RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KECURANGAN PERTARUNGAN


__ADS_3

...***...


Sepertinya pemenang telah ditentukan, Pendekar utusan dari kerajaan Mekar Jaya telah memperoleh kemenangan. Tentunya prabu Rahwana Bimantara merasa senang melihat itu, sedangkan prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih tampak tenang.


"Pertarungan kedua masih berlanjut. Siapa yang akan menjadi penantang berikutnya?. Dari pihak gusti prabu asmalaraya arya ardhana." Senopati Mandaka Sakuta mempersilahkan pendekar utusan dari rajanya segera masuk ke arena pertandingan.


Seorang pendekar masuk dengan melompat ke dalam arena tersebut. "Namaku jaraha setiana. Aku yang akan menjadi lawanmu." Ia menggunakan senjata berupa tombak.


Sedangkan Rakesh Penampihan menggunakan pedang, ia menggantikan pedangnya dengan pedang yang lainnya.


"Pertarungan dimulai." Senopati Mandaka Sakuta memberi kode pada mereka untuk memulai pertandingan.


Sepertinya pertarungan kali ini juga seru, mereka kembali mengadu kesaktian mereka.


"Lihat saja nanda prabu. Kau akan melihat bagaiman pendekar-pendekarmu yang tidak ada bandingannya dengan Pendekar pilihanku." Dalam hati prabu Rahwana Bimantara sepertinya sedang merencanakan sesuatu.


Apalagi saat melihat pertandingan yang semakin panas, mereka seperti bertarung sungguhan. Tombak melawan pedang, dentingan senjata mereka membuat penonton bersorak gembira, apalagi ketika mereka menyerang satu sama lain.


"Aku akui kau memang hebat kisanak." Jaraha Setiana mengakui kehebatan ilmu Kanuragan yang dimiliki oleh Rakesh Penampihan.


"Tidak perlu basa-basi lagi. Segera kita tentukan pertarungan ini secepatnya." kemarahan itu terlihat berbeda, bisakah Jaraha Setiana membendung serangan itu?.


Sabetan pedang itu semakin cepat, hampir tidak bisa ditangkap mata, membuat Jaraha Setiana semakin kewalahan dan terdesak.


"Bagus. Lakukan dengan baik." Prabu Rahwana Bimantara senang melihat itu, ia tidak sabar lagi melihat kematian pendekar itu.


"Ya Allah, kenapa pertandingan ini terlihat berbeda dari yang sebelumnya?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasakannya, namun ia mencoba bersikap sabar. Walaupun hatinya mulai bergemuruh ingin menghentikan pertarungan itu.


Pertarungan semakin menegangkan, Rakesh Penampihan terus menyerang Jaraha Setiana dengan cepat, sepertinya tidak ada perlawanan darinya. Jaraha Setiana semakin terdesak, ia tidak lagi bisa bergerak. Ujung pedang itu sepertinya hendak menusuk tubuhnya.


Tring


Pedang Rakesh Penampihan melayang, serangannya ditahan oleh Jaya Satria?. Mereka semua terkejut karena melihat itu, padahal mereka tadi sudah tegang semua karena Rakesh Penampihan hendak menusukkan pedangnya ke arah Jaraha semakin.


"Hei!. Siapa kau beraninya ikut campur dalam pertarungan ini!." Prabu Rahwana Bimantara nampak murka, padahal sedikit lagi pendekarnya itu berhasil membunuh Jaraha Setiana.


"Jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, dan Putri Andhini Andita menyebut nama itu bersamaan.


"Oh jaya satria." putri Andhini Andita merasa cemas, mengapa jaya Satria masuk ke arena dan menghentikan pertandingan itu?.


Sedangkan Raden Hadyan Hastanta merasa heran karena adiknya menyebut dua kali nama sosok misterius itu.


"Mohon ampun gusti prabu. Maaf jika hamba telah berbuat lancang." Jaya Satria memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, dan ia tidak menghiraukan pertanyaan dari Prabu Rahwana Bimantara.


"Siapa kau?. Kenapa kau mengganggu pertarungan ku?." Rakesh Penampihan tampak marah.


"Tenanglah ayahanda." Ratu Ardiningrum Bintari mencoba menenangkan ayahandanya, ia ingin melihat siapa orang misterius itu.


"Apa yang membuatmu menghentikan pertarungan ini jaya satria?. Katakan padaku alasannya" Sebenarnya ia mengetahuinya, hanya saja agar Jaya Satria menjelaskan kepada mereka semua.


"Jaya satria?. Siapa dia?." Ratu Ardiningrum Bintari bertanya kenapa prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengenali sosok itu?.


