RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERTARUNGAN RADEN CAKARA CASUGRAHA


__ADS_3

Syekh Asmawan Mulia baru saja selesai mengobati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


"Untuk sementara waktu, biarkan nanda prabu, nanda jaya satria beristirahat. Karena luka dari pukulan itu memang membuat tubuh terasa panas." Syekh Asmawan Mulia menjelaskan kepada mereka dengan hati-hati.


"Terima kasih banyak karena syekh telah membantu putra saya." Ratu Dewi Anindyaswari menghapus air matanya.


"Bagi hamba. Nanda Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, nanda jaya satria sudah seperti anak hamba sendiri gusti ratu."


"Terima kasih banyak syekh." Ratu Dewi Anindyaswari mendekati Jaya Satria. Ia elus kepala anaknya dengan lembut, ditambah dengan ciuman sayang dipuncak kepala anaknya.


"Pasti berat bagi nanda menanggung beban selama ini nak." Hatinya sangat sedih membayangkan perasaan yang ditahan oleh putranya yang menyiksa hatinya.


Sementara itu mereka yang menyaksikan bagaimana Ratu Dewi Anindyaswari memperlakukan kedua putranya, mereka semua merasa simpati yang luar biasa.


"Dulu nanda prabu mengatakan, jika jurus cakar naga cakar petir yang ia dapatkan, ketika ia pulang dari desa relung sempurna, hutan ranting panjang." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia mengingat kejadian itu.


Kembali ke masa itu.


Di desa Relung Sempurna, hutan Ranting panjang.


"Baru kali ini aku melihat ranting pohon yang aneh." Ia bertanya-tanya mengapa pohon di hutan ini rantingnya panjang-panjang.


Raden Cakara Casugraha mengamati ranting pohon itu, mencoba mendekati pohon itu. Namun tiba-tiba ia diserang oleh dua orang yang tidak ia kenali.


Raden Cakara Casugraha yang berhasil menghindari serangan itu terkejut. Karena pohon dibelakangnya hangus terbakar, hingga mati dan layu.


"Keterlaluan!. Tega sekali kalian menyakiti pohon yang indah itu." Raden Cakara Casugraha terlihat marah. Hatinya tidak terima ketika pohon unik itu mati terbakar karena ulah kedua orang itu.


Raden Cakara Casugraha langsung menyerang kedua orang itu tanpa basa basi lagi.


"Jurus pukulan angin di ruang hampa?." Sepertinya salah satu dari mereka mengenali jurus Raden Cakara Casugraha.


Hingga membuat mereka waspada. Karena jurus itu lembut, tetapi bisa membuat tenaga dalam cukup terkuras karena musuhnya bisa terkena pukulan dari jurus itu.


"Nini, kita hadapai jurus itu dengan hentakan raksasa berburu mangsa." Pemuda itu bernama Kendati Gulana memikirkan cara menghadapi jurus yang digunakan Raden Cakara Casugraha.


"Baiklah kakang."


Setelah itu keduanya memainkan jurus itu dengan cepat, apalagi ketika merasakan gerakan cepat musuh yang sesekali memukul tubuh mereka.

__ADS_1


"Celaka."


Raden Cakara Casugraha yang hampir saja melepaskan pukulannya, tiba-tiba saja ia menghentikan Langkahnya karena tanah disekitarnya mendadak berguncang hebat seakan dihentakkan oleh kaki-kaki raksasa.


"Jurus apa yang mereka gunakan sehingga tanah sekitar bergetar kuat seperti ini?." Gerakan tubuhnya tidak seimbang lagi, hingga ia tidak bisa menggunakan jurusnya.


Disaat seperti itu Asinah Rembulan menyerang Raden Cakara Casugraha dengan menggunakan jurus Perusak Sukma.


"Khaagh." Raden Cakara Casugraha terkena jurus itu. Hawa pukulan itu menghantam tubuhnya, hingga ia terlempar ke belakang. Namun ia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya.


Tapi tetap saja, jurus itu berbahaya. Jurus Perusak sukma merupakan salah satu jurus turunan pelebur Sukma. Namun jurus itu masih dibawah tingkatan, karena tidak sampai membunuh lawannya. Hanya melukai fisik kawanannya.


Raden Cakara Casugraha meringis kesakitan. Tenaga dalamnya sedikit terkuras karena hantaman selendang dari Asinah Rembulan.


Namun siapa sangka, suasana yang tadinya sepi, tiba-tiba saja menjadi ramai. Seakan banyak yang menonton mereka yang sedang menyaksikan gelanggang pertarungan.


"Siapa mereka nini?." Kendati Gulana sedikit keheranan.


"Entahlah kakang. Tapi sepertinya kabar itu memang benar adanya. Jika kita bertarung dan disaksikan orang-orang yang aneh. Itu artinya kita sedang disaksikan oleh si tua tuak gila yang sedang mencari penerus dari jurus cakar naga cakar petir." Asinah Rembulan pernah mendengar kabar itu.


