RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MASIH BELUM BISA?.


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita menatap ke arah seorang wanita yang mengaku dirinya adalah seorang tabib?. Tapi rasanya ia sangat ragu, sehingga ia melompat menyerang wanita itu, hingga terjadi pertarungan diantara mereka. Putri Andhini Andita menyerangnya dengan beberapa pukulan. Lebih tepatnya menggunakan jurus pukulan angin di ruang hampa. Jurus yang diajarkan jaya satria padanya.


Akan tetapi Pendekar wanita itu bisa mengatasi jurusnya dengan baik. Walaupun agak sedikit sulit mengimbanginya, namun ia masih tetap bisa tenang. Setelah itu ia melompat menjauhi Putri Andhini Andita. "Tunggu nisanak, aku bukanlah musuhmu. Sepertinya nisanak ada keperluan penting. Sehingga nisanak sangat marah."


Putri Andhini Andita mengatur tenaga dalamnya, dan ia mencoba untuk menahan amarahnya. "Aku ingin ke suatu tempat. Aku sedang mencari paman perapian suramuara. Akan tetapi kau dan juga orang-orang tadi malah menghalangi aku!."


"Memangnya ada tujuan apa?. Jika aku boleh mengetahuinya."


"Haruskah aku katakan padamu?. Lebih baik kau biarkan aku pergi. Ada nyawa yang harus segera diselamatkan."


"Apakah dia sedang sakit?. Atau terluka?. Mungkin aku bisa membantunya."


"Memangnya kau mampu melakukannya?. Dia adalah seorang raja!. Jika kau gagal melakukannya. Maka akan aku gantung lehermu di alun-alun istana."


"Memangnya raja itu sakit apa?. Sehingga nisanak begitu terburu-buru mencari seseorang untuk mengobatinya?."


"Apakah kau bisa menyembuhkan sakit itu?. Jika tidak bisa jangan pernah kau bertanya dia sakit apa."


"Astaghfirullah hal'azim, nisanak. Tidak baik berburuk sangka seperti itu."


Putri Andhini Andita sedikit terkejut, dengan apa yang diucapkan oleh wanita itu, dengan cepat ia mendekati Pendekar wanita itu, mencengkeram kuat pergelangan tangan wanita itu. "Jadi kau adalah seorang muslim?."


"A-a-aku memang seorang muslim." Balasnya sedikit gagap, karena ia terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Putri Andhini Andita. "Kenapa memangnya jika aku seorang muslim?. Apakah nisanak akan membunuh ku?."


Putri Andhini Andita melepas tangan Pendekar wanita itu sambil mendengus kecil. "Heh!. Meskipun kita memiliki pandangan yang berbeda, bukan berarti aku tidak memiliki hati nurani." Ia menatap tajam ke arah lawannya. "Tadi kau mengatakan, bahwa kau adalah seorang tabib?. Kau tidak berbohong bukan?. Karena gusti prabu mengatakan, jika kau berbohong maka kau akan berdosa."


"Ah iya. Aku memang mengatakan itu. Lalu apa yang kau ragukan dariku?."


"Apakah kau bisa memasuki alam sukma?."


"Aku bisa melakukannya, insyaallah."


"Kalau begitu kau ikut aku ke istana. Karena aku membutuhkan kepandaian yang kau miliki." Tanpa banyak bicara, Putri Andhini Andita menarik tangan Pendekar wanita itu. Memang agak terkesan kasar, namun ia terpaksa melakukan itu.

__ADS_1


"Apakah kau salah satu penggawa istana?."


"Bisa jadi seperti itu."


"Kalau begitu, bolehkah aku berjalan sendiri tanpa dibimbing seperti anak kecil?."


Putri Andhini Andita menghentikan langkahnya, melirik ke arah Pendekar wanita itu. "Maaf, jika aku terkesan kasar padamu. Tapi ini sangat gawat. Kita harus segera menuju istana kerajaan suka damai."


"Baiklah kalau begitu. Kita gunakan saja ilmu meringankan tubuh . Itupun jika tidak keberatan."


"Heh!. Jangan remehkan aku. Mari kita bertarung. Siapa yang terlebih dahulu ke istana kerajaan suka damai."


"Aku setuju."


Keduanya saling menganggukkan kepala, setelah itu mereka mulai melesat dengan cepatnya. Siapakah yang akan sampai terlebih dahulu ke istana kerajaan suka damai?. Simak terus ceritanya.