"Nanti kami jelaskan ibunda." Bisik Raden Gentala Giandra kepada ibundanya. Ratu Ardiningrum Bintari mengangguk mengerti, apakah ada sesuatu yang tidak ia mengerti selama ia pulang ke kerajaan Mekar Jaya?.


"Mohon ampun gusti prabu. Alasan mengapa hamba menghentikan pertandingan ini. Selain pertandingan yang tidak seimbang, hamba melihat ada kecurangan dari pihak lawan, gusti prabu." Jaya Satria menjelaskan pada mereka semua.


"Hei!. Orang asing, siapa kau?. Berani sekali kau berkata kalau ada kecurangan dipihak ku." Prabu Rahwana Bimantara semakin murka. Ia bangkit dari duduknya, dan menunjuk ke arah jaya Satria.


Jaya Satria melihat mata itu dipenuhi ambisi yang sangat dalam, ia dapat merasakan itu. Namun ia mengabaikannya. Dengan tenaga dalamnya, ia menarik pedang milik Rakesh Penampihan.


Mereka semua melihatnya, apa yang akan ia lakukan dengan mengambil pedang itu?. Menjadi tanda tanya bagi mereka semua.

__ADS_1


"Pedang ini telah dilumuri dengan ajian serap jiwa. Jika saja terkena goresan pedang ini, maka orang tersebut akan-." Ia menghentikan ucapannya, melirik ke arah Rakesh Penampihan yang tampak terkejut.


"Meledak. Karena tidak kuasa menahan ajian serap jiwa yang terdapat di pedang ini. Bukankah seperti itu?. pendekar Rakesh Penampihan." Lanjutnya.


Mereka semua semakin terkejut mendengarkan penjelasan dari Jaya Satria. Jadi karena itulah ia naik ke arena pertarungan, karena ia menyadari kecurangan yang dilakukan musuh?.


"Kurang ajar!. Bagaimana orang itu bisa mengetahuinya?." Prabu Rahwana Bimantara sedikit heran. Itu artinya orang yang bernama Jaya Satria bukanlah orang sembarangan.


"Kau!. Jangan sembarangan dalam berbicara!. Tidak mungkin aku melakukan kecurangan itu!." Rakesh Penampihan mencoba untuk membela diri.


"Kalau begitu. Biar aku coba kepadamu, agar kau bisa merasakan jurus pedangmu sendiri." Jaya Satria pantang untuk diragukan, ia mengayun-ayun pedang itu.


"Celaka!. Jika dia melakukannya, maka rahasia itu akan terbongkar." Prabu Rahwana Bimantara merasa panik, ia tidak mau itu terjadi.


"Coba saja kalau kau memang benar." Rakesh Penampihan malah menantang Jaya Satria melakukannya.


Mereka semua jadi tegang melihat itu, benarkah Jaya Satria akan melakukannya?. Atau hanya menggertak saja?.


"Jaya satria. Aku mohon agar kau tidak bertindak gegabah." Dalam hati prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang berkomunikasi dengan Jaya Satria.


"Gusti prabu tenang saja. Hamba akan selalu berhati-hati." Jaya Satria tentunya tidak akan melakukan hal yang ceroboh.


Saat Jaya Satria menebas ke arah udara, terdengar suara ledakan yang membuat mereka semua terkejut. Mereka semua terdiam dalam keterkejutan mereka dengan apa yang mereka lihat?. jaya Satria hanya mengayunkan sekali pedang itu, namun apa yang terjadi?.


"Lihatlah. Ayunan pedang itu saja membuat ledakan sekitarnya. Itulah mengapa ia tidak berani mengayun pedang ini selama pertandingan tadi. Karena ia takut ledakan itu akan melukai sekitar, termasuk gusti prabu rahwana bimantara yang berada dibelakangnya. Tidak seperti pendekar lainnya yang sering mengayunkan pedangnya untuk memamerkan kelihaiannya dalam menggunakan pedang." Jaya Satria telah membuktikannya kebenarannya, ia bahkan menjelaskan kepada mereka semua.


"Jadi kau memilih untuk memberikan sedikit goresan, tetapi-" mata itu lagi dan lagi melirik ke arah Rakesh Penampihan yang terlihat mulai panik. "Masih bisa membunuh lawanmu." lanjutnya.


"Kau!. Bagaimana kau bisa kau mengetahui pedang itu?." Rakesh Penampihan tidak percaya jika orang bertopeng itu mengetahui rahasianya?.


"Heh!." Jaya Satria mendengus kecil. "Dulu aku pernah bertarung dengan seorang pendekar dari bukit Penampihan. Dia memiliki jurus pedang itu. Dan aku menyadari gerakan yang sama dengan orang itu." Jaya Satria masih ingat itu. "Jadi aku tahu, dan aku harus menghentikannya, dari pada dia mati ditangan seorang pendekar pengecut, yang tidak bisa menaati aturan yang telah ditetapkan raja." Jaya Satria mengetahui semuanya?.


