RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
SAUDARA?


__ADS_3

...***...


Jaya Satria telah mengatakan semuanya pada mereka. Putri Haspari mau tak mau harus mengikuti saran darinya, jika ia ingin ayahandanya sembuh total.


"Apakah gusti prabu akan pergi dari sini?." Pupuh Ayu menemani Jaya Satria yang telah meninggal Istana Kerajaan Teluk Mutiara.


"Aku harus segera kembali. Karena ada urusan penting yang akan aku kerjakan." Jawabnya.


Saat ini mereka berada di pasar kota Raja. Sepertinya Jaya Satria tidak bisa berlama-lama, mengingat sebentar lagi acara lamaran Raden Hadyan Hastanta ke Kerajaan Angin Selatan.


Namun tiba-tiba mereka melihat ada keributan di sana. Ada seorang wanita yang sedang berhadapan dengan beberapa orang laki-laki.


Mata Jaya Satria menyipit aneh, mencoba mengamati wanita itu. Entah mengapa kepalanya terasa panas, hatinya terasa sakit yang luar biasa.


"Gusti prabu?." Pupuh Ayu sedikit heran melihat Jaya Satria melangkah dengan cepat mendekati perkelahian itu.


Begitu mendekat, Jaya Satria menghalau semua serangan mereka yang mengeroyok wanita itu.


Tentu saja mereka yang menghadang wanita itu terkejut, karena mendapatkan serangan mendadak.


"Bedebah!. Siapa kau!. Berani sekali kau ikut campur dengan urusan kami!." Bentak salah satu dari mereka.


Jaya Satria menatap tajam ke arah mereka semua. Ia berdiri dihadapan wanita itu, untuk melindunginya. Sementara itu, Pupuh Ayu mengamatinya tak jauh dari sana.


"Apakah itu hanya sebagai pembelaan terhadap kaum wanita?." Dalam hati Puluh Ayu bertanya-tanya dengan apa yang dilakukan Jaya Satria saat ini.


"Aku hanyalah pengembara. Kebetulan melihat kelakuan bejat laki-laki yang berani main keroyokan pada seorang wanita." Balas Jaya Satria.


"Kunyuk busuk!. Kau tidak usah mencuri perhatian darinya." Umpat mereka.


"Aku yakin setelah ini, kau juga akan bersenang-senang dengannya." Setelah berkata seperti itu, mereka malah tertawa kegirangan seakan mengejeknya.


"Kau tidak usah polos begitu. Aku yakin kau akan tidur dengannya malam ini."


"Tapi, sebelum itu. Berikan dia pada kami, karena kami duluan yang mendapatkannya."


"Yahahaha, setelah itu baru kau juga boleh mencicipinya."


Sungguh keterlaluan sekali bahasa mereka. Jaya Satria benar-benar geram mendengarnya.


"Selain bejat, kalian benar-benar kurang aja!." Sorot mata Jaya Satria sangat tajam menatap mereka.


"Hah?. Apakah kau juga ingin ikut dengan kami hah?."


"Berani sekali kalian merendahkan martabat wanita." Jaya Satria benar-benar murka. Ia hajar mereka semuanya.


"Rayi prabu." Wanita itu sangat terkejut melihat Jaya Satria bertarung menghajar mereka?.

__ADS_1


"Wanita itu memanggilnya dengan sebutan rayi prabu?." Pupuh Ayu mendengarnya dengan jelas. Karena penasaran, ia mendekati wanita itu.


Sedangkan Jaya Satria benar-benar berhadapan dengan mereka yang tadinya mengeroyok wanita itu. Tanpa ampun ia menyerang mereka semua, hingga babak belur dibikinnya.


"Ampun!. Kami menyerah. Kami tidak akan melakukannya lagi." Mereka semua benar-benar minta ampun pada Jaya Satria?.


Sementara itu, orang-orang sekitar malah menyoraki mereka.


"Jangan beri ampun pada orang-orang busuk seperti mereka."


"Benar!. Habisi saja. Mereka telah banyak merusak anak gadis orang."


"Bunuh saja mereka!."


"Tidak ada gunanya mereka hidup. Bunuh saja."


Itulah sorak Sorai mereka yang sudah geram dengan kelakuan bejat mereka.


"Kalian dengar?. Kalian memang tidak layak untuk hidup. Hanya menyengsarakan orang lain saja." Jaya Satria juga geram dengan kelakuan mereka.


"Ampun tuan. Kami berjanji akan bertaubat." Rintih mereka menahan sakit karena jurus-jurus yang dilepaskan Jaya Satria pada mereka.


"Kalian telah berani merendahkan harga diri wanita." Jaya Satria benar-benar marah pada mereka. "Apakah kalian sudah bosan hidup?. Berani sekali kalian ingin menyentuh wanita itu!." Hatinya sangat panas, terbakar amarah. "Apakah kalian ingin aku hajar?. Biar kalian lebih menghargai wanita hah?. Kalian pikir kalian lahir dari rahim siapa jika bukan dari rahim seorang wanita!."


