
Pusaka kembar keris Naga penyegel Sukma itu semakin mengeluarkan pamornya, seakan ia tidak sabar lagi untuk menyegel targetnya. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melompat melewati Prabu Wajendra Bhadrika.
"Cucuku cakara casugraha. Hentikan kejahatan raja kegelapan sebelum matahari terbenam. Jika telah melewati batas itu dan malam datang. Kekuatannya akan semakin meningkat, kau akan mengalami kesulitan untuk mengatasinya." Ia masih ingat dengan apa yang dikatakan oleh prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta padanya. Karena itulah ia harus segera melakukannya.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria menyalurkan tenaga dalam mereka pada keris itu. Mereka memainkan jurus pembuka segel keris, setelah itu mereka menancapkan keris itu secara bersamaan di tanah. Tiba-tiba keris itu mengalirkan cahaya merah yang mengarah ke tubuh Prabu Wajendra Bhadrika, membuatnya terkejut karena tubuhnya tertahan, tidak bisa bergerak.
"Cara melakukannya, nanda berdiri di belakangnya. Sedangkan saudaramu berdiri dihadapannya, setelah itu tancapkan keris itu di tanah. Namun sebelum itu gunakan jurus pembuka segel, agar pamor keris itu menyatu dengan saudara kembarnya."
Ya, itulah yang dilakukan oleh keduanya. Sesuai dengan apa yang dikatakan prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.
"Tidak!. Keris itu tidak hanya berfungsi seperti itu saja. Keris itu memang menahan gerakannya. Namum akan lebih sempurna lagi, jika nanda membacakan mantram-mantram yang mampu menekan jin itu agar lebih cepat proses penyegelannya."
Membacakan mantram-mantram?. Mantram apa?.
"Kakek prabu tidak mengatakan mantram apapun, atau jangan-jangan dengan membacakan ayat kursi?." Dalam hatinya ia berkata seperti itu, dan ia akan mencobanya.
Setelah itu Prabu Asmalaraya arya ardhana dan jaya satria membacakan ayat kursi dengan suara yang keras
"Allahu laa Ilahailla huwal haiyul khoiyuum, maa takqhuzuhu sinatu walaa nawum, lahuu maa fissamaa waati wamaa filard, manzallwzi yassyfa'u 'indahuillaa biiznih, y'alamumaa baina aidihim wamaa Qholfahum, walaa yuhithuu na biayai in min 'imihii Illa bimas syaak, wasi'a kursiyyuhussamaa waa ti Wal ard, walaa yauduhu hifzhuhumaa, wahuwal 'aliyyul 'azhiim."
Prabu Wajendra Bhadrika yang mendengarkan lantunan ayat kursi semakin merasa kesakitan. Begitu juga dengan Putri Gempita Bhadrika yang mengerang kesakitan.
Belum lagi Surat alfatihah, surat Al-Ikhlas, Al-falah dan An-Nas, yang dibacakan oleh keduanya. Membuat prabu Wajendra Bhadrika semakin kesakitan. Keris itu semaki kuat menyerap tenaga dalam prabu Wajendra Bhadrika.
"Lepaskan!. Sakit."
Prabu Wajendra Bhadrika tidak tahan lagi. Ia mencoba berontak, namun apa yang terjadi?. Tenaganya semakin terkuras habis. ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan
"Ayahanda." Dalam kesakitan Putri Gempita Bhadrika mencoba memanggil ayahandanya, namun tidak terdengar lagi oleh prabu Wajendra Bhadrika, selain kesakitan yang ia rasakan.
"Apakah aku memang sampai di sini saja." Prabu Wajendra Bhadrika dalam hatinya merasakan takut yang luar biasa. Kekuatannya sudah tidak sanggup lagi untuk menahan kekuatan keris itu. Serta apa yang dibacakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
"Sepertinya ini akan berhasil."
"Ya, semoga saja dengan ini rayi prabu bisa menghentikan raja Kegelapan."
"Dendam ayahanda akan segera terbalaskan. Aku yakin dia tidak akan bisa lolos lagi."
Putri Andhini Andita, Putri Agniasari Ariani, dan Raden Hadyan Hastanta berharap semuanya akan segera berakhir.
"Semoga saja ya Allah." Dalam hati syekh Asmawan Mulia berharap.
