar ayahanda. Katakan pada kami, apa yang dikatakan oleh rayi bestari dhatu di suratnya itu." Raden Kawindra Labda tidak sabar untuk mendengarkan apa yang disampaikan adiknya itu.
__ADS_1
"Setelah sekian lama, bahkan ketika ia pergi meninggalkan istana ini. Putri kita tidak pernah menulis satupun surat untuk kita." Prabu Kawanda Labdagati mencoba untuk menahan rasa haru saat membaca surat yang dituliskan oleh menantu dan juga anaknya. "Bahkan ini adalah surat yang kesekian kalinya ia tuliskan untuk kita." Lanjut Prabu Kawanda Labdagati. "Sejak menikah dengan nanda hadyan hastanta. Ada banyak perubahan yang kanda rasakan dinda." Prabu Kawanda Labdagati merasa bahagia dengan semua surat yang selama ini dikirim oleh putrinya.
"Kanda prabu benar. Mulai dari ketika ia menginjakkan kakinya ke istana kerajaan suka damai. Hingga hari ini ia akan melahirkan di sana." Ratu Gendari Cendramaya juga merasakan perubahan anaknya.
"Tapi setidaknya rayi bestari dhatu berubah ke arah yang lebih baik ayahanda, ibunda." Raden Kawindra Labda sangat senang mendengarkan kabar adiknya.
"Lanjutkan kanda. Apakah ada yang masih disampaikan oleh Putri kita dalam suratnya itu?." Ratu Gendari Cendramaya masih penasaran dengan lanjutannya.
"Nanda masih baik-baik saja. Nanda sangat ingin bertemu dengan ayahanda, ibunda serta raka. Tapi karena menjaga kondisi kandungan, Nanda tidak bisa pulang ke istana kerajaan angin selatan. Sekali lagi maafkan nanda. Tapi nanda harap saat setelah lebaran nanti ayahanda, ibunda, serta rakanda mau berkunjung ke istana kerajaan suka damai. Nanda akan menunggu kedatangan ayahanda prabu, ibunda, serta rakanda." Prabu Kawanda Labdagati tidak dapat menahan perasaan haru hatinya saat ini.
"Tentunya ayahanda sangat merindukan nanda. Kami akan ke sana." Prabu Kawanda Labdagati memeluk surat dari anaknya.
"Ya. Rasanya dinda tidak sabar lagi ingin bertemu dengan putri kita kanda." Ratu Gendari Cendramaya menghapus air matanya yang mengalir membasahi pipinya.
...***...
Di Istana Kerajaan Suka Damai.
Putri Andhini Andita masih penasaran, apa tujuan kedatangan Raden Jatiya Dewa ke istana ini. Namun ia tidak mungkin bertanya pada adiknya. Pasti tidak akan dijawab oleh adiknya.
__ADS_1
"Yunda?." Putri Agniasari Ariani dan Raden Rajaswa Pranawa melihat Putri Agniasari Ariani yang sedang gelisah. Saat ini ia berada di pendopo istana. "Apa yang membuat yunda gelisah seperti itu?." Putri Agniasari Ariani bertanya karena heran melihat kelakuan kakaknya itu.
Putri Andhini Andita hanya tersenyum kecil. Berusaha untuk seperti biasanya. "Aku hanya mencoba memikirkan hadiah apa yang cocok untuk dua pasangan yang paling sabar di kerajaan ini. Menunggu kakaknya yang masih mencintai adiknya yang belum juga menikah." Lanjutnya lagi.
Putri Agniasari Ariani dan Raden Rajaswa Pranawa saling bertatapan satu sama lain. Maksudnya itu adalah mereka?. Putri Andhini Andita malah tertawa geli melihat raut wajah mereka yang sangat lucu, hingga menimbulkan gelak tawanya.
"Yunda. Itu tidak lucu sama sekali." Putri Agniasari Ariani terlihat merajuk, hingga menggembungkan kedua pipinya. Membuat Putri Andhini Andita semakin tertawa, rasanya ia tidak tahan lagi. "Teruslah tertawa yunda. Jika itu memang membuat yunda bahagia." Putri Agniasari Ariani jadi kesal pada kakaknya.
"Jangan seperti itu gusti putri. Kami hanya belum siap melangkah ke sana. Dan hamba juga sedang belajar menjadi laki-laki serta imam yang baik untuk gusti putri agniasari ariani." Raden Rajaswa Pranawa mencoba untuk menjelaskan, alasan mengapa mereka belum juga menikah.
"Itu harus. Jika kau berani menyakiti adikku yang suka merajuk ini, maka aku akan mematahkan semua tulang mu. Dan akan aku berikan pada Sukma naga yang ada di dalam tubuh rayi prabu. Atau aku akan meminta rayi prabu untuk menghukum mu." Balas Putri Andhini Andita dengan nada bercanda. Namun ditanggapi serius oleh Putri Agniasari Ariani, sedangkan Raden Rajaswa Pranawa malah tercengang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita.
"Yunda jangan seenaknya memutuskan sesuatu tanpa minta izin dariku!." Putri Agniasari Ariani benar-benar geram dengan kakaknya.
"Mau marah?. Mari kita bermain-main." Putri Andhini Andita malah mengejek adiknya.
"Jangan lari yunda!." Hari Putri Agniasari Ariani benar-benar panas, hingga ia mengejar kakaknya sampai ke halaman depan istana.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Nimas agniasari ariani. Ingat, nimas puasa. Gusti putri andhini andita bukan kah puasa juga?. Tapi kenapa malah main kejar-kejaran begitu?." Raden Rajaswa Pranawa hanya tertawa aneh melihat tingkah dua kakak beradik itu.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...