Mereka semua tidak percaya jika Rakesh Penampihan menyerang Jaya Satria. Mereka ada yang ingin ikut dalam pertarungan itu, dan ada juga yang ingin mencegahnya. Termasuk Gusti Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, tapi apa boleh buat, mereka sudah terlanjur bertarung.


Rakesh Penampihan berusaha menyerang dengan jurus-jurusnya, Jaya Satria menahan semua serangan yang datang padanya dengan mudahnya. Tentunya membuat Rakesh Penampihan terbawa suasana.


Namun ketika lengah, Jaya Satria menotok Rakesh Penampihan, ia tidak bisa lagi bergerak. Sementara itu disisi lain, teman dari Rakesh Penampihan tidak bisa menerima itu. Mereka hendak menyerang bersama-sama, namun Jaya Satri mengancam mereka.


"Jika kalian berani menyerangku, akan aku penggal lehernya dengan pedang ini." Jaya Satria menempelkan pedang ke leher Rakesh Penampihan, tentunya temannya itu tidak bisa melakukannya.


Mereka juga tahu pedang yang itu seperti apa. Mereka juga tidak ingin kehilangan temannya mereka. Perlahan-lahan mereka mundur dari arena pertandingan.


"Maaf kakek prabu. Apa maksud dari semua ini?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bertanya setelah suasana agak reda.


"Kau menuduhku berbuat curang, Nanda prabu?." Ia malah balik bertanya?. Juga suaranya itu sangat tidak enak untuk didengar.


"Mohon maaf yang sebesar-besarnya kakek prabu. Nanda sama sekali tidak bermaksud menuduh. Namun nanda hanya memastikannya saja." prabu Asmalaraya Arya tidak mau terjadi kesalahpahaman.


"Tapi dari nada bertanyamu itu, kau memang menuduh ayahandaku berbuat curang nanda prabu." Ratu Ardiningrum Bintari nampak marah, ia tidak terima.


"Mohon maaf ibunda ratu ardiningrum bintari. Janganlah ibunda semakin memperkeruh keadaan. Nanda hanya bertanya, tidak menuduh. Mereka semua juga menjadi saksi apa yang ananda tanyakan, bukannya menuduh." Rasanya sang prabu hampir saja terbawa suasana amarah. Namun ia kembali dapat menguasai kemarahannya.


*Dalam situasi apapun, seseorang haruslah dapat membedakan, mana yang benar dan mana yang salah. Jika tidak, maka akan terjadi perselisihan karena ingin membenarkan ucapan mereka masing-masing.*


Dalam situasi seperti ini Putri Andhini Andita masih mengingat apa yang dikatakan oleh Jaya Satria. Ia memperhatikan bagaimana raut wajah mereka yang sedang dikuasai oleh amarah.


"Kau hanya pandai berkelit lidah saja. Katakan saja kalau kau memang benar-benar menuduh kakek prabu!." Raden Ganendra Garjitha juga ikutan memanasi suasana.


"Kau itu tidak tau malu rayi prabu. Bahkan di depan kakek prabu kau masih bersikap kurang ajar!." Raden Gentala Giandra juga marah.


"Kau tidak pandai menjaga sikap pada orang yang lebih tua darimu, raja macam apa kau ini!." Putri Ambarsari juga mengalahkan prabu Asmalaraya Arya.

__ADS_1


"Cukup!." Suara Putri Andhini Andita terdengar keras, membuat mereka semua terlonjak kaget.


"Cukup!. Hentikan!." Putri Andhini Andita terlihat kesal. Ia berjalan mendekati adiknya prabu Asmalaraya Arya Ardhana, dan ia berdiri di depan sang prabu seakan ingin melindunginya.


"Apa kau lakukan rayi." Raden Hadyan Hastanta merasa cemas melihat adiknya?.


"Kalian semua tidak perlu terbawa emosi!. Jelas-jelas rayi prabu tadi bertanya, bukan menuduh!." Putri Andhini Andita merasa marah dengan sikap mereka.


"Rayi." Ketiga anak dari Ratu Ardiningrum Bintari tidak percaya, jika Putri Andhini Andita membela prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.


"Bukan hanya aku saksinya. Bahkan petinggi istana lainnya, prajurit juga menjadi saksinya!." Ia benar-benar heran dengan sikap mereka semua. "Jadi kalian tidak usah membalik fakta. Hanya untuk menutupi kebusukan kalian, pada rayi ku cakara casugraha!." Putri Andhini Andita tampak marah, ia sangat marah, hingga menyebut nama asli sang prabu.