...***...


Putri Agniasari Ariani dan Raden Rajaswa Pranawa telah kembali ke Istana Kerajaan Suka bersama syekh Asmawan Mulia. Kedatangan mereka disambut oleh Ratu Dewi Anindyaswari.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh ibunda." Putri Agniasari Ariani mencium tangan ibundanya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, gusti ratu."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh syekh." Masih terlihat kecemasan di wajahnya. Karena anaknya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana belum juga bangun.


"Sampurasun gusti ratu."


"Rampes." Ratu Dewi Anindyaswari membalas ucapan Raden Rajaswa Pranawa. "Terima kasih nanda rajaswa mau menemani nanda agniasari ariani menemui syekh asmawan mulia."


"Sama-sama gusti ratu. Hanya itu yang bisa saya lakukan di istana ini "


"Alhamdulillah hirobbil'alamin. Semoga kebaikan nanda dibalas oleh Allah SWT suatu hari nanti." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum kecil, walaupun sebenarnya terasa pahit. "Mari masuk syekh. Kami semua sangat khawatir sekali dengan keadaan nanda prabu syekh."


Mereka semua masuk ke dalam Istana Kerajaan Suka Damai, untuk melihat keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang belum kunjung bangun, setelah pedang Sukma Naga Pembelah Bumi dan Pedang Pelebur Sukma keluar dari tubuhnya.

__ADS_1


...***...


Singkatnya, dengan ilmu kanuragan meringankan tubuh, Putri Andhini Andita telah sampai di istana bersama Pendekar wanita yang tidak dikenal. Mereka sama-sama melompat di halaman Istana.


"Heh!. Boleh juga kau rupanya."


"Jadi kita seimbang?."


"Lain kali aku tidak akan kalah darimu." Putri Andhini Andita melirik ke sebelah. "Siapa namamu?. Aku andhini andita. Aku ingin mengetahui namamu."


"Namaku embun putih. Pendekar ahli obat dari bukit seribu bunga pesona."


"Baiklah nini embun putih. Kalau begitu mari kita masuk. Kau harus segera menyembuhkan gusti prabu asmalaraya arya ardhana."


"Ya. Itu adalah tugasku."


"Mari masuk."


"Mari."


Keduanya masuk ke dalam istana, karena ingin segera memeriksa keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Sedangkan di dalam Istana, lebih tepatnya di bilik sang prabu. Syekh Asmawan Mulia telah melihat keadaan Sang Prabu. Memang rasanya sangat sedih hatinya.


"Mohon ampun gusti ratu. Hamba tidak bisa memasuki alam sukma. Karena hamba tidak memiliki kepandaian seperti itu gusti ratu."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Jika tidak bisa, lalu apa yang harus kita lakukan syekh?." Kembali, Ratu Dewi Anindyaswari harus menguatkan hatinya karena anaknya.


"Maafkan hamba gusti ratu. Sungguh maafkan hamba."


"Apakah tidak ada cara lain?. Bukankah syekh bisa menenangkan mustika naga merah delima?."


"Mohon ampun gusti ratu gendhis cendrawati. Yang bermasalah bukalah mustika merah delima. Akan tetapi, batu nirwana dewa yang saat ini membuat kedua sukma naga. Karena ada empat naga yang menyatu dalam satu raga, makanya semuanya berontak. Semuanya dalam bentuk sukma. Jadi harus diselesaikan di alam sukma gusti ratu."


"Apakah harus memasuki alam sukma syekh?. Apakah tidak bisa diobati dari luar?."


"Mustika naga merah delima adalah pemisah raga. Sedangkan batu nirwana dewa, hamba nirwana dewa sebenarnya menyatu raga. Karena kedua raga nanda prabu telah menyatu, entah mengapa malah membuat keempat naga yang menghuni benda pusaka tersebut malah berontak. Padahal sebelumnya belum pernah seperti itu." Syekh Asmawan Mulia sedikit bingung. Memang sebelumnya kedua raga memiliki batu nirwana dewa, tetapi sebelum disatukan dengan mustika naga merah delima. Karena mereka telah bersatu, kedua raga itupun ikut bersatu, dan kini malah tidak bisa terpisah terlalu lama.

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi?. Bisakah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana diselamatkan?. Temukan jawabannya.


...****...


__ADS_2