
...***...
Setelah mendapatkan serangan dari Putri Andhini Andita, Raden Telaga Bumi masih merintih kesakitan. Sebagai seorang ayah, Prabu Bumi Jaya mencoba menenangkan anaknya. Ia totok beberapa titik syaraf pergerakan anaknya hingga tidak sadarkan diri.
"Ayahanda prabu." Raden Bumi Putra yang sempat terabaikan, langsung mendekati ayahandanya. "Apa yang akan ayahanda prabu lakukan pada raka telaga bumi?." Ia melihat ayahandanya melakukan sesuatu?.
"Aku akan melumpuhkan semua tenaga dalam yang ia miliki. Karena ia telah melakukan kejahatan yang sangat memalukan." Prabu Bumi melakukannya?. Apakah ia telah memutuskan untuk berlaku adil pada mereka yang telah berani melanggar atau melakukan perbuatan salah?. Setelah melakukan itu, ia menatap lurus ke arah Putri Andhini Andita. "Kau tadi mengatakan, jika akar permasalahannya telah dibinasakan, maka putraku raksa wardhana bisa melihat." Matanya menatap putranya yang masih menggunakan kain penutup mata. "Buktikan kalau kau tidak berbohong padaku. Aku tidak akan mengampunimu!." Prabu Bumi Jaya mendekati Putri Andhini Andita dan Raden Raksa Wardhana.
"Aku juga tidak akan mengampunimu, karena kau telah berani ikut campur dalam masalah kami." Raden Bumi Putra juga mendekati mereka. Sepertinya ia masih bisa menerima apa yang terjadi.
"Dengan senang hati hamba akan melakukannya." Putri Andhini Andita berdiri di belakang Raden Raksa Wardhana. Setelah itu ia membuka kain penutup mata Raden Raksa Wardhana.
Prabu Bumi Jaya dan Raden Bumi Putra masih melihat Raden Raksa Wardhana yang masih menutup matanya. "Rasanya aku sedang berdebar-debar. Apakah benar aku bisa melihat Kembali?." Dalam hati Raden Raksa Wardhana sangat berharap banyak.
"Raden. Bukalah mata raden dengan pelan. Karena harusnya, mata raden bisa melihat dengan normal. Karena kekuatan yang mengunci penglihatan raden telah berhasil dimusnahkan." Putri Andhini Andita memberikan arahan pada Raden Raksa Wardhana. "Raden tenang saja. Ini adalah buah dari kesabaran yang raden miliki. Raden adalah laki-laki yang kuat. Hamba percaya, jika raden adalah orang yang kuat." Putri Andhini Andita tersenyum lembut, ia menyentuh pundak Raden Raksa Wardhana. Seakan-akan ia sedang menyalurkan kekuatannya pada Raden Raksa Wardhana.
Perlahan-lahan ia membuka matanya, sangat pelan. Nafasnya seakan terengah-engah menahan perasaan gemuruh yang ia sedang melanda hatinya. Perlahan-lahan ia dapat merasakan cahaya masuk ke dalam matanya. Perlahan-lahan ia dapat melihat bayangan seseorang. Mulai jelas, dan semakin jelas. Hingga tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya.
"Ayahanda Prabu." Dalam keharuan yang sedang ia rasakan, ia memberi hormat pada ayahandanya. "Raka bumi putra." Bahkan ia memberi hormat pada Raden Bumi Putra.
__ADS_1
Prabu Bumi Jaya dan Raden Bumi Putra terkejut melihat itu?. Apalagi bola mata Raden Raksa Wardhana yang sedikit berbeda dari yang sebelumnya.
"Apakah kau benar-benar bisa melihat raksa wardhana?." Raden Bumi Putra memastikannya, ia melambaikan tangannya di hadapan Raden Raksa Wardhana. Dan mata itu berkedip?. Apalagi saat Raden Bumi Putra hampir saja mencolek mata adiknya itu, saking ia ingin memastikan adiknya bisa melihat. Namun tangannya ditepuk kuat oleh Putri Andhini Andita yang terlihat marah.
PLAK
"Matanya baru sembuh. Jangan seenaknya saja mencolok mata orang lain hanya untuk memastikannya." Putri Andhini Andita sampai melotot tajam ke arah Raden Bumi Putra.
"Kenapa tiba-tiba saja dia menjadi galak?." Dalam hati Raden Bumi Putra sedikit bergidik ngeri melihat tatapan mata Putri Andhini Andita.