"Semoga kau berhasil melakukannya jaya satria." Begitu juga dengan harapan paman Perapian Suramuara.
"Tidak. Aku tidak ingin kehilangan ayahandaku. Aku harus menghentikan mereka melakukan itu."
Putri Gempita Bhadrika yang sedang kesakitan mencoba untuk mencegah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria untuk membunuh ayahandanya.
Dengan sekuat tenaga, ia menyalurkan tenaga dalamnya ke telapak tangannya yang ia lambari dengan ajian pamungkas miliknya.
Putri Gempita Bhadrika melompat ke arah Jaya Satria yang sedang fokus. Jaya Satria yang tidak siap menerima pukulan kuat didadanya terkejut. Pukulan itu mengandung racun yang sangat ganas.
"Hyaaaaa"
"Eqhaaaaak"
Terdengar pukulan keras menghantam dada jaya Satria, tubuhnya terpental ke belakang, disertai teriakan keras dari Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Jaya satria\nanda prabu."
Paman Perapian Suramuara dan Syekh Asmawan Mulia yang melihat itu langsung menangkap tubuh keduanya. Paman Perapian Suramuara menangkap tubuh Jaya Satria, sedangkan Syekh Asmawan Mulia menangkap tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Sementara itu Putri Andhini Andita, Raden Hadyan Hastanta, dan Putri Agniasari Ariani terkejut melihat itu?. Bukankah yang diserang Jaya Satria?. Bagaimana bisa Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga terkena serangan yang sama?.
"Rayi prabu, akgh."
Putri Agniasari Ariani yang ingin bangkit, mendekati adiknya, meringis sakit karena tubuhnya terasa sakit.
"Jaya satria."
Begitu juga dengan putri Andhini Andita, ia belum bisa menggerakkan tubuhnya.
Namun mereka tidak bisa diam ditempat saat melihat orang yang mereka kasihi terluka parah. Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani, saling membantu sama lain untuk mendekati Jaya Satria.
"Berhati-hatilah rayi."
Raden Hadyan Hastanta begitu mencemaskan keadaan kedua adiknya. Kecemasannya bertambah karena adik bungsunya, prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang terhempas tanpa ada yang menyerangnya.
__ADS_1
"Jaya satria, jaya satria, kau masih mendengarkan aku jaya satria?. Jaya satria." Paman Perapian Suramuara berusaha untuk membangunkan Jaya Satria yang berada di gendongannya.
Syekh Asmawan Mulia menggendong prabu Asmalaraya Arya Ardhana, kondisinya terluka parah. Sama persis yang dialami oleh Jaya Satria.
"Rayi prabu." Putri Agniasari Ariani menangis sedih karena kondisi adiknya.
Syekh Asmawan Mulia yang menggendong Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, mencoba menurunkannya. Membaringkannya di tanah dengan pelan agar sang prabu tidak merasakan sakit yang lebih. Ia memangku kepala sang prabu di pahanya.
"Rayi prabu." Putri Agniasari Ariani tidak dapat menyembunyikan tangisnya lagi melihat kondisi adiknya
"Yunda." Suara Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terdengar parau karena menahan sakit.
"Jaya satria"
Sementara itu, putri Andhini Andita mendekati Jaya Satria yang masih digendong Paman Perapian Suramuara.
"Jaya Satria. Kau masih bisa bertahan?." Paman Perapian Suramuara, mencoba untuk menurunkan Jaya Satria.
"Eqhak"
Ia terbatuk, memuntahkan darah segar. Dadanya terasa sakit, begitu juga dengan kepalanya, membuatnya limbung. Sementara itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga terbatuk, dan muntah darah.
"Rayi prabu \ nanda prabu."
Putri Agniasari Ariani, Raden Hadyan Hastanta, dan Syekh Asmawan Mulia sangat khawatir dengan kondisi sang Prabu.
"Jaya satria."
Ketika Paman Perapian Suramuara mencoba menangkap tubuh Jaya Satria, topeng yang menutupi wajahnya terlepas.
"Jaya satria, kau terluka." Putri Andhini Andita semakin mencemaskan keadaan Jaya Satria. Ia menjatuhkan dirinya ke tanah, agar sama tinggi jaya satria.
Namun, matanya terbelalak kaget saat melihat wajah Jaya Satria yang sangat mirip dengan adiknya.