"Ampun tuan. Sungguh kami tidak akan mengulanginya lagi." Mereka semua merengek minta ampun pada Jaya Satria?.


"Baiklah tuan. Kami janji." Balas mereka semua.


"Pergilah!. Sebelum aku benar-benar membunuh kalian semua." Suara Jaya Satria terdengar menggelar, sehingga mereka buru-buru bangkit, dan meninggalkan tempat.


"Terima kasih tuan. Jika tidak diberi pelajaran, mereka itu memang kurang ajar." Ucap orang-orang sekitar Jaya Satria yang dari tadi mengamati pertarungan mereka.


"Benar tuan. Mereka hanya pemuda-pemuda perusak anak gadis saja. Kami sangat berterima kasih pada tuan yang telah menghukum kebiadaban mereka."


Sepertinya mereka semua merasa bersyukur karena Jaya Satria telah menghajar pemuda-pemuda kurang ajar seperti itu?.


Jaya Satria hanya diam saja. Matanya mencoba mencari sosok yang ia lihat tadi. Saat matanya menemukan keberadaan sosok itu, ia segera menghampirinya.


"Tidak salah salah lagi. Itu adalah rayi prabu." Dalam hati wanita itu sambil mengingat bagaimana sikapnya selama ini terhadap wanita.


"Yunda." Jaya Satria sangat cemas, ia meneliti penampilan kakaknya?.


"Yunda?." Pupuh Ayu yang ikut bersama wanita itu merasa heran.


"Rayi prabu. Apa yang rayi prabu lakukan di sini?."


"Justru aku yang ingin bertanya pada yunda." Balas Jaya Satria dengan perasan cemas. "Mengapa yunda mengembara sampai ke daerah sini?." Jaya Satria bertanya pada Putri Agniasari Ariani.

__ADS_1


"Entahlah rayi. Aku juga tidak tahu." Jawab Putri Agniasari Ariani merasa bingung sendiri. "Seperti dituntun menuju ke sini. Tapi, siapa sangka malah bertemu denganmu rayi." Lanjutnya lagi.


"Maaf, apakah kalian saling mengenal?." Pupuh Ayu merasa penasaran.


Jaya Satria dan Putri Agniasari Ariani saling bertatapan. Setelah itu mereka melihat ke arah Pupuh Ayu.


"Wanita ini adalah kakak saya, namanya putri agniasari ariani." Jaya Satria memperkenalkan Putri Agniasari Ariani pada Pupuh Ayu.


"Salam kenal." Putri Agniasari Ariani tersenyum ramah pada Pupuh Ayu.


"Jadi karena itulah gusti prabu menghajar mereka?." Pupuh Ayu sedikit mengerti sekarang. Pantas saja bila ia sangat marah, jika saudaranya yang disentuh oleh orang lain.


"Begitulah." Balasnya dengan singkat.


"Rayi cakara casugraha memang begitu dari dulu. Entah aku ataupun ibunda disakiti oleh orang lain. Ia akan cepat marah, menghajar siapa saja." Dalam hati putri Agniasari Ariani masih ingat dengan kejadian lama.


"Yunda. Sepertinya yunda harus ikut aku pulang ke istana kerajaan suka damai."


"Kenapa rayi?. Apakah ada sesuatu terjadi di istana?." Putri Agniasari Ariani sedikit heran. "Aku baru saja sampai ke daerah ini." Kali ini ia terlihat kecewa. Karena adiknya menyuruhnya pulang.


"Karena kita akan mengadakan acara yang sangat penting yunda. Apakah yunda tidak ingin menghadiri acara lamaran raka hadyan hastanta ke kerajaan angin selatan?."


Tentunya Putri Agniasari Ariani sangat terkejut mendapatkan kabar itu dari adiknya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan ikut bersamamu kembali ke istana." Putri Agniasari Ariani langsung setuju.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin." Jaya Satria sangat lega, karena Putri Agniasari Ariani mau ikut dengannya.


"Jadi gusti prabu benar-benar akan meninggalkan daerah ini?." Pupuh Ayu memastikannya sekali lagi.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa berlama-lama lagi berada di sini."


"Kalau begitu berhati-hatilah saat menuju jalan pulang." Pesan Pupuh Ayu.


"Terima kasih. Kami pamit dulu. sampurasun."


"Rampes."


Jaya Satria dan Putri Agniasari Ariani meninggalkan Pupuh Ayu.


"Yunda. Bacalah ayat kursi, surah Al Fatihah, Al ikhlas, Al Falaq, dan Annas. Jika perlu baca doa mohon perlindungan sebanyak-banyaknya." Bisik Jaya Satria.


"Baiklah rayi." Putri Agniasari Ariani hanya menurut saja.


Apa yang terjadi sebenarnya?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2