
...***...
Sesuai dengan perintah dari Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Raden Cakara Casugraha saat ini berada di desa Damai Setia. Desa yang sedang menghadapi pemuda yang suka berbuat kerusuhan ketika malam hari.
Raden Cakara Casugraha diperintahkan oleh ayahandanya Prabu Kawiswara Arya Ragnala menyelesaikan masalah tersebut. Dengan mencari tahu apa masalah yang sedang dihadapi di sana. Apa penyebab dari akar permasalahannya, dan bisakah Raden Cakara Casugraha menyelesaikannya?.
"Mohon maaf raden. Kami tidak bisa menjamu raden dengan mewah. Karena kondisi desa kami yang seperti ini." Aki lurah meminta maaf pada Raden Cakara Casugraha karena tidak bisa mengistimewakan dirinya yang merupakan anak seorang Raja.
"Tidak apa-apa aki. Saya ke sini bukan menjadi tamu kehormatan. Tetapi saya sebagai perwakilan ayahanda prabu, untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di desa ini." Ucapnya dengan senyuman yang ramah.
"Maafkan kami, jika kami merepotkan keluarga istana den. Sungguh. Kami tidak sanggup menyelesaikan masalah yang terjadi." Aki lurah desa Damai Setia sudah menyerah. Karena ia tidak sanggup lagi untuk mengingatkan mereka agar meninggalkan kebiasaan buruk mereka.
"Aki jangan berkata seperti itu. Ayahanda akan selalu memperhatikan rakyatnya. Mohon kerjasamanya dalam melakukan tugas nanti Ki." Ucap Raden Cakara Casugraha dengan pelan.
"Terima kasih den. Semoga kami bisa membantu raden dengan baik nantinya." Aki lurah sangat berharap banyak. Dengan adanya Raden Cakara Casugraha, masalah dapat diredam dengan aman.
...***...
Sementara itu, Di istana kerajaan Suka Damai.
Putri Agniasari Ariani sedang bermain sendirian di taman Istana. "Rayi mengatakan untuk tidak bermain dengan mereka." Ucapnya sedikit merasa bosan. Karena sebelum pergi, ia berpesan pada kakaknya untuk tidak menanggapi kedua kakaknya.
"Lalu dengan siapa aku akan bermain jika rayi cakara casugraha melarang nanda bermain dengan mereka." Putri Agniasari Ariani merasa bingung. "Rasanya sangat sepi sekali jika bermain sendirian." Ucapnya dengan nada kurang semangat.
Saat itu, Ratu Dewi Anindyaswari menghampiri anaknya. Karena ia sangat khawatir dengan kondisi anaknya.
"Ada apa nak?. Kenapa putri ibunda bermain sendirian nak?." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk putrinya.
"Ananda Putri sangat sedih sekali. Karena tidak memiliki teman untuk bermain ibunda." Ucapnya dengan nada yang sangat sedih luar biasanya.
"Kasihan sekali putri ibunda." Ia tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh putrinya.
"Rayi cakara casugraha mengatakan, jika nanda putri tidak boleh bermain dengan yunda andhini andita, juga yunda ambarsari. Karena itulah nanda di sini sendirian ibunda." Putri Agniasari Ariani menjelaskan mengapa ia bermain sendirian.
__ADS_1
"Bagaimana jika ananda putri bermain dengan ibunda. Kebetulan ibunda juga tidak memiliki teman." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum kecil, ia mengerti situasinya. Karena itulah ia mau menemani putrinya bermain di taman Istana.
"Baik ibunda. Terima kasih ibunda." Putri Agniasari Ariani sangat senang ditemani oleh ibundanya.
Ratu Dewi Anindyaswari dan Putri Agniasari Ariani merasa asing saat ini. Kehadiran mereka seakan-akan dibenci oleh keluarga Ratu Ardiningrum Bintari dan Ratu Gendhis Cendrawati. Entah ada masalah apa, mereka begitu memusuhi Ratu Dewi Anindyaswari dan anak-anaknya.
Tapi sebisa mungkin Raden Cakara Casugraha menjauhkan ibundanya juga yundanya, agar tidak merasa sedih. Raden Cakara Casugraha akan selalu melindungi kedua wanita yang ia sayangi dari perkataan-perkataan yang menyakitkan dari mereka semua.
...***...
Dan malam ini Raden Cakara Casugraha sedang mengamati bagaimana keadaan pemuda desa Damai Setia. Raden Cakara Casugraha melihat semua apa yang mereka lakukan. Mulai dari mabuk-mabukan, berjudi, bahkan mereka membuat keributan hanya karena masalah kecil?.
Malam itu Raden Cakara Casugraha hanya mengamati terlebih dahulu, seperti yang dikatakan oleh ayahandanya. Malam pertama ia berada di desa Damai Setia.
"Maafkan kelakuan mereka raden." Ki lurah merasa bersalah sekali pada Raden Cakara Casugraha yang telah melihat kelakuan mereka semua.
"Kita harus segera bertindak aki. Kita tidak bisa membiarkan mereka terus-menerus melakukan hal yang merugikan." Raden Cakara Casugraha berusaha menahan amarahnya.