"Tua tuak gila?." Raden Cakara Casugraha tidak sengaja mendengarkan pembicaraan itu.


"Kalau begitu ayo kita segera habisi anak muda itu dari pada dia menjadi penghalang kita untuk mendapatkan jurus itu."


Asinah Rembulan dan Kendati Gulana kembali menyerang Raden Cakara Casugraha.


"Kalian pikir akan semudah itu mengalahkan aku?." Raden Cakara Casugraha telah dikuasai oleh kemarahannya. Ia tidak terima jika dirinya direndahkan seperti itu oleh siapa saja.


Asinah Rembulan dan Kendati Gulana tidak menyangka gerakan Raden Cakara Casugraha semakin cepat, membuat mereka sulit untuk mengimbangi gerakannya. Pukulan-pukulan serta ilmu kadigjayaan yang ia mainkan semakin bertenaga.


DUAKH DUAKH


"Kegh"


Keduanya terkena hantaman yang cukup kuat dari Raden Cakara Casugraha. Mereka terkejut karena tidak menyangka musuhnya memiliki ilmu kanuragan yang cukup kuat.


"Oh kakang. Lihatlah, ada hawa merah yang menyelimuti tubuhnya." Asinah Rembulan melihat dengan jelas itu.


"Nini benar. Siapa sebenarnya anak muda itu?." Kendati Gulana juga terheran-heran.

__ADS_1


Hawa merah itu, hawa yang tidak biasa. Itu adalah hawa kemarahan sekaligus kekuatan yang melindungi tubuh Raden Cakara Casugraha. Lihatlah betapa ganasnya dari gerakan jurus-jurus yang ia mainkan. Dan semuanya mengandung unsur angin.


"Kakang."


"Bertahanlah Nini."


Keduanya sedikit mengalami kesulitan dalam melihat sekitar karena angin disekitar berubah menjadi angin yang membawa keributan.


"Kalian tidak akan akan aku maafkan karena telah berani merendahkan raden cakara casugraha." Teriaknya dengan suara keras.


Tentunya mereka terkejut. Karena suara yang lepas dari Raden Cakara Casugraha seakan mengandung tenaga dalam yang dapat merusak pendengaran mereka.


"Kegh."


Disatu sisi. Orang-orang yang menyaksikan gelanggang pertarungan itu malah berteriak kegirangan. Tidak ada rasa takut atau keinginan menyelamatkan diri dari angin amukan yang berasal dari kemarahan Raden Cakara Casugraha. Mereka mengabaikan angin itu, dan malah ikut membuat keributan. Sehingga menghasilkan suara yang semakin ribut.


"Khaaaak"


Asinah Rembulan dan Kendati Gulana berteriak kesakitan. Pendengaran mereka terganggu, kepala mereka terasa sakit merasakan terjangan badai yang menyakitkan tubuh mereka sampai ke dalam.


"Hahaha. Dasar lemah. Sebaiknya kalian berdua pergi dari hutan ini."


"Orang lemah seperti kalian kalah dari seorang anak yang masih labil perangainya. Hahaha memalukan sekali."


"Hihihi. Sangat memalukan. Rasanya aku tidak tahan lagi. Malu sekali kalah dari bocah labil, pemarah, tidak bisa mengendalikan emosi. Tapi bisa mengalahkan kalian dengan mudah."


"Orang lemah seperti kalian tidak pantas mendapatkan apapun. Pendekar lemah hanya patut diinjak-injak saja. Ahahaha. Payah sekali. Kalah dengan bocah ilmu cetek."


Di dalam keributan itu terdengar suara-suara yang merendahkan Asinah Rembulan dan Kendati Gulana yang kalah bertarung dengan Raden Cakara Casugraha.


Suara-suara itu sangat menyakitkan sekali. Tidak sama sekali baik dalam berkata. Sangat tidak enak didengar cercaan yang dikeluarkan oleh para penonton gaib itu.


Sementara itu Raden Cakara Casugraha semakin bersemangat karena merasa menang. Dan Ranting Pohon panjang seakan berpihak kepada dirinya.


Kembali ke masa ini.


Begitulah cerita yang terjadi. Bahkan Raden Cakara Casugraha diajari oleh tua tuak gila yang sebenarnya sudah meninggal di dalam hutan Ranting Panjang ini beberapa silam.


Namun kabar yang beredar, bahwa Dewa Tuak Gila itu memiliki jurus Cakar Naga Cakar Petir yang membuat rohnya gentayangan. Dan ia ingin mencari penerus jurus yang ia memiliki.

__ADS_1


Terdengarlah kabar itu. Jika berhasil melewati hutan ranting pohon atau dilihat oleh orang-orang tiba-tiba menyaksikan pertarungan. Maka itu sudah dijamin akan mendapatkan kekuatan yang luar biasa jika menang dari orang lain.


Bagaiman kelanjutannya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya.


__ADS_2