RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
TAHTA YANG SAH


__ADS_3

...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya pelan. Dalam hatinya berdoa meminta petunjuk serta Ridha Allah SWT. Ia mencoba untuk tersenyum, ia tidak mau kemarahan membuat wajahnya keruh.


"Baiklah, jika itu yang kakek prabu inginkan."


Tentunya ucapan prabu Asmalaraya Arya Ardhana membuat mereka semua terkejut tidak percaya, termasuk Jaya Satria.


"Apa maksudmu rayi prabu?." Putri Andhini Andita tidak salah dengar?.


Sedangkan keluarga Bimantara merasa senang mendengarnya, akhirnya tahta itu bisa mereka kuasai?.


"Tenanglah yunda. Jangan sampai yunda terbawa emosi yang merugikan." perkataan adiknya sama persis dengan perkataan Jaya Satria waktu itu, ia masih ingat.


"Iuuuuffhhhh fhuuuuuuu." Putri Andhini Andita menghela nafasnya, rasanya ia ingin menangis, tapi ia tahan.


"Mohon ampun gusti prabu, kenapa gusti Prabu menyerahkan tahta ini pada prabu rahwana bimantara?. Jelas-jelas istana ini dibangun oleh keluarga besar bahuwirya dari masa ke masa. Tidak ada hubungannya dengan mertua dari pihak istri. Jika memang ada, namun yang lebih berhak, itu adalah gusti Prabu sendiri karena darah turunan lebih kental dari darah mertua." Salah satu petinggi istana tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana


"Maafkan saya. Biarkan mereka melakukannya, agar mereka tidak penasaran dengan tahta ini. Mereka yang mengatakan bahwa saya adalah tukang sihir, yang mengatur tata cara pengangkatan raja hanya dengan menduduki singgasana ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berkata pada petinggi istana maksudnya membiarkan mereka melakukannya.


"Baiklah gusti prabu. Kami mengerti. Semoga saja sang hyang widhi melindungi gusti prabu." Mereka semua petinggi istana mendoakan yang terbaik untuk sang prabu.


Sementara itu, Prabu Rahwana Bimantara mendekati singgasana itu. Namun ketika ia hendak menduduki singgasana itu, Raden Ganendra Garjitha mencegahnya.


"Tunggu dulu kakek prabu." Ia mendekati Jaya Satria, dan menatap benci padanya.


"Ada apa cucuku raden ganendra garjitha?. Mengapa kau mencegah aky menduduki singgasana ini?." Tentunya menjadi pertanyaan baginya.


"Tunggu dulu kakek prabu. Aku curiga jika orang buruk rupa bertopeng ini, akan melakukan sihir pada kakek prabu." Jawab Raden Ganendra Garjitha. "aku yakin, sebelum pengangkatannya sebagai raja. Dari jarak jauh, orang bodoh ini telah membantu rayi prabu. Dan aku yakin juga dia kan menyihir singgasana itu supaya kakek prabu tidak bisa mendudukinya!." Tuduhan kejam itu tertuju pada Jaya Satria.


"Raka ganendra garjitha!. Berani sekali kau menuduh jaya satria seperti itu!." Putri Andhini Andita malah membela Jaya Satria, entah mengapa ia tidak terima itu.


"Diam kau!. Aku tidak berbicara denganmu!." Raden Ganendra Garjitha malah mengancam putri Andhini Andita.


"Sudahlah gusti putri andhini andita. Biarkan saja dia mau berkata apa. Memangnya apa yang akan kau-" Belum sempat Jaya Satria melanjutkan ucapannya, ia malah ditotok oleh Raden Ganendra Garjitha, dan ia diperlakukan kasar olehnya?.


"Dengan begini kau tidak akan bisa menggunakan sihirmu." Ucap Raden Ganendra Garjitha dengan perasaan senang.


"Astaghfirullah hal'azim jaya satria." Tubuh prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga tidak bisa bergerak, namun tidak ada yang menyadari itu, karena mereka terlalu dengan apa yang dilakukan oleh Raden Ganendra Garjitha.


"Mereka benar-benar kurang ajar." Dalam hati jaya Satria sangat mengutuk apa yang telah dilakukan Raden Ganendra Garjitha terhadap dirinya.