"Tapi bagaimana caranya kita melakukannya den?. Mereka semua tidak mau diingatkan." Aki Lurah desa Damai Setia sudah tidak kuasa lagi untuk menahan dirinya. Ia tidak sanggup untuk bertindak sendirian.
"Bagaimana jika semuanya berontak den?. Hamba takut raden akan celaka karena mereka semua." Aki Lurah desa Damai Setia merasa khawatir dengan keselamatan Raden Cakara Casugraha.
"Aki tenang saja. Saya akan berusaha untuk melakukan dengan baik. Aki tenang saja." Raden Cakara Casugraha tersenyum kecil. Ia telah berjanji pada ayahandanya, bahwa ia akan menyelesaikan masalah ini dengan caranya.
"Kalau begitu hamba akan menemani raden besok malam." Aki Lurah hanya tidak ingin Raden Cakara Casugraha dilukai oleh mereka semua.
"Baiklah Ki. Malam besok saya dan aki akan menghentikan tindakan gila mereka semua."
"Sandika raden."
Apakah mereka bisa melakukannya?. Temukan jawabannya.
Keesokan harinya. Raden Cakara Casugraha sedang menyamar menjadi rakyat biasa. Masih mengamati keadaan desa yang terlihat berantakan setelah kekacauan tadi malam.
__ADS_1
"Eh Ki lurah. Cucunya ya?. Datang dari mana?." Ada beberapa orang yang kebetulan melewati mereka.
"Beliau adalah-."
"Saya cucunya ki lurah. Saya datang dari kaki gunung lencana. Saya kebetulan ingin berkunjung setelah lama tidak datang ke sini." Jawab Raden Cakara Casugraha dengan bahasa yang sopan.
Mereka yang mendengarkan itu hanya manggut-manggut saja. Mereka baru melihat anak muda yang gagah itu.
"Semangat bekerja ya ki. Keadaan makin parah. Namun gusti prabu kawiswara arya ragnala belum juga bertindak." Ucap mereka dengan nada kecewa.
"Benar ya. Kenapa gusti prabu tidak juga menghentikan aksi berutal mereka. Hukum saja mereka. Tapi gusti prabu tidak juga menanggapi masalah ini." Mereka semua mengeluh karena masalah ini sangat meresahkan bagi mereka.
"Kalian semua. Beliau ini adalah-." Aki Lurah berusaha untuk mengingatkan mereka, bahwa pemuda itu adalah Raden Cakara Casugraha yang menjadi utusan langsung Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Namun sepertinya mereka tidak mendengarkan apa yang ia katakan. Karena mereka sibuk mengeluh, mengeluhkan sang Prabu yang seakan tidak peduli sama sekali dengan apa yang terjadi pada mereka semua.
"Tidak apa-apa ki. Biarkan saja mereka mengeluh. Toh mereka memang merasa kecewa." Raden Cakara Casugraha tersenyum kecil menatap Aki Lurah Desa Damai Setia.
"Tapi den. Mereka harus mengetahui, bahwa gusti prabu sangat peduli dengan mereka. Raden bahkan harus turun tangan dengan masalah ini." Aki Lurah merasa sangat malu dengan tindakan mereka semua.
"Ayahanda pernah mengatakan pada saya. Berbuat baik itu tidak selamanya akan dilihat baik ki. Karena itulah terus berbuat baik walaupun dimata mereka kita tidak berbuat apa-apa." Ucap Raden Cakara Casugraha masih tersenyum lembut.
"Oh, dewata yang agung. Terpujilah gusti prabu berserta keluarga. Semoga gusti prabu bisa mengatasi masalah yang ada di desa ini dengan baik." Aki Lurah sangat tersentuh dengan apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha.
"Saya akan melakukannya dengan baik ki. Karena itulah mohon bersabar." Raden Cakara Casugraha hanya tidak ingin gegabah dalam bertindak.
Raden Cakara Casugraha membantu mereka, memperbaiki beberapa tempat yang rusak. Bahkan memberikan mereka bantuan bagi yang mengalami kerugian setelah kejadian malam itu.
"Terima kasih banyak raden. Ini sudah lebih dari cukup." Ucap Aki Lurah dengan rasa syukur yang luar biasa karena mendapatkan bantuan langsung dari Prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Mereka harus mengetahui, jika ini semua adalah bantuan dari gusti prabu." Lanjutnya lagi. Ia hanya tidak ingin mereka berpikiran buruk tentang sang prabu.
"Tidak apa-apa Ki. Simpan saja tenaga aki untuk malam nanti. Karena malam nanti kita akan melakukan hal yang lebih dari ini. Kita istirahat saja Ki. Malam nanti akan membutuhkan tenaga yang lebih banyak lagi." Raden Cakara Casugraha hanya tidak ingin pamer. Karena itulah ia mengingatkan Aki Lurah desa Damai Setia.
"Baiklah den. Akan hamba lakukan apapun hanya aden katakan." Ki Lurah Desa Damai Setia menuruti apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi selanjutnya?. Bisakah Raden Cakara Casugraha menyelesaikan masalah tersebut?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...