"Jaya satria." Putri Andhini Andita seperti kehilangan kata-kata. "Apakah benar itu adalah wajah adikku?." Ia mencoba menyentuh wajah Jaya Satria dengan pelan agar tidak menyakitinya.
"Jaya satria. Apakah kau menggunakan jurus malih rupa lagi, untuk menyerupai wajah rayi prabu?. Atau memang ini wajahmu yang asli?.'' Dengan isak tangis yang tak terbendung lagi ia bertanya pada Jaya Satria.
"Katakan padaku jaya satria. Katakan padaku jika kau bukanlah adikku. Atau jangan katakan padaku jika kau adalah kembaran adikku. Karena itu rasanya sangat mustahil, jaya satria." putri Andhini Andita mengusap pelan darah yang menempel di sudut mulut Jaya Satria.
"Jaya satria. Aku harap kau tidak mengatakannya." Sayup-sayup Prabu asmalaraya arya ardhana dapat mendengarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya.
"Mengapa disaat seperti ini ya Allah." Syekh Asmawan Mulia menghela nafasnya pelan, ia tidak menduganya sama sekali.
Sementara itu, Putri Agniasari, dan Putri Raden hadyan Hastanta yang penasaran, mendekati mereka. Keduanya sangat terkejut melihat wajah jaya satria yang sangat mirip dengan wajah prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Jaya satria." Paman Perapian Suramuara merasa khawatir, hatinya merasa gelisah.
"Aku mohon, jaya satria. Jawablah pertanyaanku. Aku sangat memohon padamu."
"Jaya satria. Mengapa engkau memiliki wajah yang sama dengan rayi prabu?. Jelaskan pada kami semua."
Putri Andhini andita dan Raden hadyan Hastanta sangat penasaran.
"Ya Allah. Apa yang harus hamba lakukan." Dalam hati Jaya Satria merasa gelisah, apa yang harus ia jawab?.
"Jangan menangis. Jangan menangis jaya satria. Apakah begitu beratnya kau menjawab pertanyaanku sehingga kau menangis, jaya satria?." Putri Andhini Andita menghapus air mata jaya satria. Ada perasaan bersalah di dalam dirinya. Namun ia berharap ada jawaban dari Jaya Satria.
"Nanda jaya satria." Syekh Asmawan mulia juga ikut cemas, ia tidak bisa membantunya, namun ia berharap jaya satria mampu menjawab pertanyaan itu.
"Maafkan hamba gusti putri." jaya satria berusaha menahan tangisnya. "Maafkan hamba. Karena hamba memiliki wajah yang sama dengan gusti prabu asmalaraya arya ardhana."
"Apa maksudmu jaya satria?. Katakan pada kami!."
"Ya, katakan pada kami."
"Jangan buat kami bertanya-tanya, dan merasa penasaran jaya satria."
Putri Agniasari Ariani, Putri Andhini Andita, dan Raden Hadyan Hastanta ingin penjelasan dari Jaya Satria.
"Hamba hanyalah abdi setia mendiang kawiswara arya ragnala. Ketika itu hamba masih kecil, hamba yang hanyalah seorang anak yang tanpa tujuan. Kemudian diselamatkan oleh gusti prabu. Kebetulan hamba sangat sangat dekat dengan raden cakara casugraha."
Mereka menunggu penjelasan lanjut dari Jaya Satria dengan sabar, karena kondisinya yang sedang terluka.
"Entah karena kedekatan kami yang begitu akrab, kami memiliki wajah yang sama. Prabu kawiswara arya ragnala menyatukan darah kami, hingga kami benar-benar seperti anak kembar." Lanjutnya.
Mereka mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh jaya satria.
__ADS_1
"Karena tidak ingin terjadi keslahapahaman, gusti prabu memberikan topeng penutup wajah itu pada hamba. Karena tidak ingin ada yang melihat wajah hamba, dan menganggap hamba sebagai raden cakara casugraha. Itulah alasan mengapa hamba memakai topeng yang diberikan mendiang gusti prabu. Maafkan hamba gusti putri."
Mereka bertiga mendengarkan dengan jelas apa yang dikatakan oleh jaya satria?.
"Dewata yang agung, jadi begitu alasannya?."
Putri Andhini andita, dan kedua saudaranya seorang mengerti.
"Keqh."
Jaya Satria dan prabu asmalaraya arya ardhana meringis kesakitan, membuat mereka semua panik, apalagi keduanya tidak sadarkan diri.