"Silahkan duduk di singgasana itu kakek prabu. Aku yakin dia tidak akan bisa menggunakan sihirnya, agar membuat kakek prabu terbang dari singgasana itu." Karena merasa berhasil menaklukkan Jaya Satria, ia menyuruh kakeknya untuk menduduki singgasana itu.


"Terima kasih cucuku." Ia sangat bangga dengan apa yang dilakukan oleh cucunya itu. Ia mencoba menduduki singgasana itu dengan melindungi dirinya dengan ilmu Kanuragannya.


Mereka semua menjadi saksi ketika Prabu Rahwana Bimantara duduk di kursi itu. Memang awalnya biasa saja, tidak terjadi apa-apa, mereka semuanya senang. ketika kesenangan itu berlangsung, hatinya yang dipenuhi kesombongan karena merasa berhasil menaklukkan kerajaan Suka Damai, namun apa yang terjadi?.


Prabu Rahwana Bimantara terlempar jauh dari singgasana itu, mereka menyaksikan bagaimana kejadian memalukan itu menimpa sang prabu.

__ADS_1


"Ayahanda." Ratu Ardiningrum Bintari tidak percaya dengan apa yang lihat.


"Kakek prabu." Begitu juga dengan anak-anaknya, mereka membantu Prabu Rahwana Bimantara berdiri.


"Bedebah!. Bagaimana mungkin dalam keadaan tertotok, kau masih saja bisa menggunakan sihirmu?. Kau benar-benar kurang ajar jaya satria!." Teriakan kemarahan itu berasal dari Raden Ganendra Garjitha yang sangat marah, sampai wajahnya terlihat memerah.


"Diam kau raka ganendra garjitha!. Kau sendiri sudah melihatnya. Jaya satria tertotok!. Ia tidak mungkin melakukannya!." Putri Andhini Andita juga marah.


"Kalian juga menyaksikannya bukan?. Jika jaya Satria ditotok, dan rayi prabu tidak melakukan apapun." Kemarahan putri Andhini Andita sudah sampai puncaknya, dan ia tidak tahan lagi.


"Senopati mandaka sakuta!. Bebaskan totokan jaya Satria." Perintah putri Andhini Andita.


"Sandika gusti putri." Senopati Mandaka Sakuta melakukan apa yang disuruh oleh putri Andhini Andita.


Saat itu juga keduanya bisa bergerak bebas. Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa lega karena dapat bergerak kembali.


"Tenanglah semuanya. Para sepuh yang sudah lama mengetahui aturan pengangkatan raja. Saya mohon jelaskan kepada mereka semua. Saya tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi, tentang pengangkatan raja di istana ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memohon kepada sepuh istana untuk menjelaskan kepada mereka.


"Sandika gusti prabu. Akan kami jelaskan semuanya." Sepuh istana memberi hormat kepada rajanya.


"Istana ini dibangun oleh raja-raja sebelumnya, yang bernama bahuwirya jayantaka byakta." Sepuh istana masih ingat keturunan-keturunan dari raja-raja sebelumnya.


"Dari zaman dahulu Prabu bahuwirya jayantaka byakta. Beliau tidak mau tahta yang diduduki oleh keturunannya memiliki watak jahat. Watak serakah ingin menguasai istana ini beserta kerajaan ini." Tentunya sebagai sepuh istana, ia mengetahui sejarahnya.


"Sebelum prabu bahuwirya jayantaka byakta wafat. Beliau bersumpah, barang siapa yang hendak menjadi raja dari keturunannya langsung. Ia harus bisa menduduki singgasana sana ini, singgasana yang merupakan jiwa raga sang prabu. Raja pertama yang mendirikan istana ini." Ia menjelaskan dan mengatakan sumpah prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta pada mereka semua.


