
...***...
Putri Bestari Dhatu saat ini sedang berada di Bukit Setangkai. Saat ini ia sedang mengobati seorang pendekar Tapa Simulung yang kabarnya sedang sakit parah. Namun sebelum ia mengobati pendekar Tapa Simulung, ia melakukan semedi, untuk melihat masa lalu Pendekar tersebut bagaimana.
Di alam bawah sadar Putri Bestari Dhatu. Ia seakan kembali ke masa lalu yang kelam, abu-abu tidak berwarna sama sekali. Kakinya terus melangkah, namun tidak ada satupun orang yang ia lihat.
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya?. Mengapa masa lalunya seperti ini?."
Namun ia dikejutkan oleh seorang nenek dengan tatapan yang mengerikan. Bagaimana mungkin nenek ini bisa berada di depannya?.
"Jika engkau ingin mencari keberadaannya, maka kau harus terus berjalan. Namun jangan terlalu jauh, karena hutan ini adalah hutan larangan ini seharusnya tidak dimasuki oleh orang hidup seperti kau."
"Saya hanya ingin memastikannya nek. Apa yang menyebabkan ia sakit parah?. Sehingga saya bisa meringankan rasa sakit yang ia rasakan."
"Apakah kau tidak mengetahui suatu rahasia?. Namanya hutan larangan. Jadi semua yang ada di sini dilarang mengambilnya. Karena ketamakan, sifat rakus yang ia miliki. Ia mengambil salah satu pohon larangan, dan tanpa belas kasihan, dia malah menebang pohon itu. Karena kesedihan yang dirasakan pohon itu, ia mengutuk keras orang itu."
"Lalu apa yang harus saya lakukan?. Agar ia bisa sembuh?. Saat ini ia sangat menderita nek. Antara hidup dan mati, namun ia tidak bisa mendapatkan kesadarannya."
"Itu adalah hukuman untuknya. Karena ia telah berbuat lalim, dan dia harus dihukum."
"Apakah saya boleh mengetahui bagaimana caranya memutuskan rantai kutukan itu nek?. Karena rantai permasalahan itu berasal dari hutan larangan ini."
"Suruh dia datang ke mari!. Dan minta ampun pada pohon yang telah ia sakiti!. Baru dia bisa disembuhkan!."
Tiba-tiba saja wajah nenek itu menjadi mengerikan, dan suaranya juga berubah lebih berat. Putri Bestari Dhatu sangat terkejut, hingga sukmanya terlempar masuk ke dalam raganya.
Mereka yang memperhatikan itu juga terkejut, karena tubuh Putri Bestari Dhatu yang sedikit tergoncang. Termasuk Raden Hadyan Hastanta yang mengamati istrinya.
"Dinda. Apakah dinda baik-baik saja?. Apa yang terjadi?."
"Aku baik-baik saja kanda. Tidak perlu khawatir."
"Syukurlah dinda. Kami sangat khawatir, karena tubuh dinda yang tergoncang. Kami semua jadi waspada."
__ADS_1
Mereka semua mengangguk, karena apa yang dikatakan oleh Raden Hadyan Hastanta sangat benar. Dan yang lebih penting lagi, mereka sangat penasaran apakah Putri Bestari Dhatu bisa mengobati Pendekar Tapa Simulung?.
"Bagaimana nini. Apakah ia masih bisa di selamatkan?."
"Bisa saja diselamatkan. Namun saat aku melajukan semedi tadi, aku ditarik ke masa lalu. Hutan larangan, dimana ia menebang sebuah kayu keramat di hutan larangan itu. Pohon itu mengutuk dirinya, hingga ia seperti ini sekarang."
Mereka semua menyimak apa yang dikatakan oleh Putri Bestari Dhatu. Karena apa yang dikatakan olehnya sangat berbeda dari tabib yang pernah mengobati Pendekar Tapa Simulung.
"Maaf nini. Memang benar, sebelum dikalahkan oleh raden cakara casugraha. Ia memang memasuki hutan larangan, dan ia menebas akar dari pohon aneh. Padahal kami telah melarangnya untuk melakukan itu. Namun ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang kami ucapkan."
"Benar nini. Tapi kami tidak menyangka, jika selama ini rasa sakit yang ia derita karena menebang pohon hutan larangan."
"Itu bukan hanya sekedar pohon biasa. Pohon yang dihuni oleh makhluk gaib. Dan ia menuntut, mengutuknya. Karena itulah ia jadi sakit."