"Ayo kita segera kembali ke istana, agar dapat menyembuhkan keduanya."
"Baiklah syekh."
Mereka semua bergegas meninggalkan tempat itu, saat ini keselamatan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria lebih penting.
Sementara itu, putri Gempita Bhadrika sangat putus asa karena ia tidak bisa menyentuh tubuh ayahandanya yang masih tersegel oleh pusaka kembar keris naga penyegel sukma.
"Ayahanda."
Putri gempita bhadrika menangis pilu melihat ayahandanya yang tidak lagi bergerak. Perlahan-lahan tubuh itu memudar seperti hendak menghilang.
"Ayahanda!. Bertahanlah ayahanda!. Aku mohon dengarkan aku." Tangisnya semakin menjadi-jadi, ketika tubuh ayahandanya lenyap dari garis itu.
"Ayahanda!."
Teriak pilu dari putri gempita bhadrika disaksikan oleh penghuni hutan kerajaan kegelapan. Dendam seakan telah lahir saat melihat raja kegelapan menghilang untuk selama-lamanya.
Hutan kerajaan kegelapan menjadi saksi pula, ketika putri Gempita Bhadrika terlempar jauh dari tempat itu, ketika ia mencoba untuk menyentuh cahaya itu.
Namun ada seseorang yang menangkap tubuh putri Gempita Bhadrika agar tidak terbentur di pohon-pohon yang menunggunya.
"Tuan putri tenang saja. Kita akan sama-sama membalas kematian gusti prabu wajendra bhadrika. Tapi setelah aku berhasil menyembuhkanmu."
Orang misterius itu menghilang entah kemana membawa Putri Gempita Bhadrika yang tidak sadarkan diri akibat sengatan dari keris kembar yang menyegel, atau lebih tepatnya memusnahkan raja kegelapan untuk selama-lamanya.
Apa yang akan terjadi? temukan jawabannya.
...***...
Di Istana Kerajaan Suka Damai.
Sudah masuk waktu sholat magrib, Ratu Dewi Anindyaswari sangat cemas. Ia melaksanakan sholat magrib, untuk menenangkan hatinya yang gelisah. Dan tak henti-hentinya ia berdoa kepada Allah swt, agar tidak membayangkan hal-hal yang buruk terjadi pada anak-anaknya.
"Dinda. Janganlah dinda menangis."
"Kanda prabu."
"Dinda harus kuat, apapun yang terjadi pada putra dan putri kita nantinya."
Prabu Kawiswara Arya Ragnala mencium kening istrinya dengan lembut, penuh kasih sayang.
"Kanda prabu."
"Kuatkanlah hatimu dinda. Kanda yakin putra dan putri kita membutuhkan semangat dinda, agar mereka lebih kuat menghadapi cobaan hidup yang sedang mereka jalani."
"Semoga saja dinda kuat, kanda prabu."
"Kanda yakin dinda bisa kuat. Karena dinda adalah seorang ibu yang selalu tabah menghadapi masalah apapun."
Saat itu Ratu Dewi Anindyaswari tersadar dari lama bawah sadarnya, ternyata ia lagi-lagi bertemu dengan mendiang suaminya.
"Kanda prabu. Meskipun kanda terpisah dari dunia ini, namun dinda berharap kanda prabu selalu dapat menguatkan hati dinda."
Kepergian suaminya sangat menyisakan kesedihan, kesepian, dan kerinduan pada sosok yang selalu ada untuknya dalam keadaan apapun.
"Ya Allah. Kanda prabu mengatakan kepada hamba, untuk tidak menangis. Apapun yang terjadi pada putra putri hamba. Sebenarnya apa yang terjadi pada putra dan putri hamba ya Allah." Ia tidak kuasa menahan tangisnya mengingat apa yang dikatakan oleh mendiang suaminya.
Hatinya mulai gelisah, pikirannya mulai bercabang mengenai anaknya yang berada di luar istana. "Semoga saja putra putriku kembali degan selamat. Aku tidak sanggup lagi kehilangan. Aku tidak sanggup kehilangan salah satu dari mereka, atau keduanya."
Semoga saja doa dan harapannya terkabulkan. Aamiin ya rabbal a'lamin. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
Vote, like, share, komentarnya jangan lupa ya pembaca tercinta.
...***...
__ADS_1