"Apakah kau benar-benar bisa melihat?. Raden raksa wardhana?. Katakan padaku dengan jujur padaku." Prabu Bumi Jaya ingin mengetahui kebenarannya.
"Mohon ampun ayahanda prabu." Raden Raksa Wardhana memberi hormat. "Nanda benar-benar bisa melihat ayahanda prabu. Nanda bisa melihat dengan sangat jelas sekali." Ia berusaha menahan perasaan haru dan tangisnya.
"Ibunda?." Raden Raksa Wardhana memastikan, bahwa yang ia lihat adalah ibundanya?.
"Ini ibunda nak. Apakah nanda tidak mengenali ibunda?." Rasanya sangat sedih. Apakah anaknya bisa melihat dirinya?. Namun sama sekali tidak mengenali dirinya?.
"Oh, ibunda." Raden Raksa Bumi bersujud dihadapan ibundanya. Memeluk kaki ibundanya sambil menangis sedih. "Tentu saja nanda masih mengenali ibunda. Meskipun bertahun-tahun tidak bisa melihat ibunda, bukan berarti nanda melupakan wajah ibunda." Raden Raksa Wardhana mengungkapkan kesedihan yang ia rasakan. "Nanda tidak akan pernah melupakan wajah ibunda." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Oh putraku. Syukurlah kalau kau bisa melihat nak." Selir Ratna Wardhani sangat senang. Karena ia mendapatkan kabar yang sangat membahagiakan dirinya.
"Maaf raden, sepertinya hamba harus melanjutkan perjalanan hamba." Putri Andhini Andita tidak bermaksud untuk merusak suasana haru yang mereka rasakan, tapi harus segera pergi.
Raden Raksa Wardhana menghapus air matanya. Ia berdiri, dan menatap wanita muda yang memanggilnya dengan sebutan raden?. "Maaf, apakah nimas adalah nimas putih?." Raden Raksa Wardhana melihat seorang wanita muda yang sangat cantik. Hingga tanpa sadar menghipnotis kakinya untuk melangkah mendekati Putri Andhini Andita.
"Hamba putih raden. Alhamdulillah hirobbil'alamin, jika Raden bisa melihat lagi." Putri Andhini Andita tersenyum lembut.
"Jadi nimas yang selama ini telah membantu ku?. Bahkan ketika pertama kali bertemu?." Raden Raksa Wardhani dapat merasakan semua kebaikan yang diberikan oleh Putri Andhini Andita padanya.
"Hamba hanya membantu yang hamba bisa. Semoga saja raden bisa merasakan kebahagiaan yang raden inginkan." Putri Andhini Andita merasa lega.
"Apakah nimas akan pergi?. Apakah nimas tidak bisa tinggal di sini?. Apakah aku tidak bisa mengenal nimas lebih dari sekedar seorang pengembara?." Raden Raksa Wardhana merasa sangat sedih. Apakah ia tidak bisa mengenali sosok Putih di dalam hidupnya?.
"Maafkan hamba raden. Belum saatnya hamba berhenti. Karena hamba ingin mengembara. Tidak ada yang bisa mengerti apa yang diinginkan seseorang dalam mengembara." Putri Andhini Andita tersenyum kecil. "Masih banyak lagi yang harus hamba lakukan dalam pengembaraan ini raden." Lanjutnya lagi.
"Tapi setidaknya, dua atau tiga hari. Aku mohon tetaplah di sini. Setidaknya izinkan aku untuk mengucapkan rasa terima kasihku padamu nimas." Raden Raksa Wardhana sangat berharap pada Putri Andhini Andita.
Putri Andhini Andita tersenyum kecil. Ia mengerti perasaan itu, perasaan seseorang yang ingin mengagumi seseorang yang mungkin telah berjasa di dalam hidupmu. "Baiklah raden. Setidaknya dua hari saja. Hamba akan berada di sini. Setelah itu hamba akan melanjutkan perjalanan hamba." Putri Andhini Andita menyanggupi apa yang diinginkan Raden Raksa Wardhana.
__ADS_1
"Terima kasih, karena nimas telah bersedia tinggal di sini barang sejenak." Raden Raksa Wardhana sangat senang. Meskipun hanya sebentar, namun ia hanya ingin mengetahui siapa wanita cantik nan baik hati yang telah membantu dirinya?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...