"Lalu apa yang harus kita lakukan nini?. Kondisinya yang sekarang tidak memungkinkan untuk kita membawanya kemana-mana."
"Tapi nenek itu berkata untuk membawanya ke sana, meminta ampun pada pohon itu." Putri Bestari Dhatu nampak berpikir. Apakah yang akan ia lakukan jika kondisinya seperti itu.
Mereka semua gelisah dengan keadaan Pendekar Tapa Simulung saat ini. Mereka sedang berusaha untuk menemukan jalan keluarnya.
"Baiklah dinda, tapi aku harap dinda baik-baik saja. Dinda berhati-hatilah saat memasuki alam sukma."
"Terima kasih kanda. Aku akan berusaha untuk melakukannya dengan baik."
Meskipun merasa keberatan dengan apa yang akan dilakukan istrinya, Raden Hadyan Hastanta mencoba untuk memahami situasi. Hanya Putri Bestari Dhatu yang mampu melakukannya.
"Dan kepada kalian. Mohon cari batang pohon yang telah ditebang olehnya masa dahulu."
"Baiklah. Kami akan berusaha mencarinya."
"Jika sudah berhasil ditemukan pohonnya, maka cepat serahkan padaku. Mungkin aku bisa mengembalikan akar pohon itu melalui alam sukma."
Mereka semua mengikuti apa yang dikatakan Putri Bestari Dhatu. Ia ingin melihat kebenaran dari masalah yang ia ia hadapi saat ini.
__ADS_1
Setelah itu Putri Bestari Dhatu kembali melakukan semedi, karena ia ingin kembali memasuki alam sukma. Ia tidak tega Tapa Simulung terluka, karena terlalu lama berasa di alam sukma.
Apakah Putri Bestari Dhatu berhasil mengobati Pendekar Tapa Simulung?. Temuan jawabannya.
...***...
Sementara itu, di dalam istana. Prabu Cakara Casugraha atau kini Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang berada di ruang pribadi raja. Ia setelah mendapatkan pengobatan dari tabib istana. Ia kembali menyelesaikan semedinya menyatukan raganya.
"Tenangkan pikiran mu jaya satria. Kau akan kehilangan mahkota kebesaranmu. Jika kau mengikuti kemarahan kutukan itu."
"Tenangkan dirimu nak. Kami selalu memperhatikan apa saja yang nanda kerjakan. Kami akan selalu melindungi nanda. Selagi nanda bisa mengendalikan kekuatan kutukan itu."
Raden Cakara Casugraha masih memejamkan matanya sambil terus membacakan kalimat yang baik, memuji sang pencipta. Ia juga tidak mau terus-terusan mengikuti sesuatu yang akan merugikan dirinya.
"Ya, bagus nak. Begitulah seharusnya. Nanda memang hebat. Kami tidak salah memilih nanda untuk memimpin kerajaan ini."
Seakan-akan itu adalah suara dari Raja-raja terdahulu yang memberikan panduan pada Raden Cakara Casugraha. Mereka hanya ingin yang terbaik untuk Raden Cakara Casugraha, juga kerajaan ini.
"Terima kasih ayahanda prabu. Kakek prabu, juga eyang prabu. Semoga nanda bisa melakukan semuanya dengan baik. Nanda mohon restu dari ayahanda prabu, kakek prabu, juga eyang prabu."
"Kami selalu memberikan restu pada nanda. Jadi nanda jangan takut, jika nanda lepas kendali."
"Ayahanda akan selalu bersamamu nak. Ayahanda tidak akan pernah meninggalkan mu sendirian."
"Jangan lupakan tuhan-Mu. Nanda harus ingat. Kekuatan sang pencipta lebih maha dahsyat dari apapun. Nanda harus bisa menekan kekuatan sekuat apapun yang akan menghalangi nanda untuk berbuat kebaikan."
"Nanda akan mengingat semuanya dengan baik. Terima kasih ayahanda prabu, kakek prabu, juga eyang prabu."
Setelah itu Raden Cakara Casugraha membuka matanya. Setelah beberapa detik, pakaian telah berubah menjadi pakaian raja, serta mahkota kebesaran kerajaan Suka Damai.
"Lakukan tanpa puasa. Agar nanda lebih bisa mengendalikan dirimu nak."
"Sandika ayahanda prabu."
__ADS_1
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Raden Cakara Casugraha tersenyum kecil. Ia menatap pintu ruangan pribadi raja. Ia yakin ibundanya, juga yang lainnya telah menunggunya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke pintu. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...