RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
TIDAK MAU DIBERI NASIHAT


__ADS_3

...***...


Malam telah menyapa. Jaya Satria merasa cemas, karena ia tidak bisa membuka topengnya. Karena ia akan mengikuti acara pengajian. Apakah yang akan ia lakukan?.


"Jika memang kau tidak bisa melepaskan topeng itu. Kau tidak usah memaksakan diri. Aku akan menjelaskan pada mereka nantinya."


"Maaf karena telah membuat kyai merasa kerepotan dengan kehadiran ku."


"Tidak apa-apa. Kau memiliki alasan yang tidak bisa dijelaskan. Tapi aku percaya jika kau adalah pemuda yang baik."


"Terima kasih kyai. Aku sangat berhutang budi pada kyai. Aku akan pergi dari desa ini besok pagi."


"Kau boleh tinggal di sini kapan saja. Aku senang jika ada yang mau belajar dengan baik mengenai agama islam."


"Terima kasih atas kebaikan yang kyai berikan padaku."


"Kalau begitu aku pergi dulu."


"Berhati-hatilah kyai. Apakah perlu aku antar sampai ke tempat pengajiannya?."


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku pergi dulu jaya satria. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."


Namun baru saja ia mau turun dari tangga rumahnya. Sepertinya langkahnya dihadang oleh orang suruhan Gelang Sepa. Tapi sepertinya ia tidak datang sendirian. Karena ada anak buahnya serta ada pemimpin tuan tanah yang ingin menguasai desa ini. Dia adalah Belerang Kawah, orang yang menguasai semua jenis ilmu dukun.


"Hei!. Kyai, dan juga kau anak muda bertopeng!." Terdengar suara yang tidak bersahabat sama sekali memanggil keduanya.


"Jadi anak muda bertopeng itu yang telah menyelamatkan kyai tua itu?."


"Benar tuan. Dia yang telah berani ikut campur dan melindunginya."


Jaya Satria mendekati Kyai Mahmudi Ismail. "Masuklah jaya satria. Kau tidak boleh terlibat dalam pertarungan yang akan terjadi."

__ADS_1


"Kyai jangan khawatir. Mereka semua tidak akan bisa ditangani sendirian."


"Hei anak muda!. Kau jangan berlagak dihadapanku. Desa ini adalah daerah kekuasaanku!. Dan aku akan membunuhmu, jika kau berani ikut campur!."


"Hei tuan tanah. Bumi ini adalah milik Allah SWT. Jika kau ingin menguasai bumi ini. Tidak ada kekuasaan di dunia ini yang mampu menentang kekuasaan Allah SWT."


"Bangsat!. Ucapanmu malah sama dengan kyai tua itu tempo hari!. Kau memang harus aku singkirkan!."


^^^"قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.^^^


^^^لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚوَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ. tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).”^^^


Jaya Satria membacakan surat Al An'am ayat 162 dan 163, sambil menunjuk ke arah mereka semua. Entah mengapa ia sangat geram dengan apa yang apa yang dikatakan oleh Gelang Sepa dan Belerang Kawah.


"Subhanallah. Sungguh luar biasa sekali kau jaya satria. Meskipun kau seorang mualaf. Namun kau belajar dengan baik mengenai Al-Qur'an."


"Heh!. Kau tidak usah banyak ceramah seperti dia. Apa yang kalian dapatkan kecuali musuh. Karena apa yang kalian katakan sama sekali tidak mendapatkan keuntungan bagi kami."


"Sebaiknya kalian menyerah dan menyembah pada tuan belerang kawah. Sebelum kalian menerima hukuman dari junjungan kami."


"Hawanya kali ini terlihat berbeda. Dan sangat kental sekali. Apa yang ia katakan sangat benar. Bahwa ia memang belum bisa mengendalikan kemarahan yang ia miliki. Tapi aku rasa kemarahan yang keluar dari dirinya demi kebaikan. Bukan untuk merusak." Dalam hati kyai Mahmudi Ismail dapat merasakan perubahan suasana hati Jaya Satria.


Sedangkan Jaya Satria saat ini sedang membacakan ayat Al-Qur'an surah Al An'am ayat 64 dan 65


"قُلْ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْ رَبًّا وَّهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍۗ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ اِلَّا عَلَيْهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۚ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ


Katakanlah (Muhammad), Apakah (patut) aku mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan.”


Dengan suara yang sangat lantang, Jaya Satria membacakan ayat tersebut.


"وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ الْاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْۗ اِنَّ رَبَّكَ سَرِيْعُ الْعِقَابِۖ وَاِنَّهٗ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ


Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman dan sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang."

__ADS_1


Mereka seakan terpaku dengan suara merdu Jaya Satria. Sehingga mereka semua tidak bergerak sama sekali.


"Apakah kalian masih saja tidak mau menyembah Allah?. Dan malah menyembah orang yang sama sekali tidak akan pernah memberikan kebahagiaan akhirat pada kalian?."


Namun pada saat itu, tiba-tiba saja Gelang Sepa dan Belerang Kawah menjerit kesakitan. Karena ditubuh mereka ada makhluk halus atau jin yang sedang bersembunyi. Kedua jin itu merasa terganggu dengan ayat Alquran yang dibacakan oleh Jaya Satria tadi. Sepertinya keduanya saat ini seperti orang kesurupan, mengamuk serta menyerang siapa saja yang mendekati mereka.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Mereka malah lepas kendali." Kyai Mahmudi Ismail merasa bersimpati dengan apa yang mereka alami.


"Apakah kita perlu menyediakan mereka kyai?. Aku rasa akan timbul banyak korban. Dan kemungkinan mereka juga akan menyerang kita."


"Kalau begitu mari kita tangani mereka semua."


"Baiklah kyai."


Jaya Satria dan Kyai Mahmudi Ismail melompat ke kerumunan mereka yang mencoba menghentikan keganasan dari Gelang Sepa dan Belerang Kawah. Sedangkan anak buah yang ikut dalam pertarungan itu malah terlempar satu persatu.


"Berhati-hatilah kyai. Sepertinya ini tidak akan mudah."


"Kau juga berhati-hatilah jaya satria."


Keduanya mengerahkan kekuatan mereka untuk menghentikan Gelang Sepa, dan juga Belerang Kawah. Karena mereka kesurupan, makanya kekuatan mereka diluar kendali. Mereka sama sekali tidak bisa membedakan mana kawan dan mana lawan.


Namun Jaya Satria dan Kyai Mahmudi Ismail berusaha untuk mengusir setan atau mahkluk halus yang saat ini sedang menguasai tubuh keduanya.


DUAKH!!!


Sepertinya Jaya Satria terjajar beberapa langkah, karena dadanya dihantam oleh Gelang Sepa. Tentunya ia sangat terkejut, dan berusaha mengatur kembali hawa murninya.


"Jaya satria!."


"Aku baik-baik saja kyai. Mereka saja yang terlalu ganas untuk dihadapi." Jaya Satria kembali mengendalikan dirinya. Ia menyerang Gelang Sepa, dan ia berniat menghentikan orang itu.


Apakah mereka berhasil menghentikan kerusuhan itu?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2