"Dalam sumpahnya itu. Prabu bahuwirya jayantaka byakta mengatakan, singgasana ini adalah bukti tahta yang sah untuk keturunannya nanti yang akan menggantikannya. Singgasana ini adalah belahan jiwa dari sang Prabu, yang menginginkan istana ini dipimpin oleh keturunannya yang memiliki sifat asih, asuh, bijaksana, tanpa dinodai oleh kemarahan, sifat dengki, tamak akan kekuasaan, dan jika keturunannya mampu menghilangkan sifat itu. Maka dengan sendirinya, ia akan terpilih menjadi raja agung di kerajaan ini, dengan gelar yang telah ditetapkan berdasarkan sifat kebaikan hatinya." Sepuh istana mengatakan semuanya, mereka semua menyimaknya dengan baik,


"Dan raja yang sekarang. Raden bahuwirya cakara casugraha, dengan nama gelar Asmalaraya Arya Ardhana. Sungguh nama gelar itu bukan sembarang nama gelar, karena sang pemilik tahta yang sah. Raja sebelumnya telah memilih keturunannya berdasarkan sifat yang ia miliki." Sepuh istana memberi hormat pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Mereka para petinggi istana juga melakukannya, putri Andhini Andita juga melakukannya, hingga Jaya Satria pun ikut melakukannya.


"Tahta yang sah, telah memilih raden bahuwirya cakara casugraha sebagai raja, dengan sifatnya yang menginginkan perdamaian. Ardhana yang artinya perdamaian. Jadi tidak salah tindakannya selama ini." lanjutnya lagi.


"Hormat sembah kami, gusti prabu asmalaraya arya ardhana." ucap mereka semuanya dengan serentak.


"Tidak bisa aku terima penghinaan ini!." Prabu Rahwana Bimantara masih belum terima, bagaimana bisa ada aturan kerajaan seperti itu?.


"Nanda prabu. Aku tidak akan menerima penghinaan ini!. Aku akan kembali dengan membawa pasukan. Dan akan aku ratakan istana ini dengan tanah!." Begitulah ancaman dari prabu Rahwana Bimantara pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Ayo putriku ratu ardiningrum bintari, dan kalian cucu-cucuku. Kalian ikut kakek prabu ke istana kerajaan mekar jaya. Kita susun siasat untuk meruntuhkan istana ini." Prabu Rahwana Bimantara telah menyatakan perang dengan kerajaan Suka Damai?.


"Tunggu dulu kakek prabu. Janganlah ada permusuhan diantara kita. Masalah ini masih  bisa kita selesaikan dengan baik-baik." prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak menginginkan perang terjadi, ia takut membayangkan perang yang sangat merugikan.


"Kau lah yang membuatku ingin melakukannya nanda prabu." Sepertinya Prabu Rahwana Bimantara sudah tidak lagi mau mendengarkan perkataan prabu Asmalaraya Arya Ardhan. Ia pergi bersama dengan anak dan cucu-cucunya meninggalkan istana.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak bisa mencegahnya, hatinya merasa sedih. Apa yang harus ia lakukan setelah ini?. Haruskah perang terjadi?.


"رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْه" وَسَلَّمَ نَبِيًّا."


Dalam hati sang prabu membacakan kalimat seperti itu, berharap ridho dari Allah SWT dengan apa yang akan ia lakukan.

__ADS_1


"يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا."


Jaya Satria juga membaca doa dalam hatinya, memohon pertolongan dari Allah agar terhindar dari marabahaya yang akan menimpa kerajaan ini.


"Rayi prabu." Putri Andhini Andita menangis?. Sedangkan Raden Hadyan Hastanta yang melihat itu hanya diam, ia tidak tau harus mengikuti siapa, dan ia juga tidak bisa membiarkan adiknya tinggal di istana ini.


"Rayi prabu." sekali lagi putri Andhini Andita menangis sambil menyebut nama adiknya itu.


"Tenanglah yunda. Jangan menangis. Semuanya sudah terjadi." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk menenangkan kakaknya.


"Rayi prabu." putri Andhini Andita bersujud dihadapan adiknya, membuat sang Prabu terkejut.


"Maafkan semua kesalahanku dimasa lalu yang selalu membencimu. Maafkan aku rayi." Tangis itu semakin menjadi-jadi. Ketika ia teringat dengan masa lalu, dan ia menyadari dari ucapan sepuh istana tadi. Serta keyakinannya ucapan Jaya Satria, alasan adiknya yang dipilih oleh singgasana itu.


Singgasana itu bukan singgasana biasa, namun belahan jiwa para pendahulu mereka yang benar-benar menginginkan kesejahteraan kerajaan ini beserta isinya.