"Yunda andhini andita." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak menyangka jika kakaknya itu membela dirinya?.


"putri andhini andita, dia membela gusti Prabu. Alhamdulillah hirobbil 'alamin ya Allah." Jaya Satria merasa lega melihat itu.


"Apa yang kau lakukan rayi?" Raden Hadyan Hastanta mencemaskan adiknya. Ia takut adiknya jadi sasaran dari rencana jahat keluarga Bimantara.


"Sudahlah yunda, kita bereskan masalah ini dipersidangan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menenangkan kakaknya agar tidak marah.


"Jaya Satria, lepaskan totokanmu padanya. Kita akan melakukan persidangan." Perintah sang prabu.


"Sandika gusti prabu. akan hamba laksanakan." Jaya Satria langsung melakukan apa yang diperintahkan rajanya.


Setelah itu mereka menuju ruang utama istana. Mereka melakukan persidangan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.


"Telah terjadinya kesalahan dalam pertarungan tadi. Jaya satria telah menyaksikan bagaimana pihak lawan menggunakan senjata untuk membunuh lawannya. Sementara peraturan pertandingan tadi mengatakan, dilarang membunuh lawannya. Bagaimana sikap sang prabu?. Serta pihak lawan?. Mari kita dengarkan penjelasan dari kedua belah pihak." Senopati Mandaka Sakuta meminta mereka untuk menjelaskan apa yang terjadi.


"Gusti prabu." Jaya Satria memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Hamba mengenali gerakan ajian serap jiwa. Hamba tidak suka dengan cara kotor seperti itu, hanya untuk memenangkan pertandingan. Hamba menuntut pihak lawan." Jaya Satria yang didampingi putri Andhini Andita menuntut mereka.


"Aku pihak lawan, sama sekali tidak berniat curang. Aku yakin aku tadi dijebak oleh orang bertopeng itu." Rakesh Penampihan masih saja mengelak, dan ia membela dirinya.


"Mohon ampun gusti prabu. Bolehkah hamba memberikan pendapat?." Putri Andhini Andita meminta izin untuk mengeluarkan pendapatnya.


"Silahkan. Katakan apa saja yang ingin yunda katakan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mempersilahkannya.


"Meskipun saya bukan seorang pendekar. Jika melihat cara bertarungnya tadi sangat jelas. Itu tadi adalah rencana pembunuhan terhadap pendekar kerajaan suka damai. Berambisi penuh amarah, tertangkap jelas bagaimana gerak gerik itu." Putri Andhini Andita yang terkenal cerdas dapat menangkap gelagat itu.


"Kau tidak bisa menuduh sembarangan, bisa jadi itu hanyalah tekadnya yang ingin menang." Ratu Ardiningrum Bintari merasa kesal, mengapa putri Andhini Andita malah membela orang yang ia benci?.


"Ibunda. Cobalah ibunda buka mata dan hati ibunda. Simak kembali pertarungan yang terjadi." Putri Andhini Andita berani berkata seperti itu.


"Rayi andhini andita!. Jaga ucapanmu." Raden Ganendra Garjitha marah dengan ucapan itu, ia sangat tidak suka. Sedangkan Raden Hadyan Hastanta tidak tahu dengan apa yang dilakukan adiknya. Ia tidak bisa berkata apa-apa selain berharap adiknya tidak menjadi musuh keluarga Bimantara.


Sedangkan Prabu Rahwana Bimantara sudah tidak tahan lagi mendengarkan perdebatan itu.


"Ya. Kami memang berbuat curang, dan apa yang akan kau lakukan jika kami terbukti bersalah." Prabu Rahwana Bimantara mengakuinya?. Ia mengakui kecurangannya?.


"Apa yang sebenarnya kakek prabu inginkan dari nanda?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya, ia tidak menyangka itu.


"Aku hanya menginginkan tahta ini!. Tahta milik menantuku prabu kawiswara arya ragnala, dan kau tidak berhak untuk menduduki tahta itu." Akhirnya ia mengatakannya juga. Tujuan yang sebenarnya, tujuan ingin menguasai kerajaan besar Kerajaan Suka Damai.


"Jadi itu tujuannya?." Dalam hati putri Andhini Andita merasa heran dengan kedatangannya ke Istana ini.


"Aku sudah menduganya." Dalam hati prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria telah menunggu pengakuan dari prabu Rahwana Bimantara.


"Ayahanda." Ratu Ardiningrum Bintari tidak menyangka ayahandanya mengatakan rencana mereka?. Tapi kenapa ia lakukan?.


Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.


...***...

__ADS_1


__ADS_2