"Berdirilah yunda. Masa lalu adalah pelajaran. Dan aku dulu juga pernah berbuat salah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membantu kakaknya untuk berdiri. Rasa sedih menyelimuti hatinya, ia merasakan betapa bersalahnya ia saat ini membayangkan perangainya di masa lalu.


"Perang ini akan aku usahakan menghindarinya yunda. Percayalah pada pertolongan Allah SWT." Ya, tempat sebaik untuk meminta adalah kepada Allah SWT.


"Tapi perang itu-." Putri Andhini Andita mencoba untuk menghentikan tangisnya. Ia merasa sangat terpukul melihat perlakuan prabu Rahwana pada adiknya.


"Laahaula walaquata illabillahia'liyil'azim. Tidak ada daya kekuatan kecuali pertolongan Alla. Yunda harus percaya kepada Allah SWT, bahwa di dunia ini tidak ada yang mustahil jika Allah SWT menghendaki." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberikan nasihat pada kakaknya.


Putri Andhini Andita tidak membantah lagi, ia hanya berharap jika adiknya dapat melakukan yang tebaik. Sepertinya mau tidak mau, suka atau tidak, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana harus menyiapkan pasukannya untuk perang melawan kerajaan Mekar Jaya.


"Kalian semua boleh kembali ke tempat masing-masing. Saya harap kalian tetap waspada dengan apa yang akan menimpa kita nantinya." Pesan sang Prabu pada bawahannya termasuk prajurit yang selalu menjaga keamanan istana.


Sepuh dan petinggi istana lainnya mulai membubarkan diri, mereka kembali ke tempat masing-masing. Namun hanya tinggal Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, kakaknya Putri Andhini Andita, Jaya Satria dan juga Hadyan Hastanta.


"Hamba akan menjaga keamanan perbatasan. Hamba akan terus berjaga di sana, agar ketika mereka menyerang dari empat arah mata angin, kita sudah siap untuk berperang." Jaya Satria mengatakan apa yang ia pikirkan ketika perang.


"Baiklah. Akan aku percayakan padamu jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana senang mendengarnya.


"Mohon ampun rayi prabu, izinkan yunda untuk membantumu dalam membuat strategi perang. Semoga saja yunda mu ini dapat membantumu, rayi prabu." Putri Andhini Andita sangat antusias sekali.


"Terima kasih yunda. Aku sangat senang jika yunda mau bergabung denganku. Untuk membela kehormatan kerajaan suka damai yang telah dibangun oleh leluhur kita eyang prabu bahuwirya jayantaka byakta. Oita tidak boleh membiarkan mereka menguasai istana ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana telah membulatkan tekadnya. Ia akan melakukan perang demi leluhurnya yang telah berjasa melindungi dan membuat maju istana ini.


Benarkah perang akan terjadi?. Mengapa keputusan terburu-buru seperti itu hanya menimbulkan kesengsaraan. Tapi mereka tetap melakukannya, padahal sudah dilarang oleh sang Prabu.


"Ini sangat gawat. Kau harus mengikuti siapa?. Sementara adikku sudah dipastikan akan bergabung dengan mereka semua." Batin Raden Hadyan Hastanta dalam hatinya. Ia masih tidak mengerti dengan kejadian tadi.


"Tapi jika adikku mengikuti rayi prabu, mungkin aku juga akan mengikuti rayi prabu." Hatinya gelisah mau ikut di pihak mana. Akan tetapi, nalurinya berkata bahwa adiknya memiliki pandangan yang berbeda. Pandangan yang selalu menginginkan kedamaian dan ketentraman.


Sebenarnya ia juga menginginkan hal tersebut, itu artinya ia akan mengikuti adiknya?. Ya, ia tidak akan meninggalkan adiknya Putri Andhini Andita dalam bahaya. Karena adiknya tidak mengetahui sama sekali tentang ilmu Kanuragan.


"Aku harap yang tadi itu hanyalah bunga tidur buruk. Aku harap baik-baik saja." Ia berdoa kebaikan. Karena perang bukanlah hal yang mudah.


Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.

__ADS_1


Next halaman.


...***...


__ADS_2